SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Jumat, 30 Oktober 2015

Tak Selamanya Rasa Iba & Empati Diperlukan

Dalam salah satu tulisan -- di rubrik 'Secangkir Teh' ini juga -- saya pernah menceritakan pengalaman rohani saya. Yaitu, dalam satu hari yang sama, saya harus 'berkorban' dua kali, demi menolong orang lain. Padahal, boleh dikata, saat itu sebenarnya saya dalam kondisi yang 'tidak memungkinkan' untuk bisa membantu sesama. Di tulisan itu, saya mencoba berfikir positif, dan menganggap kejadian tersebut adalah 'ujian' dari Allah, yang harus dijalani dengan ikhlas. Maksud saya, kita ambil hikmah (positifnya) saja.

Nyatanya, ada satu komentar -- dari beberapa yang ditulis pembaca -- malah 'mementahkan' cerita saya, dengan argumen bahwa kejadian yang saya alami adalah hal biasa terjadi di Jakarta. Dengan kata lain, modus mencari keuntungan pribadi (baca: penipuan) dengan memanfaatkan mudahnya kita merasa iba pada penderitaan orang lain, sudah bukan hal aneh lagi. Bahkan, Mbak Dewi Tity, yang menulis komentar tersebut, juga memberikan contoh lain dari modus 'penipuan', yang memanfaatkan rasa empati pada penderitaan orang lain.

Tentu, saya tak hendak memperpanjang cerita tersebut. Karena, di blog ini pun sudah pernah saya ulas cerita sejenis, tentang fenomena 'manusia gerobak', yang ujung-ujungnya dijadikan modus cara baru dalam mengemis. Ya, saya hanya bermaksud menjadikan cerita tersebut sebagai 'pengantar', bahwa sesungguhnya tidak semua orang memanfaatkan 'kemiskinan' sebagai modus untuk mengetuk rasa iba dan empati kita.

Sebagai contoh -- lagi-lagi saya 'mengutip' pengalaman Mbak Dewi Tity -- adalah sosok seorang nenek yang tiap hari jualan di pinggiran tempat parkir motor Blok F (pusat belanja grosir Tanah Abang, Jakarta), dalam 6 tahun terakhir. Dengan hanya beralaskan plastik kresek untuk menggelar dagangan, nenek berusia 60-an tahun itu berjualan hasil kebunnya sendiri, seperti: pisang, daun pisang, daun pepaya, daun singkong, ubi, bahkan (kadang) cuma daun ubi dan lenjer saja.

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari nenek tersebut, tak ubahnya pedagang kaki lima umumnya, yang jumlahnya ratusan di Tanah Abang. Tetapi, berbekal rasa penasaran, Mbak Dewi Tity berhasil mendapat fakta, bahwa nenek itu seorang janda yang tiap hari harus menempuh perjalanan pergi-pulang dari Rangkas Bitung -- nama daerah di wilayah provinsi Banten -- naik kereta ke stasiun Palmerah (Jakarta), dilanjutkan naik mikrolet ke Tanah Abang, dengan membawa dagangannya. Jauh dan melelahkan.

Dengan hasil dagangan berkisar 50 sampai 60 ribu rupiah per hari, nenek tersebut harus mengeluarkan biaya transportasi Rangkas Bitung - Tanah Abang (PP) sebesar 30 ribu rupiah per harinya. Untuk makan siang, nenek yang selalu nampak sehat itu, membawa bekal teh manis, nasi dan lauk ala kadarnya, bahkan sering hanya dengan krupuk saja. Hebatnya, dengan kondisi seperti itu, nenek yang sebenarnya punya beberapa anak yang semuanya sudah bekerja -- tetapi tidak mau membebani anak-anaknya tersebut -- justeru tidak pernah 'menjual' cerita sedih pada siapapun yang mengajaknya bicara.

"Saya selalu ketemu nenek itu, dan sempat ngobrol, karena lokasi dagangnya dekat tangga ATM Mandiri," ujar Mbak Dewi Tity, yang memang rutin belanja dagangan di Tanah Abang, untuk bisnis online-nya. Bukannya apa, nenek itu menjadi 'istimewa' karena di area yang berdekatan dengannya, adalah 'kavling tetap' dari pengamen buta suami-istri, 'dipandu' anaknya yang masih muda. Serta pengemis, seorang ibu muda yang membawa bayi dan anak usia sekitar 2 tahun. Pemandangan yang sangat kontradiktif.


Begitulah, apa yang 'diceritakan' Mbak Dewi Tity diatas, sebenarnya juga hal biasa, yang terjadi di sekitar kita. .Tetapi, bahwa nenek tersebut tidak memanfaatkan situasi dan kondisi -- untuk mengeksploitasi rasa iba dan empati para pengunjung yang akan belanja di Tanah Abang -- seperti yang dilakukan pengamen buta dan pengemis muda, itu patut diapresiasi. Setidaknya, nenek itu masih punya 'harga diri', mencari nafkah dengan cara berdagang, sesuai kemampuannya
Share:

Kamis, 29 Oktober 2015

Pembekuan MEDIA: Robohnya 'Rumah' Kami

Entah sudah berapa kali, hari ini saya bertubi-tubi mendapat berita -- melalui inbox, whatsapp, twitter, juga facebook -- yang intinya Koran Kampus Mahasiswa (KKM) MEDIA Universitas Mataram 'dibekukan' oleh Rektor. Pertama, saya berterima kasih pada teman-teman yang masih menganggap saya sebagai bagian dari Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM), dengan mengirim pemberitahuan itu. Kedua, jelas saya kaget dan prihatin, karena KKM MEDIA adalah 'kawah candradimuka' yang menggembleng saya, menjadi penulis yang punya prinsip dan berkarakter.

Saya memang membaca alasan pembekuan koran kampus, yang sudah banyak melahirkan jurnalis handal ini. Meski, hanya dari satu pihak saja. Sehingga, saya tidak dalam posisi mendukung siapa, atau 'menilai' siapa yang benar siapa salah. Apalagi, lebih 24 tahun saya tidak update perkembangannya, sehingga berita (yang tiba-tiba ini) hanya bisa membuat saya prihatin, dan membuka kembali memori lama, bagaimana saya ikut 'jatuh bangun' mengelola KKM MEDIA.

Ya, kaget dan prihatin. Bagaimana mungkin di era keterbukaan ini, sebuah koran kampus -- yang notabene adalah produk dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berusia 28 tahun -- bisa dibekukan oleh pihak rektorat? Pasti ada something wrong, ada yang tidak benar. Dan saya, lagi-lagi, tidak dalam kapasitas mencari dimana salahnya. Saya hanya merasa aneh, koran ini lahir tahun 1987 di era orde baru, yang sangat represif dan 'ganas' pada pers umum dan kampus yang (dianggap) vokal. Tapi, nyatanya aman-aman saja, meski menyajikan berita yang tak hanya membuat merah telinga pihak kampus (baca: rektorat), tetapi juga pemerintah daerah setempat.

Masih segar dalam ingatan saya -- diawal saya bergabung tahun 1988, angkatan ke-2 -- bagaimana KKM MEDIA menyajikan 'panasnya' pemilihan gubernur NTB, atau juga permainan Hak Pengelolaan Hutan (HPH) yang berakibat 'gundulnya' hutan di Lombok. Memang ada warning dari pihak rektorat, tapi tidak sampai dibekukan. Bahkan, saya sebagai Pemimpin Redaksi, pernah memimpin tim MEDIA melakukan liputan 2 minggu penuh, dalam demo dan kemah keprihatinan mahasiwa, di depan rektorat -- menuntut rektor untuk mundur -- yang dimuat dalam 4 halaman penuh KKM MEDIA. Tidak ada masalah, meski tim MEDIA sempat dipanggil ke Markas Komando Distrik Militer (Kodim).

Mungkin, pembaca 'Secangkir Teh' bertanya-tanya, kenapa pagi ini (tulisan) saya nampak begitu emosional. Ya, apa boleh buat, perasaan saya lagi sedih dan kecewa, mendengar berita dari almamater saya ini, utamanya UKM pertama yang saya ikuti di kampus. Sebab, untuk mengasah kemampuan di bidang kepenulisan dan jurnalistik, saya harus meniti dari bawah di KKM MEDIA. Mulai dari reporter, staf redaksi, redaktur pelaksana, pemimpin redaksi, sampai (jabatan tertinggi) pemimpin umum. Lewat KKM MEDIA pula saya -- mendapat kesempatan -- menyelesaikan pendidikan jurnalistik tingkat dasar, tingkat lanjut, dan tingkat pembina.

