SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Kamis, 24 Desember 2015

Kesalahan itu Manusiawi, Tapi….

Bulan Desember nampaknya bulan penuh ‘salah’ bagi dunia politik dan jagad hiburan, baik yang sifatnya  lokal tanah air (baca: Indonesia) maupun internasional. Seperti yang saya tulis di “Secangkir Teh’ edisi sebelumnya, sebuah kesalahan yang dilakukan Pak Setya Novanto yang Ketua DPR-RI harus dibayar dengan pengunduran diri beliau dari posisi pimpinan legislatif. Pun ‘kesalahan’ Pak Sigit Priadi Pramudito, Dirjen Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu), yang merasa tak sanggup penuhi pencapaian pajak, akhirnya juga resmi mengundurkan diri sebagai Dirjen Pajak.

Masih dari dunia politik dan pemerintahan, Menteri Perhubungan, Pak Ignatius Jonan – yang selama ini dianggap sukses dengan pembenahan di bidang perhubungan – harus rela mencabut surat keputusan tentang penghentikan alat transportasi roda dua berbasis aplikasi. Kebijakan Pak menteri sudah benar, karena menjadikan kendaraan roda dua sebagai alat transportasi umum adalah melanggar aturan yang ada. Tapi ada daya, intervensi dari Presiden Jokowi yang meminta SK itu dicabut, mau tak mau membuat Pak Jonan (seolah) membuat ‘kesalahan’ yang sebenarnya tidak ada.

Yang terbaru, adalah Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Pak Djoko Sasono, yang mengundurkan diri dari jabatannya karena merasa gagal mengatasi kemacetan parah yang terjadi selama libur Natal dan menjelang Tahun Baru belakangan ini. Pak Joko mengakui ini sebagai ‘kesalahannya’ dan bentuk tanggung jawab atas tidak tertanganinya masalah kemacetan yang terjadi di akhir tahun 2015 ini.

Ya, contoh diatas adalah ‘sebagian’ kesalahan-kesalahan yang terjadi di lingkungan pemerintahan, yang menjadi contoh baik bagaimana seorang pimpinan berlaku. Kalau tidak mampu menjalankan amanat, lebih baik mundur dan memberi kesempatan yang lain. Terlepas kesalahan itu murni karena personal error, ataupun adanya intervensi dari pihak yang lebih kuat.

Lantas, apa contoh kesalahan dari dunia hiburan mancanegara? Ya benar, apalagi kalau bukan pengumuman pemenang Miss Universe yang dramatis itu. Minggu malam kemarin, Miss Colombia Ariadna Gutierrez dinobatkan sebagai Miss Universe 2015, mahkota pun telah disematkan dan selendang gelar diselempangkan kepada wanita 21 tahun itu. Tak disangka, ternyata bukan Miss Colombia yang seharusnya meraih gelar tersebut. Melainkan Miss Philippines Pia Alonzo Wurtzbach.

Ternyata, kesalahan terjadi pada host Steve Harvey, yang keliru menyebutkan peraih gelar Miss Universe 2015. Kejadian langka dan fatal, yang tidak pernah terjadi di ajang-ajang sebelumnya. Meski, saat itu juga Steve Harvey langsung meminta maaf dan mengakui kesalahannya, di depan ratusan wartawan dan disiarkan secara langsung di televisi internasional.

Begitulah, berbuat kesalahan itu bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Yang membedakan, tentu penyebab dan reaksi (yang muncul berikutnya) dari kesalahan tersebut.

Menarik untuk mengutip kata-kata Pak Mario “GoldenWays” Teguh, yang mengatakan: sesungguhnya bukan kesalahan yang membuat kita kesal kepada diri sendiri, tapi kecenderungan untuk membuat kesalahan yang sama. Karena memang, membuat kesalahan adalah manusiawi, tapi belajar dari sebuah kesalahan untuk tidak mengulanginya, adalah kualitas manusia yang bukan rata-rata. Membuat kesalahan yang sama adalah tanda lambannya pendewasaan diri, cara memperpanjang kesulitan dan menunda keberhasilan.


Rasanya benar adanya, kesalahan adalah hal yang manusiawi, bisa datang kapanpun dan oleh siapapun, no body’s perfect. Tetapi akan lebih baik lagi, kalau kita belajar dari kesalahan tersebut untuk ‘berbuat’ lebih baik lagi. Dan terpenting lagi, harus ada pertanggungjawaban dari kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Hikmahnya, mumpung sebentar lagi memasuki tahun baru 2016, tak ada salahnya kita introspeksi diri, siapa tahu selama 2015 ini banyak berbuat ‘kesalahan’, yang bisa diperbaiki di 2016. Begitu kan?
Share:

Rabu, 23 Desember 2015

Mirsani Niki Ta, Pak ?

Hampir dua minggu belakangan, tayangan televisi didominasi oleh berita gonjang-ganjing dari gedung rakyat (baca: DPR) Senayan. Dari awal, saya memang kurang interest dengan hal semacam ini, apalagi kasus ‘Papa Minta Saham’ yang melibatkan Pak Setnov – aslinya sih Setya Novanto – sebagai Ketua DPR, sampai disidangkan di Majelis Kehormatan Dewan segala. Lebih lagi, sidang yang disebut-sebut ‘lebih lucu’ dari tayangan komedi di layar kaca, koq ya ditayangkan secara live di televisi dengan durasi yang berjam-jam.

Saya memang nggak ngerti politik. Tapi, dari kasus ini, saya jadi antusias mengamati media masa – cetak dan elektronik – yang seakan mendapat santapan lezat dari mencuatnya kasus ‘terbesar’ akhir 2015 ini. Lihat saja, ratusan judul berita, puluhan artikel, dan jutaan rekaman percakapan di televisi maupun media sosial, menjadi viral atau trending topic. Bisa jadi karena kasus ini melibatkan elemen masyarakat penting lain, seperti pengusaha, civil society ataupun para demonstran di jalanan.

Mungkin, satu segi positif yang bisa didapat, dari kasus yang melibatkan pimpinan tertinggi legislatif, adalah ending dengan mundurnya seorang ketua DPR yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah politik Indonesia. Ini membuka tradisi yang baik untuk penguatan demokrasi di Indonesia. Setidaknya, Pak Setnov sudah ikut menumbuhkan tradisi mundurnya pejabat publik, setelah terindikasi melakukan pelanggaran etika jabatan, apalagi melanggar kewenangan jabatan.

Waduh.., koq jadi serius gini ya? Beginilah kalau topik yang kurang ‘sreg’ dibahas di ‘Secangkir Teh’ bawaannya jadi tegang dan serius. Tapi ya ndak apa-apa, sesekali kita memang harus peduli dengan kepentingan bangsa dan negara, untuk hal yang lebih baik. Perkara kepedulian kita ini dianggap atau tidak, ya – lagi-lagi – kembali ke nurani para pemegang dan pembuat (aturan) kekuasaan negeri ini.

By the way, sebenarnya ada hal yang lebih menarik, yang mencuat di tengah gencarnya pemberitaannya ‘Papa Minta Saham’ tadi. Yaitu, kasus terbongkarnya prostitusi online yang melibatkan artis, dengan ‘korban’ tangkap tangan adalah artis seksi Nikita Mirzani dan Puty Revita yang mantan finalis Miss Indonesia. Begitu Bareskrim Mabes Polri mengekspose kasus ini ke publik, dunia infotainment seperti mendapat durian runtuh, sebuah berita dengan status ‘very important’ dan wajib tayang.

Entahlah, apa menariknya dari kasus ‘prostitusi online’ ini. Toh beberapa bulan sebelumnya juga sudah (pernah) diungkap kasus serupa, yang melibatkan korban dari kalangan artis juga, yaitu Amel Alvi, Tyas Mirasih, dan Sinta Bachir, dengan terdakwa sebagai mucikari adalah Robby Abbas. Sepertinya,  dunia infotainment lebih getol mengorek berita ‘negatif’ selebriti, dibanding memberitakan hal positif seperti halnya keberhasilan studi atau prestasi seorang artis yang mendapat penghargaan, misalnya.

