SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Jumat, 10 Maret 2017

Baju Pramuka Sodikin

Salah satu kegembiraan yang sulit digambarkan adalah ketika bertemu teman-teman 'satu kampung' di perantauan. Tentu -- istilah satu kampung -- yang dimaksud adalah dalam konteks yang lebih luas. Bisa dulunya satu sekolah, karena hubungan keluarga, atau memang benar-benar dari daerah yang sama, yang bertemu kembali di perantauan. Baik sengaja, ataupun karena kebetulan.


Tak terkecuali dengan teman-teman satu SMA -- aku lulusan SMA Negeri 1 Tumpang, yang ada di Kabupaten Malang -- yang ternyata banyak jadi perantau di ibukota Jakarta dan sekitarnya. Dan sejak tahun 2002 mulai rutin mengadakan kumpul-kumpul. Ya, sekedar silaturahmi dan saling melepas kangen pada cerita-cerita kampung halaman, tanpa ada sekat usia, angkatan, ataupun status sosial masing-masing alumni.

Hampir setiap ada pertemuan alumni SMA, aku menyempatkan hadir bersama keluarga. Bukan karena aku dituakan ataupun ditunjuk jadi koordinator -- meski kenyataannya seperti itu -- tetapi secara pribadi aku senang karena makin banyak menemukan teman, yang meski satu sekolah dan daerah tapi nyatanya tidak saling mengenal. Di perantauan inilah rasa pertemanan dan persaudaraan itu terasa jadi begitu kuat.

Dari beberapa kali pertemuan alumni, ada satu kejadian yang selalu aku ingat, karena sarat nilai positif tentang bagaimana kegigihan seorang alumni untuk bisa mencapai kehidupan yang lebih baik. Dengan kegigihannya pula, alumni ini bisa mengangkat moral dan derajatnya -- dengan mendapatkan status lebih tinggi, dalam skala tertentu -- tanpa harus malu maupun gengsi untuk mengakui segala kekurangannya.

Cerita bermula saat acara kumpul rutin jelang akhir tahun 2008, di anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur. Ketika teman-teman alumni yang sudah datang sejak pukul 10 pagi -- rata-rata sudah saling mengenal karena pernah datang di pertemuan-pertemuan sebelumnya -- sedang ramai bersenda gurau, seorang laki-laki berperawakan sedang dan berkulit agak gelap mendatangi kami. Di belakangan ada seorang perempuan dan anak kecil, mungkin anak dan istrinya.

Dengan senyum penuh percaya diri, laki-laki yang aku perkirakan berusia 35 tahun itu langsung menghampiri dan menyalami aku -- karena aku yang berdiri menyambutnya -- dan berkata, "Selamat siang Mas, pasti ini Mas Sugeng ya? Maaf saya terlambat karena antar istri dulu ke rumah kakaknya." Tanpa memberi kesempatan aku menjawab, lelaki yang badannya cukup kekar itu berkata lagi, "Saya Sodikin, Mas. Lulusan tahun 95. Ini istri dan anak saya," ujarnya, sambil mempersilahkan istri dan anaknya bersalaman denganku.

Ternyata Sodikin tipikal teman yang cukup familiar, cepat akrab dengan lingkungan barunya. Setelah berkenalan dan ngobrol secukupnya dengan teman yang lain, Sodikin kembali mendekatiku dan berkata, "Ini kali pertama saya bertemu langsung dengan teman-teman sekolah sejak kelulusan 13 tahun silam, Mas. Perjuangan saya saat sekolah dulu sangat berat." Tanpa aku memintanya, Sodikin lantas cerita perjalanan panjang hidupnya yang lebih banyak pahitnya, terutama saat di SMA.

Pada satu kesempatan, aku menyela ceritanya, "Ndak apa-apa, Kin. Kita semua punya cerita perjalanan hidup masing-masing. Tapi bener kok, ceritamu akan menarik kalau dimuat di blog alumni sekolah," ujarku. Kebetulan aku mengelola blog alumni SMA, jadi aku tawarkan untuk menulis kisahnya, agar bisa menginspirasi pembaca blog maupun alumni lainnya.

Diluar dugaanku, Sodikin menyambut antusias, "Setuju Mas, kebetulan saya sudah menyiapkan konsep tulisannya. Saya sering buka blog-nya kok. Nanti malam saya email ya," sambil mengeluarkan pulpen, Sodikin meminta emailku.

