SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 12 Maret 2017

Surat yang Tak Pernah Sampai

Ketika putri pertamaku mulai menginjak masa remaja -- masuk sekolah SMP, 7 tahun silam -- aku sempat was-was, apakah aku mampu menjadi orangtua yang bisa menjaga dan mengarahkan putriku agar bisa menjalani masa remajanya dengan kondisi normal. Dalam artian, tanpa harus intervensi dan mengatur terlalu ketat pola geraknya, sehingga anak merasa terkekang dan kurang bisa mengekspresikan jiwa remajanya.


Karena, tak dapat dipungkiri, di era teknologi dan informasi yang sudah demikian maju, hal negatif yang rentan menyerang dunia remaja, dapat pula dengan mudah menyerang pula orang-orang di sekitar kita, tak terkecuali putriku.

Untungnya, dengan pola pendekatan yang intensif dan komunikasi yang tidak mendoktrin -- ditambah upaya saling berbagi peran dengan istri -- rasa was-was itu mulai hilang. Dan, satu hal yang tidak bisa aku abaikan, mencontoh cara orangtuaku (baca: ibu) dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya, menjadi pelajaran penting yang aku terapkan ketika menjadi orangtua.

Aku masih ingat, bagaimana ibu memperlakukan aku ketika mulai menginjak masa remaja. Mulai dari mengurangi sedikit demi sedikit ketergantungan pada ibu, seperti menyiapkan perlengkapan mandi sendiri, ikut membantu pekerjaan rumah -- menyapu lantai, bersih-bersih kamar -- sampai mengingatkan bahwa suatu saat akan mulai tertarik pada lawan jenis.

Dengan penuh kelembutan ibu selalu menyempatkan mengajak ngobrol setiap aku habis mengerjakan PR sekolah di malam hari. Ada saja topik yang dibicarakan, yang kalau dicermati dengan seksama intinya adalah masa remaja itu masa menyenangkan yang harus dinikmati, tetapi juga harus waspada dan tidak boleh kebablasan. Nasehat-nasehat yang disampaikan dengan bahasa sederhana -- bahkan tidak aku sadari kalau itu sebenarnya sebuah larangan -- membuat aku bisa menerima sebagai keharusan yang memang tidak boleh aku langgar.

Bukan hanya ucapan lisannya saja, dari sikap ibu pun aku sering dibuat sadar -- dan malu -- bahwa ada hal-hal yang sudah aku langgar atau tak seharusnya aku lakukan. Sebaliknya, dengan sikap ibu pula, aku merasa tak dipermalukan. Ibu sangat paham bagaimana harus memperlakukan anak-anaknya -- termasuk aku -- saat menginjak masa remaja.

Ada satu kejadian yang tak mungkin aku lupakan, yang berhubungan dengan masa remajaku ini. Yaitu ketika aku menginjak kelas 2 SMP. Saat itu usiaku 15 tahun, dan seperti remaja pada umumnya mestinya aku juga punya teman banyak, meski kenyataannya adalah sebaliknya. Karena sifatku yang pendiam -- dan cenderung pemalu -- temanku hanya terbatas teman sebangku, atau yang berasal dari SD yang sama denganku, atau juga teman yang memang benar-benar punya pembawaan familiar, sehingga mau berteman denganku. Baik cowok maupun cewek.

Sampai suatu ketika, guru Biologi membagi kelas dalam 8 kelompok, setiap kelompok 5 orang -- 3 cowok dan 2 cewek -- yang setiap praktek di laboratorium duduknya harus berselang-seling, dalam bangku panjang untuk 5 siswa. Celakanya, aku dapat posisi di tengah, diapit 2 teman cewek. Sudah dapat diduga, aku yang pendiam selalu panas dingin setiap pelajaran Biologi. Bukan karena tidak menguasai pelajaran, tetapi posisi duduk yang tidak nyaman menurutku.

Sebenarnya, Bulan -- bukan nama sebenarnya, yang duduk di sebelah kiriku -- adalah teman yang menyenangkan. Wajahnya yang manis, pembawaannya yang anggun, dan sikapnya yang tidak berlebihan, membuat banyak yang suka berteman dengannya, cowok maupun cewek. Nyatanya, meski setiap minggu duduk bersebelahan denganku, tak pernah ada percakapan yang terjadi. Kalau ada, itupun sekedar saling pinjam hapusan atau penggaris, ataupun berbagi buku diktat yang satu kelompok dijatah 2 buku.

