SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Rabu, 21 Oktober 2015

Merananya Toilet Umum di Ruang Publik Kita

"Lho, ini pagi-pagi koq sudah ngributin masalah toilet sih? Apa gak ada materi yang lain, Mas Prie?" Barangkali -- diantara pembaca -- ada yang berfikiran begitu, saat membaca judul diatas. Ya tidak apa-apa, itu wajar dan bisa dipahami. Karena, mungkin ada (sebagian) pembaca, yang merasa kurang nyaman masalah 'urusan belakang' dibicarakan secara terbuka, di forum umum seperti 'Secangkir Teh' ini. Meski, sebenarnya tidak 'tabu' juga, kalau masalah fasilitas sanitasi dasar masyarakat ini, dibahas dari sisi kepentingan publiknya.

Saya sengaja menyorot sarana toilet umum -- dalam konteks tulisan ini, bisa di kantor, di mall, di terminal, atau fasilitas umum lainnya -- karena mayoritas layanannya masih 'jauh' dari standar yang diharapkan. Maksudnya, kalau kita berkesempatan (atau terpaksa?) menggunakan fasilitas toilet umum, dimanapun itu, pasti ada saja yang dikeluhkan. Entah kebersihannya, ketersediaan airnya, lampu yang kurang terang, atau juga segi keamanannya. Bahkan, kadang peralatan yang mestinya harus ada, seperti keran air atau tempat cuci tangan, kadang malah tidak ada.

Begini, agar tidak bias -- dan sebagai contoh -- saya sedikit berbagi cerita masalah toilet umum, yang menurut saya kurang bagus perawatannya. Lokasinya, ada di lobby salah satu gedung perkantoran di Jakarta, tempat saya bekerja. Sebagai fasilitas (umum) yang diperuntukkan para karyawan (dan para tamu) yang berkantor di gedung ini, secara umum memang bagus, baik dari segi perlengkapan maupun kebersihannya. Tetapi, ada yang yang kurang diperhatikan. Keran air untuk toilet laki-laki sering macet, sehingga saat ditekan tidak keluar airnya. Ini sangat mengganggu dan memberi kesan 'kurang menyenangkan' bagi penggunanya. Anehnya, itu berlangsung lebih dari dua bulan, tanpa ada tanda-tanda diperbaiki.

Ironis, karena untuk sebuah gedung perkantoran, yang banyak dihuni pekerja ekspatriat, tidak seharusnya toilet umumnya bermasalah. Pertanyaannya, kalau di gedung perkantoran yang megah saja, masih belum maksimal dalam 'merawat' fasilitas umum, bagaimana dengan toilet umum yang ada di pusat perbelanjaan, stasiun kereta, pasar swalayan, ataupun terminal bus?

Pembaca pasti lebih tahu jawabannya. Menurut perkiraan saya, jawabannya pasti tak jauh dari kesan kurang menyenangkan. Yaitu -- jawaban yang mungkin paling banyak dilontarkan - adalah masih minimnya perawatan dan pemeliharaan kebersihan. Serta, kurangnya ketersediaan sarana pendukung, seperti air bersih, wastafel, tisue, gayung, lampu penerangan dan (mungkin) juga keset. Satu hal, yang semua itu sering dianggap lumrah, baik oleh pengelola maupun pengguna. Padahal, ketersediaan peralatan tersebut, adalah demi menjamin kesehatan pemakaian.

Bayangkan, toilet umum yang kurang bersih dan tidak terawat -- bisa juga dikatakan 'tidak sehat' -- pasti akan menjadi sarang kuman dan bakteri pembawa berbagai macam penyakit, bagi para penggunanya. Seperti, penyebab keracunan makanan (Salmonella listeria dan bacillus), penyebab penyakit flue (Rhinovirus), penyebab infeksi diare pada anak (Rotavirus), dan juga penyebab infeksi pernafasan (Respiratory syncytial virus). Belum lagi jamur Candiada, yang menjadi penyebab penyakit pada area kelamin, yang biasanya juga menular lewat toilet yang kotor.

Yang pasti, menurut hemat saya, untuk mendapatkan toilet umum yang bersih dan berkualitas, diperlukan sebuah perhatian khusus -- dan kesadaran tinggi -- dari semua pihak. Baik pengelola dimana fasilitas itu berada, maupun masyarakat penguna fasilitas itu sendiri. Ya, pengelola harus menyadari, bahwa toilet umum bukan hal sepele, yang tidak sekedar dibuat dengan konsep 'yang penting ada'. Lebih dari itu, harus diperhatikan segi kebersihan, kesehatan, dan kenyamanannya.

Sebaiknya, kita -- sebagai pengguna -- ya harus tertib dan tidak sembarangan (baca: jorok), karena mentang-mentang sudah bayar, misalnya. Apakah bisa, ya saya kembalikan ke anda, para pembaca, untuk menjawabnya. Gampang kan?
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com