SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Kamis, 22 Oktober 2015

Saatnya Jadi Konsumen yang Pintar dan Jeli

Pagi ini, tiba-tiba terbersit di benak saya, ingin menulis tentang konsumen -- arti harfiahnya: pemakai barang hasil produksi -- yang selama ini masih lemah 'kedudukannya' terhadap produsen. Konsumen, ya kita-kita yang memakai barang dan jasa ini, sering tak berdaya ketika menemukan (atau bahkan mengkonsumsi?) produk yang tidak layak. Ironisnya, konsumen yang sudah jelas-jelas dirugikan, kadang masih saja dipersalahkan, karena dianggap tidak jeli membeli produk.

Memang, banyak orang menganggap ini masalah sepele. Tapi -- kalau dibiarkan terus-menerus -- hal sepele bisa menjadi 'besar', yang dampaknya pun akan makin sulit ditanggulangi. Misalnya, ketika tanpa disadari, makanan atau minuman yang kita beli di warung pinggir jalan, sudah lewat masa layak konsumsi (baca: kadaluwarsa). Kalau tetap kita konsumsi, karena tidak tahu sudah kadaluwarsa, bisa jadi akan menjadi 'masalah' baru, yaitu sakit perut. Dan tentu (akan muncul) efek-efek lain, yang intinya akan merugikan konsumen itu sendiri.

Ada satu pengalaman, yang saya alami berhubungan dengan produk kadaluwarsa ini. Yaitu, saat dalam perjalanan pulang ke Jakarta -- saya sekeluarga -- terjebak kemacetan parah di daerah wisata Puncak (Bogor). Karena putra saya yang masih balita haus, sedang persediaan susu di mobil sudah habis, akhirnya dibelikan susu coklat dingin (kemasan kotak) di toko kelontong pinggir jalan. Saat mulai minum, putra saya memuntahkan kembali, katanya tidak enak. Benar saja, setelah diteliti, ternyata susu kemasan itu susah lewat sebulan masa kadaluwarsanya.

Kalau dicari siapa yang salah, jelas toko yang menjual produk tidak layak konsumsi tersebut. Tetapi, untuk 'menuntut' penjual -- apalagi toko kelontong atau warung pinggir jalan -- tentu tidak mudah. Selain prosedur dan birokrasi yang kadang berbelit, juga perlu biaya untuk mengurusnya. Bahkan, untuk pedagang atau penjual produk makanan atau minuman tingkat pengecer, kadang malah lepas tangan. Naga-naganya, konsumen juga yang (tetap) disalahkan, karena dianggap tidak jeli dalam membeli produk. Konsumen, lagi-lagi dalam posisi lemah, posisi yang jarang disadari karena dianggap hal yang lumrah.

Nah, supaya kita -- para konsumen -- tidak terus-menerus ada di pihak yang 'dirugikan', ada baiknya untuk mengantisipasinya sejak dini. Konsumen harus 'pintar' dan jeli, sebelum membeli makanan atau minuman kemasan. Tidak perduli itu di hypermarket, supermarket, minimarket, atau toko kelontong maupun warung kecil. Karena, dengan cara ini pula, konsumen akan menjadi lebih 'kuat' dan mempunyai nilai tawar lebih tinggi. Utamanya 'keberanian' menolak, untuk tidak membeli barang yang dianggap meragukan dan/atau tidak layak konsumsi, maupun barang yang disangsikan dari segi kesehatan maupun higienisnya.

Caranya, ada beberapa. Tapi, yang paling sederhana -- dan efektif -- adalah dengan mencermati label kemasan, yang menyajikan informasi penting tentang produk tersebut. Biasanya, dalam kemasan produk makanan dan minuman, tertera informasi kandungan bahan makanan, mulai dari vitamin, protein, kalsium, juga garam dan gula. Bahkan, secara spesifik juga akan diterakan (kandungan) rendah kalori, rendah lemak, rendah kolesterol, dan bebas gula. Ini sangat bermanfaat bagi konsumen yang mempunyai jenis penyakit tertentu.

Patut menjadi perhatian, untuk jenis makanan dan minuman tertentu -- utamanya susu bubuk dan makanan instan untuk bayi -- adalah takaran saji. Karena, beda produk atau merek, beda pula takaran saji yang disarankan. Pun 'peringatan' lain, perlu untuk diperhatikan. Misalnya, kandungan alkohol, nonhalal, larangan konsumsi untuk ibu hamil, anak-anak, atau penderita penyakit tertentu. Dan, tentu saja tanggal produksi dan batas masa konsumsi atau kadaluwarsa, serta ada tidaknya nomor izin dari Badan POM RI.


Ribet? Tidak juga sih. Karena ini demi kepentingan kita, sebagai konsumen, untuk mendapatkan hak-haknya. Jadi, kuncinya -- untuk menjadi konsumen yang baik itu -- harus pintar dan jeli.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com