SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Rabu, 12 Agustus 2015

Angin Segar ‘Dunia Pendidikan’ dari Gowa

Entah saya yang kurang mengikuti perkembangan dunia pendidikan di Indonesia -- atau memang porsi berita pendidikan yang terlalu sedikit di media kita -- sehingga berita 'mini' yang dimuat harian Kompas (11/8/2015) dalam rubrik Pendidikan & Kebudayaan itu, benar-benar menyita perhatian saya. Judulnya pun membuat saya seperti tersihir tak percaya, 'Pelajaran Baca Tulis Diganti Pendidikan Karakter'.

Ya, pemerintah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan -- yang dipimpin Bupati Ichsan Yasin Limpo -- mulai tahun ajaran baru 2015 menjalankan program 'Imtaq Indonesia'. Sebuah program untuk pendidikan tingkat dasar, yaitu menggantikan pelajaran baca tulis dan matematika bagi anak kelas I dan II SD dengan pelajaran pendidikan karakter dan pengenalan budaya.

Meski sifatnya uji coba dan akan dievaluasi tiap tiga bulan, pemerintah daerah Gowa sudah berdiskusi dan mendapat banyak masukan dari pemerhati, pakar pendidikan dan psikolog. Dan kesimpulannya, anak hingga usia 7-8 tahun atau kelas I dan II SD belum bisa langsung diisi dengan berbagai pelajaran, seperti berhitung dan baca tulis, yang diajarkan serius. Karena belajar baca tulis dan berhitung (matematika) bisa dilakukan hanya dalam tempo beberapa bulan secara intensif, dan anak-anak akan bisa cepat menangkap.

Secara pribadi, saya sangat setuju dengan konsep itu. Karena secara konsisten, setiap mengikuti diskusi formal maupun non formal, saya selalu melontarkan pendapat senada, bahwa tidak selayaknya anak-anak tingkat sekolah dasar 'langsung' diberi mata pelajaran yang begitu banyak, saat baru masuk di kelas I. Bahkan, ada tes baca saat masuk SD -- dengan alasan agar memudahkan guru kelas I menyampaikan materi pelajaran yang banyak menggunakan buku teks -- itu sudah salah kaprah. Tugas guru kelas I harusnya ya memang mengajarkan pengenalan huruf dan angka sederhana.

Atas dasar itu juga, saya selalu mengkritik sistem belajar di tingkat pra-sekolah (Taman Kanak Kanak) yang sudah memasukkan materi membaca, menulis & berhitung (calistung) sebagai program utamanya. Bukankah anak-anak usia 4-6 tahun adalah masa bermain dan awal pengenalan lingkungan (sosialisasi) dengan teman barunya?

Sebagai flashback, di tahun 1974 saya merasakan masuk Taman Kanak Kanak yang setiap hari hanya diajak bermain dan bernyanyi, disertai dengan dongeng dan pelajaran budi pekerti keseharian. Tidak ada buku dan pensil untuk menulis huruf dan angka. Yang ada hanya pensil warna (krinyo) dan buku gambar untuk mewarnai. Benar-benar dunia anak-anak, tanpa beban pekerjaan rumah dan tugas ini itu.

Barulah di tahun 1975, saat masuk SD, saya diajarkan huruf dan angka, membaca sistim eja, dan berhitung sederhana di kelas I. Apakah sistim itu ketinggalan jaman? Tidak juga, karena saya yakin itu 'serapan' dari negara-negara yang sudah maju sistim pendidikannya.

Dari contoh diatas, saya justeru mempertanyakan, apa sebenarnya yang diinginkan pemangku kepentingan dunia pendidikan Indonesia, yang suka ganti-ganti program, sistim dan kurikulum itu? Siapa yang diuntungkan & untuk kepentingan siapa? Setidaknya dalam 40 tahun terakhir, tidak ada konsistensi dalam meletakkan dasar pendidikan yang (dianggap paling) bagus di negeri ini, selalu berubah-ubah. Pertanyaannya, apakah dengan sistim saat ini, pendidikan kita sudah bisa 'bersaing' dengan negara terdekat kita, Singapura & Malaysia misalnya?

Yang pasti, upaya Pak Ichsan Yasin Limpo (Bupati Gowa) -- mengembalikan sistim pendidikan sesuai dengan usia dan kemampuan anak dalam menyerap pengetahuan -- patut diacungi jempol. Argumen Pak Bupati, alasan 'Imtaq Indonesia' diterapkan karena, "Pembentukan karakter, daya dorong, empati, simpati, pengenalan budaya, dan keimanan butuh waktu lama. Usia hingga 7-8 tahun juga masih usia bermain bagi anak-anak."


Kabupaten Gowa sudah memberikan angin segar bagi dunia pendidikan dasar. Sekarang, tinggal kita tunggu hasilnya, apakah sistem nasional ataukah sistem lokal yang akan menghasilkan generasi berkualitas? Maju terus pendidikan Indonesia!
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com