SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 16 April 2017

Bakti Tanpa Batas

Tradisi berkumpul saat Lebaran -- yang sudah berlangsung turun-temurun pada masyarakat -- juga berlaku di keluarga besar bapakku. Setidaknya aku ketahui ketika mulai bisa menyimpan ingatan di memori otakku sekitar umur 5 tahun.

Seingatku, di hari pertama Lebaran, sehabis sholat Ashar, biasanya seluruh keluarga besar bapak tanpa terkecuali -- adiknya ada 8 orang, bapak anak sulung -- berkumpul di rumah kakek yang cukup besar. Dengan halaman yang luas, serta kebun di samping kanan dan belakang rumah yang penuh dengan pohon buah-buahan, menjadikan kami yang masih anak-anak punya tempat bermain yang lapang dan menyenangkan.

Disaat itulah kakek -- dan juga nenek -- seusai sholat Maghrib akan mengabsen anak dan menantu serta cucunya satu persatu, sehingga kami yang hadir bisa saling mengenal satu sama lain. Hal yang wajar, karena adik bapak rata-rata sudah berkeluarga dan tinggal di desa lain, yang frekuensi bertemunya juga jarang. Di acara itu pula aku jadi tahu saudara sepupuku yang seumuran, yang semuanya memanggil aku 'Mas' karena status bapakku yang paling tua di keluarga besarnya.

Dari 5 orang saudara sepupuku yang seumuran, lahir pada tahun yang sama -- 4 laki-laki dan 1 perempuan -- ada satu orang yang menurutku agak unik, karena sebagai anak-anak laki-laki pembawaannya terlalu kalem dan terkesan pemalu. Tapi selalu senyum, meski tidak banyak bicara. Dani namanya, anak pertama dari adik laki-laki bapak yang tinggal di desa Bunut, masih wilayah kecamatan Pakis, 4 kilometer dari rumahku. Lebih unik, saat sendirian, Dani yang punya dua adik perempuan ini sangat aktif dan asyik dengan aktivitasnya sendiri, entah mainan atau hal lain.
Diluar kumpul keluarga saat Lebaran, sesekali aku juga bertemu dan bermain dengan Dani. Terutama jika diajak bapaknya ke rumah, atau kebetulan sama-sama berkunjung ke rumah kakek saat libur sekolah. Hingga suatu saat -- ketika aku sudah menginjak kelas 1 SMP -- Dani tidak muncul di rumah kakek, padahal hari itu adalah kumpul keluarga besar di hari pertama Lebaran. Dari penuturan bapaknya, yang disampaikan pada kakek dan seluruh yang hadir malam itu, Dani tidak bisa ikut karena sedang kurang enak badan dan terpaksa ditinggal di rumah.

Tapi, dari cerita bapak dua hari kemudian, aku baru tahu kalau Dani tidak melanjutkan ke SMP, dan memilih 'bekerja' membuat mainan anak-anak berupa miniatur pesawat terbang yang terbuat dari kayu randu. Dani juga ikut jualan hasil karyanya -- bersama tetangga yang menjadi juragannya -- di areal pemandian Wendit, yang memang selalu ramai pengunjung saat hari Lebaran, karena menggelar pesta rakyat selama satu minggu. Itulah sebab utama Dani tidak hadir di rumah kakek.

Dua bulan kemudian, ketika bapaknya Dani berkunjung ke rumah, aku sempat menanyakan perihal Dani. Dan jawabannya membuat aku makin tak mengerti, "Dani tak mau melanjutkan sekolah, karena ingin membantu orangtuanya cari nafkah, Le. Padahal Pak Lik ini masih bekerja dan mampu membiayai Dani dan adik-adiknya. Apalagi Bu Lik juga punya toko di rumah. Tapi Dani ngotot ingin ikut cari uang. Pak Lik gak bisa melarang," demikian penjelasan Pak Lik -- sebutan untuk memanggil adik bapak, yang artinya Om -- yang selalu memanggilku dengan sebutan 'Tole' (= anak laki-laki, bahasa Jawa).

