SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 14 Mei 2017

Optimisme Mas Atma



Saat pagi ini aku membaca -- di laman berita online -- tentang kilas balik tragedi Mei 1998, yang memporak porandakan Jakarta dengan berbagai kekacauan, tiba-tiba aku seperti terkena trauma kecil. Peristiwa demi peristiwa yang menjadi catatan kelam ibukota negara 19 tahun silam, silih berganti bermunculan.

Saat itu, pembakaran, penjarahan, perkosaan (?), bukan lagi kabar burung, tetapi nyata. Beberapa peristiwa yang terjadi selama 3 hari (13-15 Mei 1998) tersebut, aku lihat dengan mata kepala sendiri. Sesuatu yang mencekam dan mengerikan, apalagi aku belum genap 4 tahun tinggal di ibukota.

Bukan itu saja, dampak lengsernya Pak Harto sebagai presiden tanggal 21 Mei 1998 -- yang menjadi tonggak runtuhnya rezim orde baru -- adalah krisis ekonomi yang semakin parah di negeri ini, yang sebenarnya sudah terjadi sejak setahun sebelumnya. Harga-harga melambung tinggi, barang kebutuhan sehari-hari hilang dari pasaran, dan perusahaanpun tidak memberi kenaikan gaji. "Tidak ada PHK pun sudah patut kita syukuri," begitu yang aku dengar langsung dari manajemen tempatku bekerja.

Sebagai gambaran, karena saat itu kami -- aku dan istri -- baru mempunyai momongan berusia 3 bulan, masih mengontrak rumah di pinggiran Jakarta Timur, dan istri juga sudah resign kerja dari perusahaan yang melakukan pengurangan karyawan, maka sangatlah berat menghadapi kondisi ekonomi negeri yang carut marut ini. Beberapa teman kuliah yang sama-sama 'berjuang' di ibukota bahkan lebih memilih pulang kampung, balik ke daerah masing-masing.

Pernah suatu malam, demi putriku yang berusia 3 bulan, aku harus berebut susu kaleng -- dengan beberapa ibu-ibu -- di supermarket Naga Swalayan, Ciracas. Masalahnya, stok yang dipajang di rak terbatas hanya 4 kaleng, sedang yang membutuhkan puluhan orang. Itupun setelah sukses keluar dari desak-desakan di pintu masuk supermarket, yang tak ubahnya sudah seperti pasar tradisional. Semua berebut belanja kebutuhan pokok, sebelum stok benar-benar habis dan menghilang di pasaran.

Disaat suasana yang penuh prihatin -- terutama dalam mengatur ekonomi keluarga -- itulah, tanpa sengaja aku bertemu 'teman' yang bisa diajak diskusi. Seorang pedagang kue onde-onde keliling. Adyatma namanya, aku biasa memanggil Mas Atma. Aku katakan tanpa sengaja, karena kebetulan saat bersih-bersih rumput sebelah rumah di hari Sabtu awal Agustus 1998, Mas Atma lewat dan menyapa dengan ramah, dan tentu saja sambil menawarkan dagangannya.

Karena baru pertama melihat pedagang onde-onde keliling lewat depan rumah, bukan pedagang somay atau bakso yang sudah aku kenal, aku berusaha dengan sopan menyambut sapaannya. Apalagi aku melihat ada 'keanehan' pada pedagang keliling yang usianya mungkin 5 tahun diatasku tersebut. Dandanannya cukup rapi. Meski hanya memakai kaos polo biru, celana jeans, sepatu kets dan topi hitam, serta ditambah handuk kecil warna biru yang dikalungkan di lehernya -- nampaknya juga berfungsi sebagai penahan tali kaleng tempat onde-ondenya -- tetap saja penampilannya tidak seperti pedagang keliling pada umumnya. Apalagi kulitnya yang putih dan bersih, seperti karyawan yang sudah terbiasa di ruangan kantor, dan jauh dari terpaan sinar matahari.

