SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 14 Mei 2017

Optimisme Mas Atma



Saat pagi ini aku membaca -- di laman berita online -- tentang kilas balik tragedi Mei 1998, yang memporak porandakan Jakarta dengan berbagai kekacauan, tiba-tiba aku seperti terkena trauma kecil. Peristiwa demi peristiwa yang menjadi catatan kelam ibukota negara 19 tahun silam, silih berganti bermunculan.

Saat itu, pembakaran, penjarahan, perkosaan (?), bukan lagi kabar burung, tetapi nyata. Beberapa peristiwa yang terjadi selama 3 hari (13-15 Mei 1998) tersebut, aku lihat dengan mata kepala sendiri. Sesuatu yang mencekam dan mengerikan, apalagi aku belum genap 4 tahun tinggal di ibukota.

Bukan itu saja, dampak lengsernya Pak Harto sebagai presiden tanggal 21 Mei 1998 -- yang menjadi tonggak runtuhnya rezim orde baru -- adalah krisis ekonomi yang semakin parah di negeri ini, yang sebenarnya sudah terjadi sejak setahun sebelumnya. Harga-harga melambung tinggi, barang kebutuhan sehari-hari hilang dari pasaran, dan perusahaanpun tidak memberi kenaikan gaji. "Tidak ada PHK pun sudah patut kita syukuri," begitu yang aku dengar langsung dari manajemen tempatku bekerja.

Sebagai gambaran, karena saat itu kami -- aku dan istri -- baru mempunyai momongan berusia 3 bulan, masih mengontrak rumah di pinggiran Jakarta Timur, dan istri juga sudah resign kerja dari perusahaan yang melakukan pengurangan karyawan, maka sangatlah berat menghadapi kondisi ekonomi negeri yang carut marut ini. Beberapa teman kuliah yang sama-sama 'berjuang' di ibukota bahkan lebih memilih pulang kampung, balik ke daerah masing-masing.

Pernah suatu malam, demi putriku yang berusia 3 bulan, aku harus berebut susu kaleng -- dengan beberapa ibu-ibu -- di supermarket Naga Swalayan, Ciracas. Masalahnya, stok yang dipajang di rak terbatas hanya 4 kaleng, sedang yang membutuhkan puluhan orang. Itupun setelah sukses keluar dari desak-desakan di pintu masuk supermarket, yang tak ubahnya sudah seperti pasar tradisional. Semua berebut belanja kebutuhan pokok, sebelum stok benar-benar habis dan menghilang di pasaran.

Disaat suasana yang penuh prihatin -- terutama dalam mengatur ekonomi keluarga -- itulah, tanpa sengaja aku bertemu 'teman' yang bisa diajak diskusi. Seorang pedagang kue onde-onde keliling. Adyatma namanya, aku biasa memanggil Mas Atma. Aku katakan tanpa sengaja, karena kebetulan saat bersih-bersih rumput sebelah rumah di hari Sabtu awal Agustus 1998, Mas Atma lewat dan menyapa dengan ramah, dan tentu saja sambil menawarkan dagangannya.

Karena baru pertama melihat pedagang onde-onde keliling lewat depan rumah, bukan pedagang somay atau bakso yang sudah aku kenal, aku berusaha dengan sopan menyambut sapaannya. Apalagi aku melihat ada 'keanehan' pada pedagang keliling yang usianya mungkin 5 tahun diatasku tersebut. Dandanannya cukup rapi. Meski hanya memakai kaos polo biru, celana jeans, sepatu kets dan topi hitam, serta ditambah handuk kecil warna biru yang dikalungkan di lehernya -- nampaknya juga berfungsi sebagai penahan tali kaleng tempat onde-ondenya -- tetap saja penampilannya tidak seperti pedagang keliling pada umumnya. Apalagi kulitnya yang putih dan bersih, seperti karyawan yang sudah terbiasa di ruangan kantor, dan jauh dari terpaan sinar matahari.

Minggu esok harinya -- karena masih penasaran dengan pedagang keliling yang mengaku tinggal di Cililitan, Jakarta Timur itu -- aku menunggu Mas Atma lewat. Benar saja, sekitar jam 11 siang Mas Atma lewat depan rumah dan langsung aku panggil. Aku minta mampir sejenak untuk sekedar melepas lelah, dan tentu saja aku membeli 10 biji onde-ondenya. Kami duduk di kursi plastik yang ada di teras rumah.

Meski baru kenal, dalam pembicaaan itu aku langsung menyampaikan 'ketidakpercayaan' bahwa Mas Atma adalah pedagang onde-onde beneran. Apalagi info dari istriku, para tetangga -- terutama ibu-ibu dan warga yang sering belanja di warung sebelah rumah -- menduga Mas Atma adalah pejabat atau intel yang menyamar sebagai pedagang keliling, yang sengaja terjun ke kampung-kampung untuk memantau gejolak masyarakat kelas bawah. Masuk akal juga, apalagi suasana negara juga baru mengalami pergantian presiden.

