SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Sabtu, 29 April 2017

Nyanyian Hati Sari

Matahari sore yang sudah tidak begitu terik, membuat panggung seluas 4×6 meter yang berada di sudut halaman luas rumah teman kantor di daerah Cilangkap (Jakarta Timur) -- yang sedang punya hajat menikahkan putri tunggalnya -- semakin meriah. Beberapa pria berpakaian batik dan pemuda tanggung nampak antusias berjoget diatas panggung, menemani penyanyi berpakaian agak seronok yang sedang menyanyi lagu dangdut dengan gaya sensual.

Aku yang sedang menikmati hidangan prasmanan bersama istri, dan tentu saja para tamu lain yang hadir, sesekali melihat ke arah panggung yang jaraknya sekitar 20 meter itu.

"Luar biasa ya, Yah. Perjuangan anak itu dalam mencari uang patut dihargai," istriku berkata sambil mendekatkan kepala ke arah telingaku, karena suasana bising dengan hiburan organ tunggal sore itu. "Rasanya miris kalau melihat perjalanan hidup Sari," ujarnya lagi, dengan mata masih menatap penyanyi di panggung.

Ya, benar. Sari yang dimaksud istriku adalah perempuan tanggung -- sekitar umur 22 tahun -- yang sedang menyanyi di atas panggung. Kami mengenal, karena pernah menjadi tetangga dekat saat masih tinggal di daerah sekitar Kampung Rambutan (Jakarta Timur) di awal-awal menikah, sebelum pindah ke Bogor.

Sari -- entah siapa nama panjangnya -- berasal dari keluarga yang kurang beruntung. Bapak dan ibunya adalah pendatang dari daerah pesisir Jawa Tengah yang mencari peruntungan di Jakarta. Bapaknya jadi buruh serabutan, sedang ibunya buruh cuci pada tetangga sekitar yang membutuhkan. Anak kelima dari tujuh bersaudara, yang jarak lahir antar saudaranya tidak terlalu jauh, tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah petak 3×10 meter, hanya beberapa meter dari rumah kontrakan yang aku dan istri tempati. Sehingga apapun yang terjadi pada keluarga itu, kami bisa lihat dan dengar setiap harinya.

Sudah bisa dibayangkan, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan -- kalau tidak mau dikatakan kurang layak -- pendidikan Sari dan saudara-saudaranya tak begitu terurus. Saat Sari duduk di kelas 2 SD misalnya, kakak laki-laki pertamanya yang lulusan SD hanya jadi tukang parkir di sebuah warnet, dengan hasil yang tak seberapa. Kakak perempuannya yang tertua masih di SMP kelas 2, dan dua kakak laki-laki lainnya masih di SD kelas 4 dan 6. Sedang dua adik perempuannya belum sekolah.

Satu hal yang menonjol -- minimal beda dengan saudaranya yang lain -- Sari punya kebiasaan mendengarkan lagu-lagu dari radio kecil bapaknya yang selalu dibawa kemana-mana. Lucunya, saat bermain dengan adik-adiknya di depan rumahnya, Sari malah lebih sering asyik menyanyi sendiri sambil bergoyang meniru penyanyi yang sering dilihatnya di televisi. Meski sering diledek teman-teman sepermainannya maupun para tetangga, Sari tak pernah malu ataupun marah.

Bakat menyanyi Sari, yang berlatih tanpa sengaja dan tanpa guru vokal ini, suatu saat pernah dimanfaatkan orangtua teman sekolah Sari. Dengan alasan ada seleksi lomba menyanyi anak di salah satu radio swasta, Sari beserta tiga orang teman sekolahnya diajak latihan menyanyi dan direkam di salah satu studio di Jakarta Timur.

Ternyata itu hanya akal-akalan. Suara Sari dipakai lipsing temannya -- anak pemilik studio rekaman -- yang akan dipromosikan sebagai penyanyi anak-anak. Hal ini terkuak secara tak sengaja, ketika Sari mengaku bahwa lagu yang dinyanyikan temannya yang jadi penyanyi cilik dan muncul beberapa kali di televisi swasta itu adalah suaranya. Dan memang suara itu identik dengan suara Sari.

Tapi apa boleh buat, Sari bukan siapa-siapa. Anak perempuan yang berpenampilan tomboy itu hanya bisa senang suaranya muncul di televisi, meski dengan penyanyi anak lain. Pun orangtua Sari juga tak bereaksi apa-apa, karena memang sejak awal tidak menyukai anaknya suka menyanyi.

Kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, yang berdampak pada Sari dan adik-adiknya yang tak terurus kebutuhan sekolahnya, membuat Sari jadi malas sekolah. Saat kelas 5 SD, Sari sudah sering diajak tetangganya yang pemain musik untuk manggung sebagai penyanyi organ tunggal, di hajatan pesta perkawinan dari kampung ke kampung. Sehingga Sari sudah mulai bisa mendapat biaya sekolah untuk dirinya dan juga adik-adiknya.