Minggu esok harinya -- karena masih penasaran dengan pedagang keliling yang mengaku tinggal di Cililitan, Jakarta Timur itu -- aku menunggu Mas Atma lewat. Benar saja, sekitar jam 11 siang Mas Atma lewat depan rumah dan langsung aku panggil. Aku minta mampir sejenak untuk sekedar melepas lelah, dan tentu saja aku membeli 10 biji onde-ondenya. Kami duduk di kursi plastik yang ada di teras rumah.

Meski baru kenal, dalam pembicaaan itu aku langsung menyampaikan 'ketidakpercayaan' bahwa Mas Atma adalah pedagang onde-onde beneran. Apalagi info dari istriku, para tetangga -- terutama ibu-ibu dan warga yang sering belanja di warung sebelah rumah -- menduga Mas Atma adalah pejabat atau intel yang menyamar sebagai pedagang keliling, yang sengaja terjun ke kampung-kampung untuk memantau gejolak masyarakat kelas bawah. Masuk akal juga, apalagi suasana negara juga baru mengalami pergantian presiden.

Jawaban Mas Atma cukup mencengangkan. Sambil tersenyum ramah, "Saya ini asli pedagang onde-onde keliling, Mas. Meski baru 2 bulan belakangan ini. Sebelumnya, yang saya jual adalah mobil," Mas Atma berkata dengan nada bercanda, tanpa bermaksud menyombongan diri. Dari cerita berikutnya, ternyata Mas Atma adalah Manajer Pemasaran sebuah showroom mobil ternama yang ada di Kebayoran.

Sayangnya dalam kerusuhan Mei 1998 kantor dan showroom dirusak dan dibakar massa, termasuk mobil pribadinya juga dihancurkan massa saat berusaha diselamatkan dari halaman parkir kantor. "Mungkin saya dikira dari etnis non-pribumi yang jadi sasaran amuk mereka. Padahal saya ini pribumi, saya juga muslim. Saya asli orang Palembang. Mereka hanya melihat kulit putih dan mata saya yang agak sipit," kali ini Mas Atma berkata dengan nada getir.

Dalam pembicaraan berikutnya -- setiap sabtu dan minggu selalu aku minta mampir untuk rehat sejenak -- Mas Atma bercerita bagaimana terpukulnya saat semua miliknya hilang seketika. "Pekerjaan, jabatan, mobil, bahkan rumah ikut ludes. Saya sengaja jual rumah untuk melunasi pinjaman bank, cicilan rumah dan keperluan istri serta sekolah 4 anak saya. Saya mending tidak punya apa-apa, daripada harus meanggung hutang pada bank. Kalau saya tidak saya lunasi semua, pasti akan tambah berat, karena bunga bank naik tanpa bisa diprediksi," papar Mas Atma, sarjana ekonomi lulusan salah satu universitas swasta di Jakarta.

Dan memang benar, kurs dollar Amerika yang awalnya stabil di kisaran 2.400 rupiah per dollarnya, tiba-tiba bisa melonjak sampai 21.000 rupiah per dollar.

Yang aku salut, tentu saja upaya cepat bangkit dari Mas Atma. "Jangan sekali-kali menyesali nasib. Semua sudah ada yang mengatur. Tugas kita itu berusaha dan berupaya. Selama kita berpikir optimis ke depan, pasti ada jalan untuk pemecahannya," ujarnya dalam satu kesempatan. Tentu Mas Atma tak sekedar beretorika, tapi sudah membuktikan ucapannya tersebut, yaitu dengan menjual rumah besarnya di Pasar Minggu -- dan melunasi semua kewajibannya di bank -- yang sisanya dipakai untuk membeli rumah kecil di Cililitan, juga untuk modal usaha bersama istrinya.

Ternyata tak hanya Mas Atma yang 'bertugas' jualan keliling, tapi istrinya juga buka gerai gerobak di depan rumahnya -- yang buka siang sampai malam -- dan 2 putrinya yang masih SMP bertugas mengantar dan menaruh titipan dagangan di warung tetangga dan kantin sekolah. Saling bahu-membahu. "Selama usaha kita halal, jangan pernah merasa minder atau malu untuk menjalankan. Kalau niat bangkit, jangan terbuai masa lalu, karena kita hidup untuk sekarang dan masa depan," begitu Mas Atma berucap, ketika aku bertanya prinsip menjalani hidup.

