SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 09 April 2017

Ketegaran Hidup Nisa

Entahlah, setiap tanggal 9 April -- kebetulan ini tanggal kelahiranku -- aku selalu teringat pada seorang sahabat 'istimewa' semasa SMA, yang sudah banyak memberi pelajaran hidup padaku, dalam skala tertentu. Sahabat yang tidak pernah mengenal kata menyerah dalam menjalani hidup, sahabat yang selalu memberi motivasi pada teman disaat dia sendiri justeru memerlukan motivasi itu.


Ocan, begitu aku selalu memanggilnya. Nama aslinya sendiri cukup bagus, Chairunnisa. Teman-temannya biasa memanggil Nisa saja. Tapi, karena saat pertama bertemu, aku melihat mata bulat gadis berambut sebahu itu selalu bergerak lucu -- seperti Dakocan, sebutan boneka lucu yang mirip Susan-nya Ria Enez -- aku meledeknya dengan panggilan Ocan, yang lama-lama menjadi panggilan tetap. Anehnya, Nisa tidak pernah protes ataupun marah.

Aku mengenal Ocan saat mengikuti Lomba Palang Merah Remaja (PMR) tingkat SMA se-Kabupaten Malang, di Desa Peniwen, sebuah daerah yang berada di wilayah selatan kota Malang, pertengahan September 1985. Sekolahku, SMAN 1 Tumpang, mengirim 2 regu putra dan 1 regu putri. Saat itu, kebetulan reguku sudah selesai berlomba di hari pertama, sehingga di hari kedua reguku bisa mengikuti lomba kategori hiburan, yaitu Lomba Mengumpulkan Tanda Tangan. Tujuan mata lomba ini sebenarnya untuk mengakrabkan antar peserta lomba, dengan saling minta tanda tangan dari tenda ke tenda.

Karena memang sudah tidak mengikuti lomba inti, aku bertiga -- yang tiga orang lagi memilih berjaga di tenda -- bisa seharian keliling dari tenda ke tenda, termasuk tenda area peserta putri. Saat itulah pertama kali aku melihat Ocan, yang sedang jaga bersama satu orang temannya, di tenda salah satu SMA swasta dari Batu. Kami datangi tenda tersebut, saling tukar tanda tangan dan biodata singkat. Disitulah baru ketahuan, ternyata tanggal lahirku sama dengan Ocan, beda satu tahun, aku lebih tua. Pun demikian sekolahnya, aku kelas 2 sedang Ocan kelas 1. Meski terlihat kurang begitu gesit seperti rata-rata peserta lomba lainnya, dari bicara dan ucapan-ucapannya Ocan cukup bersemangat.

Begitu lomba yang berlangsung 4 hari tersebut usai -- dan sekolahku berhasil meraih 1 piala sebagai Juara 2 Lomba P3K Putri -- aku menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Tak ada lagi sisa cerita dari lomba yang melelahkan tersebut, termasuk Ocan. Sampai kira-kira 3 minggu kemudian, datang sebuah surat yang ditujukan kepadaku, dengan alamat sekolah. Pengirimnya Chairunnisa, lengkap dengan alamat sekolahnya. Isinya tidak istimewa, hanya ingin menjadi sahabat pena, yang bisa diajak ngobrol dan diskusi. "Mas Sugeng kelihatan pendiam, tapi kalau sudah bicara suasana jadi segar. Mudah-mudahan mau menjadi teman ngobrol Nisa," begitu satu kalimat yang selalu aku ingat.

Hari-hari berikutnya, surat Nisa -- begitu dia menyebut namanya, tapi aku tetap memanggilnya Ocan -- rutin datang, dua minggu atau sebulan sekali. Ada saja hal yang diceritakan, mulai dari keluarganya yang selalu memanjakan tapi dia tidak suka, kegiatan ekstrakurikuler sosial dan kerohanian di sekolah yang dia ikuti, sampai aktivitas mengajar mengaji anak-anak di sekitar rumahnya. Sama seperti saat ketemu di lomba, dalam suratnyapun Ocan selalu semangat dan penuh optimis, tidak pernah ada keluh kesah atau nada cengeng.

Ada satu hal yang membuat aku terlecut, saat di salah satu suratnya Ocan mengingatkan agar aku tidak jadi seorang pendiam dan rendah diri hanya karena kondisi keluarga yang kurang mendukung. Aku harus jadi laki-laki kuat yang punya prinsip dan karakter. Dengan bahasa sederhananya, Ocan yakin aku mampu mengembangkan potensi yang ada pada diriku. Sebenarnya aku malu pada diriku, bagaimana mungkin seorang gadis yang usianya lebih mudah dariku -- dan hanya berkomunikasi lewat surat -- bisa 'membaca' kelemahanku, bahkan menasehatiku?