Bahkan, untuk menduduki posisi Pemimpin Redaksi, saya sempat dihadapkan pada posisi dilematis. Karena, pada saat bersamaan, saya diminta oleh Mas Eddy Margono -- Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi, saat itu -- agar bersedia dipilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa FE, periode berikutnya. Pemimpin Redaksi MEDIA dan Ketua Senat Mahasiswa FE, sama pentingnya. Tapi, akhirnya saya memutuskan, jurnalistik adalah 'dunia' saya.

Saya bercerita pada pembaca 'Secangkir Teh' -- dan mungkin pengurus & alumni KKM MEDIA yang juga baca tulisan ini -- tak ada maksud lain, kecuali sekedar mengingatkan, bahwa saya juga pernah 'berdarah-darah' dengan UKM ini. Sehingga, bagi saya, pembekuan KKM MEDIA, adalah sebuah pukulan yang tak terkira 'sakitnya', meski saya (lagi-lagi) hanya bisa prihatin.

Seperti yang saya tulis di twitter pagi ini, semoga ada solusi yang terbaik. Setidaknya, jangan sampai roboh dan tak berbekas, 'rumah' yang -- fondasinya -- dulu dibangun dengan susah payah. Sekecil apapun kontribusinya, saya tetap (merasa) menjadi bagian keluarga besar, yang mendiami 'rumah' itu.


Save KKM MEDIA UNRAM !
Share:

Rabu, 28 Oktober 2015

Pak Menteri, 'Bonus Demografi' Itu Apa?

Sebenarnya sudah berulang kali -- melalui beberapa tulisan di 'Secangkir Teh' -- saya memaklumkan, kalau agak enggan untuk membahas hal yang berhubungan dengan pemerintahan. Bukannya alergi, tetapi saya memang kurang paham dengan kebijakan, dan juga politik dalam negeri kita. Lagipula, saya ingin menjauhkan 'Secangkir Teh' dari tema sensitif, agar pembaca juga tidak terlalu berat mencerna setiap tulisan yang disajikan.

Tapi, hari ini, bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda ke 87, saya tergelitik juga untuk 'melawan' keengganan tersebut. Pemicunya, isi pidato sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Bapak Imam Nahrawi -- dibacakan dalam upacara tadi pagi, di semua instansi dan institusi yang menyelenggarakan upacara -- yang kebetulan saya simak dengan seksama, dalam upacara bendera yang saya ikuti di salah satu instansi pemerintah.

Dari rangkaian kata sambutan Menpora, yang (terkesan) penuh semangat dan optimis tersebut, saya menggaris bawahi ada dua hal menarik, yang menurut pemahaman saya agak 'janggal' dan perlu penjelasan lebih lanjut. Pertama, ajakan dan himbauan Menpora, yang menggugah semangat kepeloporan pemuda untuk ambil bagian dalam penanggulangan musibah kabut asap. Dalam hal ini, Menpora mengapresiasi dan -- mengajak para pemuda -- meneladani langkah konkrit Presiden Joko Widodo, yang memimpin langsung turun lapangan sampai ke lokasi titik api.

Menurut saya, jangan hanya 'menghimbau' semata -- apalagi memberi contoh Pak Jokowi, sebagai teladan -- tetapi Menpora juga harus memberikan teladan dengan (ikut) turun langsung ke medan bencana. Ajaklah para atlet dan artis (penyanyi/sinetron/film/model) yang kesohor itu, yang selama ini menjadi idola kaum muda. Para atlet jangan 'dimanja' dengan bonus saja. Demikian juga dengan para artis, jangan hanya bisa membuai generasi muda dengan 'mimpi' yang sering ditampilkan di layar kaca.

Menpora perlu mengajak mereka -- para atlet dan artis -- untuk menunjukkan empati pada korban bencana asap, dengan turun langsung ke lokasi bencana. Tidak sulit, karena ini memang domain Menpora. Kalau presiden saja mau turun langsung, kenapa menteri masih dalam tahap ‘menghimbau’ dari Jakarta? Kalau Menpora bisa memberi contoh, apalagi diikuti para selebritis dan olahragawan tenar, pasti para pemuda di negeri ini dengan sukarela akan menyingsingkan lengan, bahu membahu membantu sesama yang terkena musibah dan bencana.

Nah, yang kedua, saya menyoal ucapan Menpora bahwa negara kita sedang mendapatkan bonus, yang tidak semua negara dapatkan. Yaitu 'bonus demografi', dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar, sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak. Menurut Menpora, ini akan memberikan keuntungan, terutama menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Peluang besar menguasai pasar ASEAN, karena usia produktif atau angkatan kerja kita -- berdasar catatan BPS tahun 2013 -- mencapai 118,19 juta orang.

Lagi-lagi, pengetahuan saya yang tidak seberapa ini, ingin meminta penjelasan lanjutan pada Pak Menteri, apakah besarnya usia produktif -- yang disebut angkatan kerja tersebut -- sudah berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja yang mencukupi? Apakah angkatan kerja yang fantastis itu sudah dibekali (dan punya) kemampuan yang cukup, untuk bersaing dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN? Jangan-jangan malah 'tergilas' oleh tenaga kerja negeri jiran (baca: negara tetangga, sesama Asean) yang punya skill lebih baik dari kita.

Saya justeru melihat, 'bonus demografi' tak ubahnya sebuah bom waktu -- yang setiap saat bisa meledak -- dengan dampak terburuk adalah meningkatnya secara siknifikan angka pengangguran, jika pemerintah tidak jeli menangani masalah ini. Dan bonus demografi, menurut saya juga bukan sebuah 'berkah', tetapi musibah dari kebijakan sebuah pemerintahan. Karena, 'bonus demografi' ini bisa jadi (dampak) dari ketidakmampuan pemerintah untuk menekan laju pertambahan penduduk, melalui program-programnya dalam dua dasawarsa terakhir.
Share:

Selasa, 27 Oktober 2015

Kenapa (Masih) Ngurus 'Status' Orang

Supaya tidak salah persepsi, yang dimaksud 'status' -- pada judul diatas -- adalah status di facebook lho ya, bukan status-status lainnya. Bukannya apa, saya memilih judul diatas, karena menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak, dalam beberapa hari ini, setiap pagi saat buka facebook, saya masih sering membaca status yang isinya 'kemarahan' dan rasa jengkel, karena statusnya dikomentari 'miring' oleh teman yang lain. Bahkan, ada status kemarahan yang bersambung setiap harinya. Lucu membacanya, tapi bikin miris juga.

Ya, miris. Karena sebagai teman -- karena mereka masuk jaringan pertemanan saya, sehingga saya bisa membaca statusnya -- nyatanya saya hanya bisa jadi 'penonton' yang baik saja. Cukup membaca sambil tersenyum hambar dan mengelus dada, tanpa ada keinginan ikut terlibat didalamnya, dengan (mencoba) jadi penengah misalnya. Karena, menurut pemahaman saya, sulit menebak makna yang tersirat dalam sebuah status, meski ditulis dengan gamblang sekalipun.

Seperti saya tulis di 'Secangkir Teh' edisi terdahulu, bahasa tulis -- dalam sebuah status -- lebih sulit diartikan dibanding bahasa lisan. Hanya penulisnya sendiri, yang tahu dan bisa mengartikan. Itulah sebabnya, saya selalu mencoba mencerna maksud sebuah status, sebelum berkomentar. Karena, kalau sebuah status menjurus ke hal pribadi (ungkapan hati, yang sebenarnya tidak butuh komentar), saya cukup memberi 'like' begitu selesai baca statusnya. Tetapi, jika statusnya 'terbuka' untuk dikomentari, biasanya saya memberi komentar yang ringan-ringan saja.

Bukanya apa-apa, saya tidak ingin terjadi 'keributan' hanya gara-gara salah pengertian dalam berkomentar. Seperti yang dialami Mas Erdy -- sebut saja begitu, salah seorang teman FB -- yang empat hari lalu menulis status, berkeluh kesah pada Allah, atas musibah yang menimpanya. Menurut saya, ini tipe status yang tidak perlu dikomentari. Kalau toh harus dikomentari, tentu yang memberi semangat dan dukungan moril, jamaknya seperti itu. Tetapi, kenyataannya beda. Ada salah seorang temannya, yang memberi komentar 'menyakitkan', yaitu dengan menuliskan kata-kata, "Mati aja lo!".