Yang pasti, pemberitaan yang sudah ‘out of frame’ dari media -- eletronik, cetak dan online – terhadap kasus negatif selebritis, justeru dimanfaatkan si artis untuk ‘membela diri’. Yang menggelikan, ketika diwawancarai wartawan atas kasus yang menjeratnya, Nikita Mirzani dengan percaya diri mengatakan bahwa  kasusnya sengaja di blow up besar-besaran hanya untuk ‘pengalihan issue’ kasus yang menimpa politikus Pak Setnov. Lho, ini jawaban cerdas atau konyol sih? Emang dia siapa?


Ya sudahlah, kekonyolan dari berita politik dan selebritis Indonesia ini makin menguatkan ke-tidaksimpatik-an saya pada tayangan televisi yang sudah over dalam mengabarkan kejadian yang ada. Bahkan, Mas Rico yang tahu ‘kebencian’ saya pada tayangan infotainment di televisi – justeru memergoki saya nonton kasus Nikita Mirzani di saat makan siang – sempat menyindir, “Mirsani niki ta, Pak?” (bahasa Jawa = Melihat ini ya, Pak?). Saya hanya tersenyum hambar. Kena deh !
Share:

Selasa, 22 Desember 2015

Menyoal 'Tajamnya' Lidah Mertua

Sudah agak lama sebenarnya saya 'menyimpan' tema tulisan -- tentang mertua -- ini, untuk bisa dimunculkan dalam 'Secangkir Teh'. Ya, alasannya banyak. Salah satunya, menunggu momentum Hari Ibu, supaya pas dengan suasana dimana banyak orang berlomba-lomba memuliakan sosok ibu, pada hari yang istimewa itu. Setidaknya, menurut saya, (ibu) mertua itu bagian dari orang tua, yang juga wajib dimuliakan.

Terus terang, sampai saat ini saya tidak habis fikir dengan 'pandangan' di masyarakat, bahwa mertua -- terutama ibu dari istri/suami -- selalu digambarkan dengan sosok yang (maaf) nyinyir dan selalu ikut campur urusan anak dan menantunya. Coba perhatikan di film atau sinetron kita, penggambaran mertua selalu stereotype, yaitu wanita tua cerewet, keras kepala, pemarah, dan mau menang sendiri. Pokoknya, wanita berlidah tajam. Demikian juga di dongeng, ibu mertua selalu digambarkan dari sisi negatifnya, sejajar dengan ibu tiri yang diposisikan sebagai wanita jahat.

Saya tak hendak 'menggugat' penggambaran yang salah kaprah tersebut. Cuma, kalau toh benar sosok ibu mertua mempunyai sifat seperti itu, pasti ada alasan kenapa itu dilakukan. Karena, sebenarnya ada sisi positif dari sifat yang digambarkan secara verbal tersebut. Meski, ironisnya, sisi positif itu tidak pernah dipaparkan dengan jelas, sehingga tanpa disadari, image ibu mertua yang nyinyir tadi makin melekat di masyarakat.

Sisi positifnya, menurut saya, adalah rasa sayang -- yang kadang memang berlebih -- dan 'ketakutan' orang tua (baca: ibu) terhadap anak. Benar, takut anaknya tidak bisa menjalani bahtera rumah tangga dengan lancar, sehingga kadang nampak selalu ikut campur semua urusan. Hal manusiawi, kalau orang tua 'melindungi' anaknya, walau tanpa disadari kalau anaknya sudah dewasa dan berhak mengatur rumah tangga sendiri.

Kalau mau jujur, siapapun yang sudah menjalani rumah tangga, pasti 'pernah' merasakan kasih sayang tulus dari sosok ibu mertua. Entah itu mengajarkan cara merawat bayi, mengajar memasak, atau bahkan membantu mengasuh anak cucu, tanpa pamrih. Kalau ada kesan cerewet dan banyak mengatur, tentu itu bagian dari kasih sayang orangtua yang menginginkan hal terbaik bagi anaknya. Harus dipahami, itu adalah sifat normatif orang tua yang tak rela 'kehilangan' anak untuk 'diambil' menantunya. Tak lebih dari itu.

Sebagai ilustrasi, saya pernah membaca status teman di facebook yang begitu emosional menulis rasa terima kasihnya pada ibu mertua yang telah membantu 'menuntun' dan mengarahkan biduk rumah tangganya, sehingga keluarganya bisa rukun dan langgeng. Bahkan, di status panjang itu, juga terungkap rasa takjub pada mertuanya yang sederhana dan berpendidikan rendah, tetapi mampu menjadikan ke-7 putra-putrinya jadi sarjana, yang salah satunya adalah suaminya.

Juga, ada satu pembaca 'Secangkir Teh' yang curhat bahwa dia betapa hormat dan salut pada ibu mertuanya, karena berhasil mendidik cucu-cucunya menjadi anak yang santun, penurut dan hormat pada orangtua. Padahal, pembaca ini -- wanita karier yang sibuk dengan pekerjaannya, demikian juga suaminya -- sudah mencoba dengan berbagai metode mengasuh anak, tapi tidak berhasil 'menaklukkan' ke-3 anaknya. Justeru di tangan ibu mertua yang sederhana, anak-anaknya menjadi anak sholeh dan sholihah.

Apakah dua contoh kasus diatas hanya unsur kebetulan? Atau, barangkali ada pembaca yang sinis bilang, "Ah itu kan terjadi pada sebagian kecil keluarga saja. Masih lebih banyak yang konflik dengan mertua." Yup, bisa jadi benar. Tetapi sebaliknya, tidak dapat dipungkiri, bahwa seberapa kecilnya itu, peran (ibu) mertua pasti 'sempat' mewarnai perjalanan sebuah rumah tangga anaknya. Tentu dalam koridor positif.


Jadi, sungguh keterlaluan -- dan kejam -- kalau 'lidah' mertua digambarkan begitu tajam, seperti nama tanaman hias yang keras dan ada duri di ujungnya. Saya jadi penasaran, siapa yang ngasih nama 'lidah mertua' pada daun pedang-pedangan tersebut. Pasti dia nanti 'kualat' pada (ibu) mertuanya. Lho?
Share:

Selasa, 01 Desember 2015

Second Opinion Itu (Juga) Hak Pasien

Ada yang menarik dari curhat teman sekerja – Mas Andik, kemarin sore – yang galau karena putranya yang baru menginjak kelas 1 SMA harus (segera) menjalani operasi usus buntu. Setidaknya, menurut Mas Andik, itu adalah hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter di salah satu klinik yang ada di pinggiran Jakarta. Karena saya kurang memahami dunia medis, maka hanya bisa membesarkan hati Mas Andik supaya sabar dan berfikir jernih.

Dalam kondisi psikologi Mas Andik yang kurang stabil itu, saya juga mencoba memberi masukan, agar tidak buru-buru ‘menyetujui' operasi bagi putranya tersebut. Karena, kalau memang ada cara selain operasi – minum obat secara intensif misalnya – kenapa tidak dilakukan? Untuk itu, saya sarankan membawa putranya ke dokter lain dulu, untuk mendapatkan 'second opinion'. Ya semacam pendapat atau pandangan lain gitulah.

Karena, bagaimanapun juga, mencari 'second opinion' adalah hak setiap pasien. Apalagi bila pasien merasa mengalami persoalan kesehatan 'besar' karena diagnosis penyakit yang serius, atau diharuskan menjalani operasi misalnya. Selain itu – ini menurut buku yang pernah saya baca -- pasien juga dapat mencari 'second opinion' bila merasa mengalami persoalan kesehatan yang tidak mengalami penyembuhan sebagaimana yang diharapkan, ataupun tidak puas dengan pelayanan dan pengobatan yang diberikan. Pendeknya, untuk setiap jenis ketidakpuasan saat berhubungan dengan dokter, pasien memiliki hak untuk mencari 'second opinion'.

Tidak perlu terlalu jauh untuk mencari contohnya. Beberapa tahun silam – ini juga saya ceritakan ke Mas Andik kemarin – ketika putra kedua saya masih berumur 4 bulan, mengalami demam yang tidak berangsur membaik selama 3 hari. Karena takut terjadi apa-apa, saya bawa ke RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hasilnya, harus dirawat. Ironisnya, di RSUD tidak ada kamar kosong, kecuali paviliun dan kelas I. Saya menolak dan minta dirujuk ke rumah sakit yang masih ada di sekitaran Jakarta Timur. Setali tiga uang, di rumah sakit swasta ini putra saya didiagnosis ada kelainan (penyempitan) saluran kencing, sehingga harus dikhitan (baca: sunat) hari itu juga.

