SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Senin, 12 Oktober 2015

Melawan HOAX, Melawan Kebiasaan Jelek Kita

Supaya membahasnya enak, harus disepakati dulu, yang dimaksud HOAX disini -- sesuai yang tercantum di Kamus Bahasa Inggris -- adalah: "berita bohong ; menipu dengan sebuah berita bohong". Ya benar, sebuah 'berita', yang ditulis dan dikemas sedemikian rupa, sehingga membuat yang membaca mempercayainya. Padahal, berita tersebut palsu, alias diragukan kebenarannya. Tujuan hoax, bisa saja untuk memprovokasi, menipu, menjatuhkan pihak lain, atau sekedar iseng.

Nah, hoax inilah, yang awalnya hanya beredar dari email ke email, sekarang -- setidaknya dalam beberapa tahun belakangan ini -- sudah merebak di (hampir) semua media sosial. Mulai dari facebook, twitter, path, instagram, whatsapp, line, sampai blackberry messengers. Dan saya yakin, sebenarnya pembaca 'Secangkir Teh' juga sudah akrab dengan hoax ini. Baik yang mengetahui dengan baik, maupun yang belum menyadari bahwa yang dibaca (dan disebarkan) itu adalah hoax.

Memang, mengenali sebuah hoax, tidaklah mudah. Kalau dulu, di awal 2000-an, untuk membuktikan sebuah berita hoax atau bukan, cukup melakukan pencarian lebih mendalam terhadap obyek yang di diberitakan, melalui google. Biasanya bisa terdeteksi. Apalagi hoax di zaman itu, lebih banyak pada berita luar negeri. Lagipula, hoax saat itu masih terbilang sederhana, hanya berita yang (seolah-olah) dari sumber terpercaya, tanpa menyebut sumber resminya.

Tetapi, hoax yang beredar saat ini sudah begitu canggih. Bahkan, hoax 'lokal' lebih mendominasi. Kalau kita jeli, hampir tiap hari -- di media sosial dan alat komunikasi -- bisa ditemui hoax. Entah itu tentang info kesehatan, peringatan pihak berwajib, himbauan keamanan, sampai berita update yang yang sedang jadi trending topic. Biasanya, hoax dikirim secara berantai (saling meneruskan), atau kalau di BBM menggunakan istilah di broadcast.

Nah, tanpa disadari -- atau dengan sadar? -- sebagian besar dari kita, ikut-ikutan menyebarkan. Tanpa menelaah, apalagi berusaha mencari informasi kebenaran, dari berita tersebut. Biasanya, dikirim massal dan diawali dengan kata-kata "Mohon diinfokan ke yang lain", "Info dari grup sebelah", atau "Sebarkan, demi kebaikan kita bersama". Padahal, dengan menyebarkan hoax, sama dengan menyebarkan berita sesat, yang bisa membuat 'kekacauan' informasi pada masyarakat luas.
Saya pernah dibuat 'sibuk' dengan berita hoax ini. Ketika menunggu bus APTB 10 di halte busway Pancoran -- untuk pulang ke Cileungsi -- seorang pemuda yang duduk di sebelah saya, membuka percakapan, "Besok kita repot nih Pak, Jakarta akan lumpuh dengan mogok sopir besar-besaran," ujarnya. Tentu saja saya kaget. Koq saya tidak pernah dengar ya? Belum sempat saya tanya, dia melanjutkan, "Beritanya sudah ada di internet Pak, bahkan saya juga dapat broadcast di BBM."

Wah gawat nih, pikir saya saat itu. Sampai di rumah, saya coba cari informasinya di web dan twitter TMC Polda Metro, DLLAJ, sampai cari beritanya di Kompas Online dan Detik News. Ternyata, itu berita bohong dan menyesatkan, alias hoax. Setelahnya, saya hanya tercenung, kenapa masyarakat mudah panik, dengan hal-hal yang belum jelas kebenaran, dan juga sumber informasinya? Kenapa tidak mencoba mencari tahu kebenarannya, melalui sumber lain yang bisa dipercaya?

Begitulah, disaat media sosial dan online begitu mudahnya kita akses, saat yang sama pula (mayoritas) masyarakat juga mudah percaya -- pada berita dan informasi -- pada kecanggihan teknologi tersebut. Bukannya tidak boleh 'percaya', tetapi azas kehati-hatian juga tetap harus dijaga. Apalagi sudah banyak kasus hoax yang berujung ke permasalahan hukum, karena (mengandung unsur) pelecehan, penghinaan dan fitnah pada personal. Belum lagi hoax yang berisi penipuan dan adu domba antar golongan.


Satu pesan moral yang ingin disampaikan -- melalui 'Secangkir Teh' ini -- jangan sampai kita terjebak di dalam 'lingkaran' hoax, baik sebagai pembaca, maupun ikut-ikutan (membantu) menyebarkan. Sebaiknya, lebih bijak menyikapi setiap info yang kita terima.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com