SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Senin, 17 Agustus 2015

Terlalu, Panjat Pinang Koq Dilarang

Apa aktivitas anda hari ini, dalam mengisi libur hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, yang tahun ini menginjak usia ke-70? Hanya di rumah saja, pelesir dengan keluarga ke luar kota, atau bersama warga sekitar tempat tinggal mengadakan lomba khas 17-an? Kalau yang terakhir -- mengadakan berbagai macam lomba -- menjadi pilihan anda, mudah-mudahan panjat pinang, balap karung dan makan krupuk masih menjadi bagian dari yang dilombakan.

Bukannya apa, kalau anda masih ingat, dipertengahan bulan Mei 2015 kemarin sempat terjadi 'kegaduhan' kecil dengan munculnya usulan nyeleneh dari sejarahwan -- sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia -- Asep Kambali. Intinya, Komunitas Historia mengusulkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk menghapus dan meminta 'Panjat Pinang' tidak lagi dilombakan pada perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurutnya, lomba panjat pinang -- balap karung dan makan kerupuk -- ternyata tidak melatih, jauh dari kesan mendidik dan tidak membangkitkan nasionalisme. Jadi panjat pinang harus dilarang, karena bentuk lain dari pembodohan yang sengaja diciptakan oleh penjajah Belanda. Sedangkan balap karung, dikatakannya sebagai lambang tanam paksa, yang dilakukan Jepang saat menjajah Indonesia.

Lebih lanjut, seperti dikutip media online di bulan Mei tersebut, Asep Kambali juga menjelaskan bahwa benar panjat pinang ini memang populer terlebih dulu di Tiongkok, berkaitan dengan perayaan festival hantu. Namun pada masa dinasti Qing, permainan panjat pinang ini pernah dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa.

Dan pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia, lomba panjat pinang ini diadakan jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian dan kemeja. Maklum, karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah, sehingga menjadi rebutan orang-orang pribumi.

Untungnya Pak Anis Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tidak begitu menghiraukan usulan ini, karena sudah selayaknya diperlukan tinjauan khusus sebelum memutuskan benar tidaknya alasan Komunitas Historia tersebut.

Pendapat kontra juga banyak bermunculan -- baik dari para pakar, kolumnis, pejabat publik sampai masyarakat umum -- yang bisa membuktikan bahwa apa yang disampaikan Komunitas Historia itu tidaklah benar. Terlalu sumir dan dangkal dasar-dasar yang disampaikannya. Bahkan, kolumnis di salah satu media online justeru 'menuduh' Asep Kambali-lah yang telah melakukan pembodohan pada rakyat Indonesia dengan usulan dan dalil yang kurang akurat.

Bukti ketidak-akuratan dalil yang mengatakan balap karung adalah simbol tanam paksa dari penjajah Jepang, adalah adanya dokumen yang menjelaskan bahwa balap karung berasal dari akhir abad ke-18, sekitar masa Perang Revolusi. Dituliskan, saat itu tentara Inggris dan warga desa melompat-lompat dengan karung kentang untuk membunuh waktu. Hingga hari ini, balap karung masih hidup di Eropa dan Amerika untuk kegiatan outbound, BBQ-an atau pesta lingkungan warga.

Apapun itu, menurut saya tidaklah pada tempatnya seorang sejarahwan -- dengan komunitasnya -- membuat polemik yang tidak pro-rakyat. Karena permainan panjat pinang, balap karung dan makan krupuk yang sudah mentradisi selama berpuluh-puluh tahun ini, di masyarakat hanya dimaknai sebagai bentuk hiburan semata. Saya yakin, tak ada sedikitpun terbersit baik dari panitia maupun peserta lomba 17-an, bahwa mereka sedang melakukan 'pembodohan' melalui macam lomba yang dipermasalahkan tersebut.

Janganlah membuat sensasi yang kontra produktif, disaat mayoritas rakyat -- termasuk saya dan anda mungkin? -- sudah menanggung beban hidup yang semakin berat ini. Biarkan kami, rakyat Indonesia, menikmati kegembiraan dengan cara (dan permainan) kami sendiri, di hari kemerdekaan ini.

Dirgahayu Indonesia !
Share:

Rabu, 12 Agustus 2015

Angin Segar ‘Dunia Pendidikan’ dari Gowa

Entah saya yang kurang mengikuti perkembangan dunia pendidikan di Indonesia -- atau memang porsi berita pendidikan yang terlalu sedikit di media kita -- sehingga berita 'mini' yang dimuat harian Kompas (11/8/2015) dalam rubrik Pendidikan & Kebudayaan itu, benar-benar menyita perhatian saya. Judulnya pun membuat saya seperti tersihir tak percaya, 'Pelajaran Baca Tulis Diganti Pendidikan Karakter'.

Ya, pemerintah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan -- yang dipimpin Bupati Ichsan Yasin Limpo -- mulai tahun ajaran baru 2015 menjalankan program 'Imtaq Indonesia'. Sebuah program untuk pendidikan tingkat dasar, yaitu menggantikan pelajaran baca tulis dan matematika bagi anak kelas I dan II SD dengan pelajaran pendidikan karakter dan pengenalan budaya.

Meski sifatnya uji coba dan akan dievaluasi tiap tiga bulan, pemerintah daerah Gowa sudah berdiskusi dan mendapat banyak masukan dari pemerhati, pakar pendidikan dan psikolog. Dan kesimpulannya, anak hingga usia 7-8 tahun atau kelas I dan II SD belum bisa langsung diisi dengan berbagai pelajaran, seperti berhitung dan baca tulis, yang diajarkan serius. Karena belajar baca tulis dan berhitung (matematika) bisa dilakukan hanya dalam tempo beberapa bulan secara intensif, dan anak-anak akan bisa cepat menangkap.

Secara pribadi, saya sangat setuju dengan konsep itu. Karena secara konsisten, setiap mengikuti diskusi formal maupun non formal, saya selalu melontarkan pendapat senada, bahwa tidak selayaknya anak-anak tingkat sekolah dasar 'langsung' diberi mata pelajaran yang begitu banyak, saat baru masuk di kelas I. Bahkan, ada tes baca saat masuk SD -- dengan alasan agar memudahkan guru kelas I menyampaikan materi pelajaran yang banyak menggunakan buku teks -- itu sudah salah kaprah. Tugas guru kelas I harusnya ya memang mengajarkan pengenalan huruf dan angka sederhana.

Atas dasar itu juga, saya selalu mengkritik sistem belajar di tingkat pra-sekolah (Taman Kanak Kanak) yang sudah memasukkan materi membaca, menulis & berhitung (calistung) sebagai program utamanya. Bukankah anak-anak usia 4-6 tahun adalah masa bermain dan awal pengenalan lingkungan (sosialisasi) dengan teman barunya?

Sebagai flashback, di tahun 1974 saya merasakan masuk Taman Kanak Kanak yang setiap hari hanya diajak bermain dan bernyanyi, disertai dengan dongeng dan pelajaran budi pekerti keseharian. Tidak ada buku dan pensil untuk menulis huruf dan angka. Yang ada hanya pensil warna (krinyo) dan buku gambar untuk mewarnai. Benar-benar dunia anak-anak, tanpa beban pekerjaan rumah dan tugas ini itu.

Barulah di tahun 1975, saat masuk SD, saya diajarkan huruf dan angka, membaca sistim eja, dan berhitung sederhana di kelas I. Apakah sistim itu ketinggalan jaman? Tidak juga, karena saya yakin itu 'serapan' dari negara-negara yang sudah maju sistim pendidikannya.

