SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Jumat, 31 Juli 2015

MOS, Jangan Nyusahin Orang Tua

Hari Senin, sekitar jam 2 dinihari, seusai menjalankan ibadah sholat malam, seperti biasa saya buka-buka blackberry jadul -- yang sudah 5 tahun terakhir ini menemani saya dengan setia -- untuk melihat apakah ada pesan-pesan penting yang belum sempat saya baca. Dan nyatanya tidak ada pesan masuk. Lagian, siapa juga yang iseng kirim pesan malam larut seperti itu?

Cuma, dari deretan beberapa status terakhir yang muncul, ada satu yang menarik perhatian saya. Yaitu status dari seorang teman di pulau Lombok, yang nampaknya belum lama ditulis, karena di status itu tertera jam 01.44 wib -- berarti di Lombok sudah jam 02.44 wita -- tertulis pendek saja, "demi anak, rela begadang sampai pagi".

Wah, anaknya lagi sakit mungkin, begitu saya berkesimpulan, sehingga harus dijagain terus. Penasaran, saya coba kirim pesan untuk memberi suport agar sabar. Ternyata jawabannya justeru bikin saya yang terkejut: "Anakku pagi ini ikut MOS, ini lagi nyiapin perlengkapan yang harus dibawa. Aneh2 yang diminta, nyusahin!" Nah lho..?!

Ya, aku baru menyadari, nampaknya minggu ini masuk minggu-minggu sibuk bagi orangtua yang anaknya mulai masuk sekolah, terutama yang memulai di kelas awal untuk tingkat SMP dan SMA. Ikut sibuk, karena anak-anaknya harus memulai dengan Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang identik dengan beban 'tugas aneh' dari panitia di masing-masing sekolah. Tak beda jauh dengan lomba peringatan 17-an yang identik dengan panjat pinang dan balap karung, saat MOS pun ritual siswa baru biasanya juga tidak jauh dari 'rambut kepang tujuh' sambil bawa tas dari kantong kresek.

Itu baru dari tampak luarnya. Biasanya aktivitas MOS di dalam lingkungan sekolah lebih 'meriah' lagi, mulai dari permainan-permainan ringan sampai aktivitas fisik yang dibungkus dalam koridor pembinaan mental dan disiplin, yang dilaksanakan oleh panitia, yaitu para pengurus OSIS, yang diperkenalkan sebagai 'senior'. Dalam tahap inilah biasanya mulai muncul benturan-benturan yang disebabkan tingkat ke-ego-an panitia yang ingin kelihatan eksis dan berwibawa di mata yuniornya, sehingga tanpa disadari muncul kekerasan dalam konteks tertentu.

Memang sih, dalam beberapa tahun terakhir -- sejak ada himbauan dari instansi terkait agar MOS tidak memunculkan kekerasan fisik dalam pelaksanaannya -- kegiatan pengenalan lingkungan sekolah pada siswa baru sudah mulai lebih 'manusiawi' dan banyak berganti dengan pengenalan sekolah dengan segala aktivitas dan prestasinya, baik akademik maupun ekstrakurikulernya.

Tapi, benarkah kita, para orang tua sudah toleran dan bisa menerima kondisi seperti yang ada saat ini? Bisa hiya, bisa tidak. Seperti status salah satu orang tua yang anaknya sedang ikut MOS senin pagi kemarin -- kali ini saya baca di facebook -- dengan penuh harap bapak ini menulis yang intinya "semoga MOS tahun ini tidak lagi ada bully terhadap siswa baru".

Artinya, dari dua contoh kasus 'status' yang saya ungkap diatas, bahwa sebenarnya (sebagian) orangtua sudah maklum akan kegiatan MOS, dengan segala atribut dan eksesnya. Terbukti orangtua -- meski dengan terpaksa dan jengkel -- bersusah payah memenuhi keperluan anaknya agar tidak 'dihukum' di sekolah. Tapi disisi lain, orangtua juga punya harapan agar MOS tidak memberatkan siswa baru dengan tugas yang 'aneh-aneh' maupun pem-bully-an secara fisik dan psikis. Benar tidak ada bully secara fisik -- seperti push up, scot jump, lari keliling lapangan, atau dijemur di panas terik -- tapi bully secara psikis masih tetap berjalan, seperti 'mempermalukan' siswa dengan membawa atribut yang nyeleneh tadi. Pasti secara psikis batinnya tertekan selama perjalanan dari rumah ke sekolah bukan?


Ya sudah, urusan MOS biarkan diatur para pemegang kebijakan yang berkompeten di bidang pendidikan, pasti beliau-beliau lebih pintar dan punya solusi terbaiknya. Kami, para orangtua, cuma (dan selalu) berharap agar pendidikan mental dan budi pekerti anak didik di sekolah tidak 'diawali' hal yang salah di awalnya. Itu saja.
Share:

0 komentar:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com