SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Senin, 17 Agustus 2015

Terlalu, Panjat Pinang Koq Dilarang

Apa aktivitas anda hari ini, dalam mengisi libur hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, yang tahun ini menginjak usia ke-70? Hanya di rumah saja, pelesir dengan keluarga ke luar kota, atau bersama warga sekitar tempat tinggal mengadakan lomba khas 17-an? Kalau yang terakhir -- mengadakan berbagai macam lomba -- menjadi pilihan anda, mudah-mudahan panjat pinang, balap karung dan makan krupuk masih menjadi bagian dari yang dilombakan.

Bukannya apa, kalau anda masih ingat, dipertengahan bulan Mei 2015 kemarin sempat terjadi 'kegaduhan' kecil dengan munculnya usulan nyeleneh dari sejarahwan -- sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia -- Asep Kambali. Intinya, Komunitas Historia mengusulkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk menghapus dan meminta 'Panjat Pinang' tidak lagi dilombakan pada perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurutnya, lomba panjat pinang -- balap karung dan makan kerupuk -- ternyata tidak melatih, jauh dari kesan mendidik dan tidak membangkitkan nasionalisme. Jadi panjat pinang harus dilarang, karena bentuk lain dari pembodohan yang sengaja diciptakan oleh penjajah Belanda. Sedangkan balap karung, dikatakannya sebagai lambang tanam paksa, yang dilakukan Jepang saat menjajah Indonesia.

Lebih lanjut, seperti dikutip media online di bulan Mei tersebut, Asep Kambali juga menjelaskan bahwa benar panjat pinang ini memang populer terlebih dulu di Tiongkok, berkaitan dengan perayaan festival hantu. Namun pada masa dinasti Qing, permainan panjat pinang ini pernah dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa.

Dan pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia, lomba panjat pinang ini diadakan jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian dan kemeja. Maklum, karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah, sehingga menjadi rebutan orang-orang pribumi.

Untungnya Pak Anis Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tidak begitu menghiraukan usulan ini, karena sudah selayaknya diperlukan tinjauan khusus sebelum memutuskan benar tidaknya alasan Komunitas Historia tersebut.

Pendapat kontra juga banyak bermunculan -- baik dari para pakar, kolumnis, pejabat publik sampai masyarakat umum -- yang bisa membuktikan bahwa apa yang disampaikan Komunitas Historia itu tidaklah benar. Terlalu sumir dan dangkal dasar-dasar yang disampaikannya. Bahkan, kolumnis di salah satu media online justeru 'menuduh' Asep Kambali-lah yang telah melakukan pembodohan pada rakyat Indonesia dengan usulan dan dalil yang kurang akurat.

Bukti ketidak-akuratan dalil yang mengatakan balap karung adalah simbol tanam paksa dari penjajah Jepang, adalah adanya dokumen yang menjelaskan bahwa balap karung berasal dari akhir abad ke-18, sekitar masa Perang Revolusi. Dituliskan, saat itu tentara Inggris dan warga desa melompat-lompat dengan karung kentang untuk membunuh waktu. Hingga hari ini, balap karung masih hidup di Eropa dan Amerika untuk kegiatan outbound, BBQ-an atau pesta lingkungan warga.

Apapun itu, menurut saya tidaklah pada tempatnya seorang sejarahwan -- dengan komunitasnya -- membuat polemik yang tidak pro-rakyat. Karena permainan panjat pinang, balap karung dan makan krupuk yang sudah mentradisi selama berpuluh-puluh tahun ini, di masyarakat hanya dimaknai sebagai bentuk hiburan semata. Saya yakin, tak ada sedikitpun terbersit baik dari panitia maupun peserta lomba 17-an, bahwa mereka sedang melakukan 'pembodohan' melalui macam lomba yang dipermasalahkan tersebut.

Janganlah membuat sensasi yang kontra produktif, disaat mayoritas rakyat -- termasuk saya dan anda mungkin? -- sudah menanggung beban hidup yang semakin berat ini. Biarkan kami, rakyat Indonesia, menikmati kegembiraan dengan cara (dan permainan) kami sendiri, di hari kemerdekaan ini.

Dirgahayu Indonesia !
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com