Dari contoh diatas, saya justeru mempertanyakan, apa sebenarnya yang diinginkan pemangku kepentingan dunia pendidikan Indonesia, yang suka ganti-ganti program, sistim dan kurikulum itu? Siapa yang diuntungkan & untuk kepentingan siapa? Setidaknya dalam 40 tahun terakhir, tidak ada konsistensi dalam meletakkan dasar pendidikan yang (dianggap paling) bagus di negeri ini, selalu berubah-ubah. Pertanyaannya, apakah dengan sistim saat ini, pendidikan kita sudah bisa 'bersaing' dengan negara terdekat kita, Singapura & Malaysia misalnya?

Yang pasti, upaya Pak Ichsan Yasin Limpo (Bupati Gowa) -- mengembalikan sistim pendidikan sesuai dengan usia dan kemampuan anak dalam menyerap pengetahuan -- patut diacungi jempol. Argumen Pak Bupati, alasan 'Imtaq Indonesia' diterapkan karena, "Pembentukan karakter, daya dorong, empati, simpati, pengenalan budaya, dan keimanan butuh waktu lama. Usia hingga 7-8 tahun juga masih usia bermain bagi anak-anak."


Kabupaten Gowa sudah memberikan angin segar bagi dunia pendidikan dasar. Sekarang, tinggal kita tunggu hasilnya, apakah sistem nasional ataukah sistem lokal yang akan menghasilkan generasi berkualitas? Maju terus pendidikan Indonesia!
Share:

Selasa, 11 Agustus 2015

"Karena Kami Aremania...

Senin sore kemarin, selepas Ashar, sebuah pesan pendek masuk ke blackberry saya. Pengirimnya keponakan yang ada di Tumpang -- ini nama sebuah kota kecamatan yang berhawa sejuk, di timur kota Malang -- yang isi sms-nya begini: 'Age nuliso Arema Om, mumpung mene ulang tahun' (terjemahannya: Segera nulis Arema Om, mumpung besok ulang tahun).

Sebenarnya bukan masalah pesanan (tema tulisan) itu yang membuat saya sedikit bingung. Cuma, saya harus berfikir keras untuk memulai darimana 'bercerita' tentang Arema -- sebuah klub sepakbola asal Malang & terkenal dengan suporter kreatifnya -- yang sepak terjangnya selama 28 tahun terakhir ini banyak mengalami lika-liku 'kisah' menarik. Dan tentu saja (terlalu) banyak pula kalau dibuat sebuah tulisan di rubrik ini.

Tapi begini saja, saya akan memberikan ulasan ringan tentang Arema, versi saya. Dimulai dari saat Arema lahir -- ingat, yang dimaksud Arema disini adalah nama klub sepakbola -- bulan Agustus 1987, bertepatan saya harus meninggalkan Malang untuk melanjutkan pendidikan jenjang perguruan tinggi di Mataram (NTB). Praktis saya hanya dapat mengikuti perkembangan klub milik Pak Acub Zainal ini dari koran Jawa Pos saja. Belum ada televisi swasta, apalagi internet, saat itu.

Kompetisi liga sepakbola utama -- disingkat galatama, diperuntukkan klub profesional -- yang diikuti Arema pun gaungnya masih kalah jauh dengan kompetisi divisi utama perserikatan, sehingga saya saat itu juga 'mencintai' Persebaya, layaknya pecinta bola di Jawa Timur pada umumnya. Jadi, untuk kompetisi galatama, sebagai arek Malang saya pasti dukung Arema, sebaliknya untuk perserikatan ya (mau tak mau) dukung Persebaya yang representasi wakil Jawa Timur di pentas sepakbola nasional. Sampai ketika galatama dan perserikatan dilebur menjadi Liga Indonesia (pertengahan tahun 90-an) saya benar-benar 'satu jiwa' dengan Arema.

Begitulah, pasang surut prestasi Arema saya ikuti dengan seksama. Bahkan ketika kelompok suporter Aremania mulai terkoordinir dalam korwil-korwil, saya yang tinggal di Jakarta bergabung dengan korwil Aremania Cyber. Memang, saya tidak pernah langsung bersentuhan dengan aksi-aksi atraktif Aremania di stadion Gajayana (awalnya) ataupun di Kanjuruhan. Tetapi sebagai bagian dari Aremania, saya selalu menyempatkan datang ke stadion jika Arema bermain di Jakarta dan sekitarnya.

Sepengamatan saya, tentu saja Arema adalah (salah satu) tim yang paling kuat dalam menghadapi jatuh bangunnya sepakbola 'profesional' di Indonesia. Disaat mayoritas tim eks galatama sudah tinggal nama belaka, Arema masih kokoh berdiri. Bahkan, sudah beberapa kali ganti pengurus, kepemilikan dan pengelola, Arema pun masih bisa eksis, meski saat ini terbelit masalah akte pendirian (legalitas) ganda.

Namun demikian, diakui atau tidak, orientasi 'kepemilikan' Arema pun terus berubah. Dari awalnya FANATIS (sangat suka sepakbola dan kota Malang, sehingga berdirilah klub Arema ; keluarga Acub Zainal), kemudian beralih ke BISNIS (membeli Arema untuk meningkatkan brand image dan penjualan produk ; grup Bentoel), akhirnya terjerumus ke POLITIS (meningkatkan popularitas tokoh dan kelompok, untuk kepentingan politik partai tertentu ; kelompok Bakrie). Itulah hasil -- sementara -- pengamatan pribadi saya.
Yang pasti, apapun yang terjadi di klub Arema, selama itu demi membawa harum sepakbola Malang Raya, Aremania sejagad raya tentu tidak akan meninggalkan klub 'singo edan' ini. Setidaknya -- bentuk dukungan Aremania -- itu dengan jelas ada pada jargon Arek Malang, yaitu 'Arema tidak kemana-mana, tapi Arema ada dimana-mana'.

Selamat ulang tahun ke-28, Arema. Saatnya berprestasi lebih tinggi, dan 'eksi28ersama' dengan para suporter fanatismu. Karena kami --Aremania -- tak akan pernah berhenti mendukungmu, dan (selayaknya di tribun stadion) akan terus bernyanyi:

Disini Aremania.., kami slalu dukung Arema.., dimana kau berada.., kami selalu ada.., kar'na kami Aremania....
Share:

Senin, 10 Agustus 2015

Ketika 'Bahasa Ibu' Akan Tinggal Kenangan

Sebenarnya bertemu dengan Pak Jamin, Mas Yudis dan Mas Puji di pinggir lapangan, saat sama-sama menonton pertandingan sepakbola antar warga -- dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI -- adalah kebetulan semata. Karena merasa sudah berumur, saya lebih memilih nonton dari bawah pohon rindang, yang ada agak jauh di belakang gawang, daripada berdesakan di sepanjang pinggir lapangan. Dan tiga orang tadi, yang memang sudah saya kenal, juga sudah berada disitu sebelum saya datang.

Karena sama-sama dari etnis Jawa -- Pak Jamin dari Ngawi, Mas Yudis dari Yogya dan Mas Puji dari Tegal -- kami bertegur sapa dan mengobrol ringan memakai bahasa Jawa 'kromo'. Maklumlah usia kami sudah diatas 40-an, kalau memakai bahasa Jawa 'ngoko', rasanya koq kurang pantas. Oh hiya, meski sudah lama meninggalkan Malang, tetapi saya tetap menggunakan bahasa Jawa kromo dialek Malangan, karena saya lahir dan besar di Malang.

