SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Selasa, 07 Maret 2017

Buah Pencarian Mustar

Seperti malam-malam sebelumnya, aku terlarut dalam kesibukan membuat laporan harian Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang sudah menginjak hari ke-8. Meski waktu baru menunjukkan pukul 22.00 Wita -- aku tahu, karena lamat-lamat mendengar suara televisi dari rumah di seberang jalan sedang menyiarkan Dunia Dalam Berita pukul 21.00 Wib -- tapi suasana sekitar posko KKN begitu sepi. Hal yang sangat wajar, karena aku bersama 6 teman kampus, dari fakultas yang berbeda, mendapat lokasi KKN di Desa Selebung Ketangga. Sebuah desa kecil yang ada di timur pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.


Posko yang aku tempati adalah bangunan permanen pos keamanan -- tepatnya Pos Hansip -- yang ada di pojok kanan depan areal kantor desa, tepat dibawah pohon beringin besar yang tumbuh di depan posko. Aku sudah biasa menulis laporan sendirian, di meja yang ada di bagian depan posko tersebut. Teman-teman memang aku minta tidur jam 9 malam -- 4 laki-laki tidur di dalam posko, 2 perempuan tidur di ruang perpustakaan desa, bangunan terpisah dengan posko -- agar paginya bisa beraktifitas dalam kondisi segar. Sebagai ketua kelompok aku memilih tidur belakangan.

Disaat asyik menulis itulah -- tanpa aku sadari kehadirannya -- aku terkejut ketika melihat seorang pemuda tanggung sedang duduk di pinggiran teras posko, di depanku. Spontan aku tanya ada apa dan mau apa? Dengan sedikit terbata dan suara pelan, pemuda itu menjawab, "Mohon maaf Bapak, saya hanya ingin kenalan dan tanya-tanya pada Bapak KKN."

Ketika aku minta cerita lebih lanjut, pemuda berusia 20 tahun itu -- lebih muda sedikit dari usiaku -- mengaku bernama Mustar, berasal dari sebuah desa yang dikenal sebagai daerah bertanah tandus di wilayah Lombok bagian selatan. Di Selebung Ketangga, Mustar menumpang pada adik ibunya yang bekerja sebagai pedagang ternak di pasar Keruak, Lombok Timur.

"Di kampung saya tinggal bersama Inaq (Ibu, bahasa Sasak) dan empat adik-adik saya yang masih kecil. Amaq (Bapak, bahasa Sasak) pergi ke Malaysia sudah tiga tahun ini," Mustar bercerita sambil menunduk. Karena sudah larut dan aku juga mengantuk, Mustar aku suruh pulang dan bisa kembali besok malamnya.

Benar saja, esok malamnya Mustar datang tepat pukul 22.00 Wita, seperti yang aku minta. Kali ini aku ditemani Burhan -- dari Fakultas Peternakan -- untuk menemui Mustar. Dengan sedikit lebih santai, Mustar yang ternyata hanya lulusan SD itu, mengutarakan maksud kedatangannya ke posko KKN, yaitu untuk belajar dan mencari pengetahuan. "Bapak-bapak KKN kan sekolahnya tinggi, pasti bisa mengajari tentang ilmu yang bisa saya terapkan di kampung. Saya ingin membantu Inaq membiayai hidup adik-adik. Inaq sekarang kerja serabutan di kampung. Uang dari Amaq di Malaysia hanya dua kali datang dalam tiga tahun ini. Tolong ajari saya tentang apa saja, Bapak. Biar saya bisa berguna bagi keluarga dan kampung saya," Mustar bercerita sambil matanya berkaca-kaca.

Aku dan Burhan terdiam, karena terharu. Kemudian, setelah bisa menguasai diri, aku menjelaskan ke Mustar bahwa aku dan teman-teman KKN datang ke desa ini juga bertujuan untuk belajar. Belajar menerapkan ilmu yang sudah kami dapat di kampus. Jadi kalau Mustar mau ikut belajar, aku minta datang ke posko pas malam hari -- atau sesempatnya -- untuk sekedar diskusi kecil bersama-sama.

Jadilah malam-malam berikutnya Mustar sering menemani aku di posko. Kalau aku lagi menulis laporan, Mustar aku suruh baca buku panduan berkebun dan beternak yang aku dapat dari Dinas Peternakan Mataram, atau buku-buku pertanian dan teknologi tepat guna sederhana lainnya yang aku gunakan untuk referensi selama KKN. Tak jarang pula Mustar dengan sukarela membuatkan kopi atau sekedar mencarikan singkong goreng dan kacang rebus -- yang kalau malam masih dijual di depan pasar Keruak, satu kilometer dari posko KKN -- untuk menemani ngobrol malam kami.