Lagi-lagi aku mengagumi jiwa besar dan kejujuran Sodikin, yang dengan keuletannya bisa menduduki posisi bagus di PT. Coca Cola Indonesia, sebuah perusahaan besar yang tidak diragukan lagu reputasinya. "Jujur, saya bukan bermaksud membuka masa lalu yang mungkin kurang bagus untuk diceritakan, tetapi ini sebagai penggugah teman-teman yang sudah berhasil untuk dapat memikirkan adik-adik yang masih sekolah di SMA kita. Barangkali masih ada sodikin-sodikin lain yang butuh perhatian kita," tambah Sodikin lagi.

Benar saja, malamnya Sodikin mengirim email berisi cerita pahit masa SMA-nya. "Namaku Sodikin, asal dari Wringinsongo, Tumpang. Aku alumni SMAN Tumpang, lulusan tahun 1995, kelas IPS-3. Jujur saja, di sekolah aku bukan termasuk orang yang diperhitungkan, apalagi terkenal. Karena memang tidak ada satu prestasipun yang aku torehkan di sekolah. Nilai harian standar, olahraga tidak pernah serius, apalagi kegiatan ekstrakurikuler juga tak bisa aku ikuti." Begitu Sodikin menulis di alenea pertamanya.

Dalam baris-baris berikutnya, Sodikin menceritakan dirinya yang masuk kelas 'buangan' di IPS-3. Tetapi, wali kelasnya -- Bapak Agus Sarsilo -- selalu memberi motivasi, mereka boleh duduk di kelas sisa-sisa, tapi disaat lulusan nanti harus mencapai nilai terbaik sekolah. Dan perjuangan kelas Sodikin membuktikan itu.

Di bagian lain Sodikin membeberkan kehidupan keluarganya yang sebenarnya tidak diketahui teman-temannya. Karena berasal dari keluarga yang kurang mampu, setiap usai sekolah Sodikin harus cepat-cepat pulang untuk bekerja membantu kakaknya sebagai pengrajin kayu, yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga saat itu. Dari usaha itu Sodikin bisa membiayai sekolah. "Memang tak ada gaji bulanan, tapi sudah bisa bayar SPP saja sudah bersyukur," begitu tulisnya.

Satu pengalaman yang tak akan pernah dilupakan Sodikin sampai kapanpun, adalah saat ditegur Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan -- Bapak Prianggono -- karena baju pramuka yang dipakainya sudah tidak berwarna coklat lagi, tetapi kekuning-kuningan (bulak, bahasa Jawa).

Masih jelas di telinga Sodikin teguran dari Pak Prianggono, "Mbok ya ganti bajunya, sudah ndak pantas gitu masih dipakai. Jangan malu-maluin sekolah!" Sodikin cuma nyengir, karena memang belum ada uang untuk beli. Akhirnya Pak Prianggono maklum, dan menawarkan baju eks teman-teman yang sudah lulus, "Nanti kamu ke kantor, pilih sendiri baju yang muat dan sesuai ukuran badanmu," begitu ujar guru yang dekat dengan muridnya itu. Alhamdulillah, dengan pemberian itu akhirnya Sodikin punya 2 stel baju -- putih abu-abu dan pramuka -- yang dipakai sampai lulus SMA.

Sodikin berterus terang, saat itu bukannya tidak mau berupaya, tetapi kondisi ekonomi keluarga yang memang tidak memungkinkan untuk beli baju. Jadi baju pramuka yang dibelinya saat masuk SMA -- dan itu satu-satunya baju yang dia punya -- tetap dipakai terus sampai kelas 3. Sodikin juga menulis, "Jangankan untuk beli baju, uang saku yang 200 rupiah perhari saja tidak cukup untuk beli bakso, yang semangkok harganya 500 rupiah. Kalau kepingin beli bakso, aku harus nabung 3 hari dulu."

Sodikin mengakhiri ceritanya dengan berharap alumni lebih peduli pada adik-adik kelasnya, yang mungkin masih ada yang mengalami nasib seperti dirinya dulu.
***

Begitulah, setelah lulus SMA, Sodikin memutuskan merantau. Hantaman, cobaan dan masalah selama di perantauan -- selama 10 tahun lebih -- membuatnya makin kuat untuk terus berjuang, bahwa dia mampu untuk lepas dari kehidupan penuh prihatin di masa lalunya.

Keberanian untuk bertemu kembali dengan teman-teman satu kampung -- di acara kumpul-kumpul alumni SMA -- menjadi pembuktian, bahwa Sodikin telah menjadi pemenang yang sebenarnya, mengalahkan masa lalu yang kurang dinaungi keberuntungan. Ya, sebuah pembuktian!
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com