Bermula dari topik seputar seni wayang kulit -- dengan penikmatnya yang hanya dari kalangan tua -- yang semakin terpinggirkan, karena kalah dengan panggung hiburan organ tunggal, sampai akhirnya kami sedikit serius membicarakan 'bahasa Jawa' yang semakin kurang dikenali dan diminati oleh generasi muda. Niat semula nonton bola jadi terkalahkan dengan diskusi bawah pohon.

Kami melihat, generasi penerus etnis Jawa yang ada di perantauan -- seperti di Jakarta ini misalnya -- meski sudah dikenalkan bahasa Jawa sejak kecil di rumah, tapi karena lingkungan sekitar tidak mendukung ya akhirnya tidak berkembang. "Saya di rumah tetap memakai bahasa Jawa saat bicara dengan istri, agar anak-anak terbiasa mendengar dan bisa menirukan," ujar Pak Jamin, yang usianya 50-an tahun dan paling tua diantara kami berempat. "Tapi begitu keluar rumah, tetangga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Betawi, jadi anak-anak tidak banyak mendapat kesempatan mengembangkan bahasa Jawa-nya," tambah Pak Jamin lagi, yang memang tinggal di lingkungan etnis Betawi itu.

Lain lagi pendapat Mas Yudis, yang mengkritik keluarga muda di daerah Jawa -- baik di pedesaan maupun perkotaan -- yang lebih menggunakan bahasa Indonesia dengan anak-anaknya dalam keseharian di rumah, "Mestinya kan bahasa ibunya dikenalkan dulu, baru bahasa Indonesia. Kalau sudah gini, siapa nanti yang mau mengajar anak-anak itu bahasa Jawa?"

Obrolan makin menarik ketika Mas Puji yang lebih banyak diam ikut terpancing bersuara. Menurutnya, lunturnya kemampuan berbahasa daerah (baca: Jawa) pada anak-anak sekarang lebih dipengaruhi serbuan arus informasi dan tayangan di media televisi yang makin gencar. "Anak-anak di kampung lebih suka menirukan bahasa yang ada di sinetron, katanya lebih gaya dan modern daripada ngomong bahasa Jawa yang kesannya ndeso," begitu Mas Puji berpendapat.

Ya, bisa jadi arus informasi global -- entah melalui media cetak, media elektronik, atau media online -- menjadikan fokus pengajaran dan pembelajaran bahasa Jawa pada anak-anak menjadi bias. Peran orangtua semakin berat ketika urusan 'bahasa' dibebankan pada mereka, selama pranata dalam masyarakat tidak mendukung dan bersinergi. Jangan berharap pula pada sekolah formal, karena dari tingkat pra-sekolah sudah memakai bahasa Indonesia sebagai pengantar, sedang pelajaran bahasa daerah di sekolah dasar sampai lanjutan atas hanya 2 jam saja seminggu.

Itu baru 'tinjauan' pada bahasa pengantar keseharian, belum lagi pengenalan falsafah dalam bentuk 'pitutur' dan petuah, yang pada generasi sebelumnya selalu disampaikan orangtua pada anak-anaknya, secara lisan. Sungguh kompleks masalahnya. Dan tentu bukan kapasitas kami berempat untuk memikirkan solusinya, karena obrolan kami sekedar bentuk keprihatinan dari generasi yang 'akan memutus' kemampuan berbahasa Jawa pada generasi berikutnya.

Prihatin, hanya sebatas itu yang bisa saya ambil sebagai benang merahnya. Belum ada solusi. Dan menurut saya, ini tidak hanya terjadi pada bahasa Jawa semata. Bisa jadi pada bahasa daerah lain di Indonesia. Anda setuju?
Share:

Minggu, 09 Agustus 2015

Jodoh di 'Tangan' Media Sosial

Masih ingat dengan cerita Gepeng -- di edisi Selasa, 4 Agustus 2015 -- yang penasaran dengan Novi, perempuan yang dikenalkan di sosial media pertemanan WeChat? Ya, sekedar mengingatkan, saat itu Gepeng penasaran karena Novi belum juga mau ditemui secara offline (baca: ketemu langsung), dengan berbagai alasan, meski sudah sekian lama berkomunikasi melalui chatting.

Nah, kalau anda menduga Gepeng -- asisten, yang sering saya sebut di status BBM saya -- akan kecewa dan mengalami 'sad ending' karena foto yang dikirim Novi lebih indah dari wajah aslinya, adalah salah besar. Karena seperti yang dituturkan Gepeng setelah ketemu Novi untuk pertama kalinya di suatu rumah makan kawasan timur Jakarta, "Luar biasa Pak Prie, ternyata Novi itu mungil dan wajahnya lebih muda dari yang nampak di foto. Dia janda tanpa anak. Ngobrolnya asyik banget, saya nyambung pokoknya."

Memang, saya tidak tanyakan, cantik mana Novi yang ada pada 6 foto -- yang dikirim ke Gepeng via WhatsApp -- atau yang ditemui langsung itu. Namun, ketika saya bilang ke Gepeng jangan-jangan yang ditemui itu orangnya beda dengan yang difoto, Gepeng langsung menukas, "Sama Pak Prie. Saya kan sudah tandai ada tahi lalat yang diatas bibirnya itu, sama koq. Cuma yang difoto itu tidak pakai jilbab, sedang tadi ketemu saya dia memakai jilbab." Hehehe..., ya sudahlah, memang repot bicara dengan orang yang lagi kasmaran, dimatanya semua serba indah saja.

Dan cerita Gepeng, yang kini nampak lebih bergairah dan semangat, tidak sampai disitu saja. Pertemuan dengan Novi sudah berlangsung 4-5 kali, itupun masih ditambah intensitas komunikasi via telepon yang hampir tiap hari. Bahkan beberapa kali Gepeng komunikasi dengan keluarga besar Novi, juga melalui telepon. Dan tadi malam, layaknya biasa menemani saya menulis -- sambil memberikan gelas kopi susu hangat yang kedua kalinya -- Gepeng menyampaikan kabar gembira pada saya, "Pak, kalau tidak ada halangan, akhir tahun ini saya diajak Novi ke orangtuanya di Tasikmalaya, minta dilamar."

Begitulah, melalui alur yang berliku bak cerita sinetron, Gepeng telah menemukan tambatan hatinya melalui sosial media. Dan tentu saja Gepeng cuma satu dari ratusan -- atau bahkan ribuan -- pasangan yang sukses merajut kasih melalui fasilitas sosial media, entah itu yang khusus untuk pertemanan dan 'mencari orang' seperti WeChat dan Badoo, atau yang umum seperti Facebook misalnya.

Cuma, kalau mau sedikit menelusuri, tidak selamanya ada 'kejujuran' dalam forum pertemanan dan perjodohan di sosial media. Apalagi kalau tujuannya untuk mencari jodoh serius. Yang sering terungkap, banyak kamuflase dan kepura-puraan -- baik dalam bentuk status palsu maupun foto-foto palsu -- yang bertebaran di dunia maya tersebut, yang tujuannya tentu saja demi 'keuntungan pribadi' dan menjurus modus. Persis seperti membeli kucing dalam karung. Kita hanya diperlihatkan chasing yang bagus, tanpa pernah mendapat kesempatan untuk melihat dalamannya.

Kalau toh akhirnya ada juga yang 'jadian' dan berlanjut ke jenjang yang lebih serius, tentu ini sebuah pengecualian dan 'keberuntungan' dari sebuah usaha dan kerja keras. Benar, kerja keras secara individu, untuk menggali informasi sedetail mungkin dengan cara meningkatkan intensitas komunikasi -- kalau perlu ketemu langsung sesering mungkin -- seperti yang sudah ditunjukkan oleh Gepeng diatas.

