SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Selasa, 20 Oktober 2015

Rumput Tetangga Selalu (Nampak) Lebih Hijau

Rasanya kangen juga, setelah selama seminggu, saya 'mangkir' -- menulis dan menjumpai -- pembaca 'Secangkir Teh'. Lagi-lagi, saya harus mengalah, pada urusan yang memang harus diprioritaskan. Yang tujuannya, salah satunya, untuk kepentingan jangka panjang rubrik 'Secangkir Teh' ini juga. Cuma, cerita lebih detailnya, saya akan buat dalam tulisan tersendiri, dalam beberapa hari ke depan.

Terus terang, selama 'libur' menulis, ide dan materi tulisan terus datang silih berganti, di kepala saya. Makin tidak saya hiraukan, makin 'berebut' untuk segera dituangkan dalam bentuk tertulis. Salah satunya -- ini yang sering terjadi di sekitar kita juga -- kebiasaan memandang kehidupan orang lain, yang (dianggap) lebih baik dari kehidupannya sendiri. Entahlah, apakah ini memang sudah menjadi sifat bawaan manusia, atau hanya pengaruh lingkungan semata, tetapi nyatanya sudah seperti wabah, yang sulit diberantas.

Tidak perlu terlalu jauh mencari contoh. Di lingkungan kerja misalnya. Ketika saya masih kerja di bagian promosi, kalau melihat teman di bagian design grafis -- biasanya mengerjakan materi iklan cetak dan label atau packaging -- rasanya senang banget. Kerjanya tiap hari koq 'main' komputer melulu. Browsing internet, edit gambar, dan hal yang (kelihatan) menyenangkan lainnya. Ketika hal ini saya sampaikan, dia malah berkata, "Jenuh juga Mas, saya justeru melihat teman-teman di bagian promosi itu lebih menyenangkan. Bisa bebas kerja di lapangan, tidak di ruangan terus."

Atau, kalau mau contoh, yang sering kita temui, adalah yang ada di lingkungan tempat tinggal sendiri. Tidak jarang kita -- atau orang lain, kalau tidak mau dibilang 'kita' -- merasa tetangga lebih beruntung kehidupannya, entah dari segi materi, pekerjaan atau dalam membina keluarga. Padahal, belum tentu (kenyataannya) seperti itu. Kita hanya melihat kulit luarnya, melihat 'hasil akhir' semata. Kita tidak pernah membayangkan proses yang dilalui tetangga tersebut, sampai bisa mencapai seperti sekarang ini.

Pun demikian sebaliknya. Bisa jadi, ada tetangga yang juga punya perasaan kagum sekaligus iri, melihat kehidupan kita sekarang ini. Tentu dengan alasan-alasan yang (hampir) sama, dengan apa yang kita pikirkan tentang tetangga yang 'lebih beruntung' tadi. Dalam masyarakat Jawa, hal semacam ini disebut 'sawang sinawang', saling melihat. Kita sering silau dengan keberhasilan, keberuntungan, dan kesuksesan orang lain. Sebaliknya, orang lain tersebut, tak menutup kemungkinan punya pandangan yang sama terhadap kita.

Begitulah, sebuah kehidupan yang mencerminkan ketidakpuasan dengan apa yang sudah didapatkan. Maksudnya, selalu tidak puas dengan hasil kerja keras yang sudah dilakukan. Karena (masih) membanding-bandingkan dengan keberhasilan orang lain, yang dianggapnya lebih beruntung. Sebenarnya, kalau dilihat dari perspektif yang berbeda, sikap ini lebih pada 'ketidakmampuan' seseorang -- saya tidak menyebut 'kita' -- dalam melihat kekurangan diri sendiri, sekaligus (juga) dalam melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Orang yang dianggapnya lebih enak hidupnya.

Cuma, kalau mau mengurai lebih lanjut -- masalah 'rumput tetangga' ini -- pasti tak akan pernah ada habisnya. Dan nampaknya, 'Secangkir Teh' bukanlah tempat yang tepat untuk membahasnya, apalagi sampai berlarut-larut. Jadi, menurut saya, cukuplah sekedar tahu, bahwa sangat sulit untuk 'membasmi' penyakit hati, yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat ini. Mungkin, yang bisa dilakukan, adalah berusaha untuk 'menghambat' agar tidak menjadi kronis.


Caranya, ya mulai belajar faham dan sadar diri, akan kemampuan diri sendiri. Kalau ada orang -- atau tetangga -- yang mampu mencapai hasil 'lebih', jadikan saja sebagai pemacu diri, untuk lebih keras lagi dalam usaha. Artinya, kalau rumput tetangga (selalu) lebih hijau, bisa jadi karena dia rajin menyiram tiap hari. Jadi, agar tidak iri dengan rumput tetangga, mulailah rajin 'menyiram' rumput sendiri. Apapun hasilnya, disyukuri saja.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com