Begitulah, setiap bertemu selalu ada motivasi yang diberikan. Sayangnya, pertemanan dengan Mas Atma hanya sampai bulan ke-5 saja. Karena saat jualan keliling terakhirnya, pertengahan Januari 1999, Mas Atma menginformasikan -- sekaligus pamit -- kalau dia mendapat panggilan kerja di perusahaan spare-part kendaraan bermotor di Cikarang (Bekasi).

Dan setelah pertemuan itu, aku memang tidak pernah lagi berkomunikasi ataupun bertemu dengan Mas Atma. Bahkan, ketika aku kebetulan lewat depan rumahnya yang di Cililitan -- sekitar pertengahan 2008 -- rumah itu sudah berubah jadi ruko, yang menjual bahan bangunan.

Apapun kondisi Mas Atma saat ini -- aku yakin beliau sudah sukses seperti saat sebelum kerusuhan Mei 1998 -- satu ajaran yang selalu aku ingat adalah: dalam kondisi terpuruk sekalipun, kita harus tetap punya semangat dan pantang menyerah, untuk (segera) bangkit!

a, siapapun pasti juga setuju.
Share:

Minggu, 07 Mei 2017

Batas Kesabaran Pak Margo

Entah sebuah doktrin -- atau hanya persepsi mayoritas murid di hampir semua jenjang pendidikan dasar dan menengah -- nyatanya penilaian terhadap seorang guru selalu dilihat secara hitam dan putih semata. Seperti sebuah keping mata uang, guru selalu dinilai dari dua sisi yang berseberangan.

Kalau ada guru sabar, pasti ada guru galak. Ada guru yang murah senyum, pun ada yang selalu cemberut. Bahkan ketika ada guru yang murah memberi nilai, disisi lain ada guru yang pelit pada nilai. Begitulah, jarang ada yang dinilai sedang-sedang saja, atau gabungan dari keduanya.

Dan itu terjadi juga, saat aku baru menginjak bangku SMP. Satu kebiasaan yang hampir dilakukan seluruh murid baru adalah saling mencari informasi berbagai hal yang berhubungan dengan guru pengajar. Karena berbeda saat di SD yang hanya punya satu guru kelas -- ditambah guru agama dan guru olahraga -- maka di SMP semua mata pelajaran diajar oleh guru yang berbeda. Tak hanya informasi masalah nama semata, tetapi juga cara mengajarnya, kebiasaan saat di kelas, sabar atau galak, suka memberi PR apa tidak, sampai mencari info apakah guru tersebut suka menyuruh ke depan atau tidak.

Dari investigasi antar kelas tersebut, munculah satu nama yang ternyata sudah bertahun-tahun menjadi guru favorit -- bukan karena penampilannya yang keren atau cara mengajarnya yang bagus atau tidak -- yaitu Pak Margo Utomo, guru Bahasa Daerah, yang terkenal karena kesabarannya yang luar biasa.

Memang, beliau kalau menerangkan di depan kelas, suaranya tidaklah terlalu keras. Dan akan tetap menerangkan, walau muridnya pada bertingkah aneh-aneh. Mau ngobrol sendiri, mau main kapal-kapalan, atau malas-malasan dengan senderan di kursi, tidak akan ditegur dan cenderung dibiarkan. Paling-paling beliau cuma bicara, "Ayo cah, cubo nyimak neng papan tulis!" ( =Ayo anak-anak, coba perhatikan ke papan tulis!).

Kesabaran Pak Margo Utomo yang sudah terkenal seantero SMPN 1 Tumpang ini, kadang memang ada sisi positifnya, yaitu pelajaran Bahasa Daerah ( =Jawa) jadi mudah dicerna dan bukan lagi menjadi momok yang menakutkan. Dianggap menakutkan, karena murid harus menghafal dan bisa menulis aksara jawa, yang memang sudah sangat jarang dipakai.