Tentunya, ini bisa juga disebut fenomena menarik dari dunia maya. Kalau dulu perjodohan lebih banyak ditentukan oleh peran orang tua, nyatanya kini dunia maya -- lebih spesifik: sosial media -- telah mengambil peran tersebut. Tidak salah juga kalau (akhirnya) ada guyonan yang mengatakan 'jodoh ditangan sosial media', karena memang demikianlah adanya. Ada yang ingin coba-coba?
Share:

Sabtu, 08 Agustus 2015

Akhir Pekan, Kenapa Mesti ke Puncak?

Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, mendengar nama Puncak -- ini nama daerah wisata dataran tinggi yang berada di wilayah Kabupaten Bogor -- pasti yang terbayang adalah sebuah kemacetan yang parah. Tapi anehnya, meski sudah tahu (akan) terkena macet, sampai saat ini masih saja Puncak didatangi sebagai tujuan berlibur akhir pekan, terutama para pelancong lokal yang mayoritas ber-plat mobil B.

Bukan hal luar biasa, kalau setiap akhir pekan -- sejak hari jumat sore -- lalu lintas di jalan bebas hambatan arah Bogor sudah dipenuhi mobil yang rela antri panjang, sejak pintu tol Cibubur. Meski tidak seluruhnya, tapi bisa dipastikan sebagian besar dari kendaraan tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu kawasan Puncak. Volume kendaraan akan bertambah besar saat memasuki hari sabtu, dan mencapai puncaknya di hari minggu pagi.

Dipilihnya Puncak sebagai tempat refreshing akhir pekan, tentu banyak alasan. Tetapi muaranya tetap sama, suasana alam pegunungan dan udara segar adalah alasan kuat -- utamanya bagi warga Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi dan sekitarnya, yang memang berdataran rendah dengan suhu udara yang panas -- untuk melepas penat setelah sepekan penuh beraktifitas.

Tak ubahnya seperti kota wisata Batu di Malang, Kaliurang di Yogyakarta, atau Lembang di Bandung, yang menjadi ikon wisata pegunungan di kota tersebut, kawasan Puncak juga banyak menawarkan obyek wisata -- mulai dari wisata alam sampai wisata kuliner -- yang semuanya representasi dari wisata yang diperuntukkan keluarga.

Boleh dikatakan Puncak sangat memanjakan penggemar wisata kuliner, karena mulai dari warung sampai saung, restoran sampai cafe, masakan khas sunda sampai nusantara, masakan timur tengah sampai eropa, semua ada dan buka rata-rata 24 jam. Dan tentu saja, yang menjadi penunjang utama Puncak, makin menjamurnya cotage, wisma, villa (baik milik pribadi maupun yang disewakan) sampai hotel berbintang, bertebaran di jalan utama sampai pelosok perkampungan, di sepanjang jalur Puncak - Cianjur.

Untuk obyek wisata, sebagai contoh, sebut saja Taman Wisata Matahari dan Taman Safari di Cisarua. Dua obyek wisata yang tidak berjauhan ini mampu menyedot puluhan ribu pengunjung setiap pekannya. Kemudian, ada wisata alam Perkebunan Teh Gunung Mas, yang menawarkan kegiatan outbound dan tea-walk. Juga, kawasan Puncak Pass, yang menawarkan sensasi luar biasa suhu udara, angin dan kabutnya saat berada di 'puncak ketinggian' kawasan Puncak ini. Dan jangan lupa pula, Taman Bunga Nusantara di Cipanas, yang menawarkan koleksi aneka bunga dari seluruh tanah air dengan areal sangat luas. Tentu, itu baru beberapa contoh saja.

Setidaknya, sedikit paparan diatas bisa menggambarkan, bahwa tidaklah berlebih kalau Puncak -- sampai saat ini -- tetap menjadi primadona dan magnet bagi wisatawan lokal untuk datang di akhir pekan. Kemacetan yang sudah terasa (bahkan kadang-kadang benar-benar) macet total sejak keluar tol Ciawi, ditambah penerapan lalu lintas buka tutup pagi dan sore, toh tetap tidak menyurutkan orang untuk datang ke Puncak.

Mungkin -- seperti halnya tradisi mudik -- bagi sebagian besar para pengunjung, kawasan Puncak layaknya sebuah kampung halaman. Macet berjam-jam selama perjalanan (seperti) tidak lagi terasa, begitu sampai di tempat tujuan. Padahal, arus baliknya pun setali tiga uang, harus rela macet dan nunggu 'jam turun' karena arus buka tutup.


Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa datang ke Puncak bukanlah 'siksaan' dan membuat kapok untuk kembali lagi. Buktinya, meski sudah pernah ada himbauan untuk menghindari jalur Puncak di akhir pekan, toh tetap tak ada yang menghiraukan. Hmmm.., jangan-jangan, termasuk anda juga?
Share:

Jumat, 07 Agustus 2015

Please, Harga Daging dan Cabe Turun Dong...

Mungkin tidak banyak yang tahu -- kecuali yang memang kerjaannya berkutat di dapur, atau yang sehari-harinya pedagang warung nasi -- bahwa sejak menjelang lebaran bulan lalu sampai minggu ini harga daging sapi, ayam potong dan cabe beranjak naik dan cenderung 'bertahan' tinggi, dibanding hari-hari sebelumnya. Hal yang tidak lumrah, karena biasanya harga daging, ayam potong dan cabe akan berangsur turun begitu lebaran usai.

Nah, kalau sudah masuk urusan 'dapur' seperti ini -- adanya kenaikan harga kebutuhan bahan pokok sehari-hari -- pasti para ibu yang bertanggung jawab atas ketersediaan konsumsi di rumah, menjadi pihak pertama yang komplain dan merasa dirugikan. Karena selain mengganggu cashflow budget belanja harian, juga harus memutar otak untuk mencari strategi jenis menu yang akan dihidangkan, serta pilihan antara menambah budget belanja atau mengurangi bahan masakan.

Itu dampak untuk skala kecil, masih di tingkat keluarga. Dalam skala sedikit lebih besar, tingginya harga daging, ayam potong dan cabe ini jelas berpengaruh pada warung-warung kecil penjual makanan jadi, utamanya warung nasi dan warteg. Karena pilihannya hanya dua, menaikkan harga jual makanannya atau mengurangi (memperkecil) porsi lauknya. Untuk menaikkan harga, jelas riskan, karena warung nasi seperti ini lebih banyak melayani masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan.

Pedagang kecil yang juga terkena dampak -- kalau mau dicari contoh lain -- tentu masih banyak. Mulai dari pedagang bakso, tongseng, sate, sampai mie ayam juga 'berteriak' dengan masih mahalnya bahan utama dagangan mereka. Bahkan diberitakan sudah banyak pedagang bakso yang mengganti bahan baku bakso dari daging sapi dengan daging ayam. Tapi, kalau harga ayam potong (ternyata) juga cukup tinggi, apakah para pedagang bakso harus merubah strategi dengan memperkecil ukuran baksonya menjadi seukuran kelereng? Atau harus mengganti bahan bakunya dengan daging yang lain? Misalnya dengan daging t_xxxx (sensor), hiiii.. ngeri!

Dan dampak -- negatif -- lainnya dari tingginya harga daging sapi dan ayam potong adalah merebaknya daging yang tidak layak konsumsi di pasaran. Mulai dari daging dari sapi yang tidak sehat (berpenyakit), ayam tiren, sampai daging tidak halal yang 'disamarkan' layaknya daging sapi, yaitu daging celeng.

