SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Selasa, 13 Oktober 2015

Mengurangi Resiko Kepikunan, Kenapa Tidak?

Dulu, kalau mendengar kata 'pikun', pasti yang terbayang adalah sosok kakek atau nenek, yang super pelupa. Bahkan, karena begitu pelupanya -- ini cuma ilustrasi lho ya -- sampai kacamata yang dipakaipun dicarinya, katanya hilang. Atau, baru saja makan, tidak begitu lama malah mengeluh lapar, katanya belum makan. Setidaknya seperti itulah, yang bisa saya gambarkan tentang 'pikun', yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti: kelainan tingkah laku (sering lupa dsb) yang biasa terjadi pada orang yang berusia lanjut ; linglung ; pelupa.

"Emang mau ngapain sih Mas, pagi-pagi sudah ngomongin pikun?" Kalau ada pembaca yang bertanya seperti itu, maka jawaban saya sederhana saja, "Saya cuma mau mengingatkan, bahwa saya dan sampeyan-sampeyan semua, sebentar lagi juga akan dihinggapi 'penyakit' pikun ini, kalau tidak berusaha mencegahnya sejak awal." Bukannya apa-apa, kalau pikun -- baca: penurunan daya ingat -- ini masih bisa dicegah, kenapa tidak kita lakukan?

Nah, pagi ini 'Secangkir Teh' mau berbagi kiat-kiatnya, yang siapa tahu, ada manfaatnya. Terutama bagi pembaca, yang sudah (merasa) ada tanda-tanda mulai pelupa. Oh hiya, terus terang saya membahasnya, karena terinspirasi tulisan psikolog Mbak Agustine Dwieputrie, yang memaparkan masalah kepikunan ini, di harian Kompas.

Syahdan, menurut Scott Hagwood -- dalam bukunya 'Memory Power' -- menuliskan bahwa memori itu layaknya tubuh manusia. Makin dilatih, akan makin bertambah kuat. Menurut Scott, setidaknya ada 8 cara melatih memori, agar bisa mengurangi resiko kepikunan, dibandingkan dengan orang yang sama sekali tidak melakukan apa-apa. Latihan itu, kalau dilakukan rutin empat kali dalam seminggu, hasilnya akan efektif.

Yang pertama, adalah membaca secara kritis dan analitis. Maksudnya, setiap membaca beberapa kalimat, diharapkan untuk jedah sambil bertanya, apa sebenarnya yang dimaksud penulis tersebut. Dengan menelaah beberapa kali selama membaca sebuah tulisan -- dalam jedah tadi -- akan memperkuat memori. Berbagai fakta, peristiwa dan detail karakter, akan tetap segar terjaga dalam fikiran.

Cara kedua, gunakan tangan yang tidak dominan secara lebih sering. Misalnya, kalau biasa menggosok gigi memakai tangan kanan, sesekali coba memakai tangan kiri. Kegiatan ini untuk melatih otak kiri dan kanan, membantu memperkuat berbagai koneksi kognitif. Kemudian, yang ketiga, tulis dan simpanlah buku harian. Dengan menuliskan setiap kejadian dan hal yang dilakukan keseharian, secara rutin tiap malam, ini dapat mengatur dan memperbaiki pemikiran kita.

Yang keempat, mengisi teka-teki silang (TTS). Sebenarnya TTS hanya sebagai alat, tujuannya adalah menggunakan sisi kiri otak untuk memproses sebuah petunjuk (pertanyaan), dan sisi kanan otak untuk menggabungkan berbagai petunjuk untuk menemukan jawaban. Cara lainnya -- kelima sampai kedelapan -- adalah, memperluas kosa kata, melakukan permainan, berolahraga, dan memainkan sebuah alat musik.

Kalau nomor 5 sampai 8 tidak diurai, bukan berarti saya mau buru-buru mengakhiri tulisan ini. Tetapi semata-mata memang terbatasnya 'jatah' panjang tulisan. Yang pasti -- bukan bermaksud membanggakan diri -- ternyata selama ini, saya pribadi sudah menjalankan (setidaknya) 7 dari 8 cara tersebut secara rutin, kecuali memainkan alat musik. Entahlah, untuk yang satu ini, memang saya tidak punya bakat sama sekali.

By the way, kalau kita telaah, delapan cara tersebut sepertinya 'sepele' semua, gampanglah untuk dilakukan. Cuma -- ini hal manusiawi sebenarnya -- disadari atau tidak, untuk hal-hal sepele macam ini, kita justeru sering lalai untuk melakukannya. Ya memang, semua kembali (lagi) ke diri kita masing-masing.


Jadi, kalau mau 'tidak buru-buru' pikun, mari kita mulai 'terapi' mencegah kepikunan tersebut, semampunya. Kalau tidak, jangan heran setelah membaca tulisan ini, anda akan menggumam, "Koq Mas Prie pagi ini tidak menulis Secangkir Teh ya?" Nah kan, itu artinya (anda) sudah mulai pikun. Hati-hati!
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com