Benar, media sosial -- seperti facebook ini -- ada di ranah ruang publik, sehingga siapapun bisa memberi komentar atas sebuah status, asal masih dalam satu jaringan pertemanan. Tapi, apakah hiya, kebebasan berkomentar itu sampai mengabaikan sopan santun dalam berkomunikasi dan bersosialisasi? Dalam contoh kasus diatas, dimana letak empati atas sebuah musibah yang dialami seorang teman? Kalau toh itu hanya bercanda, apakah tepat sebuah candaan 'kasar' dilontarkan pada teman yang sedang bersedih?

Memang, dalam rentang waktu delapan tahun saya 'bergelut' dengan facebook, kejadian semacam itu sering saya temui. Biasanya, kalau dimintai pendapat, saya hanya menyarankan untuk tidak ditanggapi atau blokir teman saja, supaya tidak berkepanjangan.

Cuma, itu bukan solusi tepat. Karena, yang diperlukan (sebenarnya) adalah kesadaran diri, apakah yang akan ditulis (sebagai komentar) itu layak dibaca orang lain di ruang publik apa tidak, menyinggung yang punya status apa tidak, atau kata-katanya beretika apa tidak. Terus terang, saya melihat masih ada kecenderungan pemakai facebook -- terutama dalam menulis status -- abai dalam hal yang sifatnya pribadi (privacy). Sehingga, ketika diumbar ke umum, akan rentan dengan komentar yang bias dan tidak terkontrol.

Begitulah, ketika ruang pribadi bukan lagi rahasia yang harus dijaga -- bahkan diumbar dan jadi santapan empuk infotainment di layar kaca -- maka jangan heran kalau media sosial (termasuk FB) ikut-ikutan 'sangat terbuka', baik dalam menulis status maupun berkomentar. Sebuah perilaku sosial yang kurang mendidik sebenarnya. Apalagi bukan rahasia lagi, kalau facebook di Indonesia juga (banyak) diakses anak-anak dan remaja.


Jadi, jangan heran kalau banyak (teman) yang 'ikut campur' urusan pribadi anda, kalau -- anda sendiri -- tidak bijak dalam menulis status di facebook. Coba saja!
Share:

Senin, 26 Oktober 2015

Antara Lupus, Permen Karet, dan Bakteri

Entahlah, setiap mendengar -- atau membaca -- kata Lupus, pasti 'gambar' yang muncul di benak saya adalah sosok cowok kerempeng berseragam putih abu-abu, baju dimasukkan hanya bagian depan dan bagian belakang dikeluarkan. Dengan dandanan rambut panjang berkuncir di belakang plus model jambul di depan, Lupus selalu membawa tas kain bertali panjang, berjuntai sampai paha. Dan, ini yang menjadi ciri khasnya, selalu mengunyah permen karet.

Benar, untuk yang 'mengalami' masa remaja tahun 80-an, pasti menebak itu sosok Lupus, tokoh rekaan penulis Hilman Hariwijaya, yang menjadi idola remaja jaman itu. Cerita Lupus, dimuat di majalah remaja Hai secara bersambung, dibuat novel, dan juga ada versi layar lebarnya. Saya suka (baca) Lupus, karena alur cerita yang lepas, gaya dan perangainya yang tengil, konyol dan cuek, pas banget dengan jiwa remaja SMA yang (maunya) bebas.

Dan lewat (gambar) sosok Lupus ini pula -- untuk pertama kalinya -- saya berani 'mengkritik' kebijakan sekolah, melalui majalah sekolah Widya Wiyata. Spontanitas saja, meski beberapa waktu setelah majalah terbit saya menyesal juga, apalagi Pak Agus Sarsilo (Wakasek Kesiswaan, saat itu) memberikan reaksi lumayan keras, atas kritik yang saya buat tersebut. Tetapi, kejadian itu, menjadi pelajaran sangat berharga bagi saya, untuk tetap menggunakan 'hati' dalam menulis kritik, bukan emosi yang meledak-ledak.

Cuma, gara-gara kegemaran Lupus -- yang suka mengunyah dan membuat balon permen karet -- dan ditiru teman-teman SMA saat itu, membuat saya dibuat repot, dan kesal setiap lihat permen karet. Bagaimana tidak, teman-teman membuang 'sampah' permen karet sembarangan. Ditempel di bawah meja, di sandaran kursi, di tembok, atau juga di lantai kelas. Sehingga, celana abu-abu saya jadi 'korban' permen karet. Bukannya apa, mau beli celana lagi koq ya sayang, karena sudah kelas 3, tanggung.

Dan, hampir tiga puluh tahun setelah kejadian itu, sikap saya agak melunak terhadap permen karet. Itupun setelah membaca artikel di Tabloid Kontan, bahwa berdasar hasil penelitian di Belanda, ternyata mengunyah permen karet selama 10 menit, bisa menghalau bakteri. Tepatnya, ditemukan sekitar 100 juta bakteri terperangkap di setiap kunyahan permen karet. Artinya, ini benar-benar membuat hanya sebagian kecil bakteri saja, yang tinggal di dalam mulut.

Menurut Stefan Wessel, yang melakukan penelitian, dengan berkurangnya bakteri di mulut, tentu dapat meminimalisir risiko gigi berlubang, gusi lebih sehat, dan aroma napas yang lebih baik. Ini karena ketika permen karet dikunyah, akan membersihkan plak dan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi. Apalagi, aktivitas mengunyah juga merangsang produksi air ludah. Karena air liur adalah antimikroba, ia bekerja untuk membunuh bakteri di mulut dan juga menjaga jaringan gusi tetap sehat.

Tentu saja, tidak semua jenis permen karet efektif (bisa) 'membunuh' bakteri di rongga mulut. Memang, untuk rasa dan warna kita bebas menentukan pilihan. Tapi, yang pasti, kita juga harus memilih permen karet yang bebas gula. Karena, pada permen karet yang mengandung gula, bakteri mulut akan memfermentasi gula, yang kemudian akan memproduksi asam dan melemahkan gigi. Sebaliknya, pemanis buatan dalam permen karet bebas gula, tidak akan memberikan reaksi yang sama.

Oh hiya, jangan lupa, waktu terbaik untuk mengunyah permen karet -- berdasar penelitian tersebut -- adalah selama 10 menit. Pasalnya, jika mengunyah permen karet lebih lama dari itu, bakteri yang sudah terjebak di dalam permen karet akan keluar kembali menyebar di dalam mulut.

Dan memang, saya tidak pernah menemukan 'jawaban' -- dari semua buku serial Lupus yang sudah saya baca -- berapa lama Lupus mengunyah permen karetnya, juga kenapa dia hobi membuat balon permen karet. Yang pasti, kalau saat ini saya suka mengunyah permen karet, bukan karena mau jadi Lupus. Tapi, semata-mata untuk kesehatan. Apalagi saya tidak minum kopi dan merokok, jadi permen karet ini -- jadi alternatif -- penggantinya.
Share:

Jumat, 23 Oktober 2015

Mencicip Belimbing, Primadona Agrowisata Ringinrejo

Gara-gara 'Secangkir Teh' menyajikan tulisan wisata petik jeruk di Desa Selorejo (Kabupaten Malang) -- edisi 18/09/2015, dengan judul: Sensasi Petik (dan Makan) Buah Jeruk Langsung dari Pohon -- sebuah pesan pendek (SMS) dilayangkan Bunda Rhizwan, ke saya. Intinya, di Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) juga ada agrowisata yang lebih unik, khusus petik buah belimbing. Diusulkan, agar saya juga membahasnya di 'Secangkir Teh'. Setidaknya, "Bisa menambah khazanah pembaca tentang obyek wisata agro yang ada di Jawa Timur," begitu tulis Bunda Rhizwan, teman masa SMP dulu.

Menarik juga, karena makin banyak obyek wisata yang (bisa) diekspos di media -- cetak, elektronik, online, maupun sosial -- makin berkembang pula potensi wisata, yang ada di negeri ini. Lagipula, informasi yang disampaikan Bunda Rhizwan, menunjukkan -- sekaligus 'mematahkan' persepsi sebagian pembaca -- bahwa saya sebenarnya tidaklah tahu segalanya. Pengetahuan saya terbatas. Kalau toh di setiap tulisan saya (seolah-olah) mengetahui dan menguasai banyak hal, itu karena saya masih terus belajar, saya tetap mencari referensi, untuk memperkuat data tulisan saya.

