SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Rabu, 01 Maret 2017

Jatuh Bangun Sepeda Kang Amir

Matahari di musim kemarau begitu panas menyengat, apalagi siang itu jam sudah menunjuk ke angka satu. Jalanan kampung Dukuh Krajan -- berada di Desa Pakisjajar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang ; desa kelahiranku -- nampak lengang, karena sebagian besar warganya sedang beristirahat melepas lelah, setelah beraktivitas sedari pagi.


Tapi tak demikian dengan lelaki setengah baya -- berusia sekitar 30 tahun -- yang nampak bermandi keringat, sedang menuntun sepeda onthel berukuran lebih besar dari badannya. Dengan wajah penuh semangat Kang Amir, begitu lelaki bertinggi badan tak lebih dari 150 cm itu biasa dipanggil, menahan sepeda di kanan badannya, dengan tangan kiri memegang stang sepeda sedang tangan kanan mengapit bagian palang sepeda yang menghubungkan sadel dan stang. Didorongnya sepeda itu di jalan kampung yang lebarnya tak lebih dari 3 meter dan belum diaspal, sehingga debu mengepul setiap dilewati sepedanya.

Setelah mencapai jarak sekitar 400 meter, lelaki berkulit gelap itu berbalik lagi ke arah sebelumnya. Begitu berulang-ulang, tanpa kenal lelah.

Memang, ada satu dua ibu-ibu yang sedang mengobrol dengan tetangga di depan rumah -- sambil mencari kutu, satu kebiasaan masyarakat di Dukuh Krajan -- yang meneriaki Kang Amir agar istirahat dulu, dan nanti sore saja melakukan aktivitasnya. Tetapi lelaki yang kerja serabutan itu hanya senyum dan mengangguk saja, sambil terus hilir mudik menuntun sepeda besar warna hitam itu.

Di hari berikutnya, Kang Amir sudah mulai mendorong sepedanya dengan sedikit berlari dan mencoba menginjakkan kaki kanannya ke pedal sepeda sebelah kiri, sehingga dia seperti terseret sepeda. Tak jarang sepedanya tiba-tiba oleng karena memang keseimbangannya tidak terjaga. Dan biasanya Kang Amir buru-buru turun dan menuntun kembali sepedanya.

Sekitar lima hari kemudian, aku melihat Kang Amir sudah mulai mencoba mengayuh sepedanya, meski belum stabil. Masih dengan tangan kanan mengapit dan memegang palang sepeda, tangan kiri memegang stang, sedang kaki kanan dimasukkan ke sela palang supaya bisa menginjak pedal sepeda sebelah kanan. Kadang, karena belum bisa mengontrol kecepatan kayuhan sepeda -- dan menjaga keseimbangan tubuhnya yang nampak lebih kecil daripada sepedanya -- tak jarang Kang Amir menabrak pagar bambu atau pohon perdu di pinggir jalan, dan sesekali terlihat jatuh bersama sepedanya masuk parit yang ada di sepanjang pinggir jalan kampung itu.

Tentu saja aku melihat apa yang dilakukan Kang Amir di setiap siang hari. Karena jalan kampung yang dilalui Kang Amir tepat berada di seberang halaman belakang rumah, yang banyak ditumbuhi pohon buah-buahan dan ada area untuk bersantai keluarga. Disitulah aku dan kakak serta adik-adikku hampir setiap siang bermain.

Entah di hari keberapa, aku -- yang saat itu baru berumur 7 tahun dan duduk di kelas 1 SD -- dengan lugu sempat bertanya pada Ibu, yang kebetulan sedang bersantai bersama kakak dan adik-adik di bawah pohon rambutan, "Bu, kenapa sih Kang Amir itu sudah tua masih belajar sepeda juga. Kok tidak malu ya?"

