SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Selasa, 01 Desember 2015

Second Opinion Itu (Juga) Hak Pasien

Ada yang menarik dari curhat teman sekerja – Mas Andik, kemarin sore – yang galau karena putranya yang baru menginjak kelas 1 SMA harus (segera) menjalani operasi usus buntu. Setidaknya, menurut Mas Andik, itu adalah hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter di salah satu klinik yang ada di pinggiran Jakarta. Karena saya kurang memahami dunia medis, maka hanya bisa membesarkan hati Mas Andik supaya sabar dan berfikir jernih.

Dalam kondisi psikologi Mas Andik yang kurang stabil itu, saya juga mencoba memberi masukan, agar tidak buru-buru ‘menyetujui' operasi bagi putranya tersebut. Karena, kalau memang ada cara selain operasi – minum obat secara intensif misalnya – kenapa tidak dilakukan? Untuk itu, saya sarankan membawa putranya ke dokter lain dulu, untuk mendapatkan 'second opinion'. Ya semacam pendapat atau pandangan lain gitulah.

Karena, bagaimanapun juga, mencari 'second opinion' adalah hak setiap pasien. Apalagi bila pasien merasa mengalami persoalan kesehatan 'besar' karena diagnosis penyakit yang serius, atau diharuskan menjalani operasi misalnya. Selain itu – ini menurut buku yang pernah saya baca -- pasien juga dapat mencari 'second opinion' bila merasa mengalami persoalan kesehatan yang tidak mengalami penyembuhan sebagaimana yang diharapkan, ataupun tidak puas dengan pelayanan dan pengobatan yang diberikan. Pendeknya, untuk setiap jenis ketidakpuasan saat berhubungan dengan dokter, pasien memiliki hak untuk mencari 'second opinion'.

Tidak perlu terlalu jauh untuk mencari contohnya. Beberapa tahun silam – ini juga saya ceritakan ke Mas Andik kemarin – ketika putra kedua saya masih berumur 4 bulan, mengalami demam yang tidak berangsur membaik selama 3 hari. Karena takut terjadi apa-apa, saya bawa ke RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hasilnya, harus dirawat. Ironisnya, di RSUD tidak ada kamar kosong, kecuali paviliun dan kelas I. Saya menolak dan minta dirujuk ke rumah sakit yang masih ada di sekitaran Jakarta Timur. Setali tiga uang, di rumah sakit swasta ini putra saya didiagnosis ada kelainan (penyempitan) saluran kencing, sehingga harus dikhitan (baca: sunat) hari itu juga.

Panik, tentu saja. Bukan masalah biaya atau dikhitannya, tapi saya kasihan dengan usia 4 bulan yang sudah harus dikhitan. Saya – dan istri, tentu saja – minta waktu sehari untuk menentukan setuju atau tidaknya. Malam itu juga, dalam kondisi masih demam, saya bawa putra saya ke dokter umum yang ada dekat rumah, di Ciracas (Jakarta Timur) sebagai upaya mencari second opinion. Setelah melakukan pemeriksaan yang mendetail, akhirnya dokter senior itu dengan panjang lebar menjelaskan bahwa tidak terjadi penyempitan di saluran kencing, kemungkinan karena radang atau apa gitu. Alhamdulillah, setelah minum obat selama dua hari, putra saya sembuh. Dan baru dikhitan ketika usia 8 tahun, 2 tahun silam.

Begitulah, second opinion telah ‘menyelamatkan' putra saya dari keharusan dikhitan usia 4 bulan. Artinya, sekali lagi, bukan berarti saya tidak percaya dengan dokter yang telah memeriksa dan mendiagnosis ‘penyakit' anak saya. Tetapi, semata-mata untuk memberikan keyakinan dan kepastian, bahwa segala sesuatu yang diputuskan – baik oleh dokter maupun pasien – tidak akan memberikan rasa penyesalan di kemudian hari. Apalagi yang berhubungan dengan kesehatan dan nyawa.

Sambil menulis ‘Secangkir Teh' ini, saya jadi teringat tulisan dr. Iqbal Mochtar dalam buku ‘Dokter Juga Manusia', yang mengungkapkan bahwa dokter itu juga manusia biasa. Dia punya keterbatasan. Tidak ada seorang dokter sehebat apapun, yang mengetahui dan ahli dalam segalanya. Karena itu, pada setiap upaya diagnosis dan pengobatan yang dilakukan dokter kemungkinan ‘room for error' (ruang kesalahan) selalu ada. Semua dokter pun sadar betul akan hal ini, dan karena itu, tidak ada dokter yang perlu merasa tersinggung bila ada pasien mereka yang mencari second opinion.


Nah, anda sendiri – para pembaca – adakah yang punya pengalaman (mencari) second opinion?
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com