Termasuk Desa Agrowisata Belimbing, yang setelah membuka beberapa situs pariwisata di internet, ternyata benar lokasinya berada di Jawa Timur. Tepatnya di Desa Ringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Terus terang, saya belum pernah berkunjung ke tempat ini. Karena kalau mudik ke Malang pun -- menggunakan jalan darat, via jalur pantai utara -- tetap tidak melewati Bojonegoro, tetapi lewat Tuban dan Lamongan. Sehingga, agrowisata yang berjarak 12 kilometer dari kota Bojonegoro ini, lepas dari pantauan sebagai obyek wisata layak kunjung.

Namun demikian, dari informasi yang saya dapat, Desa Agrowisata Belimbing Ringinrejo, seperti layaknya obyek wisata agro pada umumnya, mempunyai lahan kebun buah belimbing yang cukup luas. Area lahan yang ditanami pohon belimbing seluas 20,4 hektar, dengan jumlah pohon 9.600 batang. Varietasnya pun beragam, yaitu belimbing varietas bangkok, siwalan, karangsari dan panyuran, yang dalam satu tahun bisa dipanen sampai 5 kali.

Sebagai obyek wisata agro andalan Kabupaten Bojonegoro, penataan Desa Agrowisata Belimbing ini cukup bagus. Karena di suasana sejuk kebun belimbing, pengunjung bisa memilih dan memetik buah belimbing sesukanya, dengan harga Rp 10.000 per kilogram, jika akan dibawa pulang. Keunggulan belimbing Ringinrejo, adalah rasanya yang manis dan segar, ditambah lagi kandungan airnya yang banyak.

Kalau toh malas memetik sendiri -- karena takut salah memilih belimbing, misalnya -- Desa Agrowisata Belimbing telah menyiapkan gerai yang menjual belimbing beragam ukuran dan kualitas, dengan harga Rp 7.000 - Rp 9.000 per kilogram. Tak perlu khawatir, untuk pengunjung yang hanya bermaksud santai dan melepas lelah saja, pengelola juga menyediakan gazebo yang representatif. Atau, untuk menikmati bekal yang dibawa dari rumah bersama keluarga, pengunjung bisa langsung menggelar tikar, lesehan di bawah rindangnya pohon belimbing.

Meski pengunjung hanya dikenakan biaya masuk Rp 1.000 per orang, nyatanya obyek wisata yang terletak di pinggiran sungai Bengawan Solo ini tetap dikelola dengan baik. Akses jalan ke lokasi yang rapi, ditambah fasilitas seperti bumi perkemahan dan paket wisata susur sungai Bengawan Solo dengan perahu, menunjukkan bahwa potensi di agrowisata ini sudah dieksplorasi dengan benar. Tinggal diperlukan kerjasama yang berkesinambungan antar instansi terkait -- dinas pengairan, dinas pekerjaan umum, dinas pariwisata dan budaya -- agar bisa bersaing dengan agrowisata yang sudah dikenal lebih dulu.


Lagi-lagi saya -- tanpa harus diminta -- mengapresiasi obyek agrowisata belimbing ini, yang tentu saja (menurut saya) bisa menjadi sarana edukasi keluarga. Dan harapan saya, mungkin harapan pembaca juga, makin banyak 'bermunculan' obyek wisata agro dengan komoditas yang berbeda. Bisa saja kan? Atau, anda (sudah) punya informasinya?
Share:

Kamis, 22 Oktober 2015

Saatnya Jadi Konsumen yang Pintar dan Jeli

Pagi ini, tiba-tiba terbersit di benak saya, ingin menulis tentang konsumen -- arti harfiahnya: pemakai barang hasil produksi -- yang selama ini masih lemah 'kedudukannya' terhadap produsen. Konsumen, ya kita-kita yang memakai barang dan jasa ini, sering tak berdaya ketika menemukan (atau bahkan mengkonsumsi?) produk yang tidak layak. Ironisnya, konsumen yang sudah jelas-jelas dirugikan, kadang masih saja dipersalahkan, karena dianggap tidak jeli membeli produk.

Memang, banyak orang menganggap ini masalah sepele. Tapi -- kalau dibiarkan terus-menerus -- hal sepele bisa menjadi 'besar', yang dampaknya pun akan makin sulit ditanggulangi. Misalnya, ketika tanpa disadari, makanan atau minuman yang kita beli di warung pinggir jalan, sudah lewat masa layak konsumsi (baca: kadaluwarsa). Kalau tetap kita konsumsi, karena tidak tahu sudah kadaluwarsa, bisa jadi akan menjadi 'masalah' baru, yaitu sakit perut. Dan tentu (akan muncul) efek-efek lain, yang intinya akan merugikan konsumen itu sendiri.

Ada satu pengalaman, yang saya alami berhubungan dengan produk kadaluwarsa ini. Yaitu, saat dalam perjalanan pulang ke Jakarta -- saya sekeluarga -- terjebak kemacetan parah di daerah wisata Puncak (Bogor). Karena putra saya yang masih balita haus, sedang persediaan susu di mobil sudah habis, akhirnya dibelikan susu coklat dingin (kemasan kotak) di toko kelontong pinggir jalan. Saat mulai minum, putra saya memuntahkan kembali, katanya tidak enak. Benar saja, setelah diteliti, ternyata susu kemasan itu susah lewat sebulan masa kadaluwarsanya.

Kalau dicari siapa yang salah, jelas toko yang menjual produk tidak layak konsumsi tersebut. Tetapi, untuk 'menuntut' penjual -- apalagi toko kelontong atau warung pinggir jalan -- tentu tidak mudah. Selain prosedur dan birokrasi yang kadang berbelit, juga perlu biaya untuk mengurusnya. Bahkan, untuk pedagang atau penjual produk makanan atau minuman tingkat pengecer, kadang malah lepas tangan. Naga-naganya, konsumen juga yang (tetap) disalahkan, karena dianggap tidak jeli dalam membeli produk. Konsumen, lagi-lagi dalam posisi lemah, posisi yang jarang disadari karena dianggap hal yang lumrah.

Nah, supaya kita -- para konsumen -- tidak terus-menerus ada di pihak yang 'dirugikan', ada baiknya untuk mengantisipasinya sejak dini. Konsumen harus 'pintar' dan jeli, sebelum membeli makanan atau minuman kemasan. Tidak perduli itu di hypermarket, supermarket, minimarket, atau toko kelontong maupun warung kecil. Karena, dengan cara ini pula, konsumen akan menjadi lebih 'kuat' dan mempunyai nilai tawar lebih tinggi. Utamanya 'keberanian' menolak, untuk tidak membeli barang yang dianggap meragukan dan/atau tidak layak konsumsi, maupun barang yang disangsikan dari segi kesehatan maupun higienisnya.

Caranya, ada beberapa. Tapi, yang paling sederhana -- dan efektif -- adalah dengan mencermati label kemasan, yang menyajikan informasi penting tentang produk tersebut. Biasanya, dalam kemasan produk makanan dan minuman, tertera informasi kandungan bahan makanan, mulai dari vitamin, protein, kalsium, juga garam dan gula. Bahkan, secara spesifik juga akan diterakan (kandungan) rendah kalori, rendah lemak, rendah kolesterol, dan bebas gula. Ini sangat bermanfaat bagi konsumen yang mempunyai jenis penyakit tertentu.

Patut menjadi perhatian, untuk jenis makanan dan minuman tertentu -- utamanya susu bubuk dan makanan instan untuk bayi -- adalah takaran saji. Karena, beda produk atau merek, beda pula takaran saji yang disarankan. Pun 'peringatan' lain, perlu untuk diperhatikan. Misalnya, kandungan alkohol, nonhalal, larangan konsumsi untuk ibu hamil, anak-anak, atau penderita penyakit tertentu. Dan, tentu saja tanggal produksi dan batas masa konsumsi atau kadaluwarsa, serta ada tidaknya nomor izin dari Badan POM RI.


