SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Sabtu, 10 Oktober 2015

Menyiasati LDR, Agar Bermakna Positif

Sebenarnya agak riskan, mau menulis tentang Long Distance Relationship -- biasa disingkat (dan disebut) LDR saja -- di 'Secangkir Teh' pagi ini. Bukannya apa-apa, saya merasa sudah ketinggalan zaman, kalau membahas hubungan LDR, yang dilakukan anak muda zaman sekarang. Dalam benak saya, di era yang sudah serba canggih, mestinya LDR bukanlah sebuah halangan. Lagipula, saat masih muda dulu, saya jarang menemukan kasus LDR yang jadi masalah. Terutama dari teman-teman mahasiswa seperjuangan di rantau. Semuanya dijalani dengan lancar dan baik-baik saja.

Justeru, yang 'menginspirasi' saya menulis LDR, adalah curhatan dari Faiz -- sebut saja begitu, sahabat saya yang masih berusia 25 tahun -- melalui whatsapp. Faiz, pemuda lajang yang saya kenal melalui media sosial Instagram tiga tahun silam, mengeluhkan hubungan dengan pacarnya yang 'kurang lancar'. Sudah 2 tahun, sejak lulus kuliah, Faiz meninggalkan kota kelahirannya (Semarang), untuk memenuhi pangilan kerja di Bontang, Kalimantan Timur. Masalahnya, Faiz juga 'meninggalkan' pacarnya yang berusia 21 tahun di Semarang, karena masih kuliah.

"Gimana ya Om, kami serius untuk melanjutkan hubungan sampai jenjang pernikahan. Tapi saya was-was terus, takut dia ingkar pada komitmen. Apalagi kami berjauhan", itu kalimat Faiz, yang ditulis dan dikirim kemarin malam. Terus terang, ini 'membebani' saya, karena harus memberi jawaban yang bijaksana dan solutif layaknya seorang psikolog, dengan segera. Lha hiya, saya tidak boleh memberi jawaban sekedarnya kan? Karena, ini menyangkut hubungan serius dua anak manusia, yang sedang galau sekaligus dilanda asmara.

Sebenarnya, kasus Faiz adalah persoalan yang sudah biasa dialami kaum muda, yang bisa terjadi pada siapa saja. Cuma, jadi sedikit unik, karena kecemasan malah ada di fihak Faiz, laki-laki yang statusnya aman, karena sudah mendapat pekerjaan. Seharusnya, 'kekhawatiran' itu ada di fihak perempuan, karena takut sang arjuna tidak sabar menunggu dia menyelesaikan kuliah. Namun, apapun itu, saya melihat ini lebih pada masalah 'kepercayaan' yang belum terjaga baik. Selain, bisa jadi karena (adanya) komunikasi yang 'terhambat'.

Seperti saya sampaikan ke Faiz, hubungan LDR memang harus didasari oleh komitmen dan saling percaya yang cukup kuat. Rasa percaya, bisa ditumbuhkan dengan memperjelas lebih dulu -- melalui komunikasi yang kontinyu -- tujuan hubungan yang dijalin, termasuk tujuan akhirnya. Kalau sudah ada titik temu, atau biasa disebut komitmen, ya tinggal 'menjaga' saja. Menyiasati terpisahnya jarak yang jauh, bisa diatur melalui komunikasi yang terjadwal.

Benar, hubungan LDR memang sering 'bermasalah' di komunikasi. Hal-hal kecil -- yang disebabkan miskomunikasi -- sering menjadi masalah besar, meski sudah didasari komitmen. Itulah sebabnya, penting untuk mengatur jadwal komunikasi. Entah melalui telepon, video call, atau chatting via media sosial lainnya. Ini diperlukan, apalagi seperti yang terjadi pada Faiz, jam kesibukan antara pekerja kantoran dan mahasiswi jelas berbeda. Sehingga perlu dicari dan disepakati, kapan saat terbaik berkomunikasi, untuk menghindari kesalahpahaman yang seharusnya tak terjadi.

Sekali lagi, tulisan ini bukan acuan 'jalan keluar' untuk yang sedang menjalani hubungan LDR. Karena pemahaman LDR itu sangat luas, tergantung yang mempersepsi dan jenis kasusnya. Tulisan ini, semata-mata lebih pada penjabaran 'penyelesaian' satu kasus LDR, yang sedang dialami Faiz. Masalah sudah jelas, komitmen awal (sebenarnya) juga sudah diikrarkan, saat Faiz dan pacarnya tinggal di Semarang. Sehingga, kini tinggal menjaga, sekaligus mulai -- sedikit demi sedikit -- mengikis rasa was-wasnya.

Dengan saya tulis di 'Secangkir Teh', setidaknya bisa mereduksi pemahaman -- pada sebagian kaum muda -- bahwa LDR bukanlah sekedar urusan fisik yang terpisah jarak dan waktu semata. Tetapi, juga masalah 'trust'. Kepercayaan dan komitmen. Minimal, begitulah yang saya fahami. Entah kalau (pemahaman) para pembaca?
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com