Urusan jadi rumit, karena pemerintah yang diharapkan jadi 'pelindung' rakyat dalam menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok seperti ini, selalu -- dan masih saja -- memberikan jawaban normatif bahwa harga-harga masih stabil dan terkendali, dan akan kembali berangsur ke kondisi normal setelah lebaran lewat. Sepertinya kenaikan harga dianggap hal rutin yang tidak perlu ditakuti oleh masyarakat. Sudah ganti presiden dan pemerintahan, ternyata jawabannya hanya beda-beda dikit.

Dengan kekuasaan dalam membuat kebijakan nasional -- dari para menteri yang katanya qualified dan profesional -- tentu urusan mudah bagi pemerintah untuk mengatasi hal ini. Apalagi akar permasalahannya juga sudah terungkap. Harga daging sapi yang tinggi misalnya, menurut para pemasok memang sengaja pasokan sapi potong 'ditahan' sampai hari raya qurban (Idul Adha), sehingga stok daging di pasaran berkurang dan harganyapun melangit. Begitu juga dengan cabe, musim kemarau membuat gagal panen dan pasokan cabe berkurang di pasaran.

Bagaimana caranya? Ya para ahli di pemerintahan itulah yang punya strategi pemecahannya. Jangan hanya bisa gembar-gembor saat baru dilantik. Termasuk juga pemimpin tertinggi negara ini, harus tegas dan sistematis dalam menyelesaikan urusan yang langsung bersentuhan dengan rakyat seperti ini, tidak hanya pintar bicara saat kampanye presiden saja.


Sehingga, jangan sampai gara-gara daging mahal, saat kita beli bakso (nanti) kuahnya penuh semangkok tapi baksonya cuma sebiji. Atau, saat menikmati hidangan ikan bakar di rumah, ternyata sambalnya hanya kecap dan ekstrak cabe sachet, yang pedasnya hanya terasa di lidah. Kan kurang 'maknyus' jadinya.
Share:

Kamis, 06 Agustus 2015

Suatu Sore di Tugu Pancoran

Bagi penggemar penyanyi legendaris Iwan Fals, judul diatas pasti mengingatkan pada sebuah lagu Bang Iwan di tahun 90-an, 'Sore Tugu Pancoran'. Lagu yang bercerita tentang si Budi kecil, yang harus -- menahan dingin kehujanan -- berjualan koran di malam hari, demi untuk biaya hidup dan sekolahnya.

Memang, lagu Bang Iwan tersebut benar adanya. Di tahun 90-an, kawasan perempatan tugu Pancoran di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan tersebut boleh dikata sebagai (salah satu) pusat peredaran koran di Jakarta. Tepatnya di sepanjang trotoar dan taman arah Jalan Sahardjo (Tebet), tiap pagi, siang dan sore berbagai koran harian dan tabloid mingguan di drop di tempat tersebut untuk didistribusikan pada para pengecer -- para penjual koran di lampu merah yang jumlahnya puluhan orang -- dan para agen-agen kecil.

Tentu saya hafal dan tahu benar aktifitas tersebut, karena di awal tahun 1995 saya mulai 'mengejar karir' di ibukota, dan kebetulan berkantor di gedung yang persis berada di kawasan tugu Pancoran tersebut. Jadi setiap pagi, begitu turun dari bis PPD Patas 41 di halte Pancoran, saya sudah bisa melihat kesibukan para pedagang koran tersebut. Demikian pula saat pulang kerja, sambil berjalan menuju halte bis Tebet biasanya saya terlebih dulu 'nongkrong' di lapak koran taman perempatan Pancoran, sekedar lihat-lihat berita di koran yang beredar sore itu, atau ngobrol dengan para pengasong koran saat lampu hijau menyala.

Nah, rutinitas itulah yang membuat saya mengenal salah seorang penjual koran di lampu merah Pancoran. Saya lupa-lupa ingat namanya -- mungkin Mas Jo, Mas No, Mas Min atau Mas Har, atau Mas siapa gitu. Kita panggil Mas No saja supaya enak -- yang penampilannya cukup unik, karena tidak pernah pakai alas kaki saat jualan koran, baik kala panas maupun hujan.

Ciri khas lainnya, Mas No selalu senyum dan ramah pada setiap orang lewat yang dia tawari koran. Bahkan, Mas No sering minta saya ambil koran dan bayar belakangan (ngutang, hehehe), ketika tahu saya belum gajian. Oh hiya, menurut pengakuannya, Mas No punya saudara kembar yang sama-sama penjual koran, sehingga saya (kata Mas No) sering salah ambil dan salah bayar ke saudara kembarnya. Dan saya tidak pernah memperhatikan itu.

Di awal tahun 2000-an saya pindah kantor -- masih di perusahaan yang sama -- yang berlokasi di kawasan Jakarta Timur, sehingga interaksi saya dengan para pengasong koran di sekitaran tugu Pancoran otomatis terhenti juga. Saya tidak lagi ketemu Mas No. Apalagi ketika internet sudah merambah Jakarta -- dan media cetak mulai bertumbangan satu persatu -- setiap ada kesempatan lewat Jalan Gatot Subroto (Pancoran) saya tidak lagi melihat geliat pendistribusian koran, pun demikian di lampu merah tidak lagi saya temui pengasong koran. Nampaknya era internet dan media online mampu 'menggusur' era kejayaan media cetak.

Tapi tanpa diduga, ketika saya pindah kerja di perusahaan lain -- di tahun 2014 -- dan berkantor di Menara Bidakara, yang (lagi-lagi) berada di kawasan Pancoran, saya bertemu lagi dengan Mas No secara tidak sengaja. Bermula saat sore selepas kerja saya menyusuri taman menuju shelter busway Pancoran Tugu, saya melihat Mas No membawa tumpukan koran sambil menawarkan pada para pejalan kaki dengan senyum ramahnya. Saya mudah mengenalinya, meski hampir 15 tahun tak melihatnya, karena hanya tinggal dia sendiri yang kelihatan jual koran di Pancoran, dan masih dengan ciri khasnya: tanpa alas kaki. Yang berubah, gurat-gurat usia tua nampak jelas di wajahnya.

Memang tidak ada yang aneh dengan kisah Mas No ini. Tapi, yang patut diapresiasi adalah keteguhan Mas No dalam menekuni pekerjaannya sebagai pengasong koran, dalam 20 tahun terakhir.


Terlepas sukses apa yang sudah didapat, bahwa mengasong koran di lampu merah -- ataupun jalanan ibukota -- untuk saat ini adalah pekerjaan langka dan sangat berat, karena masyarakat sudah beralih ke media online daripada media cetak. Tapi nyatanya Mas No bisa bertahan 20 tahun. Itu yang patut diacungi jempol!
Share:

Rabu, 05 Agustus 2015

Menikmati Bandara Rasa Terminal

Beberapa saat yang lalu, usai sholat subuh, sebuah pesan masuk di blackberry saya, cukup singkat "Bang aku balik Jakarta nanti siang". Pengirimnya Rachmad Chusaeri -- adik tingkat saat kuliah dan kini tinggal di Depok -- yang sedang berada di Makassar untuk menjemput neneknya dari rumah pamannya.