Ribet? Tidak juga sih. Karena ini demi kepentingan kita, sebagai konsumen, untuk mendapatkan hak-haknya. Jadi, kuncinya -- untuk menjadi konsumen yang baik itu -- harus pintar dan jeli.
Share:

Rabu, 21 Oktober 2015

Merananya Toilet Umum di Ruang Publik Kita

"Lho, ini pagi-pagi koq sudah ngributin masalah toilet sih? Apa gak ada materi yang lain, Mas Prie?" Barangkali -- diantara pembaca -- ada yang berfikiran begitu, saat membaca judul diatas. Ya tidak apa-apa, itu wajar dan bisa dipahami. Karena, mungkin ada (sebagian) pembaca, yang merasa kurang nyaman masalah 'urusan belakang' dibicarakan secara terbuka, di forum umum seperti 'Secangkir Teh' ini. Meski, sebenarnya tidak 'tabu' juga, kalau masalah fasilitas sanitasi dasar masyarakat ini, dibahas dari sisi kepentingan publiknya.

Saya sengaja menyorot sarana toilet umum -- dalam konteks tulisan ini, bisa di kantor, di mall, di terminal, atau fasilitas umum lainnya -- karena mayoritas layanannya masih 'jauh' dari standar yang diharapkan. Maksudnya, kalau kita berkesempatan (atau terpaksa?) menggunakan fasilitas toilet umum, dimanapun itu, pasti ada saja yang dikeluhkan. Entah kebersihannya, ketersediaan airnya, lampu yang kurang terang, atau juga segi keamanannya. Bahkan, kadang peralatan yang mestinya harus ada, seperti keran air atau tempat cuci tangan, kadang malah tidak ada.

Begini, agar tidak bias -- dan sebagai contoh -- saya sedikit berbagi cerita masalah toilet umum, yang menurut saya kurang bagus perawatannya. Lokasinya, ada di lobby salah satu gedung perkantoran di Jakarta, tempat saya bekerja. Sebagai fasilitas (umum) yang diperuntukkan para karyawan (dan para tamu) yang berkantor di gedung ini, secara umum memang bagus, baik dari segi perlengkapan maupun kebersihannya. Tetapi, ada yang yang kurang diperhatikan. Keran air untuk toilet laki-laki sering macet, sehingga saat ditekan tidak keluar airnya. Ini sangat mengganggu dan memberi kesan 'kurang menyenangkan' bagi penggunanya. Anehnya, itu berlangsung lebih dari dua bulan, tanpa ada tanda-tanda diperbaiki.

Ironis, karena untuk sebuah gedung perkantoran, yang banyak dihuni pekerja ekspatriat, tidak seharusnya toilet umumnya bermasalah. Pertanyaannya, kalau di gedung perkantoran yang megah saja, masih belum maksimal dalam 'merawat' fasilitas umum, bagaimana dengan toilet umum yang ada di pusat perbelanjaan, stasiun kereta, pasar swalayan, ataupun terminal bus?

Pembaca pasti lebih tahu jawabannya. Menurut perkiraan saya, jawabannya pasti tak jauh dari kesan kurang menyenangkan. Yaitu -- jawaban yang mungkin paling banyak dilontarkan - adalah masih minimnya perawatan dan pemeliharaan kebersihan. Serta, kurangnya ketersediaan sarana pendukung, seperti air bersih, wastafel, tisue, gayung, lampu penerangan dan (mungkin) juga keset. Satu hal, yang semua itu sering dianggap lumrah, baik oleh pengelola maupun pengguna. Padahal, ketersediaan peralatan tersebut, adalah demi menjamin kesehatan pemakaian.

Bayangkan, toilet umum yang kurang bersih dan tidak terawat -- bisa juga dikatakan 'tidak sehat' -- pasti akan menjadi sarang kuman dan bakteri pembawa berbagai macam penyakit, bagi para penggunanya. Seperti, penyebab keracunan makanan (Salmonella listeria dan bacillus), penyebab penyakit flue (Rhinovirus), penyebab infeksi diare pada anak (Rotavirus), dan juga penyebab infeksi pernafasan (Respiratory syncytial virus). Belum lagi jamur Candiada, yang menjadi penyebab penyakit pada area kelamin, yang biasanya juga menular lewat toilet yang kotor.

Yang pasti, menurut hemat saya, untuk mendapatkan toilet umum yang bersih dan berkualitas, diperlukan sebuah perhatian khusus -- dan kesadaran tinggi -- dari semua pihak. Baik pengelola dimana fasilitas itu berada, maupun masyarakat penguna fasilitas itu sendiri. Ya, pengelola harus menyadari, bahwa toilet umum bukan hal sepele, yang tidak sekedar dibuat dengan konsep 'yang penting ada'. Lebih dari itu, harus diperhatikan segi kebersihan, kesehatan, dan kenyamanannya.

Sebaiknya, kita -- sebagai pengguna -- ya harus tertib dan tidak sembarangan (baca: jorok), karena mentang-mentang sudah bayar, misalnya. Apakah bisa, ya saya kembalikan ke anda, para pembaca, untuk menjawabnya. Gampang kan?
Share:

Selasa, 20 Oktober 2015

Rumput Tetangga Selalu (Nampak) Lebih Hijau

Rasanya kangen juga, setelah selama seminggu, saya 'mangkir' -- menulis dan menjumpai -- pembaca 'Secangkir Teh'. Lagi-lagi, saya harus mengalah, pada urusan yang memang harus diprioritaskan. Yang tujuannya, salah satunya, untuk kepentingan jangka panjang rubrik 'Secangkir Teh' ini juga. Cuma, cerita lebih detailnya, saya akan buat dalam tulisan tersendiri, dalam beberapa hari ke depan.

Terus terang, selama 'libur' menulis, ide dan materi tulisan terus datang silih berganti, di kepala saya. Makin tidak saya hiraukan, makin 'berebut' untuk segera dituangkan dalam bentuk tertulis. Salah satunya -- ini yang sering terjadi di sekitar kita juga -- kebiasaan memandang kehidupan orang lain, yang (dianggap) lebih baik dari kehidupannya sendiri. Entahlah, apakah ini memang sudah menjadi sifat bawaan manusia, atau hanya pengaruh lingkungan semata, tetapi nyatanya sudah seperti wabah, yang sulit diberantas.

Tidak perlu terlalu jauh mencari contoh. Di lingkungan kerja misalnya. Ketika saya masih kerja di bagian promosi, kalau melihat teman di bagian design grafis -- biasanya mengerjakan materi iklan cetak dan label atau packaging -- rasanya senang banget. Kerjanya tiap hari koq 'main' komputer melulu. Browsing internet, edit gambar, dan hal yang (kelihatan) menyenangkan lainnya. Ketika hal ini saya sampaikan, dia malah berkata, "Jenuh juga Mas, saya justeru melihat teman-teman di bagian promosi itu lebih menyenangkan. Bisa bebas kerja di lapangan, tidak di ruangan terus."

Atau, kalau mau contoh, yang sering kita temui, adalah yang ada di lingkungan tempat tinggal sendiri. Tidak jarang kita -- atau orang lain, kalau tidak mau dibilang 'kita' -- merasa tetangga lebih beruntung kehidupannya, entah dari segi materi, pekerjaan atau dalam membina keluarga. Padahal, belum tentu (kenyataannya) seperti itu. Kita hanya melihat kulit luarnya, melihat 'hasil akhir' semata. Kita tidak pernah membayangkan proses yang dilalui tetangga tersebut, sampai bisa mencapai seperti sekarang ini.

Pun demikian sebaliknya. Bisa jadi, ada tetangga yang juga punya perasaan kagum sekaligus iri, melihat kehidupan kita sekarang ini. Tentu dengan alasan-alasan yang (hampir) sama, dengan apa yang kita pikirkan tentang tetangga yang 'lebih beruntung' tadi. Dalam masyarakat Jawa, hal semacam ini disebut 'sawang sinawang', saling melihat. Kita sering silau dengan keberhasilan, keberuntungan, dan kesuksesan orang lain. Sebaliknya, orang lain tersebut, tak menutup kemungkinan punya pandangan yang sama terhadap kita.

Begitulah, sebuah kehidupan yang mencerminkan ketidakpuasan dengan apa yang sudah didapatkan. Maksudnya, selalu tidak puas dengan hasil kerja keras yang sudah dilakukan. Karena (masih) membanding-bandingkan dengan keberhasilan orang lain, yang dianggapnya lebih beruntung. Sebenarnya, kalau dilihat dari perspektif yang berbeda, sikap ini lebih pada 'ketidakmampuan' seseorang -- saya tidak menyebut 'kita' -- dalam melihat kekurangan diri sendiri, sekaligus (juga) dalam melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Orang yang dianggapnya lebih enak hidupnya.

