SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 05 Maret 2017

Kenapa Bu Endang Galak?

"Letakkan telapak tangan di atas meja!" suara keras Bu Endah memecah suasana hening, begitu guru yang terbilang tak muda lagi itu masuk ruang kelas. Secara serempak, kami -- aku dan teman-teman kelas 4 SDN 01 Pakisjajar -- dengan pelan-pelan meletakkan tangan di atas meja, dengan jari terbuka dan menghadap keatas, tanpa suara berisik.


Setelah itu, dengan memegang penggaris kayu ukuran 50 cm, Bu Endah sudah berjalan mulai dari bangku depan paling kiri, memeriksa satu demi satu kebersihan dan kerapihan tangan kami. Berurut ke bangku belakang sampai deret ke 5, balik ke depan lagi, terus begitu sampai 20 bangku yang berisi masing-masing 2 murid selesai diperiksa semua. Jika ada kuku yang kotor dan panjang, satu ketukan penggaris mampir ke tangan kami. Dan itu, selalu berulang serta rutin dilakukan setiap hari Senin pagi, seusai upacara bendera.

Sebenarnya bukan itu saja, pada hari tertentu Bu Endah -- wali kelasku itu -- juga rutin memeriksa cara berpakaian murid-muridnya. Mulai dari kelengkapan kancing baju, badge yang dijahit di saku, bagian bawah baju yang harus dimasukkan ke dalam celana atau rok, potongan dan sisiran rambut harus rapi, juga kaos kaki yang harus dipakai jika bersepatu. Dan untuk kelengkapan alat tulis, Bu Endah juga teliti. Kami tidak boleh saling pinjam pensil, penghapus ataupun penggaris.

Jangan pula berharap bisa datang terlambat di kelas, karena kalau datang saat Bu Endah sudah ada di dalam kelas, hukuman berdiri di pojok kelas sampai jam istirahat sudah pasti didapat. Bu Endah selalu datang pagi-pagi, sebelum guru yang lain datang. Padahal rumahnya di Desa Saptorenggo, kira-kira 5 kilometer arah kota Malang dari sekolahku. Bu Endah mengendarai sepeda warna hitam -- yang selalu dilap mengkilat -- saat datang ke sekolah.

Cara Bu Endah mendisiplinkan muridnya yang terbilang sangat keras dan tidak biasa ini -- karena rata-rata guru di sekolahku sabar dan permisif -- sempat membuat kami yang diajar ketakutan, bahkan ada yang selalu menangis di kelas kalau mendengar suaranya. Ada pula yang langsung tidak masuk sekolah selama seminggu. Kami menganggap Bu Endah kejam, judes, galak, dan seperti ibu tiri di film-film. Apalagi Bu Endah adalah guru baru, yang langsung ditempatkan sebagai wali kelasku.

Perasaan takut dan tertekan, langsung berubah jadi kegembiraan ketika tiba hari Rabu dan Jumat. Karena di hari Rabu ada pelajaran olahraga, sedang hari Jumat ada pelajaran agama, yang gurunya bukan Bu Endah.

Namun demikian, Bu Endah juga mempunyai kelebihan, terutama dalam menjelaskan pelajaran matematika. Dengan suara keras dan intonasi yang jelas serta metode yang mudah dipahami, cara mengerjakan soal matematika jadi lebih mudah. Cuma ya itu tadi, karena sudah terlanjur ketakutan setiap Bu Endah masuk kelas, beberapa temanku jadi kurang konsentrasi dan lebih banyak diam saat menerima pelajaran.

Pun dari kerapian kelas dan disiplin murid, kelasku menjadi yang terbaik dibanding kelas lain. Setiap pagi tidak ada murid yang datang terlambat, penampilan -- dari rambut, seragam sampai sepatu -- cukup rapi, masuk kelas selalu tertib, dan kebersihan kelas juga terjaga. Setiap terlihat ada sampah apa saja, secara spontan kami berebut mengambil dan langsung memasukkan ke keranjang sampah yang ada di pojok kelas.