Sejak itu aku sangat jarang bertemu Dani. Setiap pertemuan keluarga besar saat Lebaran di rumah kakek juga tidak kelihatan, karena harus jualan dagangannya di pemandian Wendit, salah satu obyek wisata alam yang ada di kabupaten Malang. Kalau toh bertemu, Dani dengan dibarengi senyumnya yang khas hanya berkata singkat, "Saya membantu orang tua cari uang, Mas. Kasihan bapak dan ibu harus membiayai saya dan adik-adik yang masih sekolah."

Pun demikian ketika beberapa tahun kemudian kami -- aku dan para sepupu yang berusia sepantaran Dani -- sudah mulai berkeluarga satu per satu, termasuk 2 adik perempuan Dani yang juga sudah berumah tangga dan ikut suaminya, Dani lebih memilih tetap membujang. Alasannya lagi-lagi tetap sama, yaitu, "Kasihan bapak dan ibu, Mas. Adik-adik sudah tidak tinggal di rumah. Kalau saya nikah, siapa nanti yang menjaga bapak dan ibu? Mas tahu sendiri, bapak juga mulai sakit-sakitan sekarang."

Entahlah apa yang ada di benak pikiran Dani. Dalam beberapa kali pertemuan keluarga besar -- yang kali ini sudah didominasi generasi kedua, karena kakek dan nenek sudah meninggal -- secara informal kami sering membicarakan Dani. Di satu sisi kami salut dengan prinsip 'berbakti' pada orang tua yang keukeh dijadikan alasan Dani kenapa belum menikah. Tapi, disisi lain, orang tuanya juga bersedih karena Dani selalu menjadikan mereka sebagai alasan utamanya.

Kalau ada yang beranggapan Dani mempunyai kelainan -- lebih suka pada sesama jenis, misalnya -- itu salah besar. Karena secara eksplesit Dani sering bercerita bahwa ada beberapa perempuan yang disukai, dan sebaliknya ada perempuan (tepatnya gadis) yang terang-terangan menyatakan suka padanya. Lagi-lagi sikap gamang mengambil keputusan, ditambah rasa cinta yang luar biasa pada orangtuanya, membuat Dani mengabaikan hal tersebut.

Yang agak miris, beberapa hari sebelum bapaknya meninggal -- karena penyakitnya yang kronis -- secara khusus memanggil Dani dan meminta segera menikah, agar sempat melihat putra pertamanya berumah tangga. Seperti diceritakan ibunya saat pertemuan keluarga besar, dengan wajah sedih dan bersungguh-sungguh Dani menjawab singkat, "Saya menikah besokpun juga bisa. Tapi bagaimana kalau istri saya nanti tidak bisa menyayangi Bapak dan Ibu? Saya tidak rela!" Dan beberapa hari kemudian bapaknya meninggal, tanpa sempat melihat anak pertamanya menikah.
***

Saat tiga tahun silam aku mudik ke Malang, aku sempat bertemu Dani di rumah besar kakek -- yang kini ditempati adik bungsu bapak -- dan mengingatkan untuk segera menikah, karena umur yang semakin tua. Bahkan, diantara kami yang seumuran pun sudah ada yang punya cucu. Diluar dugaanku, jawabannya juga masih tetap sama, "Sekarang saya hanya hidup berdua dengan ibu yang sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Saya harus menjaganya, Mas. Sudah menjadi kewajiban anak untuk berbakti pada orang tua," dengan tenang Dani menjawab apa yang aku ingatkan padanya. Masih dengan senyum khasnya.

Begitulah, tak ada maksud apapun ketika aku menulis tentang Dani. Kecuali, ada satu hal yang menurutku sangat luar biasa pada diri Dani, yang dipegang teguh sampai saat ini, yaitu prinsip bahwa anak harus berbakti pada orang tua -- dengan cara membantu, menjaga dan melindungi -- sampai akhir hayatnya.

Apakah cara Dani berlebihan -- atau juga salah? -- sampai mengabaikan kepentingan dan kebutuhan pribadinya, aku tidak berhak untuk menilainya. Hanya Dani yang bisa menjawab, karena itu hak pribadinya.
Share:

0 komentar:

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Pages

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Page View

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Follow by Email

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Buku Tamu

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com