SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Selasa, 06 Oktober 2015

Perpustakaan Berdayakan Masyarakat, Koq Bisa?

Apa boleh buat, hari ini 'Secangkir Teh' harus menuntaskan materi bahasan, yang kemarin masih 'menggantung'. Bukannya apa, seperti pernah saya tulis -- di awal rubrik ini hadir di fanpage 'Mas Prie' -- memang panjang tulisan (harian) dibatasi, maksimal 4.000 karakter, setara 500-550 kata. Jadi kalau materinya panjang, akan dilanjutkan di hari berikutnya. Meski, hal ini belum pernah terjadi. Karena saya memang menghindari, tulisan yang panjang dan bersambung.

Ya sudah, anggap saja tema 'perpustakaan' ini istimewa, jadi boleh dibuat tulisan lanjutannya. Karena, kemarin itu, masih ada beberapa hal yang memang perlu disampaikan. Misalnya, darimana biaya operasional perpustakaan/taman bacaan? Atau, kalau toh harus memberdayakan masyarakat, modalnya dari mana? Juga, bagaimana dengan anak-anak, supaya mereka senang dan mau datang ke perpustakaan?

Baik, kita coba bedah satu persatu. Masalah biaya operasional, ini gampang-gampang susah. Kalau ada sumber dana rutin -- misal dari pihak desa memberi bantuan rutin 3 bulanan -- itu bisa meringankan. Tetapi, kalau tidak ada, pengelola tidak boleh cengeng, harus mencari alternatif lain. Bisa mencari donatur tidak tetap di sekitar lokasi perpustakaan, seperti para tokoh masyarakat, warga yang hidupnya terpandang (baca: kaya), atau warga setempat yang sukses diluar daerah.

Sebaiknya, pakai cara pendekatan persuasif. Jelaskan pentingnya perpustakaan bagi masyarakat, dan penggalangan dana itu sepenuhnya untuk 'membuat pintar' warga masyarakat. Intinya, bukan sekedar 'menodong dana' melalui proposal semata. Asal tahu saja, perpustakaan/taman bacaan itu memerlukan biaya (dasar) yang tidak sedikit, untuk pemeliharaan buku, peralatan administrasi, alat peraga dan penunjang, juga biaya listrik dan pulsa (modem) jika sudah menggunakan perangkat untuk akses internet.

Nah, masalah pemberdayaan masyarakat, banyak ragam yang bisa dilakukan, tergantung potensi warga yang ada di sekitar lokasi perpustakaan/taman bacaan. Jika banyak ibu-ibu yang punya banyak waktu senggang, ajak -- secara persuasif juga -- mengisinya dengan membuat ketrampilan ringan. Misalnya membuat bunga dari kain perca, atau sejenisnya, sesuaikan dengan koleksi buku yang ada di perpustakaan.

Atau, jika warga banyak yang menanam singkong, bisa diajarkan membuat produk olahannya, sehingga singkong punya nilai ekonomis dan menghasilkan income tambahan. Untuk buku panduan dan instruktur, bisa kerjasama atau minta bantuan pada instansi terkait dengan gratis. Ini juga bisa diterapkan pada bapak-bapaknya, dengan (misalnya) 'belajar bersama' beternak lele -- pakai media sederhana -- untuk mengisi waktu senggang, sekaligus tambahan pendapatan. Jenis-jenis ketrampilan ringan ini bisa disesuaikan dengan koleksi buku yang ada.

Kegiatan anak-anak? Ini cukup banyak yang bisa dilakukan perpustakaan/taman bacaan. Mulai dari kursus bahasa Inggris, belajar menggambar, atau bimbingan belajar, dengan meminta para pemuda (karang taruna) secara sukarela menyumbangkan ilmunya secara gratis, sebagai guru/instruktur. Biasanya, tidaklah sulit mencari volunteer untuk kegiatan semacam ini. Contoh kegiatan yang lebih variatif -- dan menghasilkan uang -- adalah dengan mengadakan lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, bekerjasama dengan minimarket atau perusahaan setempat.

Tentu, yang saya urai diatas, hanya sebatas contoh kecil saja. Masih banyak aktivitas yang bisa mensinergikan perpustakaan/taman bacaan dengan masyarakat sekitar. Pola simbiosis mutualisma -- perpustakaan/taman bacaan bertahan hidup & masyarakat mendapat tambahan ketrampilan -- akan bisa terjaga, kalau pengelola mempunyai mental yang kuat dan daya nalar (baca: inovasi & kreativitas), serta tidak mengharap pamrih dari apa yang dilakukan.


Satu lagi, untuk menjadi 'besar', pengelola perpustakaan tidak perlu malu untuk 'belajar' pada perpustakaan/taman bacaan lain, yang sudah mapan dan bagus pengelolaannya. Setidaknya, saya juga (sudah) pernah melakukan hal itu, dan nyatanya berhasil. Anda mau mencoba?
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com