Sedikit tersenyum membaca pesan itu, karena ingat kejadian 4 hari lalu, saat sekitar jam 12 siang Chusaeri telpon saya mengabarkan sedang on the way ke Bandara Soekarno Hatta karena penerbangan ke Makassar jam 4 sore dan diperkirakan jam 6 petang sudah sampai rumah pamannya. Tapi nyatanya sekitar jam 9 malam dia telpon lagi -- yang saya pikir sudah di Makkasar -- mengabarkan kalau masih tertahan di bandara Soekarno Hatta karena pesawatnya delay sampai waktu yang belum jelas. Dengan suara dongkol dan marah (salah satunya dia) mengatakan, "Tahu gini tadi aku bawa bekal nasi padang dengan kepala kakap, biar bisa bikin kenyang perut malam ini."

Sebenarnya yang saya tangkap dari kejadian 4 hari lalu itu bukan masalah delay yang sudah bukan barang baru di penerbangan domestik kita. Tapi, justeru 'tindakan' yang (akan) dilakukan Chusaeri -- maaf sahabat, ini sebuah contoh kasus saja -- dengan membawa makanan berat yang tentu saja akan menyebarkan aroma menyengat bau ikan di ruang tunggu bandara. Saya membayangkan betapa tersiksanya calon penumpang yang lain yang ada di ruang tunggu, jika itu jadi dilakukan.

Tapi, dalam kondisi sebenarnya, minimal dalam lima tahun terakhir, hal-hal tersebut memanglah terjadi di ruang tunggu penerbangan domestik bandara internasional Soekarno Hatta, Banten. Dalam satu tulisan ringan di majalah berita nasional -- beberapa tahun silam -- pernah saya baca bahwa ada trend pedagang ternak sapi dan kambing dari Jawa Tengah dan Jawa Timur selalu menggunakan moda transportasi pesawat terbang ketika pulang ke daerah asalnya, setelah menjual ternaknya di Jakarta.

Jadi, dari daerah asal ke Jakarta menggunakan truk bersama hewan ternaknya, begitu transaksi selesai -- tanpa harus ganti baju ataupun mandi, karena biasanya mereka tidak transit di hotel -- langsung cari tiket, ke bandara, dan terbang. Lebih praktis dan hemat dari segi biaya dan waktu, bagi para pedagang itu. Tapi, mengganggu pengguna moda yang sama karena aroma 'pasar hewan' dari para pedagang tadi. Memang tidak ada larangan, ini hanya masalah etika semata.

Yang saya alami, dalam beberapa kesempatan menggunakan penerbangan domestik -- ke Malang, Surabaya dan Mataram -- saya selalu menemui hal tidak tertib di ruang tunggu keberangkatan bandara, mulai dari makan bekal dari rumah sembarangan, membawa bawaan (makanan, buah) yang berbau menyengat, sampai meletakkan sampah makanan kecil dan minuman di sembarang tempat. Apalagi kalau bertepatan peak season di akhir pekan (dan juga ada delay penerbangan), sudah bisa dipastikan ruang tunggu begitu sesak, hiruk pikuk, kotor, dan tidak teratur. Tak ada bedanya dengan terminal bis antar kota antar propinsi.

Penyebab banyaknya masyarakat memilih transportasi udara, bisa jadi karena saat ini sudah banyak kota-kota yang bisa dijangkau rute penerbangan, harga tiket pesawat yang murah dan (hampir) setara dengan moda transportasi lain, juga tingkat pendapatan masyarakat yang semakin tinggi, sehingga moda transportasi pesawat terbang bukan lagi didominasi golongan eksklusif saja.

Namun, apapun penyebabnya, selama masyarakat -- dari kalangan dan strata manapun -- pengguna moda ini mau membuang ego pribadi dan mengikuti aturan serta tata tertib yang ada di kawasan bandara, niscaya rasa aman dan nyaman akan tetap didapatkan. Tak peduli mereka punya tujuan kota kecil ataupun penerbangan kelas ekonomi sekalipun.


Masalahnya, kapan kesadaran mereka -- para pengguna pesawat terbang -- muncul secara sukarela, untuk bersama-sama memperbaiki kondisi ini? Karena mayoritas masyarakat saat ini kita sudah terlanjur 'tambeng' (=bandel) dan 'ngeyel' (=membantah) pada norma maupun aturan yang ada. Kita tunggu saja, entah sampai kapan.
Share:

Selasa, 04 Agustus 2015

Kenal Selfie, Jangan Senang Dulu

Malam belum beranjak larut, sekitar jam 22.30, ketika Gepeng -- asisten sekaligus teman saya yang sangat loyal -- dengan wajah galaunya berucap, "Benar kata Pak Prie, sampai sekarang Novi belum mau diajak ketemuan juga, alasannya banyak," katanya, sambil tetap memainkan hp android buatan lokal kesayangannya di kursi pojok ruangan. Menemani saya menulis, sekaligus standby jika sewaktu-waktu saya perlu tambahan susu coklat hangat atau indomie rebus plus telor setengah matang.

Kegalauan Gepeng berawal dari perkenalannya dengan cewek -- tepatnya perempuan paruh baya usia 30-an -- di media sosial pertemanan wechat. Sebagai laki-laki kurang beruntung dalam membina rumah tangga, Gepeng mencoba cari calon pendamping hidup via dunia maya seperti layaknya yang saat ini lagi trend di negeri ini. Sayangnya, dengan tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi (Gepeng hanya lulusan SMP) dan dengan pengetahuan dunia internet yang ala kadarnya, dia tidak memahami bentuk-bentuk 'semu' yang ada di dunia maya dalam bingkai sosial media tersebut. Termasuk foto-foto cantik nan menawan yang banyak bertebaran didalamnya, yang masih diragukan kebenaran 'wajah' aslinya.

Dari awal perkenalan dengan incarannya yang bernama Novi itu, Gepeng selalu 'konsultasi' dan melaporkan perkembangannya pada saya. Termasuk menunjukkan beberapa foto Novi yang dikirim melalui whatsapp. Sekilas foto berjumlah 6 buah itu bukan 'wajah asli' karena nampak sudah melalui proses foto editing, yang aplikasinya sudah banyak tersedia di hp. Saat itu pun sempat saya bilang, "Peng, sebelum kamu kecewa, cepat ajak ketemuan cewek idamanmu itu. Mending lihat dulu aslinya daripada percaya hanya lewat foto seperti itu," saran saya pada Gepeng, yang usianya hampir 30 tahun itu.

Saya tidak akan cerita kelanjutan Gepeng yang galau ini. Tetapi saya justeru tertarik dengan menggejalanya -- atau sudah boleh disebut fenomena? -- kecenderungan memotret diri sendiri dengan hp pada masyakarat, yang kemudian diunggah ke media sosial, baik untuk keperluan pribadi ataupun khalayak umum. Oh hiya, biar tidak lupa, memotret diri sendiri ini lebih dikenal dengan selfie (kependekan dari self potrait), yang terjemahan umum dalam bahasa Indonesia adalah kegiatan swafoto atau memotret diri sendiri menggunakan kamera digital atau kamera telepon genggam. Pun demikian, sejak tahun 2013 kata 'selfie' secara resmi juga sudah masuk dalam daftar kata Oxford English Dictionary.

Benar, makin menjamurnya hp android lokal murah meriah yang dilengkapi dengan perangkat kamera -- dan ditunjang puluhan aplikasi untuk mengolah foto lebih indah dari wajah aslinya -- membuat aktivitas selfie bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja (kayak iklan ya?), mulai dari kalangan selebritis sampai para ibu-ibu pedagang pasar, semuanya bisa ber-selfie ria.
Manfaatnya tentu banyak, diantaranya bisa mengabadikan semua moment aktivitas dari yang super sakral sampai yang tidak penting amat, tanpa dibatasi waktu dan tempat. Termasuk untuk ajang aktualisasi diri, dengan memamerkan segala bentuk 'kelebihan'nya jika hasil selfie tersebut di eksplor pada sosial media.