Jawaban Mas Atma cukup mencengangkan. Sambil tersenyum ramah, "Saya ini asli pedagang onde-onde keliling, Mas. Meski baru 2 bulan belakangan ini. Sebelumnya, yang saya jual adalah mobil," Mas Atma berkata dengan nada bercanda, tanpa bermaksud menyombongan diri. Dari cerita berikutnya, ternyata Mas Atma adalah Manajer Pemasaran sebuah showroom mobil ternama yang ada di Kebayoran.

Sayangnya dalam kerusuhan Mei 1998 kantor dan showroom dirusak dan dibakar massa, termasuk mobil pribadinya juga dihancurkan massa saat berusaha diselamatkan dari halaman parkir kantor. "Mungkin saya dikira dari etnis non-pribumi yang jadi sasaran amuk mereka. Padahal saya ini pribumi, saya juga muslim. Saya asli orang Palembang. Mereka hanya melihat kulit putih dan mata saya yang agak sipit," kali ini Mas Atma berkata dengan nada getir.

Dalam pembicaraan berikutnya -- setiap sabtu dan minggu selalu aku minta mampir untuk rehat sejenak -- Mas Atma bercerita bagaimana terpukulnya saat semua miliknya hilang seketika. "Pekerjaan, jabatan, mobil, bahkan rumah ikut ludes. Saya sengaja jual rumah untuk melunasi pinjaman bank, cicilan rumah dan keperluan istri serta sekolah 4 anak saya. Saya mending tidak punya apa-apa, daripada harus meanggung hutang pada bank. Kalau saya tidak saya lunasi semua, pasti akan tambah berat, karena bunga bank naik tanpa bisa diprediksi," papar Mas Atma, sarjana ekonomi lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta.

Dan memang benar, kurs dollar Amerika yang awalnya stabil di kisaran 2.400 rupiah per dollarnya, tiba-tiba bisa melonjak sampai 21.000 rupiah per dollar.

Yang aku salut, tentu saja upaya cepat bangkit dari Mas Atma. "Jangan sekali-kali menyesali nasib. Semua sudah ada yang mengatur. Tugas kita itu berusaha dan berupaya. Selama kita berpikir optimis ke depan, pasti ada jalan untuk pemecahannya," ujarnya dalam satu kesempatan. Tentu Mas Atma tak sekedar beretorika, tapi sudah membuktikan ucapannya tersebut, yaitu dengan menjual rumah besarnya di Pasar Minggu -- dan melunasi semua kewajibannya di bank -- yang sisanya dipakai untuk membeli rumah kecil di Cililitan, juga untuk modal usaha bersama istrinya.

Ternyata tak hanya Mas Atma yang 'bertugas' jualan keliling, tapi istrinya juga buka gerai gerobak di depan rumahnya -- yang buka siang sampai malam -- dan 2 putrinya yang masih SMP bertugas mengantar dan menaruh titipan dagangan di warung tetangga dan kantin sekolah. Saling bahu-membahu. "Selama usaha kita halal, jangan pernah merasa minder atau malu untuk menjalankan. Kalau niat bangkit, jangan terbuai masa lalu, karena kita hidup untuk sekarang dan masa depan," begitu Mas Atma berucap, ketika aku bertanya prinsip menjalani hidup.

Begitulah, setiap bertemu selalu ada motivasi yang diberikan. Sayangnya, pertemanan dengan Mas Atma hanya sampai bulan ke-5 saja. Karena saat jualan keliling terakhirnya, pertengahan Januari 1999, Mas Atma menginformasikan -- sekaligus pamit -- kalau dia mendapat panggilan kerja di perusahaan spare-part kendaraan bermotor di Cikarang (Bekasi).

Dan setelah pertemuan itu, aku memang tidak pernah lagi berkomunikasi ataupun bertemu dengan Mas Atma. Bahkan, ketika aku kebetulan lewat depan rumahnya yang di Cililitan -- sekitar pertengahan 2008 -- rumah itu sudah berubah jadi ruko, yang menjual bahan bangunan.

Apapun kondisi Mas Atma saat ini -- aku yakin beliau sudah sukses seperti saat sebelum kerusuhan Mei 1998 -- satu ajaran yang selalu aku ingat adalah: dalam kondisi terpuruk sekalipun, kita harus tetap punya semangat dan pantang menyerah, untuk (segera) bangkit!

a, siapapun pasti juga setuju.
Share:

0 komentar:

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Pages

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Page View

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Follow by Email

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Buku Tamu

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com