SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Selasa, 04 Agustus 2015

Kenal Selfie, Jangan Senang Dulu

Malam belum beranjak larut, sekitar jam 22.30, ketika Gepeng -- asisten sekaligus teman saya yang sangat loyal -- dengan wajah galaunya berucap, "Benar kata Pak Prie, sampai sekarang Novi belum mau diajak ketemuan juga, alasannya banyak," katanya, sambil tetap memainkan hp android buatan lokal kesayangannya di kursi pojok ruangan. Menemani saya menulis, sekaligus standby jika sewaktu-waktu saya perlu tambahan susu coklat hangat atau indomie rebus plus telor setengah matang.

Kegalauan Gepeng berawal dari perkenalannya dengan cewek -- tepatnya perempuan paruh baya usia 30-an -- di media sosial pertemanan wechat. Sebagai laki-laki kurang beruntung dalam membina rumah tangga, Gepeng mencoba cari calon pendamping hidup via dunia maya seperti layaknya yang saat ini lagi trend di negeri ini. Sayangnya, dengan tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi (Gepeng hanya lulusan SMP) dan dengan pengetahuan dunia internet yang ala kadarnya, dia tidak memahami bentuk-bentuk 'semu' yang ada di dunia maya dalam bingkai sosial media tersebut. Termasuk foto-foto cantik nan menawan yang banyak bertebaran didalamnya, yang masih diragukan kebenaran 'wajah' aslinya.

Dari awal perkenalan dengan incarannya yang bernama Novi itu, Gepeng selalu 'konsultasi' dan melaporkan perkembangannya pada saya. Termasuk menunjukkan beberapa foto Novi yang dikirim melalui whatsapp. Sekilas foto berjumlah 6 buah itu bukan 'wajah asli' karena nampak sudah melalui proses foto editing, yang aplikasinya sudah banyak tersedia di hp. Saat itu pun sempat saya bilang, "Peng, sebelum kamu kecewa, cepat ajak ketemuan cewek idamanmu itu. Mending lihat dulu aslinya daripada percaya hanya lewat foto seperti itu," saran saya pada Gepeng, yang usianya hampir 30 tahun itu.

Saya tidak akan cerita kelanjutan Gepeng yang galau ini. Tetapi saya justeru tertarik dengan menggejalanya -- atau sudah boleh disebut fenomena? -- kecenderungan memotret diri sendiri dengan hp pada masyakarat, yang kemudian diunggah ke media sosial, baik untuk keperluan pribadi ataupun khalayak umum. Oh hiya, biar tidak lupa, memotret diri sendiri ini lebih dikenal dengan selfie (kependekan dari self potrait), yang terjemahan umum dalam bahasa Indonesia adalah kegiatan swafoto atau memotret diri sendiri menggunakan kamera digital atau kamera telepon genggam. Pun demikian, sejak tahun 2013 kata 'selfie' secara resmi juga sudah masuk dalam daftar kata Oxford English Dictionary.

Benar, makin menjamurnya hp android lokal murah meriah yang dilengkapi dengan perangkat kamera -- dan ditunjang puluhan aplikasi untuk mengolah foto lebih indah dari wajah aslinya -- membuat aktivitas selfie bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja (kayak iklan ya?), mulai dari kalangan selebritis sampai para ibu-ibu pedagang pasar, semuanya bisa ber-selfie ria.
Manfaatnya tentu banyak, diantaranya bisa mengabadikan semua moment aktivitas dari yang super sakral sampai yang tidak penting amat, tanpa dibatasi waktu dan tempat. Termasuk untuk ajang aktualisasi diri, dengan memamerkan segala bentuk 'kelebihan'nya jika hasil selfie tersebut di eksplor pada sosial media.

Sebaliknya, disadari atau tidak, aktivitas selfie juga bisa menimbulkan efek negatif. Salah satunya, kecintaan pada diri sendiri yang berlebihan -- baca: narsis -- akan berdampak pada kesombongan. Juga, alih-alih ingin narsis, yang ada malah kehilangan rasa percaya diri. Karena selalu menampilkan 'hal indah' yang semu, sehingga takut dan minder menghadapi kenyataan bahwa dirinya tidak sebagus yang tampil di foto. Sedang dampak lebih serius, selfie yang diproses aplikasi pengeditan foto pada hp, akan memunculkan kebohongan demi kebohongan. Seperti dialami Gepeng, yang saya ceritakan di awal tulisan.


Tidak bermaksud benci pada selfie, tapi -- tulisan ini -- sekedar mengingatkan, segala sesuatu itu ada dampak positif dan negatifnya. Dan semua itu, berpulang kembali pada anda sendiri, mau (dibuat) baik atau (sengaja) untuk maksud buruk. Begitu kan ?
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com