Cuma, kalau mau mengurai lebih lanjut -- masalah 'rumput tetangga' ini -- pasti tak akan pernah ada habisnya. Dan nampaknya, 'Secangkir Teh' bukanlah tempat yang tepat untuk membahasnya, apalagi sampai berlarut-larut. Jadi, menurut saya, cukuplah sekedar tahu, bahwa sangat sulit untuk 'membasmi' penyakit hati, yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat ini. Mungkin, yang bisa dilakukan, adalah berusaha untuk 'menghambat' agar tidak menjadi kronis.


Caranya, ya mulai belajar faham dan sadar diri, akan kemampuan diri sendiri. Kalau ada orang -- atau tetangga -- yang mampu mencapai hasil 'lebih', jadikan saja sebagai pemacu diri, untuk lebih keras lagi dalam usaha. Artinya, kalau rumput tetangga (selalu) lebih hijau, bisa jadi karena dia rajin menyiram tiap hari. Jadi, agar tidak iri dengan rumput tetangga, mulailah rajin 'menyiram' rumput sendiri. Apapun hasilnya, disyukuri saja.
Share:

Selasa, 13 Oktober 2015

Mengurangi Resiko Kepikunan, Kenapa Tidak?

Dulu, kalau mendengar kata 'pikun', pasti yang terbayang adalah sosok kakek atau nenek, yang super pelupa. Bahkan, karena begitu pelupanya -- ini cuma ilustrasi lho ya -- sampai kacamata yang dipakaipun dicarinya, katanya hilang. Atau, baru saja makan, tidak begitu lama malah mengeluh lapar, katanya belum makan. Setidaknya seperti itulah, yang bisa saya gambarkan tentang 'pikun', yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti: kelainan tingkah laku (sering lupa dsb) yang biasa terjadi pada orang yang berusia lanjut ; linglung ; pelupa.

"Emang mau ngapain sih Mas, pagi-pagi sudah ngomongin pikun?" Kalau ada pembaca yang bertanya seperti itu, maka jawaban saya sederhana saja, "Saya cuma mau mengingatkan, bahwa saya dan sampeyan-sampeyan semua, sebentar lagi juga akan dihinggapi 'penyakit' pikun ini, kalau tidak berusaha mencegahnya sejak awal." Bukannya apa-apa, kalau pikun -- baca: penurunan daya ingat -- ini masih bisa dicegah, kenapa tidak kita lakukan?

Nah, pagi ini 'Secangkir Teh' mau berbagi kiat-kiatnya, yang siapa tahu, ada manfaatnya. Terutama bagi pembaca, yang sudah (merasa) ada tanda-tanda mulai pelupa. Oh hiya, terus terang saya membahasnya, karena terinspirasi tulisan psikolog Mbak Agustine Dwieputrie, yang memaparkan masalah kepikunan ini, di harian Kompas.

Syahdan, menurut Scott Hagwood -- dalam bukunya 'Memory Power' -- menuliskan bahwa memori itu layaknya tubuh manusia. Makin dilatih, akan makin bertambah kuat. Menurut Scott, setidaknya ada 8 cara melatih memori, agar bisa mengurangi resiko kepikunan, dibandingkan dengan orang yang sama sekali tidak melakukan apa-apa. Latihan itu, kalau dilakukan rutin empat kali dalam seminggu, hasilnya akan efektif.

Yang pertama, adalah membaca secara kritis dan analitis. Maksudnya, setiap membaca beberapa kalimat, diharapkan untuk jedah sambil bertanya, apa sebenarnya yang dimaksud penulis tersebut. Dengan menelaah beberapa kali selama membaca sebuah tulisan -- dalam jedah tadi -- akan memperkuat memori. Berbagai fakta, peristiwa dan detail karakter, akan tetap segar terjaga dalam fikiran.

Cara kedua, gunakan tangan yang tidak dominan secara lebih sering. Misalnya, kalau biasa menggosok gigi memakai tangan kanan, sesekali coba memakai tangan kiri. Kegiatan ini untuk melatih otak kiri dan kanan, membantu memperkuat berbagai koneksi kognitif. Kemudian, yang ketiga, tulis dan simpanlah buku harian. Dengan menuliskan setiap kejadian dan hal yang dilakukan keseharian, secara rutin tiap malam, ini dapat mengatur dan memperbaiki pemikiran kita.

Yang keempat, mengisi teka-teki silang (TTS). Sebenarnya TTS hanya sebagai alat, tujuannya adalah menggunakan sisi kiri otak untuk memproses sebuah petunjuk (pertanyaan), dan sisi kanan otak untuk menggabungkan berbagai petunjuk untuk menemukan jawaban. Cara lainnya -- kelima sampai kedelapan -- adalah, memperluas kosa kata, melakukan permainan, berolahraga, dan memainkan sebuah alat musik.

Kalau nomor 5 sampai 8 tidak diurai, bukan berarti saya mau buru-buru mengakhiri tulisan ini. Tetapi semata-mata memang terbatasnya 'jatah' panjang tulisan. Yang pasti -- bukan bermaksud membanggakan diri -- ternyata selama ini, saya pribadi sudah menjalankan (setidaknya) 7 dari 8 cara tersebut secara rutin, kecuali memainkan alat musik. Entahlah, untuk yang satu ini, memang saya tidak punya bakat sama sekali.

By the way, kalau kita telaah, delapan cara tersebut sepertinya 'sepele' semua, gampanglah untuk dilakukan. Cuma -- ini hal manusiawi sebenarnya -- disadari atau tidak, untuk hal-hal sepele macam ini, kita justeru sering lalai untuk melakukannya. Ya memang, semua kembali (lagi) ke diri kita masing-masing.


Jadi, kalau mau 'tidak buru-buru' pikun, mari kita mulai 'terapi' mencegah kepikunan tersebut, semampunya. Kalau tidak, jangan heran setelah membaca tulisan ini, anda akan menggumam, "Koq Mas Prie pagi ini tidak menulis Secangkir Teh ya?" Nah kan, itu artinya (anda) sudah mulai pikun. Hati-hati!
Share:

Senin, 12 Oktober 2015

Melawan HOAX, Melawan Kebiasaan Jelek Kita

Supaya membahasnya enak, harus disepakati dulu, yang dimaksud HOAX disini -- sesuai yang tercantum di Kamus Bahasa Inggris -- adalah: "berita bohong ; menipu dengan sebuah berita bohong". Ya benar, sebuah 'berita', yang ditulis dan dikemas sedemikian rupa, sehingga membuat yang membaca mempercayainya. Padahal, berita tersebut palsu, alias diragukan kebenarannya. Tujuan hoax, bisa saja untuk memprovokasi, menipu, menjatuhkan pihak lain, atau sekedar iseng.

Nah, hoax inilah, yang awalnya hanya beredar dari email ke email, sekarang -- setidaknya dalam beberapa tahun belakangan ini -- sudah merebak di (hampir) semua media sosial. Mulai dari facebook, twitter, path, instagram, whatsapp, line, sampai blackberry messengers. Dan saya yakin, sebenarnya pembaca 'Secangkir Teh' juga sudah akrab dengan hoax ini. Baik yang mengetahui dengan baik, maupun yang belum menyadari bahwa yang dibaca (dan disebarkan) itu adalah hoax.

Memang, mengenali sebuah hoax, tidaklah mudah. Kalau dulu, di awal 2000-an, untuk membuktikan sebuah berita hoax atau bukan, cukup melakukan pencarian lebih mendalam terhadap obyek yang di diberitakan, melalui google. Biasanya bisa terdeteksi. Apalagi hoax di zaman itu, lebih banyak pada berita luar negeri. Lagipula, hoax saat itu masih terbilang sederhana, hanya berita yang (seolah-olah) dari sumber terpercaya, tanpa menyebut sumber resminya.

Tetapi, hoax yang beredar saat ini sudah begitu canggih. Bahkan, hoax 'lokal' lebih mendominasi. Kalau kita jeli, hampir tiap hari -- di media sosial dan alat komunikasi -- bisa ditemui hoax. Entah itu tentang info kesehatan, peringatan pihak berwajib, himbauan keamanan, sampai berita update yang yang sedang jadi trending topic. Biasanya, hoax dikirim secara berantai (saling meneruskan), atau kalau di BBM menggunakan istilah di broadcast.

