SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 11 Oktober 2015

Merindukan 'Suara' Ibu Negara

Lagi-lagi saya harus melayani diskusi kecil, seorang teman -- kenal di salah satu media sosial -- yang tinggal di Jambi, melalui BBM dua hari lalu. Awalnya, Mbak Yanti, begitu saya memanggil teman yang kerja di salah satu bank pemerintah tersebut, mengeluhkan kabut asap yang belum juga 'menghilang' dari bumi Sumatera. Mbak Yanti 'kesal' dengan janji pemerintah yang (katanya) akan segera menuntaskan masalah asap ini. "Masak harus menunggu korban berjatuhan lebih banyak lagi, baru mau sungguh-sungguh melakukan penanganan serius," begitu gerutunya.

Seperti biasa, saya hanya bisa menanggapi secara normatif, ikut prihatin dengan 'penderitaan' teman yang terkena dampak asap pembakaran hutan. Setidaknya, saya sudah menunjukkan empati pada -- para korban -- musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera tersebut. Saya mencoba tidak memperpanjang diskusi, dengan membahas siapa yang harus disalahkan, atau tindakan pemerintah yang kurang sigap, misalnya. Jujur saja, saya kurang faham masalah ini. Lebih tepatnya, tidak menguasai persoalan.

Sebenarnya bukan masalah asap, yang membuat saya tertarik diskusi itu. Tetapi, ada satu ungkapan -- bernada 'menggugat' dari Mbak Yanti -- terhadap Ibu negara (baca: istri presiden), yang tidak pernah mengeluarkan statement apapun, terhadap permasalahan yang ada di negeri ini. "Jangan yang berat-berat deh. Pada kasus meninggalnya Engeline yang disiksa ibunya sendiri, mestinya Ibu negara bersuara, minimal menyampaikan rasa simpatinya. Beliau kan seorang ibu, pasti bisa merasakan penderitaan anak-anak korban kekerasan," ungkap Mbak Yanti, ibu dari 3 orang anak ini.

Benar, kali ini saya sependapat dengan Mbak Yanti. Terlepas Ibu negara -- Ibu Iriana Joko Widodo -- memang dibatasi aturan protokoler kepresidenan atau kebijakan lain, yang tidak memperbolehkan beliau berbicara kepada khalayak, melalui pers. Tetapi, dalam kapasitas seorang ibu, tentunya juga punya hak untuk menyampaikan pendapat. Maksudnya, bukan berarti Ibu Iriana mau ikut campur urusan negara. Melainkan, lebih pada memberi teladan pada ibu-ibu di negeri ini, bagaimana harus bersikap dan peduli pada sesama.

Keyakinan Mbak Yanti, bahwa mayoritas ibu-ibu di negeri ini juga ingin mendengar suara Ibu Iriana -- beserta aktivitas sosial kesehariannya -- bisa jadi benar. Karena, hal yang sama juga pernah dilakukan Ibu negara sebelumnya, seperti Ibu Tien Soeharto (alm), Ibu Ainun Habibie (alm), Ibu Nuriyah Abdurrahman Wahid, dan Ibu Annie Yudhoyono, yang sering memberi statement 'menyejukkan' pada kasus-kasus tertentu. Perkara itu hanya formalitas semata, ya tidak masalah. Yang penting kan sudah ada itikad baik, sekalipun hanya rasa simpati saja misalnya.

Kalau boleh dianalogikan, ibu pejabat setingkat kecamatan saja (baca: Ibu Camat, istri Bapak Camat), selalu punya rasa kepedulian pada warganya yang terkena 'bencana', dengan menunjukkan rasa empati berupa kunjungan atau ucapan pemberi semangat. Demikian juga dengan 'ibu pejabat' di level lebih rendah -- Ibu Kepala Desa atau Ibu RT -- akan selalu berusaha 'dekat' dengan warganya, meski yang jadi pejabat adalah suaminya. Mestinya, Ibu Presiden juga punya 'keinginan' dan semangat yang sama.

Artinya, Ibu Iriana harus bisa merepresentasikan seorang istri, pendamping suami, yang ideal. Seorang ibu, yang tanggap dan peduli pada permasalahan sosial, permasalahan yang ada pada masyarakat. Yang semua (akan) bisa dilihat dan didengar oleh masyarakat, hanya melalui 'statement' dan tindakan nyata di lapangan. Bukan sekedar mendampingi Pak Jokowi kemanapun pergi -- kunjungan kerja sebagai Presiden -- tanpa 'bersuara'.


Begitulah, ternyata keinginan Ibu Negara 'bersuara' tidak hanya didengungkan Komnas Anak (KPAI) semata. Tetapi, juga masyarakat, yang terwakili oleh Mbak Yanti. Saya yakin, selama aktivitas dan statement yang dikeluarkan masih dalam koridor kewajaran, pasti tidak akan menuai kritik dari pihak manapun. Bahkan, (akan) mendapat simpati dari masyarakat, terutama para ibu.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com