Sedang sisi negatifnya, dengan kesabaran yang kelewat itu, murid menjadi kurang menghargai Pak Margo, sehingga yang muncul adalah perbuatan 'kurang ajar' murid terhadap guru. Misalnya saja, saat Pak Margo pulang mengajar mengendarai sepedanya di jalan raya, murid yang dilewati bukannya mengucap salam, tetapi malah beramai-ramai menggoda sambil menyoraki, sehingga Pak Margo kurang konsentrasi dan tertatih-tatih dalam mengendarai sepedanya.

Tetapi, sesabar-sabarnya Pak Margo, pernah juga meluapkan kemarahan yang luar biasa di kelas. Ini terjadi saat aku kelas 2. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, setiap selesai menjelaskan satu materi, Pak Margo akan menanyakan pada kami apakah sudah bisa dimengerti atau ada yang mau bertanya. Karena semua diam -- atau bisa jadi tidak menghiraukan pelajaran -- Pak Margo ganti bertanya kepada kami tentang materi yang baru dijelaskan.

Nah, ketika Herman mendapat giliran ditanya, sampai diulang beberapa kali oleh Pak Margo, tidak ada jawaban sepatah katapun yang keluar dari Herman. Malah murid yang berkepala botak ini menelungkupkan wajahnya ke meja. Merasa tidak dihiraukan, Pak Margo mendekati meja Herman yang persis disamping kanan mejaku. Bertanya lagi, tapi tetap tidak dijawab oleh Herman, yang belakangan baru ketahuan kalau Herman tertidur pulas di mejanya.

Dengan menahan amarah yang amat sangat -- terlihat dari wajahnya yang merah padam dan giginya yang bergemerutuk -- Pak Margo dengan kekuatan penuh melayangkan tangan kanannya untuk menggampar (nggibeng, bahasa Jawa) kepala Herman. Seluruh kelas langsung terdiam senyap. Menunduk ketakutan. Karena kami tidak menyangka Pak Margo bisa marah seperti itu. Herman yang kaget dan terbangun dari tidurnya, langsung menangis. Entah takut atau kesakitan. Pak Margo langsung berjalan ke mejanya, yang ada di depan kelas sebelah kanan.

Begitu sampai di depan kelas lagi, Pak Margo dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar meminta maaf atas perbuatannya, sambil mengatakan bahwa beliau tidak akan berbuat seperti itu kalau murid-muridnya tidak keterlaluan memperlakukannya.

Luar biasa, mestinya Herman -- dan kami sekelas -- yang harus meminta maaf pada Pak Margo, karena tidak menghormati guru di dalam kelas. Tapi nyatanya, justeru Pak Margo dengan kebesaran jiwanya mengaku khilaf berbuat kasar pada muridnya. Secara tidak langsung, Pak Margo sudah memberi contoh konkrit, sebuah teladan yang bukan sekedar retorika, bahwa guru -- yang sejatinya juga manusia biasa -- juga bisa salah, dan tak harus malu untuk meminta maaf, walau pada muridnya sekalipun.

Dan kejadian ini, adalah pelajaran yang sangat berharga bagi siapapun -- termasuk kami para murid yang saat itu ada di dalam kelas -- bahwa sifat sabar seorang guru bukan berarti tidak bisa marah dan boleh diperlakukan seenaknya. Sekali lagi, hari itu Pak Margo telah memberikan contoh teladan dalam bersikap sebagai seorang guru: menerangkan, menanyakan, menegur, bertindak, dan (kalau diperlukan) meminta maaf.

