SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Rabu, 04 November 2015

Meributkan Tempe Mendoan, Mengulang Kesalahan

Tadinya, saat 'berita' ini muncul di media online beberapa hari lalu, saya bacanya sambil tersenyum. Lha hiya, hanya masalah 'mendoan' -- yang dipatenkan secara perorangan oleh Fudji Wong, yang asli Purwokerto -- koq ya diributkan. Begitu yang ada di benak saya. Tapi, nyatanya tidak seperti yang saya bayangkan, karena dalam dua hari ini, topik mendoan makin heboh saja.

Eh hiya, supaya tidak penasaran, 'mendoan' itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan: Tempe yang dipotong tipis lebar, dicelupkan ke dalam adonan tepung berbumbu, kemudian digoreng setengah matang.

Nah, tentu saja yang paling heboh atas berita tersebut, seperti biasa, adalah di media sosial. Lalu lintas cuitan di twitter dan share komentar di facebook, seperti tak ada hentinya. Intinya sama, mereka -- terutama masyarakat yang berasal dari Banyumas dan sekitarnya -- tidak bisa menerima keputusan Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (Ditjen HAKI) Kemenkum HAM, yang memberikan hak eksklusif 'mendoan' kepada perorangan, yaitu Fudji Wong.

Karena, dengan diberikan hak ekslusif ini, maka pemilik -- dalam hal ini Fudji Wong -- bisa saja melakukan gugatan keperdataan bagi semua orang yang memakai kata 'mendoan'. Baik berdiri sendiri atau kata mendoan berdiri dengan kata lain. Atau, Fudji Wong akan menetapkan 'tarif' bagi siapapun yang akan menggunakan kata mendoan. Meski, Fudji Wong mengaku mendaftarkan merek 'mendoan' semata-mata agar merek 'mendoan' tidak keluar dari Banyumas. Sebab ia tidak ingin makanan khas itu diakui orang luar Banyumas, bahkan luar negeri.

Bagi saya, apapun alasannya, ini hal yang aneh, karena mendoan adalah nama makanan tradisional yang (bisa jadi) sudah ada sejak ratusan tahun silam, dan sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Apalagi berdasarkan Pasal 5 UU Merek, kata yang telah menjadi milik umum (domain public) itu tidak bisa didaftar sebagai merek.

Pasal 5 itu, selengkapnya berbunyi: Merek tidak dapat didaftar apabila Merek tersebut mengandung salah satu unsur: a. bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum; b. tidak memiliki daya pembeda; c. telah menjadi milik umum; atau d. merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya.

Celakanya, sesuai aturan yang ada, Dirjen HAKI tidak bisa begitu saja mencabutnya, kecuali ada gugatan dari pihak lain. Dan memang, warga Banyumas yang sangat kaget atas hak eksklusif ini -- melalui Bupati Banyumas, yang mewakili rakyat Banyumas -- akan melayangkan protes ke Kemenkum HAM. Dan Bupati Banyumas, juga akan mengadakan lomba memasak mendoan di Pendopo Kabupaten, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mendoan adalah makanan khas masyarakat Banyumas.

Cuma, saya melihat ada dua hal penting yang harus digaris bawahi, dan perlu menjadi perhatian. Pertama, masyarakat sangat responsif -- dalam menyikapi -- setiap kejadian yang mirip seperti ini. Apalagi jika melibatkan negara tetangga, yang beberapa kali melakukan 'klaim' terhadap warisan budaya kita. Padahal, dengan kejadian yang berulang, mestinya menyiapkan antisipasi dini, yaitu menginventarisir apapun warisan budaya (dan 'milik umum') yang harus dilindungi, supaya tidak 'direbut' pihak lain, apalagi oleh perorangan.

Kedua, 'belajar' lebih bijak dan berfikir jernih sebelum bertindak. Karena, sungguh lucu -- dan agak terlambat? -- kenapa baru diributkan, sedang pokok masalahnya sendiri sudah terjadi beberapa tahun silam. Maksudnya, Fudji Wong sebenarnya sudah memegang sertifikat merek 'mendoan' dari Ditjen HAKI sejak tahun 2010, dan akan berakhir pada tahun 2018 nanti. Kenapa baru sekarang, setelah lewat lima tahun, semua (seolah-olah) kebakaran jenggot?


Its okay, sekali mengulang kesalahan (mungkin) bisa dimaklumi. Tetapi, kalau selalu berulang, pasti ada 'sesuatu' yang salah. Sesuatu -- yang menurut Syahrini -- banyak maknanya. Mungkin, anda tahu (salah satu) makna 'sesuatu' itu?
Share:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com