SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Jumat, 03 Maret 2017

Naluri dan Strategi Bisnis Nyai Wasinah

Kalau dewasa ini persaingan bisnis -- skala besar -- sudah semakin terbuka, layaknya sebuah peperangan dalam merebut pangsa pasar, tentu itu bukan hal yang aneh. Bahkan, strategi 'menjauhi pesaing' yang punya produk sejenis, agar punya wilayah bebas untuk membuka pasar, sudah mulai ditinggalkan. Saat ini, kalau perlu, dimana musuh berada harus didekati. Harus ditempel. Perang head to head di wilayah yang sama!


Tapi strategi semacam itu tidak berlaku bagi Nyai Wasinah, yang aku kenal sebagai penjual makanan dan jajanan anak di pertengahan tahun 70-an. Atau, bisa jadi nenek berusia 50 tahun itu memang sama sekali tidak mengenal apa yang dinamakan strategi bisnis. Karena dia hanya seorang perempuan tua penjual pecel dan gulali, seorang pedagang kecil dari kalangan masyarakat kelas bawah yang berjualan mencari rupiah demi rupiah, sekedar cukup untuk membeli beras dan lauk pauk seadanya setiap harinya.

Nyai Wasinah tinggal di rumah sederhana berdinding anyaman bambu, ukurannya tak lebih dari 3x6 meter, yang disekat menjadi dua bagian. Bagian depan dipakai untuk ruang serbaguna, ruang untuk menaruh meja tempat jualan, ada amben -- sejenis dipan kecil dari bambu -- untuk tidur berhimpit dengan suami yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya, dan 2 buah kursi serta meja kecil yang sudah usang. Sedang bagian belakang digunakan untuk pawon, semacam dapur dengan tungku dari tanah liat. Lantai rumahnya dari tanah. Atap bagian depan memakai genteng yang sudah banyak pecah, sedang bagian belakang hanya beratap anyaman daun kelapa kering yang disusun bertumpuk.

Aku bisa mendeskripsikan rumah (atau gubug?) itu dengan detail. Karena aku bersama adik-adikku, atau sesekali dengan teman sepermainan -- anak-anak tetangga yang sebaya -- sering jajan ke tempat Nyai Wasinah, terutama gulali. Apalagi rumah itu hanya berjarak sekitar 25 meter di belakang rumahku.

Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan rumah itu dijadikan warung -- seperti yang sering dikatakan tetangga -- karena sepengetahuanku hanya buka kalau hari libur sekolah saja, biasanya Jumat dan Minggu. Sedang di hari biasa, Nyai Wasinah berjualan di samping kiri gedung sekolahku, yaitu SDN 01 Pakisjajar, yang berada di wilayah Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Kalau diamati dengan seksama, ada sisi menarik dari aktivitas Nyai Wasinah ini. Pertama, dia memilih berjualan jenis makanan yang belum dijual oleh tetangga yang lain, baik yang ada di sekitar rumahnya maupun yang ada di lingkungan sekolahku. Pilihan jualan pecel kampung yang sederhana -- berisi jantung pisang, labuh siam dan bayam, yang banyak tumbuh di pekarangan belakang rumahnya -- menandakan bahwa prinsip ekonomi secara tak sadar sudah dikuasai, yaitu mengeluarkan modal kecil untuk keuntungan yang besar.

Demikian juga dengan ragam jualannya, seperti: gulali gula merah, sawut singkong, bledhus jagung, krupuk miler dan kripik dari singkong, sangatlah tepat. Karena belum dijual oleh pedagang lain.

Kedua, naluri dagang Nyai Wasinah cukup tajam. Meski ragam jualan cukup spesifik, tapi Nyai Wasinah memilih hanya jualan pagi hari saja di samping sekolahku, yaitu dari jam 7 sampai 11 pagi. Tidak seperti pedagang lainnya, yang berjualan sampai sekolah usai, jam 5 sore.