Panik, tentu saja. Bukan masalah biaya atau dikhitannya, tapi saya kasihan dengan usia 4 bulan yang sudah harus dikhitan. Saya – dan istri, tentu saja – minta waktu sehari untuk menentukan setuju atau tidaknya. Malam itu juga, dalam kondisi masih demam, saya bawa putra saya ke dokter umum yang ada dekat rumah, di Ciracas (Jakarta Timur) sebagai upaya mencari second opinion. Setelah melakukan pemeriksaan yang mendetail, akhirnya dokter senior itu dengan panjang lebar menjelaskan bahwa tidak terjadi penyempitan di saluran kencing, kemungkinan karena radang atau apa gitu. Alhamdulillah, setelah minum obat selama dua hari, putra saya sembuh. Dan baru dikhitan ketika usia 8 tahun, 2 tahun silam.

Begitulah, second opinion telah ‘menyelamatkan' putra saya dari keharusan dikhitan usia 4 bulan. Artinya, sekali lagi, bukan berarti saya tidak percaya dengan dokter yang telah memeriksa dan mendiagnosis ‘penyakit' anak saya. Tetapi, semata-mata untuk memberikan keyakinan dan kepastian, bahwa segala sesuatu yang diputuskan – baik oleh dokter maupun pasien – tidak akan memberikan rasa penyesalan di kemudian hari. Apalagi yang berhubungan dengan kesehatan dan nyawa.

Sambil menulis ‘Secangkir Teh' ini, saya jadi teringat tulisan dr. Iqbal Mochtar dalam buku ‘Dokter Juga Manusia', yang mengungkapkan bahwa dokter itu juga manusia biasa. Dia punya keterbatasan. Tidak ada seorang dokter sehebat apapun, yang mengetahui dan ahli dalam segalanya. Karena itu, pada setiap upaya diagnosis dan pengobatan yang dilakukan dokter kemungkinan ‘room for error' (ruang kesalahan) selalu ada. Semua dokter pun sadar betul akan hal ini, dan karena itu, tidak ada dokter yang perlu merasa tersinggung bila ada pasien mereka yang mencari second opinion.


Nah, anda sendiri – para pembaca – adakah yang punya pengalaman (mencari) second opinion?
Share:

Rabu, 04 November 2015

Meributkan Tempe Mendoan, Mengulang Kesalahan

Tadinya, saat 'berita' ini muncul di media online beberapa hari lalu, saya bacanya sambil tersenyum. Lha hiya, hanya masalah 'mendoan' -- yang dipatenkan secara perorangan oleh Fudji Wong, yang asli Purwokerto -- koq ya diributkan. Begitu yang ada di benak saya. Tapi, nyatanya tidak seperti yang saya bayangkan, karena dalam dua hari ini, topik mendoan makin heboh saja.

Eh hiya, supaya tidak penasaran, 'mendoan' itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan: Tempe yang dipotong tipis lebar, dicelupkan ke dalam adonan tepung berbumbu, kemudian digoreng setengah matang.

Nah, tentu saja yang paling heboh atas berita tersebut, seperti biasa, adalah di media sosial. Lalu lintas cuitan di twitter dan share komentar di facebook, seperti tak ada hentinya. Intinya sama, mereka -- terutama masyarakat yang berasal dari Banyumas dan sekitarnya -- tidak bisa menerima keputusan Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (Ditjen HAKI) Kemenkum HAM, yang memberikan hak eksklusif 'mendoan' kepada perorangan, yaitu Fudji Wong.

Karena, dengan diberikan hak ekslusif ini, maka pemilik -- dalam hal ini Fudji Wong -- bisa saja melakukan gugatan keperdataan bagi semua orang yang memakai kata 'mendoan'. Baik berdiri sendiri atau kata mendoan berdiri dengan kata lain. Atau, Fudji Wong akan menetapkan 'tarif' bagi siapapun yang akan menggunakan kata mendoan. Meski, Fudji Wong mengaku mendaftarkan merek 'mendoan' semata-mata agar merek 'mendoan' tidak keluar dari Banyumas. Sebab ia tidak ingin makanan khas itu diakui orang luar Banyumas, bahkan luar negeri.

Bagi saya, apapun alasannya, ini hal yang aneh, karena mendoan adalah nama makanan tradisional yang (bisa jadi) sudah ada sejak ratusan tahun silam, dan sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Apalagi berdasarkan Pasal 5 UU Merek, kata yang telah menjadi milik umum (domain public) itu tidak bisa didaftar sebagai merek.

Pasal 5 itu, selengkapnya berbunyi: Merek tidak dapat didaftar apabila Merek tersebut mengandung salah satu unsur: a. bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum; b. tidak memiliki daya pembeda; c. telah menjadi milik umum; atau d. merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya.

Celakanya, sesuai aturan yang ada, Dirjen HAKI tidak bisa begitu saja mencabutnya, kecuali ada gugatan dari pihak lain. Dan memang, warga Banyumas yang sangat kaget atas hak eksklusif ini -- melalui Bupati Banyumas, yang mewakili rakyat Banyumas -- akan melayangkan protes ke Kemenkum HAM. Dan Bupati Banyumas, juga akan mengadakan lomba memasak mendoan di Pendopo Kabupaten, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mendoan adalah makanan khas masyarakat Banyumas.

Cuma, saya melihat ada dua hal penting yang harus digaris bawahi, dan perlu menjadi perhatian. Pertama, masyarakat sangat responsif -- dalam menyikapi -- setiap kejadian yang mirip seperti ini. Apalagi jika melibatkan negara tetangga, yang beberapa kali melakukan 'klaim' terhadap warisan budaya kita. Padahal, dengan kejadian yang berulang, mestinya menyiapkan antisipasi dini, yaitu menginventarisir apapun warisan budaya (dan 'milik umum') yang harus dilindungi, supaya tidak 'direbut' pihak lain, apalagi oleh perorangan.

Kedua, 'belajar' lebih bijak dan berfikir jernih sebelum bertindak. Karena, sungguh lucu -- dan agak terlambat? -- kenapa baru diributkan, sedang pokok masalahnya sendiri sudah terjadi beberapa tahun silam. Maksudnya, Fudji Wong sebenarnya sudah memegang sertifikat merek 'mendoan' dari Ditjen HAKI sejak tahun 2010, dan akan berakhir pada tahun 2018 nanti. Kenapa baru sekarang, setelah lewat lima tahun, semua (seolah-olah) kebakaran jenggot?


Its okay, sekali mengulang kesalahan (mungkin) bisa dimaklumi. Tetapi, kalau selalu berulang, pasti ada 'sesuatu' yang salah. Sesuatu -- yang menurut Syahrini -- banyak maknanya. Mungkin, anda tahu (salah satu) makna 'sesuatu' itu?
Share:

Jumat, 30 Oktober 2015

Tak Selamanya Rasa Iba & Empati Diperlukan

Dalam salah satu tulisan -- di rubrik 'Secangkir Teh' ini juga -- saya pernah menceritakan pengalaman rohani saya. Yaitu, dalam satu hari yang sama, saya harus 'berkorban' dua kali, demi menolong orang lain. Padahal, boleh dikata, saat itu sebenarnya saya dalam kondisi yang 'tidak memungkinkan' untuk bisa membantu sesama. Di tulisan itu, saya mencoba berfikir positif, dan menganggap kejadian tersebut adalah 'ujian' dari Allah, yang harus dijalani dengan ikhlas. Maksud saya, kita ambil hikmah (positifnya) saja.

Nyatanya, ada satu komentar -- dari beberapa yang ditulis pembaca -- malah 'mementahkan' cerita saya, dengan argumen bahwa kejadian yang saya alami adalah hal biasa terjadi di Jakarta. Dengan kata lain, modus mencari keuntungan pribadi (baca: penipuan) dengan memanfaatkan mudahnya kita merasa iba pada penderitaan orang lain, sudah bukan hal aneh lagi. Bahkan, Mbak Dewi Tity, yang menulis komentar tersebut, juga memberikan contoh lain dari modus 'penipuan', yang memanfaatkan rasa empati pada penderitaan orang lain.

