SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 21 Mei 2017

Kaspan Tak Mengenal Kata Terlambat



Berapa umur tepatnya, aku tak pernah tahu. Tapi, dari cerita Ibu, Cak Kaspan -- 'Cak' dalam bahasa jawa timuran artinya 'kakak', panggilan untuk laki-laki yang lebih tua -- ikut keluarga kami sejak usia remaja, saat aku berumur satu tahun. Cak Kaspan masih punya hubungan famili jauh dari keluarga bapak, sehingga bapak memintanya tinggal dan bantu-bantu di rumah. Cak Kaspan rumahnya juga masih satu des dengan kami, cuma beda dukuh yang jaraknya tak lebih dari satu kilometer.




Tugas utama Cak Kaspan awalnya hanya bersih-bersih halaman dan kebun samping rumah, serta mengantar makanan untuk Bapak -- dan orang-orang yang bekerja -- di sawah. Tetapi, ketika ibu melahirkan adik perempuanku, Cak Kaspan mendapat tambahan tugas, yaitu momong aku. Jadilah aku mulai saat itu punya pengasuh khusus, seorang remaja usia sekitar 15 tahun.



Tentu saja aku jadi tahu kebiasaan dan kesenangan Cak Kaspan, karena setiap hari harus menjaga dan mengajak aku bermain. Mulai dari jago bikin gelasan benang layang-layang, suka menyanyi lagu dangdut yang sering didengarnya dari radio, dan juga main sepakbola, seperti juga remaja seusianya. Khusus untuk hobi sepakbolanya, Cak Kaspan dari awal sudah punya satu kelebihan. Dengan badan yang terbilang kecil -- tak lebih dari 155 centimeter -- Cak Kaspan sangat lincah dan larinyapun cukup kencang. Selain itu cara menggocek bola yang lucu juga sering mengelabui lawan. Menghibur bagi yang menonton, tapi menjengkelkan bagi tim lawan.



Untungnya, bapak yang suka olahraga, menjadi pembina tim sepakbola desaku, 'Rajawali' Pakisjajar. Sehingga hobi Cak Kaspan -- dan dua kakak laki-lakiku -- dapat tersalurkan. Selain mendapat izin latihan sepakbola tiga kali seminggu di lapangan desa Pakiskembar yang jaraknya 2 kilometer dari rumah, bapak juga membelikan perlengkapan sepakbola, terutama sepatu bola dan kostimnya. Bapak juga tidak pernah membeda-bedakan antara kakak-kakakku dengan Cak Kaspan.



Buah ketekunan Cak Kaspan bermain sepakbola adalah saat terpilih menjadi salah satu pemain tim KONI Kecamatan Pakis, di awal tahun 80-an. Tim sepakbola kecamatan ini adalah kumpulan pemain terbaik dari desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Pakis, yang bertanding di Pekan Olahraga Kabupaten Malang maupun turnamen antar kecamatan yang biasanya rutin diadakan tiap bulan Agustus. Nama Kaspan bisa bersanding dengan pemain-pemain top level Kecamatan Pakis yang sudah kesohor seperti Luluk, Wahono, Tomo, Misdi, Parman, ataupun Didik.



Aku yang saat itu baru duduk di kelas 5 SD jadi sering ikut diajak kemanapun Cak Kaspan bertanding. Selain di kandang sendiri -- lapangan Pakiskembar dan Asrikaton -- sering pula harus bertanding ke kecamatan lain, seperti Batu, Kepanjen, Lawang, Tumpang, sampai Gondanglegi, untuk melawan tim KONI setempat, yang saat itu masuk 5 tim terkuat di Kabupaten Malang. Kendaraan yang dipakaipun tergantung dana yang disediakan donatur, kadang naik mobil pick-up terbuka, kadang truk, sesekali juga kendaraan jenis colt atau L-300.



Ketenaran Cak Kaspan di level sepakbola tingkat kecamatan berdampak pada seringnya menerima undangan untuk bermain di klub atau desa lain di sekitaran Kabupaten dan Kota Malang. Terutama saat ada kompetisi atau turnamen Agustusan yang menjamur dimana-mana saat itu. Biasanya, Cak Kaspan diundang satu paket dengan 2 atau 3 pemain dari tim KONI kecamatan. Jadilah Cak Kaspan langganan bermain 'tarkam' -- singkatan dari Antar Kampung atau Tarikan Kampung -- yang mendapat 'uang lelah' setiap selesai pertandingan, dan tambahan bonus jika tim yang dibelanya menang.



Sayangnya, dengan seringnya dapat surat undangan untuk bermain sepakbola membela klub di daerah lain, justeru membuat Cak Kaspan merasa rendah diri. Penyebabnya, Cak Kaspan tidak bisa membaca dan menulis, alias buta huruf. Karena sejak kecil memang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sehingga setiap dapat undangan selalu jadi bahan tertawaan teman-temannya, karena harus membantu membacakan undangan tersebut.