Keinginanku yang begitu kuat untuk bisa kenal dan mengobrol dengan Bulan -- seperti teman-teman sekelas lainnya -- memunculkan ide untuk mengirim surat pada Bulan. Konyol memang, hanya untuk bisa kenal dan mengobrol, harus lewat surat. Dan nyatanya surat itu benar-benar aku tulis malam hari sebelum besoknya pelajaran Biologi. 

Sebuah surat yang aku tulis diatas kertas buku biasa -- tanpa amplop -- berisikan ajakan kenalan dan menjadi teman, itu saja. Tidak lebih.

Malam itu, sebelum tidur, surat aku taruh di saku baju pramuka yang akan aku pakai ke sekolah. Dan esoknya -- aku malah lupa dengan surat yang sudah aku buat -- aku berangkat sekolah seperti biasa. Barulah ketika pelajaran Biologi di laboratorium dan melihat Bulan duduk di sebelahku, aku teringat dengan surat perkenalan yang sudah aku siapkan.

Pelan-pelan aku raba saku kiriku, kosong. Demikian pula saku kanan, juga tidak terasa ada lipatan kertas. Agak panik, aku raba saku celana kiri dan kanan, juga tidak ada. Aku mencoba lagi merogoh saku bajuku, tetap tidak ada.

Jadilah saat pelajaran Biologi siang itu aku kurang konsentrasi. Pikiranku masih tertuju pada surat yang hilang di saku bajuku. Dan tepat saat pelajaran berakhir, aku menemukan jawabannya, kenapa surat itu lenyap.

Ya, surat itu pasti diambil ibu. Karena setiap pagi ibu selalu memeriksa semua kantong baju dan celana yang digantung di tembok kamar, supaya saat dicuci tidak ada benda apapun yang ikut tercuci. Ibu pasti mengira baju pramukaku tidak dipakai lagi hari itu, makanya ikut digeledah. Sebab, ibu mencuci ketika kami -- anak-anaknya -- sudah berangkat sekolah semua.

Ketika sampai rumah, aku harap-harap cemas. Takut ibu menanyaiku perihal surat untuk Bunga. Saat makan siang aku lebih banyak menunduk, tidak berani memandang ibu yang juga menemani aku dan kakak serta adikku makan. Namun dalam percakapan di meja makan, ibu biasa saja, tidak menyinggung apa-apa tentangku.

Demikian juga malam hari saat aku dan saudara-saudaraku belajar, ibu tetap bersama kami di ruang tengah -- yang berfungsi juga sebagai ruang keluarga -- menemani sambil membuat sulaman taplak meja. Kalau ada pembicaraan denganku, ibu hanya menanyakan seputar pelajaran di sekolah yang aku dapat siang harinya. Tak ada menyinggung tentang surat di baju pramuka.

Aku tetap khawatir dengan kemarahan ibu. Sehari, dua hari, bahkan sampai seminggu kemudian, tidak ada pertanyaan ibu tentang surat yang yang diambil dari saku bajuku. Hanya, sesekali ibu memberi nasehat tentang perlunya banyak teman, jangan memilih-milih teman, juga jangan terburu-buru menjadikan teman sebagai yang istimewa. Dan ibu mengatakan semua itu tetap dengan pandangan sayang dan senyum lembutnya, padaku.

Begitulah, ibu selalu memberi nasehat dan teguran tanpa harus membuat malu anaknya. Bahkan yang aku rasakan, teguran itu menjadi pemompa semangat bahwa aku harus berani mengambil sikap, berani untuk bertegur sapa dengan siapapun, mengikis sedikit demi sedikit sikap pendiam dan pemaluku.

Yang pasti, sampai ibu menghadap sang Khaliq beberapa tahun silam, misteri surat yang ada di saku baju pramukaku -- dan tak pernah sampai itu -- tidak pernah terungkap. Selain ibu tidak pernah menceritakan, aku juga tidak pernah menanyakan.

Biarlah, itu bagian dari pembelajaran masa remajaku, bagian masa lalu yang memacu aku jadi bisa lebih bersikap dewasa. Dan pelajaran berharga -- bagi diriku saat ini -- untuk mendidik anak-anakku agar bisa mengisi masa remajanya dengan hal pasitif. Insha Allah!
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com