Tentu, saya tak hendak memperpanjang cerita tersebut. Karena, di blog ini pun sudah pernah saya ulas cerita sejenis, tentang fenomena 'manusia gerobak', yang ujung-ujungnya dijadikan modus cara baru dalam mengemis. Ya, saya hanya bermaksud menjadikan cerita tersebut sebagai 'pengantar', bahwa sesungguhnya tidak semua orang memanfaatkan 'kemiskinan' sebagai modus untuk mengetuk rasa iba dan empati kita.

Sebagai contoh -- lagi-lagi saya 'mengutip' pengalaman Mbak Dewi Tity -- adalah sosok seorang nenek yang tiap hari jualan di pinggiran tempat parkir motor Blok F (pusat belanja grosir Tanah Abang, Jakarta), dalam 6 tahun terakhir. Dengan hanya beralaskan plastik kresek untuk menggelar dagangan, nenek berusia 60-an tahun itu berjualan hasil kebunnya sendiri, seperti: pisang, daun pisang, daun pepaya, daun singkong, ubi, bahkan (kadang) cuma daun ubi dan lenjer saja.

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari nenek tersebut, tak ubahnya pedagang kaki lima umumnya, yang jumlahnya ratusan di Tanah Abang. Tetapi, berbekal rasa penasaran, Mbak Dewi Tity berhasil mendapat fakta, bahwa nenek itu seorang janda yang tiap hari harus menempuh perjalanan pergi-pulang dari Rangkas Bitung -- nama daerah di wilayah provinsi Banten -- naik kereta ke stasiun Palmerah (Jakarta), dilanjutkan naik mikrolet ke Tanah Abang, dengan membawa dagangannya. Jauh dan melelahkan.

Dengan hasil dagangan berkisar 50 sampai 60 ribu rupiah per hari, nenek tersebut harus mengeluarkan biaya transportasi Rangkas Bitung - Tanah Abang (PP) sebesar 30 ribu rupiah per harinya. Untuk makan siang, nenek yang selalu nampak sehat itu, membawa bekal teh manis, nasi dan lauk ala kadarnya, bahkan sering hanya dengan krupuk saja. Hebatnya, dengan kondisi seperti itu, nenek yang sebenarnya punya beberapa anak yang semuanya sudah bekerja -- tetapi tidak mau membebani anak-anaknya tersebut -- justeru tidak pernah 'menjual' cerita sedih pada siapapun yang mengajaknya bicara.

"Saya selalu ketemu nenek itu, dan sempat ngobrol, karena lokasi dagangnya dekat tangga ATM Mandiri," ujar Mbak Dewi Tity, yang memang rutin belanja dagangan di Tanah Abang, untuk bisnis online-nya. Bukannya apa, nenek itu menjadi 'istimewa' karena di area yang berdekatan dengannya, adalah 'kavling tetap' dari pengamen buta suami-istri, 'dipandu' anaknya yang masih muda. Serta pengemis, seorang ibu muda yang membawa bayi dan anak usia sekitar 2 tahun. Pemandangan yang sangat kontradiktif.


Begitulah, apa yang 'diceritakan' Mbak Dewi Tity diatas, sebenarnya juga hal biasa, yang terjadi di sekitar kita. .Tetapi, bahwa nenek tersebut tidak memanfaatkan situasi dan kondisi -- untuk mengeksploitasi rasa iba dan empati para pengunjung yang akan belanja di Tanah Abang -- seperti yang dilakukan pengamen buta dan pengemis muda, itu patut diapresiasi. Setidaknya, nenek itu masih punya 'harga diri', mencari nafkah dengan cara berdagang, sesuai kemampuannya
Share:

Kamis, 29 Oktober 2015

Pembekuan MEDIA: Robohnya 'Rumah' Kami

Entah sudah berapa kali, hari ini saya bertubi-tubi mendapat berita -- melalui inbox, whatsapp, twitter, juga facebook -- yang intinya Koran Kampus Mahasiswa (KKM) MEDIA Universitas Mataram 'dibekukan' oleh Rektor. Pertama, saya berterima kasih pada teman-teman yang masih menganggap saya sebagai bagian dari Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM), dengan mengirim pemberitahuan itu. Kedua, jelas saya kaget dan prihatin, karena KKM MEDIA adalah 'kawah candradimuka' yang menggembleng saya, menjadi penulis yang punya prinsip dan berkarakter.

Saya memang membaca alasan pembekuan koran kampus, yang sudah banyak melahirkan jurnalis handal ini. Meski, hanya dari satu pihak saja. Sehingga, saya tidak dalam posisi mendukung siapa, atau 'menilai' siapa yang benar siapa salah. Apalagi, lebih 24 tahun saya tidak update perkembangannya, sehingga berita (yang tiba-tiba ini) hanya bisa membuat saya prihatin, dan membuka kembali memori lama, bagaimana saya ikut 'jatuh bangun' mengelola KKM MEDIA.

Ya, kaget dan prihatin. Bagaimana mungkin di era keterbukaan ini, sebuah koran kampus -- yang notabene adalah produk dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berusia 28 tahun -- bisa dibekukan oleh pihak rektorat? Pasti ada something wrong, ada yang tidak benar. Dan saya, lagi-lagi, tidak dalam kapasitas mencari dimana salahnya. Saya hanya merasa aneh, koran ini lahir tahun 1987 di era orde baru, yang sangat represif dan 'ganas' pada pers umum dan kampus yang (dianggap) vokal. Tapi, nyatanya aman-aman saja, meski menyajikan berita yang tak hanya membuat merah telinga pihak kampus (baca: rektorat), tetapi juga pemerintah daerah setempat.

Masih segar dalam ingatan saya -- diawal saya bergabung tahun 1988, angkatan ke-2 -- bagaimana KKM MEDIA menyajikan 'panasnya' pemilihan gubernur NTB, atau juga permainan Hak Pengelolaan Hutan (HPH) yang berakibat 'gundulnya' hutan di Lombok. Memang ada warning dari pihak rektorat, tapi tidak sampai dibekukan. Bahkan, saya sebagai Pemimpin Redaksi, pernah memimpin tim MEDIA melakukan liputan 2 minggu penuh, dalam demo dan kemah keprihatinan mahasiwa, di depan rektorat -- menuntut rektor untuk mundur -- yang dimuat dalam 4 halaman penuh KKM MEDIA. Tidak ada masalah, meski tim MEDIA sempat dipanggil ke Markas Komando Distrik Militer (Kodim).

Mungkin, pembaca 'Secangkir Teh' bertanya-tanya, kenapa pagi ini (tulisan) saya nampak begitu emosional. Ya, apa boleh buat, perasaan saya lagi sedih dan kecewa, mendengar berita dari almamater saya ini, utamanya UKM pertama yang saya ikuti di kampus. Sebab, untuk mengasah kemampuan di bidang kepenulisan dan jurnalistik, saya harus meniti dari bawah di KKM MEDIA. Mulai dari reporter, staf redaksi, redaktur pelaksana, pemimpin redaksi, sampai (jabatan tertinggi) pemimpin umum. Lewat KKM MEDIA pula saya -- mendapat kesempatan -- menyelesaikan pendidikan jurnalistik tingkat dasar, tingkat lanjut, dan tingkat pembina.

Bahkan, untuk menduduki posisi Pemimpin Redaksi, saya sempat dihadapkan pada posisi dilematis. Karena, pada saat bersamaan, saya diminta oleh Mas Eddy Margono -- Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi, saat itu -- agar bersedia dipilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa FE, periode berikutnya. Pemimpin Redaksi MEDIA dan Ketua Senat Mahasiswa FE, sama pentingnya. Tapi, akhirnya saya memutuskan, jurnalistik adalah 'dunia' saya.

Saya bercerita pada pembaca 'Secangkir Teh' -- dan mungkin pengurus & alumni KKM MEDIA yang juga baca tulisan ini -- tak ada maksud lain, kecuali sekedar mengingatkan, bahwa saya juga pernah 'berdarah-darah' dengan UKM ini. Sehingga, bagi saya, pembekuan KKM MEDIA, adalah sebuah pukulan yang tak terkira 'sakitnya', meski saya (lagi-lagi) hanya bisa prihatin.

Seperti yang saya tulis di twitter pagi ini, semoga ada solusi yang terbaik. Setidaknya, jangan sampai roboh dan tak berbekas, 'rumah' yang -- fondasinya -- dulu dibangun dengan susah payah. Sekecil apapun kontribusinya, saya tetap (merasa) menjadi bagian keluarga besar, yang mendiami 'rumah' itu.


