SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Rabu, 07 Oktober 2015

Kenakalan Anak, Tanggung Jawab Siapa?

Sungguh menarik, ketika secara 'tak sengaja' saya berdiskusi kecil dengan Pak Yan -- seorang guru sekolah lanjutan, yang cukup senior -- seusai sholat Isya' di masjid, minggu kemarin. Sebenarnya, awalnya, hanya pembicaraan ringan seputar kenakalan anak-anak, yang semakin sulit dikendalikan, sehingga menjurus ke masalah kriminal. Biasanya, yang akan disalahkan, adalah orang tua dan pihak sekolah. Orangtua dianggap 'kurang mampu' mengendalikan dan mengawasi aktivitas keseharian anaknya. Di lain pihak, sekolah juga dianggap berperan penting 'berkembangnya' kenakalan anak, karena lalai dalam memberi pelajaran budi pekerti pada anak didik.

Menurut Pak Yan, ini kondisi tidak adil, yang sudah terlanjur tercipta dan melekat pada pandangan mayoritas masyarakat kita. Tidak adil, karena hanya melihat kenakalan anak dari satu 'akibat' saja, bahwa pendidik (baca: sekolah) kurang mampu memberikan pelajaran budi pekerti dan moral, sehingga anak menjadi liar dan tidak terkendali. Padahal, paradigma itu belum tentu benar, perlu pengkajian mendalam dalam mengurai dan menemukan akar masalah sebenarnya.

Saya semakin tertarik dengan 'pemikiran' Pak Yan, ketika menyentuh pada masalah sistim pendidikan yang kurang mendukung pembentukan moral dan budi pekerti anak didik, dan lebih cenderung 'menciptakan' anak pintar dengan cara yang (kadang) kurang terencana dengan baik. Bahkan, ada kegamangan dari para pendidik untuk bersikap, dalam menangani kasus kenakalan anak -- sikap dan sifat di luar kewajaran anak didik -- di sekolah, karena 'takut' dengan dampak yang ditimbulkan. Terutama dalam memberikan hukuman yang bersifat fisik maupun psikis, meski ringan dan bersifat mendidik.

Sebagai contoh -- dengan sedikit membandingkan cara 'menghukum' anak didik di masa sebelumnya -- seorang pendidik di masa sekarang akan berfikir seribu kali, untuk memberi efek jera pada anak didik secara fisik atau psikis. Meski nyata-nyata sudah tidak mempan dengan himbauan, nasehat dan teguran keras sekalipun. Jangankan 'menyentuh' tubuh anak didik, melontarkan teguran yang (dianggap) kasar dan (menjurus) pelecehan pun, sangat dihindari para pendidik sekarang. Setidaknya, menghindari dampak yang ditimbulkan, yaitu tuntutan hukum atas nama 'kekerasan pada anak'.

Padahal, di masa lampau, hukuman berdiri di depan kelas, hormat bendera di halaman sekolah, lari keliling gedung sekolah, atau juga membersihkan toilet sekolah, sudah biasa dijatuhkan pada anak didik. Bahkan, sebuah jeweran di telinga, cubitan di lengan, pukulan pada tangan -- dalam batas tertentu -- justeru bisa memberi efek jera, dan meminimalisir (munculnya) kenakalan pada anak didik.

Begitulah, diskusi kecil yang menjurus 'curhat' malam itu, memang belum tuntas. Banyak menyisakan pertanyaan. Diantaranya, dimana peran orang tua, kalau semua urusan pembentukan watak, moral dan budi pekerti (hanya) dibebankan pada pihak pendidik (baca: sekolah) semata? Padahal, berapa jam efektif seorang anak dalam 'pengawasan' sekolah dalam seharinya? Bukankah seorang anak lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga, dalam kesehariannya? Bukankah karakter dan sifat anak justeru terbentuk dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga?

Artinya, seperti yang tertulis di awal tadi, orang tua -- dan lingkungan keluarga -- harus ikut berperan dalam membentuk karakter yang baik pada anak, minimal dengan memberikan pemahaman moral dan budi pekerti sejak dini. Tidak hanya dengan nasehat dan omongan semata, tetapi juga contoh konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Berikutnya, orang tua secara terus-menerus juga harus melakukan 'kontrol' berkesinambungan, terhadap pergaulan anak. Mulai dari aktivitas keseharian, teman-temannya, sampai lingkungan pergaulannya.


Jika itu dilakukan -- sinergi orang tua dan pendidik -- pasti kenakalan anak bisa diminimalisir. Dan kegamangan pendidik, yang diwakili Pak Yan tadi, tidak perlu ada. Juga, hukuman fisik dan psikis tidak perlu dilakukan lagi. Cuma, masalahnya, sudah adakah sinergi itu?
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com