SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 02 April 2017

Badut Juga Manusia

Ketika masih tinggal di wilayah Jakarta Timur -- daerah pinggiran ibukota, dekat terminal Kampung Rambutan -- aku paling suka mengisi waktu liburan akhir pekan bersama keluarga ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Selain dekat dengan rumah, areal obyek wisata yang sangat luas dan berisi berbagai anjungan daerah di tanah air itu, bisa menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Untuk diriku sendiri, menjadi obat kangen kampung halaman, karena bisa menikmati berbagai atraksi kesenian khas Jawa Timur, seperti Ludruk, Reog, Jaranan, atau Campursari Jawatimuran. Tentu saja semua itu di anjungan Jawa Timur, yang letaknya dekat danau TMII.


Pun demikian dengan putriku -- saat itu baru satu, Tiwi namanya -- punya tempat favorit yang wajib dikunjungi, yaitu Teater Imax Keong Emas. Sebuah gedung film dengan layar cekung raksasa dan khusus menayangkan film 3 dimensi, yang selalu bikin sport jantung dan adrenalin naik, karena kita serasa menjadi bagian dari film tersebut. Anehnya, Tiwi selalu menikmati, walau usianya kurang dari 6 tahun.

Karena jadi primadona pengunjung, Teater Imax tak pernah sepi, bahkan selalu terjadi antrian penonton, meski dalam sehari ada 5 jam tayang. Besarnya animo pengunjung -- sampai harus rela menunggu dan antri -- inilah yang nampaknya menjadi lahan basah para badut. Dengan berpakaian tokoh animasi yang sudah akrab dengan anak-anak, seperti: Donald Bebek, Tweety, Mickey Mouse atau juga Teletubbies, ada sekitar 8 badut mencoba menarik perhatian anak-anak yang ada di sekitar Teater Imax. Ada yang sekedar melambaikan tangan, goyang badan dengan gerakan lucu, sampai yang agresif menarik tangan anak-anak untuk diajak foto pada tukang foto keliling yang stand by di sekitar area Keong Emas.

Aku dan istriku sebenarnya tidak begitu hirau pada badut-badut tersebut, karena Tiwi memang takut pada semua bentuk badut dan sejenisnya. Gara-garanya, suatu hari saat main di teras rumah sendirian, tiba-tiba ada badut ondel-ondel -- yang mengamen dari rumah ke rumah -- datang dan mengagetkannya. Sejak itu setiap melihat badut dan sejenisnya, Tiwi selalu ketakutan, seperti trauma. Sehingga setiap ke Teater Imax, sebisa mungkin Tiwi aku jauhkan dari badut-badut yang ada.

Entah mengapa, dalam satu kesempatan yang kesekian kalinya ke Teater Imax, saat sedang menunggu pemutaran film jam 10 pagi di koridor gedung Keong Emas, Tiwi seperti terkesima pada sosok badut yang memakai kostum Laa-laa -- salah satu karakter pada Teletubbies -- yang berada kira-kira 10 meter didepannya. Tiwi tidak kelihatan takut pada sosok lucu warna kuning yang melambai tangannya, membuat gerakan isyarat seolah mengajak bermain, dan kadang kedua tangan badut yang terpisah dari kelompoknya tersebut direntangkan ke depan, seolah ingin memeluk dan menggendong Tiwi.

Tentu saja kami -- aku dan istri -- senang melihatnya. Ternyata Tiwi kali ini tidak ketakutan melihat badut. Secara perlahan, Tiwi aku tuntun mendekat pada badut tersebut. Karena menurutku ini kesempatan bagus untuk 'membebaskan' Tiwi dari traumanya pada sosok badut. Begitulah, Tiwi tidak berkeberatan, dan akhirnya mau berfoto dengan badut tersebut dalam beberapa pose, mulai dari dirangkul badut, duduk di pangkuan badut, dan juga digendong badut.

Setelah puas berfoto, Tiwi memberi uang yang diselipkan pada kantong besar yang ada di perut badut, dan bersalaman sambil tertawa riang. Aku dan istri hanya berpandangan, masih sedikit kurang paham dengan apa yang sedang terjadi pada Tiwi dan badut itu.

Ketika kembali ke tempat duduk di koridor, tanpa diminta Tiwi bercerita -- dengan gaya khas anak usia 5 tahun -- bahwa badut warna kuning itu baik, tidak jahat, dan tidak menakut-nakuti anak kecil seperti badut-badut lainnya. "Buktinya Tiwi tadi dipanggil dan diajak main," begitu Tiwi mengakhiri ceritanya. Aku tercenung. Baru menyadari bahwa gerakan isyarat dan gestur tubuh badut saat melambaikan tangan pada Tiwi, beda dengan badut lainnya. Sangat bersahabat dan seperti memahami benar bagaimana menghadapi anak kecil.

Pertanyaan yang sempat menggelayut di benakku akhirnya, tanpa diduga sebelumnya, mendapat jawaban. Seusai menonton film di Teater Imax, saat kami berjalan ke anjungan Jawa Timur untuk makan siang -- yang kantinnya menyediakan menu spesial rujak cingur dan dawet -- lagi-lagi kami bertemu badut warna kuning, sedang duduk di bawah rerimbunan pohon, dekat taman bunga.

Bedanya, badut tersebut membuka kostumnya sampai pinggang, dan sedang menyusui bayi kecilnya. Disampingnya, duduk 2 anak kecil sambil menyantap nasi bungkus. Satu anak laki-laki usia sekitar 4 tahun, dan satu anak perempuan usia sekitar 10 tahun.

Ya, badut itu ternyata seorang ibu yang usianya tak lebih dari 30 tahun, dan 3 anak kecil itu adalah buah hatinya. Sambil tersenyum ramah, ibu itu lagi-lagi melambaikan tangan dan memanggil Tiwi, tentu saja kali ini dengan suara lembut seorang ibu. Aku ajak Tiwi dan istriku menghampiri ibu tersebut, sekedar untuk bertegur sapa dan mengucap terima kasih karena telah membuat Tiwi tidak takut lagi pada badut.

Yang membuat trenyuh, dari cerita singkatnya, ibu itu harus bekerja jadi badut -- bersaing dengan 7 badut lainnya yang sebagian besar laki-laki -- seusai melahirkan anak ke-3 nya, karena suaminya yang kuli bangunan meninggal dalam kecelakaan kerja. Selama jadi badut, anak tertuanya bertugas menjaga adik-adiknya.

Tentu bukan kisah sedih ibu 'badut' itu yang jadi benang merah tulisan ini. Tetapi, bahwa betapa berat beban hidup yang harus ditanggung, tetapi ibu itu tetap menjalankan profesi badutnya dengan beretika -- tidak memaksa dan membuat takut anak-anak demi mendapat uang -- patut diapresiasi. Dan, naluri seorang ibu, meski dibungkus pakaian badut sekalipun, tetaplah tidak bisa ditutupi. Bahkan dengan bahasa isyarat dan gestur tubuh seorang ibu, telah membuat Tiwi 'sembuh' dari trauma ketakutan pada badut.

Yang pasti, badut juga manusia. Yang punya rasa, naluri dan juga hati. Itu tidak dapat dipungkiri!
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com