SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Senin, 03 Agustus 2015

Dari Siti Nurbaya Sampai City of Surabaya

Ada pameo, orangtua yang mempunyai putri usia remaja itu ibarat berjalan sambil membawa gelas berisi air. Harus hati-hati dan waspada, jangan sampai airnya tumpah, apalagi gelasnya jatuh dan pecah. Artinya, menjaga dan mengantar anak perempuan untuk sampai pada tujuan akhir yang ideal (sebuah jenjang pernikahan, setelah bekal pendidikan dan ketrampilan terpenuhi) tidaklah mudah. Penuh liku dan strategi jitu agar tidak 'gagal' di tengah jalan.

Bisa jadi 'teori' itu benar. Saya sendiri bisa menjadi contoh konkrit. Saat ini putri saya menginjak usia 17 tahun, duduk di bangku SMA kelas 3, berperawakan langsing dengan tinggi badan 170 cm dan cantik. Kata orang-orang mirip bundanya, bukan ayahnya. Dan saya setuju. Nah, urusan membekali pendidikan formal di sekolah dan budi pekerti di rumah, mungkin hal normatif, bagi saya tidak ada masalah.

Tapi ketika menghadapi masalah dunia remaja (baca: pacaran), ini yang harus hati-hati. Di jaman yang serba canggih, pola pendekatan -- dari teman-temannya yang naksir --terhadap putri saya tidak lagi melalui surat atau datang apel ke rumah seperti jaman saya di tahun 90-an. Sekarang bisa melalui sosial media yang bejibun jumlahnya, sebagai media pemikat.

Bahkan, pendekatan langsung dengan saya pun bukan hal tabu bagi teman sekolahnya -- sebagian malah menjadi teman saya di media sosial Path, Twitter, Line, Whatsapp & BBM, yang entah darimana mereka dapat akun saya -- demi memikat putri saya. Belum lagi teman sekerja, organisasi dan aktivitas sosial saya lainnya (tentunya yang muda-muda dan masih bujangan) yang juga 'ikut berlomba' untuk jadi calon menantu, dengan cara menarik simpati saya.

Artinya apa? Saya harus bersikap bijak, tidak intervensi tapi juga tidak melakukan pembiaran. Memberikan tanggung jawab dan pemahaman -- pentingnya mengisi masa remajanya dengan hal positif, sekaligus menyusun masa depan yang baik -- pada putri saya, jauh lebih penting daripada melakukan 'seleksi' pada mereka yang terpikat pada putri saya. Ini bukan jaman 'Siti Nurbaya' yang peran orangtua sangat besar pada penentuan 'nasib' anaknya, sebaliknya saya juga bukan pengikut gaya liberal yang memberi kebebasan penuh pada anak. Memberikan kesempatan pada anak untuk menentukan arah masa depannya, dengan bimbingan dan pengawasan yang dipandang perlu, mungkin itu solusi terbaik.

Lantas apa hubungannya dengan Surabaya, yang kini dipimpin Walikota perempuan pertama -- Ibu Risma Triharini -- peraih 51 penghargaan atas prestasi membangun Surabaya ini? Dalam konteks berbeda, ada persamaan dengan kasus diatas, yaitu sebagai Walikota di kota yang memiliki 2,8 juta penduduk, Ibu Risma mempunyai kebebasan dalam menentukan arah kebijakan dalam membangun kota Surabaya.

Namun demikian, Bu Risma yang dalam lima tahun terakhir ini berhasil 'menyulap' Surabaya menjadi kota metropolitan yang bersih, tertib dan indah -- karena penuh taman, dari pinggiran sampai tengah kota -- tetap mematuhi koridor aturan yang ditetapkan oleh DPRD maupun pemerintah pusat (sebagai 'orangtua'nya). Sifat keras yang ditunjukkan Bu Risma (sebagai 'anak') selama ini bukanlah pembangkangan, tetapi bentuk dari mempertahankan sikap.

Dalam kasus yang ada, Bu Risma akan 'melawan' jika kebijakan yang dianggapnya benar justru diusik oleh pihak lain, seperti kasus penutupan dolly misalnya. Pun demikian Bu Risma pernah 'mengancam' mundur ketika hal yang dianggapnya tidak sesuai prosedur dipaksakan untuk diterapkan pada penerintahannya. Itulah sebabnya Surabaya bukan lagi dikenal sebagai kota buaya, jembatan merah atau rujak cingur semata, tetapi dunia mengenalnya sebagai 'City of Surabaya' karena prestasi Walikota-nya yang mendunia.


Satu benang merah yang bisa ditarik, ketika kebebasan -- yang bertanggung jawab -- diberikan sepenuhnya, disertai pengawasan yang tidak memaksakan kehendak, maka hasilnya akan maksimal. Entah itu dalam konteks 'anak remaja' atau seorang 'walikota' sekalipun, hasilnya (akan) tetap sama baiknya. Perlu bukti lagi?
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com