Sejalan dengan bergulirnya waktu, bersamaan aku naik kelas 3, surat dari Ocan sudah mulai jarang. Kadang sampai 2 bulan baru datang lagi. Alasannya, dia harus mengurangi frekuensi aktivitasnya, termasuk ekstrakurikuler di sekolahnya, tanpa pernah menceritakan penyebabnya. Aku tidak pernah menanyakan, tetap berpikir positif bahwa semua itu bisa jadi karena Ocan lebih berkonsentrasi pada studinya, untuk bisa merealisasikan cita-citanya sebagai dokter yang mengabdi di daerah terpencil.

Yang membuatku agak sedih adalah saat aku bercerita bahwa aku sudah lulus SMA dan diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) tanpa tes --- lewat jalur PMDK -- di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dalam suratnya, yang seminggu kemudian aku terima, tidak seperti biasanya kali ini Ocan hanya menulis singkat, bahwa itu adalah kesempatan terbaikku untuk merealisasikan obsesi-obsesiku. Aku harus tegak melangkah ke depan, tidak lagi menoleh ke belakang. Di akhir suratnya, Ocan menulis kalimat yang sengaja dibuat agak tebal, "Nisa senang, akhirnya bisa menyelesaikan tugas Nisa sebagai adik dan sahabat Mas Sugeng."

Jujur, aku tidak paham dengan kalimat tersebut. Aku mencoba menanyakan lewat surat balasanku, tapi tidak ada jawaban. Bahkan, saat sudah kuliah di Mataram, dua kali aku menulis surat ke Ocan, tetapi tidak dijawab. Lagi-lagi aku mencoba untuk realistis, bahwa Ocan tidak ada hubungan apa-apa denganku, Ocan hanya seorang sahabat pena, dan dia berhak untuk melakukan apa saja, termasuk tidak membalas surat-suratku. Apalagi dia sudah kelas 3 SMA, mungkin ingin konsentrasi ke studinya. Aku mulai melupakannya.
***

Tiga tahun kemudian, tepatnya pertengahan tahun 1991, ketika aku mengikuti Lokakarya Nasional KSR-PMI PTN/PTS se-Indonesia di IKIP Malang -- bersama 4 orang teman, mewakili Universitas Mataram -- aku bertemu Chanafi, perwakilan dari Universitas Islam (Unisma) Malang. Dalam obrolan ringan sambil makan malam tersebut, secara kebetulan Chanafi ternyata alumni SMA yang sama dengan Ocan, bahkan satu angkatan. Aku basa-basi menanyakan kabar Ocan, dimana dia kuliah sekarang. Aku ceritakan kalau Ocan adalah sahabat penaku selama 2 tahun.

Jawaban Chanafi sungguh membuatku kaget sekaligus sedih. Ternyata Ocan sudah meninggal tiga tahun silam, beberapa hari setelah menulis surat terakhirnya yang dikirim ke aku. Dari penuturan Chanafi, aku baru tahu kalau Ocan anak tunggal seorang pengusaha di Batu -- satu hal yang tidak pernah diceritakan Ocan padaku di surat-suratnya -- yang mengidap penyakit kanker darah, atau biasa disebut leukemia.

Ocan yang menyadari bahwa penyakitnya kecil kemungkinan untuk bisa sembuh, justeru saat duduk di kelas 2 SMP. Itulah sebabnya dia lebih memilih aktif di kegiatan sosial dan kerohanian, yang banyak berinteraksi dan bertujuan untuk menolong sesama.

Masih penuturan Chanafi, empat bulan sebelum meninggal kondisi Ocan memburuk dan harus dirawat di rumah sakit. Hari-hari Ocan yang semakin lemah hanya diisi dengan membaca buku dan membalas surat-surat sahabat penanya -- termasuk aku -- dan mengobrol secara terbatas dengan teman-teman sekolah yang menjenguknya. "Nggak pernah mengeluh, Mas. Selalu tersenyum dan mencoba bercanda kalau kami datang, bahkan memberi semangat agar kami optimis untuk bisa meraih cita-cita dan masa depan kami. Mestinya kami yang memberi semangat Nisa," ucap Chanafi, lirih.

Ya, Ocan memang bukan siapa-siapa, hanya seorang sahabat -- yang kadang menenpatkan sebagai adik terhadapku -- tapi aku tetap merasa kehilangan yang mendalam. Setidaknya, Ocan mampu memberi semangat pada orang sehat, termasuk aku, disaat dirinya sakit dan sadar usianya tidak akan panjang.
***

Dan hari ini, adalah tanggal 9 April, yang harusnya Ocan (juga) merayakan ulang tahun, sama sepertiku. 


Selamat ulang tahun, Ocan. Beristirahatlah dengan tenang, Chairunnisa...
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com