Nah, tanpa disadari -- atau dengan sadar? -- sebagian besar dari kita, ikut-ikutan menyebarkan. Tanpa menelaah, apalagi berusaha mencari informasi kebenaran, dari berita tersebut. Biasanya, dikirim massal dan diawali dengan kata-kata "Mohon diinfokan ke yang lain", "Info dari grup sebelah", atau "Sebarkan, demi kebaikan kita bersama". Padahal, dengan menyebarkan hoax, sama dengan menyebarkan berita sesat, yang bisa membuat 'kekacauan' informasi pada masyarakat luas.
Saya pernah dibuat 'sibuk' dengan berita hoax ini. Ketika menunggu bus APTB 10 di halte busway Pancoran -- untuk pulang ke Cileungsi -- seorang pemuda yang duduk di sebelah saya, membuka percakapan, "Besok kita repot nih Pak, Jakarta akan lumpuh dengan mogok sopir besar-besaran," ujarnya. Tentu saja saya kaget. Koq saya tidak pernah dengar ya? Belum sempat saya tanya, dia melanjutkan, "Beritanya sudah ada di internet Pak, bahkan saya juga dapat broadcast di BBM."

Wah gawat nih, pikir saya saat itu. Sampai di rumah, saya coba cari informasinya di web dan twitter TMC Polda Metro, DLLAJ, sampai cari beritanya di Kompas Online dan Detik News. Ternyata, itu berita bohong dan menyesatkan, alias hoax. Setelahnya, saya hanya tercenung, kenapa masyarakat mudah panik, dengan hal-hal yang belum jelas kebenaran, dan juga sumber informasinya? Kenapa tidak mencoba mencari tahu kebenarannya, melalui sumber lain yang bisa dipercaya?

Begitulah, disaat media sosial dan online begitu mudahnya kita akses, saat yang sama pula (mayoritas) masyarakat juga mudah percaya -- pada berita dan informasi -- pada kecanggihan teknologi tersebut. Bukannya tidak boleh 'percaya', tetapi azas kehati-hatian juga tetap harus dijaga. Apalagi sudah banyak kasus hoax yang berujung ke permasalahan hukum, karena (mengandung unsur) pelecehan, penghinaan dan fitnah pada personal. Belum lagi hoax yang berisi penipuan dan adu domba antar golongan.


Satu pesan moral yang ingin disampaikan -- melalui 'Secangkir Teh' ini -- jangan sampai kita terjebak di dalam 'lingkaran' hoax, baik sebagai pembaca, maupun ikut-ikutan (membantu) menyebarkan. Sebaiknya, lebih bijak menyikapi setiap info yang kita terima.
Share:

Minggu, 11 Oktober 2015

Merindukan 'Suara' Ibu Negara

Lagi-lagi saya harus melayani diskusi kecil, seorang teman -- kenal di salah satu media sosial -- yang tinggal di Jambi, melalui BBM dua hari lalu. Awalnya, Mbak Yanti, begitu saya memanggil teman yang kerja di salah satu bank pemerintah tersebut, mengeluhkan kabut asap yang belum juga 'menghilang' dari bumi Sumatera. Mbak Yanti 'kesal' dengan janji pemerintah yang (katanya) akan segera menuntaskan masalah asap ini. "Masak harus menunggu korban berjatuhan lebih banyak lagi, baru mau sungguh-sungguh melakukan penanganan serius," begitu gerutunya.

Seperti biasa, saya hanya bisa menanggapi secara normatif, ikut prihatin dengan 'penderitaan' teman yang terkena dampak asap pembakaran hutan. Setidaknya, saya sudah menunjukkan empati pada -- para korban -- musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera tersebut. Saya mencoba tidak memperpanjang diskusi, dengan membahas siapa yang harus disalahkan, atau tindakan pemerintah yang kurang sigap, misalnya. Jujur saja, saya kurang faham masalah ini. Lebih tepatnya, tidak menguasai persoalan.

Sebenarnya bukan masalah asap, yang membuat saya tertarik diskusi itu. Tetapi, ada satu ungkapan -- bernada 'menggugat' dari Mbak Yanti -- terhadap Ibu negara (baca: istri presiden), yang tidak pernah mengeluarkan statement apapun, terhadap permasalahan yang ada di negeri ini. "Jangan yang berat-berat deh. Pada kasus meninggalnya Engeline yang disiksa ibunya sendiri, mestinya Ibu negara bersuara, minimal menyampaikan rasa simpatinya. Beliau kan seorang ibu, pasti bisa merasakan penderitaan anak-anak korban kekerasan," ungkap Mbak Yanti, ibu dari 3 orang anak ini.

Benar, kali ini saya sependapat dengan Mbak Yanti. Terlepas Ibu negara -- Ibu Iriana Joko Widodo -- memang dibatasi aturan protokoler kepresidenan atau kebijakan lain, yang tidak memperbolehkan beliau berbicara kepada khalayak, melalui pers. Tetapi, dalam kapasitas seorang ibu, tentunya juga punya hak untuk menyampaikan pendapat. Maksudnya, bukan berarti Ibu Iriana mau ikut campur urusan negara. Melainkan, lebih pada memberi teladan pada ibu-ibu di negeri ini, bagaimana harus bersikap dan peduli pada sesama.

Keyakinan Mbak Yanti, bahwa mayoritas ibu-ibu di negeri ini juga ingin mendengar suara Ibu Iriana -- beserta aktivitas sosial kesehariannya -- bisa jadi benar. Karena, hal yang sama juga pernah dilakukan Ibu negara sebelumnya, seperti Ibu Tien Soeharto (alm), Ibu Ainun Habibie (alm), Ibu Nuriyah Abdurrahman Wahid, dan Ibu Annie Yudhoyono, yang sering memberi statement 'menyejukkan' pada kasus-kasus tertentu. Perkara itu hanya formalitas semata, ya tidak masalah. Yang penting kan sudah ada itikad baik, sekalipun hanya rasa simpati saja misalnya.

Kalau boleh dianalogikan, ibu pejabat setingkat kecamatan saja (baca: Ibu Camat, istri Bapak Camat), selalu punya rasa kepedulian pada warganya yang terkena 'bencana', dengan menunjukkan rasa empati berupa kunjungan atau ucapan pemberi semangat. Demikian juga dengan 'ibu pejabat' di level lebih rendah -- Ibu Kepala Desa atau Ibu RT -- akan selalu berusaha 'dekat' dengan warganya, meski yang jadi pejabat adalah suaminya. Mestinya, Ibu Presiden juga punya 'keinginan' dan semangat yang sama.

Artinya, Ibu Iriana harus bisa merepresentasikan seorang istri, pendamping suami, yang ideal. Seorang ibu, yang tanggap dan peduli pada permasalahan sosial, permasalahan yang ada pada masyarakat. Yang semua (akan) bisa dilihat dan didengar oleh masyarakat, hanya melalui 'statement' dan tindakan nyata di lapangan. Bukan sekedar mendampingi Pak Jokowi kemanapun pergi -- kunjungan kerja sebagai Presiden -- tanpa 'bersuara'.


Begitulah, ternyata keinginan Ibu Negara 'bersuara' tidak hanya didengungkan Komnas Anak (KPAI) semata. Tetapi, juga masyarakat, yang terwakili oleh Mbak Yanti. Saya yakin, selama aktivitas dan statement yang dikeluarkan masih dalam koridor kewajaran, pasti tidak akan menuai kritik dari pihak manapun. Bahkan, (akan) mendapat simpati dari masyarakat, terutama para ibu.
Share:

Sabtu, 10 Oktober 2015

Menyiasati LDR, Agar Bermakna Positif

Sebenarnya agak riskan, mau menulis tentang Long Distance Relationship -- biasa disingkat (dan disebut) LDR saja -- di 'Secangkir Teh' pagi ini. Bukannya apa-apa, saya merasa sudah ketinggalan zaman, kalau membahas hubungan LDR, yang dilakukan anak muda zaman sekarang. Dalam benak saya, di era yang sudah serba canggih, mestinya LDR bukanlah sebuah halangan. Lagipula, saat masih muda dulu, saya jarang menemukan kasus LDR yang jadi masalah. Terutama dari teman-teman mahasiswa seperjuangan di rantau. Semuanya dijalani dengan lancar dan baik-baik saja.

Justeru, yang 'menginspirasi' saya menulis LDR, adalah curhatan dari Faiz -- sebut saja begitu, sahabat saya yang masih berusia 25 tahun -- melalui whatsapp. Faiz, pemuda lajang yang saya kenal melalui media sosial Instagram tiga tahun silam, mengeluhkan hubungan dengan pacarnya yang 'kurang lancar'. Sudah 2 tahun, sejak lulus kuliah, Faiz meninggalkan kota kelahirannya (Semarang), untuk memenuhi pangilan kerja di Bontang, Kalimantan Timur. Masalahnya, Faiz juga 'meninggalkan' pacarnya yang berusia 21 tahun di Semarang, karena masih kuliah.