Save KKM MEDIA UNRAM !
Share:

Rabu, 28 Oktober 2015

Pak Menteri, 'Bonus Demografi' Itu Apa?

Sebenarnya sudah berulang kali -- melalui beberapa tulisan di 'Secangkir Teh' -- saya memaklumkan, kalau agak enggan untuk membahas hal yang berhubungan dengan pemerintahan. Bukannya alergi, tetapi saya memang kurang paham dengan kebijakan, dan juga politik dalam negeri kita. Lagipula, saya ingin menjauhkan 'Secangkir Teh' dari tema sensitif, agar pembaca juga tidak terlalu berat mencerna setiap tulisan yang disajikan.

Tapi, hari ini, bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda ke 87, saya tergelitik juga untuk 'melawan' keengganan tersebut. Pemicunya, isi pidato sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Bapak Imam Nahrawi -- dibacakan dalam upacara tadi pagi, di semua instansi dan institusi yang menyelenggarakan upacara -- yang kebetulan saya simak dengan seksama, dalam upacara bendera yang saya ikuti di salah satu instansi pemerintah.

Dari rangkaian kata sambutan Menpora, yang (terkesan) penuh semangat dan optimis tersebut, saya menggaris bawahi ada dua hal menarik, yang menurut pemahaman saya agak 'janggal' dan perlu penjelasan lebih lanjut. Pertama, ajakan dan himbauan Menpora, yang menggugah semangat kepeloporan pemuda untuk ambil bagian dalam penanggulangan musibah kabut asap. Dalam hal ini, Menpora mengapresiasi dan -- mengajak para pemuda -- meneladani langkah konkrit Presiden Joko Widodo, yang memimpin langsung turun lapangan sampai ke lokasi titik api.

Menurut saya, jangan hanya 'menghimbau' semata -- apalagi memberi contoh Pak Jokowi, sebagai teladan -- tetapi Menpora juga harus memberikan teladan dengan (ikut) turun langsung ke medan bencana. Ajaklah para atlet dan artis (penyanyi/sinetron/film/model) yang kesohor itu, yang selama ini menjadi idola kaum muda. Para atlet jangan 'dimanja' dengan bonus saja. Demikian juga dengan para artis, jangan hanya bisa membuai generasi muda dengan 'mimpi' yang sering ditampilkan di layar kaca.

Menpora perlu mengajak mereka -- para atlet dan artis -- untuk menunjukkan empati pada korban bencana asap, dengan turun langsung ke lokasi bencana. Tidak sulit, karena ini memang domain Menpora. Kalau presiden saja mau turun langsung, kenapa menteri masih dalam tahap ‘menghimbau’ dari Jakarta? Kalau Menpora bisa memberi contoh, apalagi diikuti para selebritis dan olahragawan tenar, pasti para pemuda di negeri ini dengan sukarela akan menyingsingkan lengan, bahu membahu membantu sesama yang terkena musibah dan bencana.

Nah, yang kedua, saya menyoal ucapan Menpora bahwa negara kita sedang mendapatkan bonus, yang tidak semua negara dapatkan. Yaitu 'bonus demografi', dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar, sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak. Menurut Menpora, ini akan memberikan keuntungan, terutama menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Peluang besar menguasai pasar ASEAN, karena usia produktif atau angkatan kerja kita -- berdasar catatan BPS tahun 2013 -- mencapai 118,19 juta orang.

Lagi-lagi, pengetahuan saya yang tidak seberapa ini, ingin meminta penjelasan lanjutan pada Pak Menteri, apakah besarnya usia produktif -- yang disebut angkatan kerja tersebut -- sudah berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja yang mencukupi? Apakah angkatan kerja yang fantastis itu sudah dibekali (dan punya) kemampuan yang cukup, untuk bersaing dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN? Jangan-jangan malah 'tergilas' oleh tenaga kerja negeri jiran (baca: negara tetangga, sesama Asean) yang punya skill lebih baik dari kita.

Saya justeru melihat, 'bonus demografi' tak ubahnya sebuah bom waktu -- yang setiap saat bisa meledak -- dengan dampak terburuk adalah meningkatnya secara siknifikan angka pengangguran, jika pemerintah tidak jeli menangani masalah ini. Dan bonus demografi, menurut saya juga bukan sebuah 'berkah', tetapi musibah dari kebijakan sebuah pemerintahan. Karena, 'bonus demografi' ini bisa jadi (dampak) dari ketidakmampuan pemerintah untuk menekan laju pertambahan penduduk, melalui program-programnya dalam dua dasawarsa terakhir.
Share:

Selasa, 27 Oktober 2015

Kenapa (Masih) Ngurus 'Status' Orang

Supaya tidak salah persepsi, yang dimaksud 'status' -- pada judul diatas -- adalah status di facebook lho ya, bukan status-status lainnya. Bukannya apa, saya memilih judul diatas, karena menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak, dalam beberapa hari ini, setiap pagi saat buka facebook, saya masih sering membaca status yang isinya 'kemarahan' dan rasa jengkel, karena statusnya dikomentari 'miring' oleh teman yang lain. Bahkan, ada status kemarahan yang bersambung setiap harinya. Lucu membacanya, tapi bikin miris juga.

Ya, miris. Karena sebagai teman -- karena mereka masuk jaringan pertemanan saya, sehingga saya bisa membaca statusnya -- nyatanya saya hanya bisa jadi 'penonton' yang baik saja. Cukup membaca sambil tersenyum hambar dan mengelus dada, tanpa ada keinginan ikut terlibat didalamnya, dengan (mencoba) jadi penengah misalnya. Karena, menurut pemahaman saya, sulit menebak makna yang tersirat dalam sebuah status, meski ditulis dengan gamblang sekalipun.

Seperti saya tulis di 'Secangkir Teh' edisi terdahulu, bahasa tulis -- dalam sebuah status -- lebih sulit diartikan dibanding bahasa lisan. Hanya penulisnya sendiri, yang tahu dan bisa mengartikan. Itulah sebabnya, saya selalu mencoba mencerna maksud sebuah status, sebelum berkomentar. Karena, kalau sebuah status menjurus ke hal pribadi (ungkapan hati, yang sebenarnya tidak butuh komentar), saya cukup memberi 'like' begitu selesai baca statusnya. Tetapi, jika statusnya 'terbuka' untuk dikomentari, biasanya saya memberi komentar yang ringan-ringan saja.

Bukanya apa-apa, saya tidak ingin terjadi 'keributan' hanya gara-gara salah pengertian dalam berkomentar. Seperti yang dialami Mas Erdy -- sebut saja begitu, salah seorang teman FB -- yang empat hari lalu menulis status, berkeluh kesah pada Allah, atas musibah yang menimpanya. Menurut saya, ini tipe status yang tidak perlu dikomentari. Kalau toh harus dikomentari, tentu yang memberi semangat dan dukungan moril, jamaknya seperti itu. Tetapi, kenyataannya beda. Ada salah seorang temannya, yang memberi komentar 'menyakitkan', yaitu dengan menuliskan kata-kata, "Mati aja lo!".

Benar, media sosial -- seperti facebook ini -- ada di ranah ruang publik, sehingga siapapun bisa memberi komentar atas sebuah status, asal masih dalam satu jaringan pertemanan. Tapi, apakah hiya, kebebasan berkomentar itu sampai mengabaikan sopan santun dalam berkomunikasi dan bersosialisasi? Dalam contoh kasus diatas, dimana letak empati atas sebuah musibah yang dialami seorang teman? Kalau toh itu hanya bercanda, apakah tepat sebuah candaan 'kasar' dilontarkan pada teman yang sedang bersedih?

Memang, dalam rentang waktu delapan tahun saya 'bergelut' dengan facebook, kejadian semacam itu sering saya temui. Biasanya, kalau dimintai pendapat, saya hanya menyarankan untuk tidak ditanggapi atau blokir teman saja, supaya tidak berkepanjangan.

Cuma, itu bukan solusi tepat. Karena, yang diperlukan (sebenarnya) adalah kesadaran diri, apakah yang akan ditulis (sebagai komentar) itu layak dibaca orang lain di ruang publik apa tidak, menyinggung yang punya status apa tidak, atau kata-katanya beretika apa tidak. Terus terang, saya melihat masih ada kecenderungan pemakai facebook -- terutama dalam menulis status -- abai dalam hal yang sifatnya pribadi (privacy). Sehingga, ketika diumbar ke umum, akan rentan dengan komentar yang bias dan tidak terkontrol.

