SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Jumat, 30 Oktober 2015

Tak Selamanya Rasa Iba & Empati Diperlukan

Dalam salah satu tulisan -- di rubrik 'Secangkir Teh' ini juga -- saya pernah menceritakan pengalaman rohani saya. Yaitu, dalam satu hari yang sama, saya harus 'berkorban' dua kali, demi menolong orang lain. Padahal, boleh dikata, saat itu sebenarnya saya dalam kondisi yang 'tidak memungkinkan' untuk bisa membantu sesama. Di tulisan itu, saya mencoba berfikir positif, dan menganggap kejadian tersebut adalah 'ujian' dari Allah, yang harus dijalani dengan ikhlas. Maksud saya, kita ambil hikmah (positifnya) saja.

Nyatanya, ada satu komentar -- dari beberapa yang ditulis pembaca -- malah 'mementahkan' cerita saya, dengan argumen bahwa kejadian yang saya alami adalah hal biasa terjadi di Jakarta. Dengan kata lain, modus mencari keuntungan pribadi (baca: penipuan) dengan memanfaatkan mudahnya kita merasa iba pada penderitaan orang lain, sudah bukan hal aneh lagi. Bahkan, Mbak Dewi Tity, yang menulis komentar tersebut, juga memberikan contoh lain dari modus 'penipuan', yang memanfaatkan rasa empati pada penderitaan orang lain.

Tentu, saya tak hendak memperpanjang cerita tersebut. Karena, di blog ini pun sudah pernah saya ulas cerita sejenis, tentang fenomena 'manusia gerobak', yang ujung-ujungnya dijadikan modus cara baru dalam mengemis. Ya, saya hanya bermaksud menjadikan cerita tersebut sebagai 'pengantar', bahwa sesungguhnya tidak semua orang memanfaatkan 'kemiskinan' sebagai modus untuk mengetuk rasa iba dan empati kita.

Sebagai contoh -- lagi-lagi saya 'mengutip' pengalaman Mbak Dewi Tity -- adalah sosok seorang nenek yang tiap hari jualan di pinggiran tempat parkir motor Blok F (pusat belanja grosir Tanah Abang, Jakarta), dalam 6 tahun terakhir. Dengan hanya beralaskan plastik kresek untuk menggelar dagangan, nenek berusia 60-an tahun itu berjualan hasil kebunnya sendiri, seperti: pisang, daun pisang, daun pepaya, daun singkong, ubi, bahkan (kadang) cuma daun ubi dan lenjer saja.

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari nenek tersebut, tak ubahnya pedagang kaki lima umumnya, yang jumlahnya ratusan di Tanah Abang. Tetapi, berbekal rasa penasaran, Mbak Dewi Tity berhasil mendapat fakta, bahwa nenek itu seorang janda yang tiap hari harus menempuh perjalanan pergi-pulang dari Rangkas Bitung -- nama daerah di wilayah provinsi Banten -- naik kereta ke stasiun Palmerah (Jakarta), dilanjutkan naik mikrolet ke Tanah Abang, dengan membawa dagangannya. Jauh dan melelahkan.

Dengan hasil dagangan berkisar 50 sampai 60 ribu rupiah per hari, nenek tersebut harus mengeluarkan biaya transportasi Rangkas Bitung - Tanah Abang (PP) sebesar 30 ribu rupiah per harinya. Untuk makan siang, nenek yang selalu nampak sehat itu, membawa bekal teh manis, nasi dan lauk ala kadarnya, bahkan sering hanya dengan krupuk saja. Hebatnya, dengan kondisi seperti itu, nenek yang sebenarnya punya beberapa anak yang semuanya sudah bekerja -- tetapi tidak mau membebani anak-anaknya tersebut -- justeru tidak pernah 'menjual' cerita sedih pada siapapun yang mengajaknya bicara.

"Saya selalu ketemu nenek itu, dan sempat ngobrol, karena lokasi dagangnya dekat tangga ATM Mandiri," ujar Mbak Dewi Tity, yang memang rutin belanja dagangan di Tanah Abang, untuk bisnis online-nya. Bukannya apa, nenek itu menjadi 'istimewa' karena di area yang berdekatan dengannya, adalah 'kavling tetap' dari pengamen buta suami-istri, 'dipandu' anaknya yang masih muda. Serta pengemis, seorang ibu muda yang membawa bayi dan anak usia sekitar 2 tahun. Pemandangan yang sangat kontradiktif.


Begitulah, apa yang 'diceritakan' Mbak Dewi Tity diatas, sebenarnya juga hal biasa, yang terjadi di sekitar kita. .Tetapi, bahwa nenek tersebut tidak memanfaatkan situasi dan kondisi -- untuk mengeksploitasi rasa iba dan empati para pengunjung yang akan belanja di Tanah Abang -- seperti yang dilakukan pengamen buta dan pengemis muda, itu patut diapresiasi. Setidaknya, nenek itu masih punya 'harga diri', mencari nafkah dengan cara berdagang, sesuai kemampuannya
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com