Bahkan, mungkin karena malu untuk minta dibacakan terus-terusan, beberapa undangan hanya ditumpuk di rak pakaian yang ada di kamarnya tanpa pernah dibuka. Dan tentu saja tidak datang memenuhi undangan jadi pemain tamu tersebut. Memang, beberapa kali pernah minta tolong aku untuk membacakan -- biasanya jika aku sedang kebetulan belajar di kamarnya, yang ada di bagian belakang rumah dekat dapur -- tetapi lebih sering pertandingannya sudah lewat, karena tidak bisa membedakan undangan dengan tanggal terbaru atau sudah lampau.



Sejak itu, Cak Kaspan jadi sering tidak ada di rumah, jika hari sudah beranjak malam. Kata ibu -- yang pernah aku tanya kenapa Cak Kaspan setiap habis maghrib tidak pernah ada di kamarnya -- dia sedang memperdalam ngaji di Pak Zaenal, seorang guru ngaji sekaligus ustadz yang mempunyai madrasah di dekat rumah Cak Kaspan.



Yang membuat aku tertegun, suatu malam -- selesai belajar di kamar Cak Kaspan -- seperti biasa aku iseng buka-buka tumpukan pakaian yang ada di rak. Bukannya aku lancang, tapi sejak kecil aku memang sudah biasa lihat foto-foto Cak Kaspan yang ditaruh dibawah tumpukan pakaiannya. Apalagi Cak Kaspan memang yang momong aku sejak kecil, jadi aku diperbolehkan apa saja di kamarnya, mulai baca buku, tidur siang ataupun belajar.



Ya, diantara foto-foto sepakbolanya, juga ada 2 buah buku tulis, 1 buku lirik lagu-lagu dangdut, pensil dan sebuah pulpen. Karena penasaran -- untuk apa buku tulis, kan Cak Kaspan tidak bisa baca tulis? -- aku buka buku itu. Hampir tak percaya aku melihatnya, karena satu buku berisi tulisan yang biasa aku lihat di buku belajar membaca kelas 2 SD, dan satu buku berisi lirik lagu dangdut yang ditulis rapi dengan huruf sambung kecil-kecil, yang bisa terbaca jelas. Di sampul dua buku itu ditulis dengan huruf kapital sebuah nama: KASPAN.



Ternyata, selama hampir 2 bulan 'menghilang' tiap malam, Cak Kaspan -- yang saat itu sudah berumur 26 tahun, karena aku berumur 12 tahun -- belajar membaca dan menulis secara privat pada Pak Zaenal. Tujuannya jelas, yang paling utama adalah agar bisa membaca sendiri setiap undangan yang diterimanya. Dan, tentu saja tidak ingin menjadi bahan tertawaan teman-teman bermain sepakbolanya, yang membuatnya minder dalam pergaulan.



***



Setahun setelah kejadian tersebut, Cak Kaspan pamit pada Bapak dan Ibu untuk keluar dari rumah, untuk mencari pengalaman dengan bekerja di tempat lain. Apalagi aku yang diasuhnya juga sudah besar, sudah kelas 6 SD. Cak Kaspan juga memutuskan untuk meninggalkan dunia sepakbola, karena ingin konsentrasi pada pekerjaan dan masa depannya.



Seingatku, begitu keluar dari rumah, Cak Kaspan bekerja menjadi kenek truk pengangkut hasil pertanian, milik seorang pengusaha di Pakis. Bertahan satu tahun, Cak Kaspan beralih menjadi kenek mikrolet, jurusan Tumpang - Malang. Satu keuntungan bagiku -- yang sudah sekolah SMP di Tumpang -- setiap naik mikrolet yang dikeneki Cak Kaspan, selalu gratis. Baik berangkat ataupun pulang sekolah.



Begitu aku masuk SMA -- masih di Tumpang -- aku tidak pernah melihat Cak Kaspan lagi. Informasi dari teman-teman, Cak Kaspan kerja di bangunan dan sudah menikah. Tinggalnya di Ampeldento, sebuah desa yang masih masuk wilayah Kecamatan Pakis.



Dan empat tahun kemudian, berbarengan dengan libur kuliah dan lebaran, aku menyempatkan sowan ke rumah Cak Kaspan, untuk beramah tamah dan kangen-kangenan. Nampaknya ini pertemuan terakhirku, karena saat sudah bekerja di Jakarta, aku mendapat kabar Cak Kaspan -- orang yang paling dekat denganku, yang menjadi pengasuhku selama 8 tahun -- meninggal dunia karena sakit tua.



***



Satu hal yang membuat aku salut dan hormat pada Cak Kaspan, tentu saja keinginan dan tekad kuatnya untuk bisa membaca dan menulis di usia yang tidak muda lagi. Terlepas bahwa tujuannya untuk memperlancar karir di sepakbola dan agar bisa diterima di lingkungan pergaulannya, itu adalah hal yang berbeda.



Apalagi Cak Kaspan juga rela merogoh kocek yang tidak sedikit -- dari hasil bermain sepakbola tarkam -- untuk membayar guru privat selama dua bulan lebih. Ini menjadi penegasan prinsip Cak Kaspan. Sebuah prinsip, bahwa tak ada kata terlambat untuk memperbaiki kualitas hidup, termasuk belajar membaca dan menulis.



Dan Cak Kaspan berhasil menuntaskan dengan baik!
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com