Sebaliknya, disadari atau tidak, aktivitas selfie juga bisa menimbulkan efek negatif. Salah satunya, kecintaan pada diri sendiri yang berlebihan -- baca: narsis -- akan berdampak pada kesombongan. Juga, alih-alih ingin narsis, yang ada malah kehilangan rasa percaya diri. Karena selalu menampilkan 'hal indah' yang semu, sehingga takut dan minder menghadapi kenyataan bahwa dirinya tidak sebagus yang tampil di foto. Sedang dampak lebih serius, selfie yang diproses aplikasi pengeditan foto pada hp, akan memunculkan kebohongan demi kebohongan. Seperti dialami Gepeng, yang saya ceritakan di awal tulisan.


Tidak bermaksud benci pada selfie, tapi -- tulisan ini -- sekedar mengingatkan, segala sesuatu itu ada dampak positif dan negatifnya. Dan semua itu, berpulang kembali pada anda sendiri, mau (dibuat) baik atau (sengaja) untuk maksud buruk. Begitu kan ?
Share:

Senin, 03 Agustus 2015

Dari Siti Nurbaya Sampai City of Surabaya

Ada pameo, orangtua yang mempunyai putri usia remaja itu ibarat berjalan sambil membawa gelas berisi air. Harus hati-hati dan waspada, jangan sampai airnya tumpah, apalagi gelasnya jatuh dan pecah. Artinya, menjaga dan mengantar anak perempuan untuk sampai pada tujuan akhir yang ideal (sebuah jenjang pernikahan, setelah bekal pendidikan dan ketrampilan terpenuhi) tidaklah mudah. Penuh liku dan strategi jitu agar tidak 'gagal' di tengah jalan.

Bisa jadi 'teori' itu benar. Saya sendiri bisa menjadi contoh konkrit. Saat ini putri saya menginjak usia 17 tahun, duduk di bangku SMA kelas 3, berperawakan langsing dengan tinggi badan 170 cm dan cantik. Kata orang-orang mirip bundanya, bukan ayahnya. Dan saya setuju. Nah, urusan membekali pendidikan formal di sekolah dan budi pekerti di rumah, mungkin hal normatif, bagi saya tidak ada masalah.

Tapi ketika menghadapi masalah dunia remaja (baca: pacaran), ini yang harus hati-hati. Di jaman yang serba canggih, pola pendekatan -- dari teman-temannya yang naksir --terhadap putri saya tidak lagi melalui surat atau datang apel ke rumah seperti jaman saya di tahun 90-an. Sekarang bisa melalui sosial media yang bejibun jumlahnya, sebagai media pemikat.

Bahkan, pendekatan langsung dengan saya pun bukan hal tabu bagi teman sekolahnya -- sebagian malah menjadi teman saya di media sosial Path, Twitter, Line, Whatsapp & BBM, yang entah darimana mereka dapat akun saya -- demi memikat putri saya. Belum lagi teman sekerja, organisasi dan aktivitas sosial saya lainnya (tentunya yang muda-muda dan masih bujangan) yang juga 'ikut berlomba' untuk jadi calon menantu, dengan cara menarik simpati saya.

Artinya apa? Saya harus bersikap bijak, tidak intervensi tapi juga tidak melakukan pembiaran. Memberikan tanggung jawab dan pemahaman -- pentingnya mengisi masa remajanya dengan hal positif, sekaligus menyusun masa depan yang baik -- pada putri saya, jauh lebih penting daripada melakukan 'seleksi' pada mereka yang terpikat pada putri saya. Ini bukan jaman 'Siti Nurbaya' yang peran orangtua sangat besar pada penentuan 'nasib' anaknya, sebaliknya saya juga bukan pengikut gaya liberal yang memberi kebebasan penuh pada anak. Memberikan kesempatan pada anak untuk menentukan arah masa depannya, dengan bimbingan dan pengawasan yang dipandang perlu, mungkin itu solusi terbaik.

Lantas apa hubungannya dengan Surabaya, yang kini dipimpin Walikota perempuan pertama -- Ibu Risma Triharini -- peraih 51 penghargaan atas prestasi membangun Surabaya ini? Dalam konteks berbeda, ada persamaan dengan kasus diatas, yaitu sebagai Walikota di kota yang memiliki 2,8 juta penduduk, Ibu Risma mempunyai kebebasan dalam menentukan arah kebijakan dalam membangun kota Surabaya.

Namun demikian, Bu Risma yang dalam lima tahun terakhir ini berhasil 'menyulap' Surabaya menjadi kota metropolitan yang bersih, tertib dan indah -- karena penuh taman, dari pinggiran sampai tengah kota -- tetap mematuhi koridor aturan yang ditetapkan oleh DPRD maupun pemerintah pusat (sebagai 'orangtua'nya). Sifat keras yang ditunjukkan Bu Risma (sebagai 'anak') selama ini bukanlah pembangkangan, tetapi bentuk dari mempertahankan sikap.

Dalam kasus yang ada, Bu Risma akan 'melawan' jika kebijakan yang dianggapnya benar justru diusik oleh pihak lain, seperti kasus penutupan dolly misalnya. Pun demikian Bu Risma pernah 'mengancam' mundur ketika hal yang dianggapnya tidak sesuai prosedur dipaksakan untuk diterapkan pada penerintahannya. Itulah sebabnya Surabaya bukan lagi dikenal sebagai kota buaya, jembatan merah atau rujak cingur semata, tetapi dunia mengenalnya sebagai 'City of Surabaya' karena prestasi Walikota-nya yang mendunia.


Satu benang merah yang bisa ditarik, ketika kebebasan -- yang bertanggung jawab -- diberikan sepenuhnya, disertai pengawasan yang tidak memaksakan kehendak, maka hasilnya akan maksimal. Entah itu dalam konteks 'anak remaja' atau seorang 'walikota' sekalipun, hasilnya (akan) tetap sama baiknya. Perlu bukti lagi?
Share:

Minggu, 02 Agustus 2015

Gara-gara El Nino, Bogor Minta Hujan

Lho, koq hari ini pilihan judulnya mirip-mirip koran Pos Kota atau Memorandum ya? Apa pagi ini minum teh sambil baca koran itu, jadi terpengaruh saat bikin tulisan? Enggaklah, apa arti sebuah judul. Untuk variasi saja, biar gak jenuh dengan judul yang 'standar' rubrik ini. Apalagi hari minggu, biasanya malas untuk baca-baca, jadi perlu diberi judul yang agak beda. Setuju kan?

Ya benar, kota Bogor -- ini masuk provinsi Jawa Barat -- yang sejak jaman Belanda mendapat sebutan 'Kota Hujan' minggu lalu diberitakan masyarakatnya mengadakan sholat Istisqa' yang bertujuan untuk minta hujan turun. Koq kota Hujan minta hujan? Apa Bogor yang berlimpah hujan sepanjang waktu masih kekurangan hujan juga, serakah banget?

Sebenarnya, untuk saat ini, sudah kurang relevan kalau Bogor masih disebut kota hujan. Karena, sepenglihatan saya, Bogor dalam beberapa tahun belakangan tidaklah seperti 20 tahun silam -- ketika secara rutin tiap akhir pekan saya harus 'pulang' ke kota ini -- yang hampir tiap hari diguyur hujan ringan disertai udara yang sangat sejuk. Apalagi pohon-pohon besar disepanjang kiri kanan jalan dan rumah berarsitektur Belanda yang tetap dipertahankan membuat Bogor benar-benar khas kota untuk beristirahat dan berlibur.