Sebuah sikap tegas yang harus ditunjukkan seorang guru, ketika murid-muridnya sudah -- mencoba untuk -- tidak menghargai gurunya sendiri!
***
----------


Innalilahi wa'inailaihi raji'un
Pada hari Sabtu sore, 29 April 2017, Pak Margo Utomo -- guru paling sabar sedunia, 
yang sejak pensiun mengajar di SMPN 1 Tumpang (Malang) belum ada lagi guru pengganti 
untuk pelajaran Bahasa Daerah -- telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang,
 meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya, di kediamannya: Desa Malangsuko, 
Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Semoga segala amal kebaikan, iman dan islamnya diterima Allah SWT, 
dan juga diampuni segala dosa-dosanya, Aamiin.
"Selamat jalan, Pak Margo.., jasa Bapak tidak akan pernah kami lupakan..!"
Share:

Sabtu, 29 April 2017

Nyanyian Hati Sari

Matahari sore yang sudah tidak begitu terik, membuat panggung seluas 4×6 meter yang berada di sudut halaman luas rumah teman kantor di daerah Cilangkap (Jakarta Timur) -- yang sedang punya hajat menikahkan putri tunggalnya -- semakin meriah. Beberapa pria berpakaian batik dan pemuda tanggung nampak antusias berjoget diatas panggung, menemani penyanyi berpakaian agak seronok yang sedang menyanyi lagu dangdut dengan gaya sensual.

Aku yang sedang menikmati hidangan prasmanan bersama istri, dan tentu saja para tamu lain yang hadir, sesekali melihat ke arah panggung yang jaraknya sekitar 20 meter itu.

"Luar biasa ya, Yah. Perjuangan anak itu dalam mencari uang patut dihargai," istriku berkata sambil mendekatkan kepala ke arah telingaku, karena suasana bising dengan hiburan organ tunggal sore itu. "Rasanya miris kalau melihat perjalanan hidup Sari," ujarnya lagi, dengan mata masih menatap penyanyi di panggung.

Ya, benar. Sari yang dimaksud istriku adalah perempuan tanggung -- sekitar umur 22 tahun -- yang sedang menyanyi di atas panggung. Kami mengenal, karena pernah menjadi tetangga dekat saat masih tinggal di daerah sekitar Kampung Rambutan (Jakarta Timur) di awal-awal menikah, sebelum pindah ke Bogor.

Sari -- entah siapa nama panjangnya -- berasal dari keluarga yang kurang beruntung. Bapak dan ibunya adalah pendatang dari daerah pesisir Jawa Tengah yang mencari peruntungan di Jakarta. Bapaknya jadi buruh serabutan, sedang ibunya buruh cuci pada tetangga sekitar yang membutuhkan. Anak kelima dari tujuh bersaudara, yang jarak lahir antar saudaranya tidak terlalu jauh, tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah petak 3×10 meter, hanya beberapa meter dari rumah kontrakan yang aku dan istri tempati. Sehingga apapun yang terjadi pada keluarga itu, kami bisa lihat dan dengar setiap harinya.

Sudah bisa dibayangkan, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan -- kalau tidak mau dikatakan kurang layak -- pendidikan Sari dan saudara-saudaranya tak begitu terurus. Saat Sari duduk di kelas 2 SD misalnya, kakak laki-laki pertamanya yang lulusan SD hanya jadi tukang parkir di sebuah warnet, dengan hasil yang tak seberapa. Kakak perempuannya yang tertua masih di SMP kelas 2, dan dua kakak laki-laki lainnya masih di SD kelas 4 dan 6. Sedang dua adik perempuannya belum sekolah.

Satu hal yang menonjol -- minimal beda dengan saudaranya yang lain -- Sari punya kebiasaan mendengarkan lagu-lagu dari radio kecil bapaknya yang selalu dibawa kemana-mana. Lucunya, saat bermain dengan adik-adiknya di depan rumahnya, Sari malah lebih sering asyik menyanyi sendiri sambil bergoyang meniru penyanyi yang sering dilihatnya di televisi. Meski sering diledek teman-teman sepermainannya maupun para tetangga, Sari tak pernah malu ataupun marah.

Bakat menyanyi Sari, yang berlatih tanpa sengaja dan tanpa guru vokal ini, suatu saat pernah dimanfaatkan orangtua teman sekolah Sari. Dengan alasan ada seleksi lomba menyanyi anak di salah satu radio swasta, Sari beserta tiga orang teman sekolahnya diajak latihan menyanyi dan direkam di salah satu studio di Jakarta Timur.

