SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 07 Mei 2017

Batas Kesabaran Pak Margo

Entah sebuah doktrin -- atau hanya persepsi mayoritas murid di hampir semua jenjang pendidikan dasar dan menengah -- nyatanya penilaian terhadap seorang guru selalu dilihat secara hitam dan putih semata. Seperti sebuah keping mata uang, guru selalu dinilai dari dua sisi yang berseberangan.

Kalau ada guru sabar, pasti ada guru galak. Ada guru yang murah senyum, pun ada yang selalu cemberut. Bahkan ketika ada guru yang murah memberi nilai, disisi lain ada guru yang pelit pada nilai. Begitulah, jarang ada yang dinilai sedang-sedang saja, atau gabungan dari keduanya.

Dan itu terjadi juga, saat aku baru menginjak bangku SMP. Satu kebiasaan yang hampir dilakukan seluruh murid baru adalah saling mencari informasi berbagai hal yang berhubungan dengan guru pengajar. Karena berbeda saat di SD yang hanya punya satu guru kelas -- ditambah guru agama dan guru olahraga -- maka di SMP semua mata pelajaran diajar oleh guru yang berbeda. Tak hanya informasi masalah nama semata, tetapi juga cara mengajarnya, kebiasaan saat di kelas, sabar atau galak, suka memberi PR apa tidak, sampai mencari info apakah guru tersebut suka menyuruh ke depan atau tidak.

Dari investigasi antar kelas tersebut, munculah satu nama yang ternyata sudah bertahun-tahun menjadi guru favorit -- bukan karena penampilannya yang keren atau cara mengajarnya yang bagus atau tidak -- yaitu Pak Margo Utomo, guru Bahasa Daerah, yang terkenal karena kesabarannya yang luar biasa.

Memang, beliau kalau menerangkan di depan kelas, suaranya tidaklah terlalu keras. Dan akan tetap menerangkan, walau muridnya pada bertingkah aneh-aneh. Mau ngobrol sendiri, mau main kapal-kapalan, atau malas-malasan dengan senderan di kursi, tidak akan ditegur dan cenderung dibiarkan. Paling-paling beliau cuma bicara, "Ayo cah, cubo nyimak neng papan tulis!" ( =Ayo anak-anak, coba perhatikan ke papan tulis!).

Kesabaran Pak Margo Utomo yang sudah terkenal seantero SMPN 1 Tumpang ini, kadang memang ada sisi positifnya, yaitu pelajaran Bahasa Daerah ( =Jawa) jadi mudah dicerna dan bukan lagi menjadi momok yang menakutkan. Dianggap menakutkan, karena murid harus menghafal dan bisa menulis aksara jawa, yang memang sudah sangat jarang dipakai.

Sedang sisi negatifnya, dengan kesabaran yang kelewat itu, murid menjadi kurang menghargai Pak Margo, sehingga yang muncul adalah perbuatan 'kurang ajar' murid terhadap guru. Misalnya saja, saat Pak Margo pulang mengajar mengendarai sepedanya di jalan raya, murid yang dilewati bukannya mengucap salam, tetapi malah beramai-ramai menggoda sambil menyoraki, sehingga Pak Margo kurang konsentrasi dan tertatih-tatih dalam mengendarai sepedanya.

Tetapi, sesabar-sabarnya Pak Margo, pernah juga meluapkan kemarahan yang luar biasa di kelas. Ini terjadi saat aku kelas 2. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, setiap selesai menjelaskan satu materi, Pak Margo akan menanyakan pada kami apakah sudah bisa dimengerti atau ada yang mau bertanya. Karena semua diam -- atau bisa jadi tidak menghiraukan pelajaran -- Pak Margo ganti bertanya kepada kami tentang materi yang baru dijelaskan.

Nah, ketika Herman mendapat giliran ditanya, sampai diulang beberapa kali oleh Pak Margo, tidak ada jawaban sepatah katapun yang keluar dari Herman. Malah murid yang berkepala botak ini menelungkupkan wajahnya ke meja. Merasa tidak dihiraukan, Pak Margo mendekati meja Herman yang persis disamping kanan mejaku. Bertanya lagi, tapi tetap tidak dijawab oleh Herman, yang belakangan baru ketahuan kalau Herman tertidur pulas di mejanya.

Dengan menahan amarah yang amat sangat -- terlihat dari wajahnya yang merah padam dan giginya yang bergemerutuk -- Pak Margo dengan kekuatan penuh melayangkan tangan kanannya untuk menggampar (nggibeng, bahasa Jawa) kepala Herman. Seluruh kelas langsung terdiam senyap. Menunduk ketakutan. Karena kami tidak menyangka Pak Margo bisa marah seperti itu. Herman yang kaget dan terbangun dari tidurnya, langsung menangis. Entah takut atau kesakitan. Pak Margo langsung berjalan ke mejanya, yang ada di depan kelas sebelah kanan.

Begitu sampai di depan kelas lagi, Pak Margo dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar meminta maaf atas perbuatannya, sambil mengatakan bahwa beliau tidak akan berbuat seperti itu kalau murid-muridnya tidak keterlaluan memperlakukannya.

Luar biasa, mestinya Herman -- dan kami sekelas -- yang harus meminta maaf pada Pak Margo, karena tidak menghormati guru di dalam kelas. Tapi nyatanya, justeru Pak Margo dengan kebesaran jiwanya mengaku khilaf berbuat kasar pada muridnya. Secara tidak langsung, Pak Margo sudah memberi contoh konkrit, sebuah teladan yang bukan sekedar retorika, bahwa guru -- yang sejatinya juga manusia biasa -- juga bisa salah, dan tak harus malu untuk meminta maaf, walau pada muridnya sekalipun.

Dan kejadian ini, adalah pelajaran yang sangat berharga bagi siapapun -- termasuk kami para murid yang saat itu ada di dalam kelas -- bahwa sifat sabar seorang guru bukan berarti tidak bisa marah dan boleh diperlakukan seenaknya. Sekali lagi, hari itu Pak Margo telah memberikan contoh teladan dalam bersikap sebagai seorang guru: menerangkan, menanyakan, menegur, bertindak, dan (kalau diperlukan) meminta maaf.

Sebuah sikap tegas yang harus ditunjukkan seorang guru, ketika murid-muridnya sudah -- mencoba untuk -- tidak menghargai gurunya sendiri!
***
----------


Innalilahi wa'inailaihi raji'un
Pada hari Sabtu sore, 29 April 2017, Pak Margo Utomo -- guru paling sabar sedunia, 
yang sejak pensiun mengajar di SMPN 1 Tumpang (Malang) belum ada lagi guru pengganti 
untuk pelajaran Bahasa Daerah -- telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang,
 meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya, di kediamannya: Desa Malangsuko, 
Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Semoga segala amal kebaikan, iman dan islamnya diterima Allah SWT, 
dan juga diampuni segala dosa-dosanya, Aamiin.
"Selamat jalan, Pak Margo.., jasa Bapak tidak akan pernah kami lupakan..!"
Share:

0 komentar:

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Pages

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Page View

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Follow by Email

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Buku Tamu

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com