SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Kamis, 06 Agustus 2015

Suatu Sore di Tugu Pancoran

Bagi penggemar penyanyi legendaris Iwan Fals, judul diatas pasti mengingatkan pada sebuah lagu Bang Iwan di tahun 90-an, 'Sore Tugu Pancoran'. Lagu yang bercerita tentang si Budi kecil, yang harus -- menahan dingin kehujanan -- berjualan koran di malam hari, demi untuk biaya hidup dan sekolahnya.

Memang, lagu Bang Iwan tersebut benar adanya. Di tahun 90-an, kawasan perempatan tugu Pancoran di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan tersebut boleh dikata sebagai (salah satu) pusat peredaran koran di Jakarta. Tepatnya di sepanjang trotoar dan taman arah Jalan Sahardjo (Tebet), tiap pagi, siang dan sore berbagai koran harian dan tabloid mingguan di drop di tempat tersebut untuk didistribusikan pada para pengecer -- para penjual koran di lampu merah yang jumlahnya puluhan orang -- dan para agen-agen kecil.

Tentu saya hafal dan tahu benar aktifitas tersebut, karena di awal tahun 1995 saya mulai 'mengejar karir' di ibukota, dan kebetulan berkantor di gedung yang persis berada di kawasan tugu Pancoran tersebut. Jadi setiap pagi, begitu turun dari bis PPD Patas 41 di halte Pancoran, saya sudah bisa melihat kesibukan para pedagang koran tersebut. Demikian pula saat pulang kerja, sambil berjalan menuju halte bis Tebet biasanya saya terlebih dulu 'nongkrong' di lapak koran taman perempatan Pancoran, sekedar lihat-lihat berita di koran yang beredar sore itu, atau ngobrol dengan para pengasong koran saat lampu hijau menyala.

Nah, rutinitas itulah yang membuat saya mengenal salah seorang penjual koran di lampu merah Pancoran. Saya lupa-lupa ingat namanya -- mungkin Mas Jo, Mas No, Mas Min atau Mas Har, atau Mas siapa gitu. Kita panggil Mas No saja supaya enak -- yang penampilannya cukup unik, karena tidak pernah pakai alas kaki saat jualan koran, baik kala panas maupun hujan.

Ciri khas lainnya, Mas No selalu senyum dan ramah pada setiap orang lewat yang dia tawari koran. Bahkan, Mas No sering minta saya ambil koran dan bayar belakangan (ngutang, hehehe), ketika tahu saya belum gajian. Oh hiya, menurut pengakuannya, Mas No punya saudara kembar yang sama-sama penjual koran, sehingga saya (kata Mas No) sering salah ambil dan salah bayar ke saudara kembarnya. Dan saya tidak pernah memperhatikan itu.

Di awal tahun 2000-an saya pindah kantor -- masih di perusahaan yang sama -- yang berlokasi di kawasan Jakarta Timur, sehingga interaksi saya dengan para pengasong koran di sekitaran tugu Pancoran otomatis terhenti juga. Saya tidak lagi ketemu Mas No. Apalagi ketika internet sudah merambah Jakarta -- dan media cetak mulai bertumbangan satu persatu -- setiap ada kesempatan lewat Jalan Gatot Subroto (Pancoran) saya tidak lagi melihat geliat pendistribusian koran, pun demikian di lampu merah tidak lagi saya temui pengasong koran. Nampaknya era internet dan media online mampu 'menggusur' era kejayaan media cetak.

Tapi tanpa diduga, ketika saya pindah kerja di perusahaan lain -- di tahun 2014 -- dan berkantor di Menara Bidakara, yang (lagi-lagi) berada di kawasan Pancoran, saya bertemu lagi dengan Mas No secara tidak sengaja. Bermula saat sore selepas kerja saya menyusuri taman menuju shelter busway Pancoran Tugu, saya melihat Mas No membawa tumpukan koran sambil menawarkan pada para pejalan kaki dengan senyum ramahnya. Saya mudah mengenalinya, meski hampir 15 tahun tak melihatnya, karena hanya tinggal dia sendiri yang kelihatan jual koran di Pancoran, dan masih dengan ciri khasnya: tanpa alas kaki. Yang berubah, gurat-gurat usia tua nampak jelas di wajahnya.

Memang tidak ada yang aneh dengan kisah Mas No ini. Tapi, yang patut diapresiasi adalah keteguhan Mas No dalam menekuni pekerjaannya sebagai pengasong koran, dalam 20 tahun terakhir.


Terlepas sukses apa yang sudah didapat, bahwa mengasong koran di lampu merah -- ataupun jalanan ibukota -- untuk saat ini adalah pekerjaan langka dan sangat berat, karena masyarakat sudah beralih ke media online daripada media cetak. Tapi nyatanya Mas No bisa bertahan 20 tahun. Itu yang patut diacungi jempol!
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com