Ada satu kejadian lucu, yang membuat aku dan teman-teman selalu tertawa kalau mengingatnya. Yaitu pada suatu Sabtu siang, saat jam pelajaran IPA usai -- tetapi masih ada waktu 25 menit menjelang jam pulang -- tiba-tiba Bu Endah mengajukan pertanyaan, "Siapa diantara anak-anak sekalian yang suka nonton televisi kalau malam?"

Tentu saja pertanyaan itu membuat kami sekelas terkejut. Karena kami berpikir, pasti Bu Endah akan marah kalau ada yang mengaku dan mengacungkan tangan, takut dikira kami tidak belajar dimalam hari. Padahal, sudah pasti aku dan teman-teman tidak pernah melewatkan nonton televisi tiap malam. Baik di rumah sendiri, nonton ramai-ramai di kantor kecamatan, atau juga di rumah tetangga yang punya televisi.

Karena semua diam dan tidak ada yang angkat tangan, sambil tersenyum -- satu hal yang sangat jarang dilakukan di depan kelas -- Bu Endah berucap lagi, "Sugeng di rumahnya ada televisi, kan?" Celakanya, tanpa dikomando teman-teman sekelas kompak menjawab, "Adaaa.., Bu Guruuu..!"

Disaat aku sudah ketakutan, mengira akan dimarahi Bu Endah, tiba-tiba Beliau melanjutkan ucapannya, "Kalau begitu silahkan maju ke depan, nyanyikan lagu anak-anak yang sering ada di televisi, bisa kan?" Lagi-lagi tanpa dikomando teman-teman serentak bertepuk tangan kegirangan, karena Bu Endah tidak marah seperti perkiraan kami semula.

Jadilah aku maju ke depan kelas, sambil mengingat-ingat lagu apa yang aku hafal liriknya. Setelah berdiam hampir 2 menit di hadapan teman-teman, akhirnya lagu 'Aku Sayang Mama' dari Bobby Sandhora Muchsin bisa aku nyanyikan dengan tuntas. Kemudian masih ada 3 temanku lagi yang maju ke depan, menyanyikan lagu dari Adi Bing Slamet, Cicha Koeswoyo dan Ira Maya Sopha. Ternyata Bu Endah juga bisa menciptakan kegembiraan bagi kami, murid-muridnya.

Bu Endah -- yang sudah terlanjur kami juluki 'guru galak' -- mengajar di kelasku tuntas dalam 1 tahun, sampai aku naik kelas 5. Dan satu tahun kemudian, Bu Endah pindah ke Tulung Agung, mengikuti suaminya yang pindah tugas ke kota tersebut.

Meski cuma 2 tahun, Bu Endah sudah memberi warna tersendiri di sekolahku, terutama dalam hal kedisiplinan dan kemandirian, walau dianggap terlalu keras dalam penerapan cara didik pada murid.
***

Satu kebetulan, 7 tahun kemudian -- saat mulai masuk SMA -- aku duduk sebangku dengan seorang teman yang rumahnya dulu bertetangga dengan Bu Endah di Saptorenggo. Menurut penuturan temanku, Bu Endah ini istri seorang pegawai gereja di Malang, yang selama 20 tahun menikah belum dikaruniai anak. Di rumah, Bu Endah adalah sosok pendiam yang jarang keluar rumah ataupun ngobrol dengan tetangga.

Bahkan, masih menurut teman sebangkuku, Bu Endah sangat marah kalau ada anak-anak tetangganya yang main di halaman rumahnya. Biasanya, sang suami akan datang meminta maaf pada orang tua anak-anak yang dimarahi itu, sambil menjelaskan bahwa Bu Endah sangat tertekan kalau melihat anak-anak, apalagi momongan yang didambakan tidak juga datang. Itulah sebabnya, Bu Endah jadi sering berandai-andai, jika punya anak nanti akan dididik dengan disiplin dan cara-cara ideal lainnya.

Dan sejak mendapat cerita itu, aku mulai paham kenapa Bu Endah galak saat mengajar di depan kelasku dulu. Bisa jadi Beliau ingin merealisasikan 'mimpi' mendidik anak dengan cara yang benar (baca: ideal) dan disiplin tinggi.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com