Begitulah, ketika ruang pribadi bukan lagi rahasia yang harus dijaga -- bahkan diumbar dan jadi santapan empuk infotainment di layar kaca -- maka jangan heran kalau media sosial (termasuk FB) ikut-ikutan 'sangat terbuka', baik dalam menulis status maupun berkomentar. Sebuah perilaku sosial yang kurang mendidik sebenarnya. Apalagi bukan rahasia lagi, kalau facebook di Indonesia juga (banyak) diakses anak-anak dan remaja.


Jadi, jangan heran kalau banyak (teman) yang 'ikut campur' urusan pribadi anda, kalau -- anda sendiri -- tidak bijak dalam menulis status di facebook. Coba saja!
Share:

Senin, 26 Oktober 2015

Antara Lupus, Permen Karet, dan Bakteri

Entahlah, setiap mendengar -- atau membaca -- kata Lupus, pasti 'gambar' yang muncul di benak saya adalah sosok cowok kerempeng berseragam putih abu-abu, baju dimasukkan hanya bagian depan dan bagian belakang dikeluarkan. Dengan dandanan rambut panjang berkuncir di belakang plus model jambul di depan, Lupus selalu membawa tas kain bertali panjang, berjuntai sampai paha. Dan, ini yang menjadi ciri khasnya, selalu mengunyah permen karet.

Benar, untuk yang 'mengalami' masa remaja tahun 80-an, pasti menebak itu sosok Lupus, tokoh rekaan penulis Hilman Hariwijaya, yang menjadi idola remaja jaman itu. Cerita Lupus, dimuat di majalah remaja Hai secara bersambung, dibuat novel, dan juga ada versi layar lebarnya. Saya suka (baca) Lupus, karena alur cerita yang lepas, gaya dan perangainya yang tengil, konyol dan cuek, pas banget dengan jiwa remaja SMA yang (maunya) bebas.

Dan lewat (gambar) sosok Lupus ini pula -- untuk pertama kalinya -- saya berani 'mengkritik' kebijakan sekolah, melalui majalah sekolah Widya Wiyata. Spontanitas saja, meski beberapa waktu setelah majalah terbit saya menyesal juga, apalagi Pak Agus Sarsilo (Wakasek Kesiswaan, saat itu) memberikan reaksi lumayan keras, atas kritik yang saya buat tersebut. Tetapi, kejadian itu, menjadi pelajaran sangat berharga bagi saya, untuk tetap menggunakan 'hati' dalam menulis kritik, bukan emosi yang meledak-ledak.

Cuma, gara-gara kegemaran Lupus -- yang suka mengunyah dan membuat balon permen karet -- dan ditiru teman-teman SMA saat itu, membuat saya dibuat repot, dan kesal setiap lihat permen karet. Bagaimana tidak, teman-teman membuang 'sampah' permen karet sembarangan. Ditempel di bawah meja, di sandaran kursi, di tembok, atau juga di lantai kelas. Sehingga, celana abu-abu saya jadi 'korban' permen karet. Bukannya apa, mau beli celana lagi koq ya sayang, karena sudah kelas 3, tanggung.

Dan, hampir tiga puluh tahun setelah kejadian itu, sikap saya agak melunak terhadap permen karet. Itupun setelah membaca artikel di Tabloid Kontan, bahwa berdasar hasil penelitian di Belanda, ternyata mengunyah permen karet selama 10 menit, bisa menghalau bakteri. Tepatnya, ditemukan sekitar 100 juta bakteri terperangkap di setiap kunyahan permen karet. Artinya, ini benar-benar membuat hanya sebagian kecil bakteri saja, yang tinggal di dalam mulut.

Menurut Stefan Wessel, yang melakukan penelitian, dengan berkurangnya bakteri di mulut, tentu dapat meminimalisir risiko gigi berlubang, gusi lebih sehat, dan aroma napas yang lebih baik. Ini karena ketika permen karet dikunyah, akan membersihkan plak dan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi. Apalagi, aktivitas mengunyah juga merangsang produksi air ludah. Karena air liur adalah antimikroba, ia bekerja untuk membunuh bakteri di mulut dan juga menjaga jaringan gusi tetap sehat.

Tentu saja, tidak semua jenis permen karet efektif (bisa) 'membunuh' bakteri di rongga mulut. Memang, untuk rasa dan warna kita bebas menentukan pilihan. Tapi, yang pasti, kita juga harus memilih permen karet yang bebas gula. Karena, pada permen karet yang mengandung gula, bakteri mulut akan memfermentasi gula, yang kemudian akan memproduksi asam dan melemahkan gigi. Sebaliknya, pemanis buatan dalam permen karet bebas gula, tidak akan memberikan reaksi yang sama.

Oh hiya, jangan lupa, waktu terbaik untuk mengunyah permen karet -- berdasar penelitian tersebut -- adalah selama 10 menit. Pasalnya, jika mengunyah permen karet lebih lama dari itu, bakteri yang sudah terjebak di dalam permen karet akan keluar kembali menyebar di dalam mulut.

Dan memang, saya tidak pernah menemukan 'jawaban' -- dari semua buku serial Lupus yang sudah saya baca -- berapa lama Lupus mengunyah permen karetnya, juga kenapa dia hobi membuat balon permen karet. Yang pasti, kalau saat ini saya suka mengunyah permen karet, bukan karena mau jadi Lupus. Tapi, semata-mata untuk kesehatan. Apalagi saya tidak minum kopi dan merokok, jadi permen karet ini -- jadi alternatif -- penggantinya.
Share:

Jumat, 23 Oktober 2015

Mencicip Belimbing, Primadona Agrowisata Ringinrejo

Gara-gara 'Secangkir Teh' menyajikan tulisan wisata petik jeruk di Desa Selorejo (Kabupaten Malang) -- edisi 18/09/2015, dengan judul: Sensasi Petik (dan Makan) Buah Jeruk Langsung dari Pohon -- sebuah pesan pendek (SMS) dilayangkan Bunda Rhizwan, ke saya. Intinya, di Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) juga ada agrowisata yang lebih unik, khusus petik buah belimbing. Diusulkan, agar saya juga membahasnya di 'Secangkir Teh'. Setidaknya, "Bisa menambah khazanah pembaca tentang obyek wisata agro yang ada di Jawa Timur," begitu tulis Bunda Rhizwan, teman masa SMP dulu.

Menarik juga, karena makin banyak obyek wisata yang (bisa) diekspos di media -- cetak, elektronik, online, maupun sosial -- makin berkembang pula potensi wisata, yang ada di negeri ini. Lagipula, informasi yang disampaikan Bunda Rhizwan, menunjukkan -- sekaligus 'mematahkan' persepsi sebagian pembaca -- bahwa saya sebenarnya tidaklah tahu segalanya. Pengetahuan saya terbatas. Kalau toh di setiap tulisan saya (seolah-olah) mengetahui dan menguasai banyak hal, itu karena saya masih terus belajar, saya tetap mencari referensi, untuk memperkuat data tulisan saya.

Termasuk Desa Agrowisata Belimbing, yang setelah membuka beberapa situs pariwisata di internet, ternyata benar lokasinya berada di Jawa Timur. Tepatnya di Desa Ringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Terus terang, saya belum pernah berkunjung ke tempat ini. Karena kalau mudik ke Malang pun -- menggunakan jalan darat, via jalur pantai utara -- tetap tidak melewati Bojonegoro, tetapi lewat Tuban dan Lamongan. Sehingga, agrowisata yang berjarak 12 kilometer dari kota Bojonegoro ini, lepas dari pantauan sebagai obyek wisata layak kunjung.

Namun demikian, dari informasi yang saya dapat, Desa Agrowisata Belimbing Ringinrejo, seperti layaknya obyek wisata agro pada umumnya, mempunyai lahan kebun buah belimbing yang cukup luas. Area lahan yang ditanami pohon belimbing seluas 20,4 hektar, dengan jumlah pohon 9.600 batang. Varietasnya pun beragam, yaitu belimbing varietas bangkok, siwalan, karangsari dan panyuran, yang dalam satu tahun bisa dipanen sampai 5 kali.