"Lho, kenapa harus malu? Malah itu contoh yang patut ditiru," Ibu menjawab sambil tersenyum lembut, lalu menggamit pundakku untuk duduk di sebelahnya, di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu betung. "Walau sudah tua, Kang Amir itu masih punya kemauan, masih mau belajar, masih berusaha bisa naik sepeda sendiri. Itu tanda orang yang ingin maju, ingin mandiri. Supaya tidak bergantung pada orang lain, tidak dibonceng terus," lanjut Ibu lagi.

Sebenarnya aku tidak paham dengan apa yang dikatakan Ibu di kalimat terakhirnya. Tapi, aku tetap tersenyum pada Ibu, yang mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang.

Selama ini, yang aku tahu Kang Amir adalah buruh serabutan yang sering dimintai bantuan tetangga untuk memikul padi dari sawah saat panen, memikul kayu bakar yang baru dipotong dari kebun, atau juga memikul keranjang berisi kelapa untuk dibawa ke pasar. Dan, yang rutin adalah diminta Bapak untuk memikul air dari sumur kampung untuk mengisi 2 bak mandi berukuran jumbo di rumah, setiap dua hari sekali. Sumur itu jaraknya sekitar 500 meter dari rumah, dan minimal bolak-balik 40 sampai 50 kali, tergantung bak mandi masih tersisa air apa tidak.

Dalam fikiranku saat itu -- dengan logika anak kecil tentunya -- Kang Amir adalah orang yang sangat kuat. Badannya kecil dan pendek, tetapi mampu memikul beban berat dalam bentuk apapun, dengan semangat dan senyum yang selalu tersungging setiap berpapasan dengan orang lain.

Dan ternyata benar apa yang dikatakan Ibu sebelumnya. Sekitar tiga atau empat bulan kemudian, dihitung dari awal aku melihatnya menuntun sepeda, ternyata Kang Amir sudah mahir naik sepeda, meski bukan lagi sepeda onthel besar yang berpalang. Dengan sepeda jengki warna merah -- jenis sepeda yang tidak berpalang, ukurannya lebih kecil -- Kang Amir hilir mudik di jalan kampung mengangkut barang yang biasa dipikulnya, dibagian belakang sepedanya. Masih tetap berpeluh, tetap semangat, dan tetap senyum setiap bertemu siapapun.

Ya, Kang Amir ternyata punya rencana sendiri, dengan kemauan kerasnya belajar naik sepada. Kang Amir sudah bisa mengukur kekuatannya. Dia menyadari, bahwa semakin bertambah usia (baca: tua), kekuatannya untuk memikul akan berkurang. Sehingga perlu mempersiapkan diri untuk tetap bisa bertahan, dengan alat bantu sepeda.

Artinya, selain harus punya sepeda -- hanya sepeda bekas yang dibeli dari hasil keringat sendiri -- juga harus bisa menaiki. Sebuah perencanaan matang, dari orang kampung yang sering dianggap kurang mampu berpikir maju. Luar biasa !
***

40 tahun kemudian, dalam satu kesempatan mudik ke Malang sekitar tiga tahun silam, aku bertemu kembali dengan Kang Amir. Masih tetap semangat, meski sudah beralih profesi menjadi tukang pijat. Di usia yang bisa jadi sudah menginjak 70 tahun, pijatan tangan Kang Amir masih terbilang kuat -- aku sempat minta dipijat, karena badanku pegal-pegal setelah perjalanan darat dari Bogor ke Malang -- dan cukup bertenaga.

Sayangnya, pendengaran Kang Amir sudah kurang berfungsi, sehingga aku tidak bisa mengobrol banyak dengannya. Dugaanku -- dan juga cerita saudara-saudaraku di kampung -- Kang Amir jadi tuli mungkin akibat terlalu sering mengangkat beban berat dengan pundaknya, saat masih muda.

Namun, apapun itu, perjalanan dan prinsip hidup Kang Amir yang pantang menyerah, sudah menginspirasi kita. Bahwa hidup haruslah tetap semangat, tetap belajar, dan tetap bekerja, sampai usia di ujung senja sekalipun!
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com