SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Senin, 26 Oktober 2015

Antara Lupus, Permen Karet, dan Bakteri

Entahlah, setiap mendengar -- atau membaca -- kata Lupus, pasti 'gambar' yang muncul di benak saya adalah sosok cowok kerempeng berseragam putih abu-abu, baju dimasukkan hanya bagian depan dan bagian belakang dikeluarkan. Dengan dandanan rambut panjang berkuncir di belakang plus model jambul di depan, Lupus selalu membawa tas kain bertali panjang, berjuntai sampai paha. Dan, ini yang menjadi ciri khasnya, selalu mengunyah permen karet.

Benar, untuk yang 'mengalami' masa remaja tahun 80-an, pasti menebak itu sosok Lupus, tokoh rekaan penulis Hilman Hariwijaya, yang menjadi idola remaja jaman itu. Cerita Lupus, dimuat di majalah remaja Hai secara bersambung, dibuat novel, dan juga ada versi layar lebarnya. Saya suka (baca) Lupus, karena alur cerita yang lepas, gaya dan perangainya yang tengil, konyol dan cuek, pas banget dengan jiwa remaja SMA yang (maunya) bebas.

Dan lewat (gambar) sosok Lupus ini pula -- untuk pertama kalinya -- saya berani 'mengkritik' kebijakan sekolah, melalui majalah sekolah Widya Wiyata. Spontanitas saja, meski beberapa waktu setelah majalah terbit saya menyesal juga, apalagi Pak Agus Sarsilo (Wakasek Kesiswaan, saat itu) memberikan reaksi lumayan keras, atas kritik yang saya buat tersebut. Tetapi, kejadian itu, menjadi pelajaran sangat berharga bagi saya, untuk tetap menggunakan 'hati' dalam menulis kritik, bukan emosi yang meledak-ledak.

Cuma, gara-gara kegemaran Lupus -- yang suka mengunyah dan membuat balon permen karet -- dan ditiru teman-teman SMA saat itu, membuat saya dibuat repot, dan kesal setiap lihat permen karet. Bagaimana tidak, teman-teman membuang 'sampah' permen karet sembarangan. Ditempel di bawah meja, di sandaran kursi, di tembok, atau juga di lantai kelas. Sehingga, celana abu-abu saya jadi 'korban' permen karet. Bukannya apa, mau beli celana lagi koq ya sayang, karena sudah kelas 3, tanggung.

Dan, hampir tiga puluh tahun setelah kejadian itu, sikap saya agak melunak terhadap permen karet. Itupun setelah membaca artikel di Tabloid Kontan, bahwa berdasar hasil penelitian di Belanda, ternyata mengunyah permen karet selama 10 menit, bisa menghalau bakteri. Tepatnya, ditemukan sekitar 100 juta bakteri terperangkap di setiap kunyahan permen karet. Artinya, ini benar-benar membuat hanya sebagian kecil bakteri saja, yang tinggal di dalam mulut.

Menurut Stefan Wessel, yang melakukan penelitian, dengan berkurangnya bakteri di mulut, tentu dapat meminimalisir risiko gigi berlubang, gusi lebih sehat, dan aroma napas yang lebih baik. Ini karena ketika permen karet dikunyah, akan membersihkan plak dan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi. Apalagi, aktivitas mengunyah juga merangsang produksi air ludah. Karena air liur adalah antimikroba, ia bekerja untuk membunuh bakteri di mulut dan juga menjaga jaringan gusi tetap sehat.

Tentu saja, tidak semua jenis permen karet efektif (bisa) 'membunuh' bakteri di rongga mulut. Memang, untuk rasa dan warna kita bebas menentukan pilihan. Tapi, yang pasti, kita juga harus memilih permen karet yang bebas gula. Karena, pada permen karet yang mengandung gula, bakteri mulut akan memfermentasi gula, yang kemudian akan memproduksi asam dan melemahkan gigi. Sebaliknya, pemanis buatan dalam permen karet bebas gula, tidak akan memberikan reaksi yang sama.

Oh hiya, jangan lupa, waktu terbaik untuk mengunyah permen karet -- berdasar penelitian tersebut -- adalah selama 10 menit. Pasalnya, jika mengunyah permen karet lebih lama dari itu, bakteri yang sudah terjebak di dalam permen karet akan keluar kembali menyebar di dalam mulut.

Dan memang, saya tidak pernah menemukan 'jawaban' -- dari semua buku serial Lupus yang sudah saya baca -- berapa lama Lupus mengunyah permen karetnya, juga kenapa dia hobi membuat balon permen karet. Yang pasti, kalau saat ini saya suka mengunyah permen karet, bukan karena mau jadi Lupus. Tapi, semata-mata untuk kesehatan. Apalagi saya tidak minum kopi dan merokok, jadi permen karet ini -- jadi alternatif -- penggantinya.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com