Sebagai obyek wisata agro andalan Kabupaten Bojonegoro, penataan Desa Agrowisata Belimbing ini cukup bagus. Karena di suasana sejuk kebun belimbing, pengunjung bisa memilih dan memetik buah belimbing sesukanya, dengan harga Rp 10.000 per kilogram, jika akan dibawa pulang. Keunggulan belimbing Ringinrejo, adalah rasanya yang manis dan segar, ditambah lagi kandungan airnya yang banyak.

Kalau toh malas memetik sendiri -- karena takut salah memilih belimbing, misalnya -- Desa Agrowisata Belimbing telah menyiapkan gerai yang menjual belimbing beragam ukuran dan kualitas, dengan harga Rp 7.000 - Rp 9.000 per kilogram. Tak perlu khawatir, untuk pengunjung yang hanya bermaksud santai dan melepas lelah saja, pengelola juga menyediakan gazebo yang representatif. Atau, untuk menikmati bekal yang dibawa dari rumah bersama keluarga, pengunjung bisa langsung menggelar tikar, lesehan di bawah rindangnya pohon belimbing.

Meski pengunjung hanya dikenakan biaya masuk Rp 1.000 per orang, nyatanya obyek wisata yang terletak di pinggiran sungai Bengawan Solo ini tetap dikelola dengan baik. Akses jalan ke lokasi yang rapi, ditambah fasilitas seperti bumi perkemahan dan paket wisata susur sungai Bengawan Solo dengan perahu, menunjukkan bahwa potensi di agrowisata ini sudah dieksplorasi dengan benar. Tinggal diperlukan kerjasama yang berkesinambungan antar instansi terkait -- dinas pengairan, dinas pekerjaan umum, dinas pariwisata dan budaya -- agar bisa bersaing dengan agrowisata yang sudah dikenal lebih dulu.


Lagi-lagi saya -- tanpa harus diminta -- mengapresiasi obyek agrowisata belimbing ini, yang tentu saja (menurut saya) bisa menjadi sarana edukasi keluarga. Dan harapan saya, mungkin harapan pembaca juga, makin banyak 'bermunculan' obyek wisata agro dengan komoditas yang berbeda. Bisa saja kan? Atau, anda (sudah) punya informasinya?
Share:

Kamis, 22 Oktober 2015

Saatnya Jadi Konsumen yang Pintar dan Jeli

Pagi ini, tiba-tiba terbersit di benak saya, ingin menulis tentang konsumen -- arti harfiahnya: pemakai barang hasil produksi -- yang selama ini masih lemah 'kedudukannya' terhadap produsen. Konsumen, ya kita-kita yang memakai barang dan jasa ini, sering tak berdaya ketika menemukan (atau bahkan mengkonsumsi?) produk yang tidak layak. Ironisnya, konsumen yang sudah jelas-jelas dirugikan, kadang masih saja dipersalahkan, karena dianggap tidak jeli membeli produk.

Memang, banyak orang menganggap ini masalah sepele. Tapi -- kalau dibiarkan terus-menerus -- hal sepele bisa menjadi 'besar', yang dampaknya pun akan makin sulit ditanggulangi. Misalnya, ketika tanpa disadari, makanan atau minuman yang kita beli di warung pinggir jalan, sudah lewat masa layak konsumsi (baca: kadaluwarsa). Kalau tetap kita konsumsi, karena tidak tahu sudah kadaluwarsa, bisa jadi akan menjadi 'masalah' baru, yaitu sakit perut. Dan tentu (akan muncul) efek-efek lain, yang intinya akan merugikan konsumen itu sendiri.

Ada satu pengalaman, yang saya alami berhubungan dengan produk kadaluwarsa ini. Yaitu, saat dalam perjalanan pulang ke Jakarta -- saya sekeluarga -- terjebak kemacetan parah di daerah wisata Puncak (Bogor). Karena putra saya yang masih balita haus, sedang persediaan susu di mobil sudah habis, akhirnya dibelikan susu coklat dingin (kemasan kotak) di toko kelontong pinggir jalan. Saat mulai minum, putra saya memuntahkan kembali, katanya tidak enak. Benar saja, setelah diteliti, ternyata susu kemasan itu susah lewat sebulan masa kadaluwarsanya.

Kalau dicari siapa yang salah, jelas toko yang menjual produk tidak layak konsumsi tersebut. Tetapi, untuk 'menuntut' penjual -- apalagi toko kelontong atau warung pinggir jalan -- tentu tidak mudah. Selain prosedur dan birokrasi yang kadang berbelit, juga perlu biaya untuk mengurusnya. Bahkan, untuk pedagang atau penjual produk makanan atau minuman tingkat pengecer, kadang malah lepas tangan. Naga-naganya, konsumen juga yang (tetap) disalahkan, karena dianggap tidak jeli dalam membeli produk. Konsumen, lagi-lagi dalam posisi lemah, posisi yang jarang disadari karena dianggap hal yang lumrah.

Nah, supaya kita -- para konsumen -- tidak terus-menerus ada di pihak yang 'dirugikan', ada baiknya untuk mengantisipasinya sejak dini. Konsumen harus 'pintar' dan jeli, sebelum membeli makanan atau minuman kemasan. Tidak perduli itu di hypermarket, supermarket, minimarket, atau toko kelontong maupun warung kecil. Karena, dengan cara ini pula, konsumen akan menjadi lebih 'kuat' dan mempunyai nilai tawar lebih tinggi. Utamanya 'keberanian' menolak, untuk tidak membeli barang yang dianggap meragukan dan/atau tidak layak konsumsi, maupun barang yang disangsikan dari segi kesehatan maupun higienisnya.

Caranya, ada beberapa. Tapi, yang paling sederhana -- dan efektif -- adalah dengan mencermati label kemasan, yang menyajikan informasi penting tentang produk tersebut. Biasanya, dalam kemasan produk makanan dan minuman, tertera informasi kandungan bahan makanan, mulai dari vitamin, protein, kalsium, juga garam dan gula. Bahkan, secara spesifik juga akan diterakan (kandungan) rendah kalori, rendah lemak, rendah kolesterol, dan bebas gula. Ini sangat bermanfaat bagi konsumen yang mempunyai jenis penyakit tertentu.

Patut menjadi perhatian, untuk jenis makanan dan minuman tertentu -- utamanya susu bubuk dan makanan instan untuk bayi -- adalah takaran saji. Karena, beda produk atau merek, beda pula takaran saji yang disarankan. Pun 'peringatan' lain, perlu untuk diperhatikan. Misalnya, kandungan alkohol, nonhalal, larangan konsumsi untuk ibu hamil, anak-anak, atau penderita penyakit tertentu. Dan, tentu saja tanggal produksi dan batas masa konsumsi atau kadaluwarsa, serta ada tidaknya nomor izin dari Badan POM RI.


Ribet? Tidak juga sih. Karena ini demi kepentingan kita, sebagai konsumen, untuk mendapatkan hak-haknya. Jadi, kuncinya -- untuk menjadi konsumen yang baik itu -- harus pintar dan jeli.
Share:

Rabu, 21 Oktober 2015

Merananya Toilet Umum di Ruang Publik Kita

"Lho, ini pagi-pagi koq sudah ngributin masalah toilet sih? Apa gak ada materi yang lain, Mas Prie?" Barangkali -- diantara pembaca -- ada yang berfikiran begitu, saat membaca judul diatas. Ya tidak apa-apa, itu wajar dan bisa dipahami. Karena, mungkin ada (sebagian) pembaca, yang merasa kurang nyaman masalah 'urusan belakang' dibicarakan secara terbuka, di forum umum seperti 'Secangkir Teh' ini. Meski, sebenarnya tidak 'tabu' juga, kalau masalah fasilitas sanitasi dasar masyarakat ini, dibahas dari sisi kepentingan publiknya.

Saya sengaja menyorot sarana toilet umum -- dalam konteks tulisan ini, bisa di kantor, di mall, di terminal, atau fasilitas umum lainnya -- karena mayoritas layanannya masih 'jauh' dari standar yang diharapkan. Maksudnya, kalau kita berkesempatan (atau terpaksa?) menggunakan fasilitas toilet umum, dimanapun itu, pasti ada saja yang dikeluhkan. Entah kebersihannya, ketersediaan airnya, lampu yang kurang terang, atau juga segi keamanannya. Bahkan, kadang peralatan yang mestinya harus ada, seperti keran air atau tempat cuci tangan, kadang malah tidak ada.