Sayang, orangtuanya yang sejak semula memang sudah tidak setuju anaknya jadi penyanyi, makin keras melarang Sari untuk ikut-ikutan organ tunggal. Sudah bisa dipastikan, setiap Sari pulang dari acara menyanyi di malam hari, saat itu juga akan terdengar makian dan kemarahan dari Bapak dan Ibunya. Bukan itu saja, kadang disertai dengan kekerasan fisik berupa tamparan dan sejenisnya yang membuat Sari menangis dan teriak minta ampun.

Dan Sari tetaplah Sari, yang mencintai dunia nyanyinya. Seperti tak jera dengan ancaman dan pukulan orangtuanya, setiap ada ajakan dan kesempatan menyanyi di panggung akan selalu dipenuhi. Ini membuat kesabaran orangtuanya hilang, sehingga suatu malam sepulang nyanyi -- hanya beberapa hari menjelang ujian kenaikan kelas 6 -- rambut Sari dipotong habis oleh bapaknya, dengan harapan Sari tidak akan keluar-keluar rumah untuk menyanyi lagi.

Dampak setelah rambutnya botak, dalam beberapa minggu -- mungkin dua bulan lebih -- Sari tidak kelihatan lagi, lebih sering mengurung diri di dalam rumah. Dampak lainnya, Sari tidak naik kelas dan harus mengulang di kelas 5.

Bersamaan dengan itu, aku dan istri -- yang sudah punya momongan bayi cantik -- memutuskan pindah ke rumah yang kami beli di daerah Bogor. Dan tidak pernah dengar lagi cerita Sari dan keluarganya.
***

Tujuh tahun kemudian, aku kembali melihat Sari di kantorku. Hanya kebetulan, karena saat itu aku lagi memberi support pada staf departemenku yang maju ke final 5 besar lomba karaoke, dalam rangka peringatan HUT RI. Di ruang aula kantor yang riuh oleh pendukung dari 5 departemen berbeda, aku yang berdiri disamping kanan panggung -- bersama beberapa teman dari departemen export -- didatangi empat perempuan dari departemen produksi, yang kelihatan dari seragamnya.

Salah satu dari perempuan -- yang dari wajahnya sebenarnya aku sudah familiar -- itu menyapaku, "Apa kabar Mas Sugeng, masih ingat saya kan? Lani, yang dulu tetangga Mas di Pulo. Itu tadi yang tampil pertama adalah Sari, pasti Mas ingat dengan adik saya yang tomboy itu. Saya dan Sari sudah 5 bulan kerja disini, di Bagian Produksi."

Ya, sambil mendengarkan cerita Lani tentang Sari -- adiknya, yang begitu lulus SD ternyata memutuskan tidak melanjutkan SMP karena lebih tertarik menjadi penyanyi organ tunggal -- aku mengingat kembali penampilan peserta pertama yang terlihat profesional di panggung, gerakannya enerjik, dan kontrol serta cengkok lagu dangdut yang dibawakan begitu mulus. Aku tidak mengira kalau itu adalah Sari, yang sudah berusia 19 tahun.

Dari cerita Lani pula, aku mengetahui kalau akhirnya orangtuanya luluh dan mengizinkan Sari jadi penyanyi organ tunggal. Apalagi bapaknya juga sudah sakit-sakitan, sehingga Sari menjadi tulang punggung utama keluarga dalam mencari nafkah, termasuk untuk biaya sekolah Lani sampai lulus SMA.

Walau bekerja dalam perusahaan yang sama, aku tidak tahu kabar keduanya setelah acara di aula tersebut, karena memang lokal gedung yang berbeda. Sampai tiga tahun kemudian, kembali aku melihat Sari tampil di acara hajatan teman kerja, seperti yang aku ceritakan di awal.

Satu hal yang membuat aku respek pada Sari, bukan semata-mata karena harus menghidupi keluarga -- orangtua, kakak dan adik-adiknya -- dengan menyanyi dari panggung ke panggung. Tetapi lebih dari itu, Sari menyanyi dengan hati, menyanyi karena mencintai profesi ini, sampai harus rela menentang orangtua dan mengorbankan sekolah.

Ya, Sari menyanyi di panggung bukan bermodal sensualitas dan goyang penuh syahwat semata, yang selama ini identik dengan dangdut organ tunggal. Tapi, modal (ketulusan) hati dan pengorbanan, membuat Sari enjoy diatas panggung. Itu bedanya!
Share:

0 komentar:

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Pages

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Page View

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Follow by Email

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Buku Tamu

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com