SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Jumat, 07 Agustus 2015

Please, Harga Daging dan Cabe Turun Dong...

Mungkin tidak banyak yang tahu -- kecuali yang memang kerjaannya berkutat di dapur, atau yang sehari-harinya pedagang warung nasi -- bahwa sejak menjelang lebaran bulan lalu sampai minggu ini harga daging sapi, ayam potong dan cabe beranjak naik dan cenderung 'bertahan' tinggi, dibanding hari-hari sebelumnya. Hal yang tidak lumrah, karena biasanya harga daging, ayam potong dan cabe akan berangsur turun begitu lebaran usai.

Nah, kalau sudah masuk urusan 'dapur' seperti ini -- adanya kenaikan harga kebutuhan bahan pokok sehari-hari -- pasti para ibu yang bertanggung jawab atas ketersediaan konsumsi di rumah, menjadi pihak pertama yang komplain dan merasa dirugikan. Karena selain mengganggu cashflow budget belanja harian, juga harus memutar otak untuk mencari strategi jenis menu yang akan dihidangkan, serta pilihan antara menambah budget belanja atau mengurangi bahan masakan.

Itu dampak untuk skala kecil, masih di tingkat keluarga. Dalam skala sedikit lebih besar, tingginya harga daging, ayam potong dan cabe ini jelas berpengaruh pada warung-warung kecil penjual makanan jadi, utamanya warung nasi dan warteg. Karena pilihannya hanya dua, menaikkan harga jual makanannya atau mengurangi (memperkecil) porsi lauknya. Untuk menaikkan harga, jelas riskan, karena warung nasi seperti ini lebih banyak melayani masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan.

Pedagang kecil yang juga terkena dampak -- kalau mau dicari contoh lain -- tentu masih banyak. Mulai dari pedagang bakso, tongseng, sate, sampai mie ayam juga 'berteriak' dengan masih mahalnya bahan utama dagangan mereka. Bahkan diberitakan sudah banyak pedagang bakso yang mengganti bahan baku bakso dari daging sapi dengan daging ayam. Tapi, kalau harga ayam potong (ternyata) juga cukup tinggi, apakah para pedagang bakso harus merubah strategi dengan memperkecil ukuran baksonya menjadi seukuran kelereng? Atau harus mengganti bahan bakunya dengan daging yang lain? Misalnya dengan daging t_xxxx (sensor), hiiii.. ngeri!

Dan dampak -- negatif -- lainnya dari tingginya harga daging sapi dan ayam potong adalah merebaknya daging yang tidak layak konsumsi di pasaran. Mulai dari daging dari sapi yang tidak sehat (berpenyakit), ayam tiren, sampai daging tidak halal yang 'disamarkan' layaknya daging sapi, yaitu daging celeng.

Urusan jadi rumit, karena pemerintah yang diharapkan jadi 'pelindung' rakyat dalam menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok seperti ini, selalu -- dan masih saja -- memberikan jawaban normatif bahwa harga-harga masih stabil dan terkendali, dan akan kembali berangsur ke kondisi normal setelah lebaran lewat. Sepertinya kenaikan harga dianggap hal rutin yang tidak perlu ditakuti oleh masyarakat. Sudah ganti presiden dan pemerintahan, ternyata jawabannya hanya beda-beda dikit.

Dengan kekuasaan dalam membuat kebijakan nasional -- dari para menteri yang katanya qualified dan profesional -- tentu urusan mudah bagi pemerintah untuk mengatasi hal ini. Apalagi akar permasalahannya juga sudah terungkap. Harga daging sapi yang tinggi misalnya, menurut para pemasok memang sengaja pasokan sapi potong 'ditahan' sampai hari raya qurban (Idul Adha), sehingga stok daging di pasaran berkurang dan harganyapun melangit. Begitu juga dengan cabe, musim kemarau membuat gagal panen dan pasokan cabe berkurang di pasaran.

Bagaimana caranya? Ya para ahli di pemerintahan itulah yang punya strategi pemecahannya. Jangan hanya bisa gembar-gembor saat baru dilantik. Termasuk juga pemimpin tertinggi negara ini, harus tegas dan sistematis dalam menyelesaikan urusan yang langsung bersentuhan dengan rakyat seperti ini, tidak hanya pintar bicara saat kampanye presiden saja.


Sehingga, jangan sampai gara-gara daging mahal, saat kita beli bakso (nanti) kuahnya penuh semangkok tapi baksonya cuma sebiji. Atau, saat menikmati hidangan ikan bakar di rumah, ternyata sambalnya hanya kecap dan ekstrak cabe sachet, yang pedasnya hanya terasa di lidah. Kan kurang 'maknyus' jadinya.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com