Begini, agar tidak bias -- dan sebagai contoh -- saya sedikit berbagi cerita masalah toilet umum, yang menurut saya kurang bagus perawatannya. Lokasinya, ada di lobby salah satu gedung perkantoran di Jakarta, tempat saya bekerja. Sebagai fasilitas (umum) yang diperuntukkan para karyawan (dan para tamu) yang berkantor di gedung ini, secara umum memang bagus, baik dari segi perlengkapan maupun kebersihannya. Tetapi, ada yang yang kurang diperhatikan. Keran air untuk toilet laki-laki sering macet, sehingga saat ditekan tidak keluar airnya. Ini sangat mengganggu dan memberi kesan 'kurang menyenangkan' bagi penggunanya. Anehnya, itu berlangsung lebih dari dua bulan, tanpa ada tanda-tanda diperbaiki.

Ironis, karena untuk sebuah gedung perkantoran, yang banyak dihuni pekerja ekspatriat, tidak seharusnya toilet umumnya bermasalah. Pertanyaannya, kalau di gedung perkantoran yang megah saja, masih belum maksimal dalam 'merawat' fasilitas umum, bagaimana dengan toilet umum yang ada di pusat perbelanjaan, stasiun kereta, pasar swalayan, ataupun terminal bus?

Pembaca pasti lebih tahu jawabannya. Menurut perkiraan saya, jawabannya pasti tak jauh dari kesan kurang menyenangkan. Yaitu -- jawaban yang mungkin paling banyak dilontarkan - adalah masih minimnya perawatan dan pemeliharaan kebersihan. Serta, kurangnya ketersediaan sarana pendukung, seperti air bersih, wastafel, tisue, gayung, lampu penerangan dan (mungkin) juga keset. Satu hal, yang semua itu sering dianggap lumrah, baik oleh pengelola maupun pengguna. Padahal, ketersediaan peralatan tersebut, adalah demi menjamin kesehatan pemakaian.

Bayangkan, toilet umum yang kurang bersih dan tidak terawat -- bisa juga dikatakan 'tidak sehat' -- pasti akan menjadi sarang kuman dan bakteri pembawa berbagai macam penyakit, bagi para penggunanya. Seperti, penyebab keracunan makanan (Salmonella listeria dan bacillus), penyebab penyakit flue (Rhinovirus), penyebab infeksi diare pada anak (Rotavirus), dan juga penyebab infeksi pernafasan (Respiratory syncytial virus). Belum lagi jamur Candiada, yang menjadi penyebab penyakit pada area kelamin, yang biasanya juga menular lewat toilet yang kotor.

Yang pasti, menurut hemat saya, untuk mendapatkan toilet umum yang bersih dan berkualitas, diperlukan sebuah perhatian khusus -- dan kesadaran tinggi -- dari semua pihak. Baik pengelola dimana fasilitas itu berada, maupun masyarakat penguna fasilitas itu sendiri. Ya, pengelola harus menyadari, bahwa toilet umum bukan hal sepele, yang tidak sekedar dibuat dengan konsep 'yang penting ada'. Lebih dari itu, harus diperhatikan segi kebersihan, kesehatan, dan kenyamanannya.

Sebaiknya, kita -- sebagai pengguna -- ya harus tertib dan tidak sembarangan (baca: jorok), karena mentang-mentang sudah bayar, misalnya. Apakah bisa, ya saya kembalikan ke anda, para pembaca, untuk menjawabnya. Gampang kan?
Share:

Selasa, 20 Oktober 2015

Rumput Tetangga Selalu (Nampak) Lebih Hijau

Rasanya kangen juga, setelah selama seminggu, saya 'mangkir' -- menulis dan menjumpai -- pembaca 'Secangkir Teh'. Lagi-lagi, saya harus mengalah, pada urusan yang memang harus diprioritaskan. Yang tujuannya, salah satunya, untuk kepentingan jangka panjang rubrik 'Secangkir Teh' ini juga. Cuma, cerita lebih detailnya, saya akan buat dalam tulisan tersendiri, dalam beberapa hari ke depan.

Terus terang, selama 'libur' menulis, ide dan materi tulisan terus datang silih berganti, di kepala saya. Makin tidak saya hiraukan, makin 'berebut' untuk segera dituangkan dalam bentuk tertulis. Salah satunya -- ini yang sering terjadi di sekitar kita juga -- kebiasaan memandang kehidupan orang lain, yang (dianggap) lebih baik dari kehidupannya sendiri. Entahlah, apakah ini memang sudah menjadi sifat bawaan manusia, atau hanya pengaruh lingkungan semata, tetapi nyatanya sudah seperti wabah, yang sulit diberantas.

Tidak perlu terlalu jauh mencari contoh. Di lingkungan kerja misalnya. Ketika saya masih kerja di bagian promosi, kalau melihat teman di bagian design grafis -- biasanya mengerjakan materi iklan cetak dan label atau packaging -- rasanya senang banget. Kerjanya tiap hari koq 'main' komputer melulu. Browsing internet, edit gambar, dan hal yang (kelihatan) menyenangkan lainnya. Ketika hal ini saya sampaikan, dia malah berkata, "Jenuh juga Mas, saya justeru melihat teman-teman di bagian promosi itu lebih menyenangkan. Bisa bebas kerja di lapangan, tidak di ruangan terus."

Atau, kalau mau contoh, yang sering kita temui, adalah yang ada di lingkungan tempat tinggal sendiri. Tidak jarang kita -- atau orang lain, kalau tidak mau dibilang 'kita' -- merasa tetangga lebih beruntung kehidupannya, entah dari segi materi, pekerjaan atau dalam membina keluarga. Padahal, belum tentu (kenyataannya) seperti itu. Kita hanya melihat kulit luarnya, melihat 'hasil akhir' semata. Kita tidak pernah membayangkan proses yang dilalui tetangga tersebut, sampai bisa mencapai seperti sekarang ini.

Pun demikian sebaliknya. Bisa jadi, ada tetangga yang juga punya perasaan kagum sekaligus iri, melihat kehidupan kita sekarang ini. Tentu dengan alasan-alasan yang (hampir) sama, dengan apa yang kita pikirkan tentang tetangga yang 'lebih beruntung' tadi. Dalam masyarakat Jawa, hal semacam ini disebut 'sawang sinawang', saling melihat. Kita sering silau dengan keberhasilan, keberuntungan, dan kesuksesan orang lain. Sebaliknya, orang lain tersebut, tak menutup kemungkinan punya pandangan yang sama terhadap kita.

Begitulah, sebuah kehidupan yang mencerminkan ketidakpuasan dengan apa yang sudah didapatkan. Maksudnya, selalu tidak puas dengan hasil kerja keras yang sudah dilakukan. Karena (masih) membanding-bandingkan dengan keberhasilan orang lain, yang dianggapnya lebih beruntung. Sebenarnya, kalau dilihat dari perspektif yang berbeda, sikap ini lebih pada 'ketidakmampuan' seseorang -- saya tidak menyebut 'kita' -- dalam melihat kekurangan diri sendiri, sekaligus (juga) dalam melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Orang yang dianggapnya lebih enak hidupnya.

Cuma, kalau mau mengurai lebih lanjut -- masalah 'rumput tetangga' ini -- pasti tak akan pernah ada habisnya. Dan nampaknya, 'Secangkir Teh' bukanlah tempat yang tepat untuk membahasnya, apalagi sampai berlarut-larut. Jadi, menurut saya, cukuplah sekedar tahu, bahwa sangat sulit untuk 'membasmi' penyakit hati, yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat ini. Mungkin, yang bisa dilakukan, adalah berusaha untuk 'menghambat' agar tidak menjadi kronis.


Caranya, ya mulai belajar faham dan sadar diri, akan kemampuan diri sendiri. Kalau ada orang -- atau tetangga -- yang mampu mencapai hasil 'lebih', jadikan saja sebagai pemacu diri, untuk lebih keras lagi dalam usaha. Artinya, kalau rumput tetangga (selalu) lebih hijau, bisa jadi karena dia rajin menyiram tiap hari. Jadi, agar tidak iri dengan rumput tetangga, mulailah rajin 'menyiram' rumput sendiri. Apapun hasilnya, disyukuri saja.
Share:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com