"Gimana ya Om, kami serius untuk melanjutkan hubungan sampai jenjang pernikahan. Tapi saya was-was terus, takut dia ingkar pada komitmen. Apalagi kami berjauhan", itu kalimat Faiz, yang ditulis dan dikirim kemarin malam. Terus terang, ini 'membebani' saya, karena harus memberi jawaban yang bijaksana dan solutif layaknya seorang psikolog, dengan segera. Lha hiya, saya tidak boleh memberi jawaban sekedarnya kan? Karena, ini menyangkut hubungan serius dua anak manusia, yang sedang galau sekaligus dilanda asmara.

Sebenarnya, kasus Faiz adalah persoalan yang sudah biasa dialami kaum muda, yang bisa terjadi pada siapa saja. Cuma, jadi sedikit unik, karena kecemasan malah ada di fihak Faiz, laki-laki yang statusnya aman, karena sudah mendapat pekerjaan. Seharusnya, 'kekhawatiran' itu ada di fihak perempuan, karena takut sang arjuna tidak sabar menunggu dia menyelesaikan kuliah. Namun, apapun itu, saya melihat ini lebih pada masalah 'kepercayaan' yang belum terjaga baik. Selain, bisa jadi karena (adanya) komunikasi yang 'terhambat'.

Seperti saya sampaikan ke Faiz, hubungan LDR memang harus didasari oleh komitmen dan saling percaya yang cukup kuat. Rasa percaya, bisa ditumbuhkan dengan memperjelas lebih dulu -- melalui komunikasi yang kontinyu -- tujuan hubungan yang dijalin, termasuk tujuan akhirnya. Kalau sudah ada titik temu, atau biasa disebut komitmen, ya tinggal 'menjaga' saja. Menyiasati terpisahnya jarak yang jauh, bisa diatur melalui komunikasi yang terjadwal.

Benar, hubungan LDR memang sering 'bermasalah' di komunikasi. Hal-hal kecil -- yang disebabkan miskomunikasi -- sering menjadi masalah besar, meski sudah didasari komitmen. Itulah sebabnya, penting untuk mengatur jadwal komunikasi. Entah melalui telepon, video call, atau chatting via media sosial lainnya. Ini diperlukan, apalagi seperti yang terjadi pada Faiz, jam kesibukan antara pekerja kantoran dan mahasiswi jelas berbeda. Sehingga perlu dicari dan disepakati, kapan saat terbaik berkomunikasi, untuk menghindari kesalahpahaman yang seharusnya tak terjadi.

Sekali lagi, tulisan ini bukan acuan 'jalan keluar' untuk yang sedang menjalani hubungan LDR. Karena pemahaman LDR itu sangat luas, tergantung yang mempersepsi dan jenis kasusnya. Tulisan ini, semata-mata lebih pada penjabaran 'penyelesaian' satu kasus LDR, yang sedang dialami Faiz. Masalah sudah jelas, komitmen awal (sebenarnya) juga sudah diikrarkan, saat Faiz dan pacarnya tinggal di Semarang. Sehingga, kini tinggal menjaga, sekaligus mulai -- sedikit demi sedikit -- mengikis rasa was-wasnya.

Dengan saya tulis di 'Secangkir Teh', setidaknya bisa mereduksi pemahaman -- pada sebagian kaum muda -- bahwa LDR bukanlah sekedar urusan fisik yang terpisah jarak dan waktu semata. Tetapi, juga masalah 'trust'. Kepercayaan dan komitmen. Minimal, begitulah yang saya fahami. Entah kalau (pemahaman) para pembaca?
Share:

Rabu, 07 Oktober 2015

Kenakalan Anak, Tanggung Jawab Siapa?

Sungguh menarik, ketika secara 'tak sengaja' saya berdiskusi kecil dengan Pak Yan -- seorang guru sekolah lanjutan, yang cukup senior -- seusai sholat Isya' di masjid, minggu kemarin. Sebenarnya, awalnya, hanya pembicaraan ringan seputar kenakalan anak-anak, yang semakin sulit dikendalikan, sehingga menjurus ke masalah kriminal. Biasanya, yang akan disalahkan, adalah orang tua dan pihak sekolah. Orangtua dianggap 'kurang mampu' mengendalikan dan mengawasi aktivitas keseharian anaknya. Di lain pihak, sekolah juga dianggap berperan penting 'berkembangnya' kenakalan anak, karena lalai dalam memberi pelajaran budi pekerti pada anak didik.

Menurut Pak Yan, ini kondisi tidak adil, yang sudah terlanjur tercipta dan melekat pada pandangan mayoritas masyarakat kita. Tidak adil, karena hanya melihat kenakalan anak dari satu 'akibat' saja, bahwa pendidik (baca: sekolah) kurang mampu memberikan pelajaran budi pekerti dan moral, sehingga anak menjadi liar dan tidak terkendali. Padahal, paradigma itu belum tentu benar, perlu pengkajian mendalam dalam mengurai dan menemukan akar masalah sebenarnya.

Saya semakin tertarik dengan 'pemikiran' Pak Yan, ketika menyentuh pada masalah sistim pendidikan yang kurang mendukung pembentukan moral dan budi pekerti anak didik, dan lebih cenderung 'menciptakan' anak pintar dengan cara yang (kadang) kurang terencana dengan baik. Bahkan, ada kegamangan dari para pendidik untuk bersikap, dalam menangani kasus kenakalan anak -- sikap dan sifat di luar kewajaran anak didik -- di sekolah, karena 'takut' dengan dampak yang ditimbulkan. Terutama dalam memberikan hukuman yang bersifat fisik maupun psikis, meski ringan dan bersifat mendidik.

Sebagai contoh -- dengan sedikit membandingkan cara 'menghukum' anak didik di masa sebelumnya -- seorang pendidik di masa sekarang akan berfikir seribu kali, untuk memberi efek jera pada anak didik secara fisik atau psikis. Meski nyata-nyata sudah tidak mempan dengan himbauan, nasehat dan teguran keras sekalipun. Jangankan 'menyentuh' tubuh anak didik, melontarkan teguran yang (dianggap) kasar dan (menjurus) pelecehan pun, sangat dihindari para pendidik sekarang. Setidaknya, menghindari dampak yang ditimbulkan, yaitu tuntutan hukum atas nama 'kekerasan pada anak'.

Padahal, di masa lampau, hukuman berdiri di depan kelas, hormat bendera di halaman sekolah, lari keliling gedung sekolah, atau juga membersihkan toilet sekolah, sudah biasa dijatuhkan pada anak didik. Bahkan, sebuah jeweran di telinga, cubitan di lengan, pukulan pada tangan -- dalam batas tertentu -- justeru bisa memberi efek jera, dan meminimalisir (munculnya) kenakalan pada anak didik.

Begitulah, diskusi kecil yang menjurus 'curhat' malam itu, memang belum tuntas. Banyak menyisakan pertanyaan. Diantaranya, dimana peran orang tua, kalau semua urusan pembentukan watak, moral dan budi pekerti (hanya) dibebankan pada pihak pendidik (baca: sekolah) semata? Padahal, berapa jam efektif seorang anak dalam 'pengawasan' sekolah dalam seharinya? Bukankah seorang anak lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga, dalam kesehariannya? Bukankah karakter dan sifat anak justeru terbentuk dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga?

Artinya, seperti yang tertulis di awal tadi, orang tua -- dan lingkungan keluarga -- harus ikut berperan dalam membentuk karakter yang baik pada anak, minimal dengan memberikan pemahaman moral dan budi pekerti sejak dini. Tidak hanya dengan nasehat dan omongan semata, tetapi juga contoh konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Berikutnya, orang tua secara terus-menerus juga harus melakukan 'kontrol' berkesinambungan, terhadap pergaulan anak. Mulai dari aktivitas keseharian, teman-temannya, sampai lingkungan pergaulannya.


Jika itu dilakukan -- sinergi orang tua dan pendidik -- pasti kenakalan anak bisa diminimalisir. Dan kegamangan pendidik, yang diwakili Pak Yan tadi, tidak perlu ada. Juga, hukuman fisik dan psikis tidak perlu dilakukan lagi. Cuma, masalahnya, sudah adakah sinergi itu?
Share:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com