SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Senin, 10 Agustus 2015

Ketika 'Bahasa Ibu' Akan Tinggal Kenangan

Sebenarnya bertemu dengan Pak Jamin, Mas Yudis dan Mas Puji di pinggir lapangan, saat sama-sama menonton pertandingan sepakbola antar warga -- dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI -- adalah kebetulan semata. Karena merasa sudah berumur, saya lebih memilih nonton dari bawah pohon rindang, yang ada agak jauh di belakang gawang, daripada berdesakan di sepanjang pinggir lapangan. Dan tiga orang tadi, yang memang sudah saya kenal, juga sudah berada disitu sebelum saya datang.

Karena sama-sama dari etnis Jawa -- Pak Jamin dari Ngawi, Mas Yudis dari Yogya dan Mas Puji dari Tegal -- kami bertegur sapa dan mengobrol ringan memakai bahasa Jawa 'kromo'. Maklumlah usia kami sudah diatas 40-an, kalau memakai bahasa Jawa 'ngoko', rasanya koq kurang pantas. Oh hiya, meski sudah lama meninggalkan Malang, tetapi saya tetap menggunakan bahasa Jawa kromo dialek Malangan, karena saya lahir dan besar di Malang.

Bermula dari topik seputar seni wayang kulit -- dengan penikmatnya yang hanya dari kalangan tua -- yang semakin terpinggirkan, karena kalah dengan panggung hiburan organ tunggal, sampai akhirnya kami sedikit serius membicarakan 'bahasa Jawa' yang semakin kurang dikenali dan diminati oleh generasi muda. Niat semula nonton bola jadi terkalahkan dengan diskusi bawah pohon.

Kami melihat, generasi penerus etnis Jawa yang ada di perantauan -- seperti di Jakarta ini misalnya -- meski sudah dikenalkan bahasa Jawa sejak kecil di rumah, tapi karena lingkungan sekitar tidak mendukung ya akhirnya tidak berkembang. "Saya di rumah tetap memakai bahasa Jawa saat bicara dengan istri, agar anak-anak terbiasa mendengar dan bisa menirukan," ujar Pak Jamin, yang usianya 50-an tahun dan paling tua diantara kami berempat. "Tapi begitu keluar rumah, tetangga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Betawi, jadi anak-anak tidak banyak mendapat kesempatan mengembangkan bahasa Jawa-nya," tambah Pak Jamin lagi, yang memang tinggal di lingkungan etnis Betawi itu.

Lain lagi pendapat Mas Yudis, yang mengkritik keluarga muda di daerah Jawa -- baik di pedesaan maupun perkotaan -- yang lebih menggunakan bahasa Indonesia dengan anak-anaknya dalam keseharian di rumah, "Mestinya kan bahasa ibunya dikenalkan dulu, baru bahasa Indonesia. Kalau sudah gini, siapa nanti yang mau mengajar anak-anak itu bahasa Jawa?"

Obrolan makin menarik ketika Mas Puji yang lebih banyak diam ikut terpancing bersuara. Menurutnya, lunturnya kemampuan berbahasa daerah (baca: Jawa) pada anak-anak sekarang lebih dipengaruhi serbuan arus informasi dan tayangan di media televisi yang makin gencar. "Anak-anak di kampung lebih suka menirukan bahasa yang ada di sinetron, katanya lebih gaya dan modern daripada ngomong bahasa Jawa yang kesannya ndeso," begitu Mas Puji berpendapat.

Ya, bisa jadi arus informasi global -- entah melalui media cetak, media elektronik, atau media online -- menjadikan fokus pengajaran dan pembelajaran bahasa Jawa pada anak-anak menjadi bias. Peran orangtua semakin berat ketika urusan 'bahasa' dibebankan pada mereka, selama pranata dalam masyarakat tidak mendukung dan bersinergi. Jangan berharap pula pada sekolah formal, karena dari tingkat pra-sekolah sudah memakai bahasa Indonesia sebagai pengantar, sedang pelajaran bahasa daerah di sekolah dasar sampai lanjutan atas hanya 2 jam saja seminggu.

Itu baru 'tinjauan' pada bahasa pengantar keseharian, belum lagi pengenalan falsafah dalam bentuk 'pitutur' dan petuah, yang pada generasi sebelumnya selalu disampaikan orangtua pada anak-anaknya, secara lisan. Sungguh kompleks masalahnya. Dan tentu bukan kapasitas kami berempat untuk memikirkan solusinya, karena obrolan kami sekedar bentuk keprihatinan dari generasi yang 'akan memutus' kemampuan berbahasa Jawa pada generasi berikutnya.

Prihatin, hanya sebatas itu yang bisa saya ambil sebagai benang merahnya. Belum ada solusi. Dan menurut saya, ini tidak hanya terjadi pada bahasa Jawa semata. Bisa jadi pada bahasa daerah lain di Indonesia. Anda setuju?
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com