SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Jumat, 11 September 2015

Menyoal Lirik Lagu Dangdut yang 'Pasaran' Itu

Di awal, saya harus permaklumkan, ini bukan bentuk 'konfrontasi' saya dengan pembaca, yang kebetulan penggemar musik dangdut. Seperti sering saya sampaikan, membaca 'Secangkir Teh' -- untuk bisa menikmati 'kesegaran' maknanya -- harus sampai tuntas, jangan hanya terpancing dengan judulnya semata. Itulah, kalau memang anda penggemar dangdut, sangat disarankan membaca tulisan ini sampai tuntas. Lha yang bukan penggemar dangdut gimana? Ya tetap harus baca sampai selesai, tanggung banget berhenti baca, apalagi sudah (baca) sampai satu alenea gini.

Oke, kita serius. Begini, disadari atau tidak, ternyata kalau diperhatikan dengan seksama, lirik lagu dangdut -- yang beredar luas di masyarakat saat ini -- sangatlah jauh dari kesan 'rangkaian kata' indah dan punya makna mendalam. Bahkan, maaf, kesannya pasaran dan asal-asalan. Mulai dari pilihan judul lagu yang 'mengundang' sampai lirik yang 'gak nyambung' sudah menjadi ciri khas (mayoritas) lagu dangdut saat ini. Saya bilang mayoritas lho ya, berarti tidak semua lagu dangdut. Kalau diprosentase 80% (asal-asalan) banding 20% (bagus).

Contoh konkritnya, hampir semua idiom yang sedang trend di masyarakat, pasti muncul lagu dangdutnya, seperti: capek deh, sakitnya tuh disini, cinta klepek-klepek, miscall cinta, disitu kadang saya merasa sedih, buka sitik jos, dan masih banyak lagi. Tak penting, apakah rangkaian satu kalimat ke kalimat berikutnya, pada lirik lagu itu, nyambung apa enggak. Nyatanya, tetap diterima baik para penggemar dangdut, dan tak jarang menjadi hits.

Saya tentu tak sekedar beropini. Untuk memperkuat tulisan, saya sengaja -- seminggu belakangan -- mendengarkan lagu-lagu dangdut minimal 1 jam sehari, di radio RDI (Radio Dangdut Indonesia) Jakarta, frekuensi 97,1 MHz. Ya sambil nulis untuk Rubrik 'Secangkir Teh' ini. Biasanya, sebelum atau sesudah sholat Subuh. Asik juga, apalagi jempol kaki sering tidak mau diajak kompromi, selalu ingin goyang, begitu dengar lagu dangdut.

Tak dapat dipungkiri, pilihan pada lirik sederhana, ternyata bisa menjadi sisi positif dari dangdut. Menurut saya, lirik apa adanya ini adalah 'kekuatan' dangdut itu sendiri, untuk mendekatkan pada penggemarnya. Terutama dangdut panggung, yang memerlukan gerakan (baca: goyang) konstan, baik dari penyanyi maupun penonton. Sehingga komunikasi yang paling efektif, adalah lirik lagu yang mudah dicerna dan dihafal tadi.

Lihat saja, lagu-lagu yang dinyanyikan Juwita Bahar, Ayu Tingting, Cita Citata, Jenita Janet, Saskia Gotik -- beberapa penyanyi dangdut generasi baru yang sedang ngetop saat ini -- hampir semua liriknya 'pasaran', tapi menjadi hits dan bisa dihafal siapa saja, sampai pelosok kampung. Tak ketinggalan, panggung organ tunggal pun menjadikan lagu-lagu tersebut sebagai sajian utama, dengan genre dangdut yang beragam: dangdut koplo, dangdut house, dangdut jaipong, dangdut tarling, sampai dangdut pantura yang heboh itu.

Namun, sebaliknya, tidak semua lagu dangdut berlirik ala kadarnya. Diluar Rhoma Irama dan Elvi Sukaesih -- yang melegenda dan selalu menjaga reputasi dangdut, termasuk 'kedalaman' liriknya -- masih ada penyanyi dangdut papan atas yang tetap menjaga (lirik) lagunya agar tidak terkesan 'murahan', seperti: Evie Tamala, Ikke Nurjanah, Cici Paramida, Nelly Agustin atau juga Errie Susan.

Khusus Errie Susan, saya sangat terkesan dengan lagu 'Bunda' yang sangat kuat pada liriknya. Musiknya juga berkelas, tertata rapi. Intro yang memainkan gitar akustik 'berkejaran' dengan biola, selingan piano dan saksofon yang tidak dipaksakan, juga suara gendang dan seruling khas dangdut yang tetap dominan, membuat dangdut benar-benar elegan dan tidak murahan.


Pastinya, apapun itu, seperti kata Project Pop 'dangdut is the music of my country', sebuah warisan (musik) yang harus tetap kita jaga keberadaannya. Yang tidak suka, jangan 'mengganggu', apalagi main hujat. Mumpung masih pagi, mending kita nikmati 'Goyang Dumang': ayo goyang dumang..., biar hati senang..., pikiran pun tenang..., galau jadi hilang....
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com