Dari obrolan tiap malam itu aku juga semakin tahu siapa Mustar. Meski hanya lulusan SD, Mustar cukup cerdas dan punya prinsip yang kuat untuk memikirkan keluarga dan kampung halamannya. Disaat para pemuda dan laki-laki dewasa di kampungnya memilih jadi TKI di Malaysia -- karena di kampung hanya bisa bercocok tanam satu kali dalam setahun, itupun tergantung pada musim hujan -- dia justru memilih untuk tetap tinggal di kampung.

"Kalau semua laki-laki kerja di Malaysia yang sering tidak jelas hasilnya itu, nanti siapa yang membangun kampung? Sampai kapanpun kampung saya tidak akan pernah maju. Yang jadi korban ya tentu para perempuan dan anak-anak juga nantinya," ujar Mustar, suatu malam dengan berapi-api.

Dan pada malam lainnya, terungkap bahwa Mustar sudah mencoba membantu meringankan beban ekonomi keluarganya sejak dia lulus SD. Mulai dari mengurus ternak kambing tetangganya, buruh cangkul di sawah, kusir cidomo -- sejenis kereta kuda khas Lombok, semacam delman -- sampai jadi pesuruh sebuah LSM yang mendirikan posko di kampungnya.

Bahkan, dua tahun terakhir Mustar juga mengadu peruntungan mendaftar sebagai Catam -- Calon Tamtama, prajurit TNI AD -- di Komando Resort Militer (Korem) Mataram, tetapi gugur di test awal. Untuk hal ini, Mustar punya alasan, "Kalau saya jadi tentara, pasti jadi kebanggaan keluarga, tetangga dan warga kampung. Saya gagal di test kesehatan dua tahun berturut-turut."

Tanpa terasa, perpisahanpun tiba. Bertepatan dengan berakhirnya masa KKN, Mustar -- dibantu teman-teman satu kelompok yang berlatar belakang fakultas berbeda: ekonomi, pertanian, peternakan, teknik, hukum dan keguruan -- juga berhasil menyusun perencanaan sederhana tentang usaha apa yang akan dilakukan dan dikembangkan di kampungnya. Pilihannya adalah membuat warung kelontong yang dikelola dengan sistim pembukuan sederhana, yang selama ini tidak pernah dilakukan warung-warung di kampungnya. Dan juga, membuka usaha jahitan.

Warung akan dikelola sendiri, dan jahitan dikelola ibunya. Khusus untuk jahitan, Mustar akan mengikutkan ibunya kursus singkat menjahit di kota Selong, ibukota Kabupaten Lombok Timur. "Untuk modal awal, saya akan musyawarah keluarga untuk menjual tanah kebun warisan Inaq dari kakek, yang kurang produktif di samping rumah. Nanti saya akan berusaha menjelaskan perhitungan untung ruginya pada Inaq," ujar Mustar penuh optimis, saat acara perpisahan dengan kami di posko KKN.
***

Setelah kembali ke Mataram, ibukota Propinsi Nusa Tenggara Barat -- dan disibukkan kegiatan kampus -- sebenarnya aku sudah lupa dengan Mustar. Cuma, secara kebetulan, sekitar delapan bulan kemudian aku bertemu dengan Mustar lagi di acara pameran pembangunan dalam rangka hari Kemerdekaan RI, di lapangan Cilinaya, Mataram. Mustar berada di stand salah satu LSM dari Lombok Timur, yang memintanya membantu di bagian perlengkapan.

Dalam pertemuan singkat selama 10 menit, Mustar menyampaikan terima kasih atas bantuan tim KKN yang aku pimpin. Karena meski belum pesat, warung kelontongnya berkembang cukup stabil. Dan ibunya juga tidak banyak menganggur, karena ada saja order jahitan dari para tetangganya.

Sambil tertawa aku hanya menjawab, "Itu semua karena kamu punya kemauan kuat untuk maju. Itu hasil perjuanganmu sendiri. Kami hanya mendukung kamu dengan ilmu yang sedang kami pelajari saat ini. Kamu lihat sendiri kan, aku dan juga teman-teman malah belum jadi apa-apa, masih tetap mahasiswa, Tar!"

Mustar tersenyum mendengar jawabanku, dan langsung memelukku, tanpa berkata apa-apa. Meski demikian -- dari senyum dan sorot matanya, saat melepas pelukannya kemudian -- aku bisa merasakan kebahagiaannya, bahwa apa yang dicarinya sudah (mulai) ditemukan.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com