Saat ini, tidak beda dengan kota lain di Indonesia, Bogor juga berkembang pesat. Mulai dari menjamurnya ruko-ruko, rumah hunian berubah fungsi jadi distro dan cafe, sampai bermunculan mall dan hotel-hotel baru, disertai juga kemacetan lalu lintas yang luar biasa. Entah dampak pembangunan sektor ekonomi perdagangan yang begitu pesat tadi, atau karena dampak global warming, nyatanya Bogor sudah tidak sejuk dan nyaman lagi, dan hujanpun tidak lagi turun setiap waktu. Yang bikin miris, sungai yang membelah Kebun Raya Bogor juga sudah hampir tak berair lagi. Padahal ini salah satu icon kota Bogor.

Yang pasti, 'kekeringan' dan kemarau panjang yang melanda kota Bogor saat ini -- dan juga wilayah lain di Indonesia -- salah satunya adalah dampak dari El Nino. Sekedar tahu, El Nino adalah gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik sekitar equator. Oleh karena lautan dan atmosfer adalah dua sistem yang terhubung, penyimpangan kondisi laut itu menimbulkan penyimpangan pada kondisi atmosfer sehingga mengakibatkan penyimpangan iklim.

Nah, musim kemarau yang panjang di beberapa wilayah Indonesia pada tahun 2015 ini, diduga merupakan dampak dari fenomena El Nino yang mencapai level moderat. Keadaan ini diprediksi menguat mulai Agustus sampai Desember 2015, yang akan mengakibatkan kekeringan berkepanjangan di Jawa, Sulawesi, Lampung, Bali, NTB & NTT.

Tentu sebagai bagian dari masyarakat yang tinggal di wilayah Indonesia -- bukan hanya Bogor, seperti saya -- menghadapi musim kemarau berkepanjangan ini (salah satu yang bisa dilakukan) adalah bersikap lebih arif dalam memanfaatkan sumber alam, misalnya dengan menggunakan air lebih efektif dan seperlunya saja. Karena kalau toh kita aman-aman saja dengan kondisi ini, tapi tidak demikian dengan saudara-saudara kita yang tinggal di wilayah lain di Indonesia. Kepekaan dan kepedulian sosial kita lebih diperlukan untuk saat ini.


Peran pemerintah? Ya Alhamdulillah hari Jumat kemarin (31/7/2015) bapak Presiden sudah memerintahkan segenap jajarannya untuk mengambil langkah penyelamatan maksimal terhadap mereka yang terkena dampak kemarau berkepanjangan ini. Kita tinggal bersama-sama mengawasi, dijalankan apa tidak 'instruksi' Pak Jokowi ini. Gampang kan?
Share:

Sabtu, 01 Agustus 2015

Statusmu, Harimaumu

Wuiiih.., judulnya keren dan sangar ya? Ya tidak apa-apa, sesekali bikin judul yang bombastis, walau isinya nanti ya tetap saja obrolan ringan di pagi hari, seperti biasa. Dan memang benar, judul diatas adalah plesetan dari peribahasa 'mulutmu harimaumu' yang artinya bisa anda cari sendiri di internet -- atau tanya guru bahasa indonesia untuk anda yang masih sekolah -- karena kalau saya yang mengartikan takut pemahamannya berbeda.

Saya tertarik membahas masalah 'status' ini -- oh hiya, ini yang dibahas khusus status di media sosial, khususnya facebook, bukan status yang lain lho ya -- karena makin banyak muncul kasus-kasus kesalahpahaman dan bahkan sampai kriminal hanya gara-gara menulis status di facebook. Satu hal yang aneh menurut saya, karena (awalnya) facebook yang dibuat untuk jaringan siswa dan alumni sekolah pembuatnya koq jadi salah kaprah begitu dimanfaatkan oleh pengguna di negara kita yang dikenal 'tata tentrem karta raharja' ini ?

Its okay.., tidak usah terlalu jauh dulu pembahasannya, cukup kita batasi (dan renungkan) dulu, kenapa setiap status yang kita tulis -- dengan itikat baik dan bahasa yang menurut kita sudah benar dan mudah dipahami -- selalu saja ada yang mempersepsi berbeda, sehingga menimbulkan komentar bias dan dampak yang kadang diluar nalar kita? Kadang, teman yang sudah sangat kita kenal di dunia nyata (maksudnya: teman sekolah, teman kantor atau teman main) bisa renggang hubungan gara-gara sebuah status?

Menurut analisa saya (bacanya biasa saja ya, gak usah ngikutin intonasi 'Sentilan Sentilun'nya Mas Butet Kertarajasa di MetroTV), kemampuan masyarakat kita -- tanpa memilah strata pendidikan dan sosialitanya -- dalam mempersepsi sebuah kalimat bahasa tulis masih kurang peka. Artinya, ditengah keberagaman strata yang ada (termasuk etnis dan bahasa yang beragam), memahami bahasa tulis menjadi hal subyektif bagi yang membaca. Kedua, ini alasan yang sangat masuk akal, tidak ada standar baku dalam menulis sebuah status, jadi ya suka-suka yang nulis dong, masalah yang baca mau ngerti atau salah paham, ya urusan merekalah.

Lho, pembahasannya koq jadi berat dan rumit gini ya? Ya enggaklah, tetap ringan koq. Begini, saya coba buat contoh sebuah status yang secara bahasa sudah benar, tapi mempunyai pengertian yang bias. Misalnya saya tulis status -- sekali lagi, ini contoh lho ya! -- begini: "Terima kasih Cantik, kamu telah membuat hari-hariku semakin indah". Nah, sudah dapat dipastikan beberapa (bisa puluhan) teman yang selama ini dekat dengan saya (bisa teman curhat, teman kantor, teman sekolah/kuliah, atau teman yang baru kenal), apalagi yang merasa cantik, merasa status saya ini ditujukan padanya. Padahal, saya menulis ini khusus untuk istri yang memang cantik, misalnya.

Kalau diperhatikan, contoh status itu sudah saya tulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, penempatan tanda baca yang tepat, dan kaidah EYD yang baik. Tapi kenapa masih juga bisa bias dan salah dipersepsi oleh orang yang membacanya? Lantas bagaimana dengan status yang ditulis dengan bahasa gaul, bahasa slank, penulisan yang disingkat-singkat, huruf besar kecil tak beraturan, atau menggunakan kata yang dicadel-cadelkan?

Memang saya tidak akan mengambil kesimpulan dalam setiap tulisan di rubrik ini. Tapi ada satu benang merah yang bisa ditarik dari kasus diatas, yaitu ketika kita masuk dalam media sosial seperti facebook ini, sudah harus siap dengan resiko yang ada, karena kita berhadapan dengan teman yang tidak kasat mata (dunia maya). Mungkin kita mengenal secara pribadi beberapa teman, tapi jauh lebih banyak teman yang hanya bisa kita lihat sebatas layar facebook, sehingga kita tidak paham cara mereka dalam bersikap dan berbahasa (tulis), kita tidak tau mereka tulus atau hanya modus.


Intinya, semua berpulang pada kita, mau terjerumus lebih dalam dengan 'permainan' facebook, atau bersikap bijak dalam mempergunakan (salah satu) media sosial ini. Dan, kalau boleh, ada satu pesan saya: hati-hatilah dalam menulis status!
Share:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com