Namun, dengan jam jualan yang pendek ini, mau tidak mau setiap jam istirahat sekolah jualan Nyai Wasinah selalu diserbu teman-teman sekolahku. Terutama untuk membeli gulali yang khas digulung-gulung pada potongan bambu -- sebesar stick es krim -- membentuk pohon cemara, yang menjadi favorit pelanggan Nyai Wasinah. Kalau lewat jam istirahat, sudah dipastikan tidak akan menemukan Nyai Wasinah di lingkungan sekolah, karena memang sudah pulang.

Ketiga, ini yang justru tidak pernah terpikir oleh pedagang lainnya -- mungkin karena butuh waktu, tenaga dan biaya -- Nyai Wasinah memilih berjualan di tempat yang lebih jauh, yang potensial untuk mendapatkan pembeli lebih banyak, pada siang dan sore harinya.

Setelah jam 11 pagi pulang dari jualan di sekolahku, biasanya nenek yang 2 cucunya kebetulan teman sekelasku ini, beristirahat sejenak sambil menyiapkan tambahan bahan jualannya. Dan jam 1 siang, kembali berangkat untuk berjualan di salah satu madrasah di Desa Bunut -- masih berada di wilayah Kecamatan Pakis -- yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Untuk mencapai lokasi jualannya, Nyai Wasinah menggunakan jasa dokar yang sudah jadi langganannya, baik saat berangkat maupun pulang di jam 5 sore.

Ketika jualan di Desa Bunut, lagi-lagi Nyai Wasinah punya kiat khusus demi menarik anak-anak untuk jajan gulali yang menjadi andalannya itu. Di saat musim panen jagung misalnya, untuk yang tidak punya uang tunai anak-anak diperbolehkan menukarkan jagung kering -- yang masih ada tongkolnya -- dengan gulali. Banyaknya gulungan gulali di stick bambu tergantung besar kecilnya jagung yang dibawa anak-anak itu. Biasanya, jagung-jagung tersebut oleh Nyai Wasinah sebagian akan dimasak jadi bledhus, dan sisanya digiling untuk campuran nasi jagung, juga dijual ke pasar untuk membeli gula merah sebagai bahan gulalinya.

Begitulah, dengan pola pikir sederhana khas orang kampung, Nyai Wasinah memilih menjalankan usahanya tanpa harus bersinggungan dengan para tetangga, yang punya usaha jualan makanan dan jajanan di lingkungan sekolah. Dengan memiliki ragam jualan yang berbeda, Nyai Wasinah terbebas dari persaingan 'tidak sehat' saling menjatuhkan antar pedagang -- biasanya soal rasa, cara masak dan bahan makanan yang dipakai -- yang mangkal di tempat yang sama.

Juga, untuk menyiasati berebut pasar potensial yang terbatas -- sementara penjual cenderung bertambah -- Nyai Wasinah lebih memilih mencari pasar baru yang lebih luas dan sedikit persaingannya, meski harus mengorbankan sedikit waktu dan biaya.

Tentu saja ini sebuah teladan, dan juga etika, bagaimana seharusnya berdagang yang baik demi menjaga sikap toleransi -- agar tidak muncul persaingan dan rasa iri yang mungkin akan timbul -- antar sesama pedagang di lingkungan sekitarnya. Juga, setidaknya apa yang dilakukan Nyai Wasinah, bisa menginspirasi siapa saja, bahwa sesungguhnya rezeki akan selalu datang, asal kita mau berupaya, tanpa harus berebut.
***

Sayangnya, saat menjelang lulus SD di awal tahun 80-an, aku sudah jarang melihat Nyai Wasinah jualan di sekolahku lagi. Usia yang makin renta, dan kehilangan suami -- yang meninggal karena sakit-sakitan -- membuatnya memilih lebih banyak berjualan di rumahnya, sampai akhir hayatnya.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com