SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Rabu, 05 Agustus 2015

Menikmati Bandara Rasa Terminal

Beberapa saat yang lalu, usai sholat subuh, sebuah pesan masuk di blackberry saya, cukup singkat "Bang aku balik Jakarta nanti siang". Pengirimnya Rachmad Chusaeri -- adik tingkat saat kuliah dan kini tinggal di Depok -- yang sedang berada di Makassar untuk menjemput neneknya dari rumah pamannya.

Sedikit tersenyum membaca pesan itu, karena ingat kejadian 4 hari lalu, saat sekitar jam 12 siang Chusaeri telpon saya mengabarkan sedang on the way ke Bandara Soekarno Hatta karena penerbangan ke Makassar jam 4 sore dan diperkirakan jam 6 petang sudah sampai rumah pamannya. Tapi nyatanya sekitar jam 9 malam dia telpon lagi -- yang saya pikir sudah di Makkasar -- mengabarkan kalau masih tertahan di bandara Soekarno Hatta karena pesawatnya delay sampai waktu yang belum jelas. Dengan suara dongkol dan marah (salah satunya dia) mengatakan, "Tahu gini tadi aku bawa bekal nasi padang dengan kepala kakap, biar bisa bikin kenyang perut malam ini."

Sebenarnya yang saya tangkap dari kejadian 4 hari lalu itu bukan masalah delay yang sudah bukan barang baru di penerbangan domestik kita. Tapi, justeru 'tindakan' yang (akan) dilakukan Chusaeri -- maaf sahabat, ini sebuah contoh kasus saja -- dengan membawa makanan berat yang tentu saja akan menyebarkan aroma menyengat bau ikan di ruang tunggu bandara. Saya membayangkan betapa tersiksanya calon penumpang yang lain yang ada di ruang tunggu, jika itu jadi dilakukan.

Tapi, dalam kondisi sebenarnya, minimal dalam lima tahun terakhir, hal-hal tersebut memanglah terjadi di ruang tunggu penerbangan domestik bandara internasional Soekarno Hatta, Banten. Dalam satu tulisan ringan di majalah berita nasional -- beberapa tahun silam -- pernah saya baca bahwa ada trend pedagang ternak sapi dan kambing dari Jawa Tengah dan Jawa Timur selalu menggunakan moda transportasi pesawat terbang ketika pulang ke daerah asalnya, setelah menjual ternaknya di Jakarta.

Jadi, dari daerah asal ke Jakarta menggunakan truk bersama hewan ternaknya, begitu transaksi selesai -- tanpa harus ganti baju ataupun mandi, karena biasanya mereka tidak transit di hotel -- langsung cari tiket, ke bandara, dan terbang. Lebih praktis dan hemat dari segi biaya dan waktu, bagi para pedagang itu. Tapi, mengganggu pengguna moda yang sama karena aroma 'pasar hewan' dari para pedagang tadi. Memang tidak ada larangan, ini hanya masalah etika semata.

Yang saya alami, dalam beberapa kesempatan menggunakan penerbangan domestik -- ke Malang, Surabaya dan Mataram -- saya selalu menemui hal tidak tertib di ruang tunggu keberangkatan bandara, mulai dari makan bekal dari rumah sembarangan, membawa bawaan (makanan, buah) yang berbau menyengat, sampai meletakkan sampah makanan kecil dan minuman di sembarang tempat. Apalagi kalau bertepatan peak season di akhir pekan (dan juga ada delay penerbangan), sudah bisa dipastikan ruang tunggu begitu sesak, hiruk pikuk, kotor, dan tidak teratur. Tak ada bedanya dengan terminal bis antar kota antar propinsi.

Penyebab banyaknya masyarakat memilih transportasi udara, bisa jadi karena saat ini sudah banyak kota-kota yang bisa dijangkau rute penerbangan, harga tiket pesawat yang murah dan (hampir) setara dengan moda transportasi lain, juga tingkat pendapatan masyarakat yang semakin tinggi, sehingga moda transportasi pesawat terbang bukan lagi didominasi golongan eksklusif saja.

Namun, apapun penyebabnya, selama masyarakat -- dari kalangan dan strata manapun -- pengguna moda ini mau membuang ego pribadi dan mengikuti aturan serta tata tertib yang ada di kawasan bandara, niscaya rasa aman dan nyaman akan tetap didapatkan. Tak peduli mereka punya tujuan kota kecil ataupun penerbangan kelas ekonomi sekalipun.


Masalahnya, kapan kesadaran mereka -- para pengguna pesawat terbang -- muncul secara sukarela, untuk bersama-sama memperbaiki kondisi ini? Karena mayoritas masyarakat saat ini kita sudah terlanjur 'tambeng' (=bandel) dan 'ngeyel' (=membantah) pada norma maupun aturan yang ada. Kita tunggu saja, entah sampai kapan.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com