Ternyata itu hanya akal-akalan. Suara Sari dipakai lipsing temannya -- anak pemilik studio rekaman -- yang akan dipromosikan sebagai penyanyi anak-anak. Hal ini terkuak secara tak sengaja, ketika Sari mengaku bahwa lagu yang dinyanyikan temannya yang jadi penyanyi cilik dan muncul beberapa kali di televisi swasta itu adalah suaranya. Dan memang suara itu identik dengan suara Sari.

Tapi apa boleh buat, Sari bukan siapa-siapa. Anak perempuan yang berpenampilan tomboy itu hanya bisa senang suaranya muncul di televisi, meski dengan penyanyi anak lain. Pun orangtua Sari juga tak bereaksi apa-apa, karena memang sejak awal tidak menyukai anaknya suka menyanyi.

Kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, yang berdampak pada Sari dan adik-adiknya yang tak terurus kebutuhan sekolahnya, membuat Sari jadi malas sekolah. Saat kelas 5 SD, Sari sudah sering diajak tetangganya yang pemain musik untuk manggung sebagai penyanyi organ tunggal, di hajatan pesta perkawinan dari kampung ke kampung. Sehingga Sari sudah mulai bisa mendapat biaya sekolah untuk dirinya dan juga adik-adiknya.

Sayang, orangtuanya yang sejak semula memang sudah tidak setuju anaknya jadi penyanyi, makin keras melarang Sari untuk ikut-ikutan organ tunggal. Sudah bisa dipastikan, setiap Sari pulang dari acara menyanyi di malam hari, saat itu juga akan terdengar makian dan kemarahan dari Bapak dan Ibunya. Bukan itu saja, kadang disertai dengan kekerasan fisik berupa tamparan dan sejenisnya yang membuat Sari menangis dan teriak minta ampun.

Dan Sari tetaplah Sari, yang mencintai dunia nyanyinya. Seperti tak jera dengan ancaman dan pukulan orangtuanya, setiap ada ajakan dan kesempatan menyanyi di panggung akan selalu dipenuhi. Ini membuat kesabaran orangtuanya hilang, sehingga suatu malam sepulang nyanyi -- hanya beberapa hari menjelang ujian kenaikan kelas 6 -- rambut Sari dipotong habis oleh bapaknya, dengan harapan Sari tidak akan keluar-keluar rumah untuk menyanyi lagi.

Dampak setelah rambutnya botak, dalam beberapa minggu -- mungkin dua bulan lebih -- Sari tidak kelihatan lagi, lebih sering mengurung diri di dalam rumah. Dampak lainnya, Sari tidak naik kelas dan harus mengulang di kelas 5.

Bersamaan dengan itu, aku dan istri -- yang sudah punya momongan bayi cantik -- memutuskan pindah ke rumah yang kami beli di daerah Bogor. Dan tidak pernah dengar lagi cerita Sari dan keluarganya.
***

Tujuh tahun kemudian, aku kembali melihat Sari di kantorku. Hanya kebetulan, karena saat itu aku lagi memberi support pada staf departemenku yang maju ke final 5 besar lomba karaoke, dalam rangka peringatan HUT RI. Di ruang aula kantor yang riuh oleh pendukung dari 5 departemen berbeda, aku yang berdiri disamping kanan panggung -- bersama beberapa teman dari departemen export -- didatangi empat perempuan dari departemen produksi, yang kelihatan dari seragamnya.

Salah satu dari perempuan -- yang dari wajahnya sebenarnya aku sudah familiar -- itu menyapaku, "Apa kabar Mas Sugeng, masih ingat saya kan? Lani, yang dulu tetangga Mas di Pulo. Itu tadi yang tampil pertama adalah Sari, pasti Mas ingat dengan adik saya yang tomboy itu. Saya dan Sari sudah 5 bulan kerja disini, di Bagian Produksi."

Ya, sambil mendengarkan cerita Lani tentang Sari -- adiknya, yang begitu lulus SD ternyata memutuskan tidak melanjutkan SMP karena lebih tertarik menjadi penyanyi organ tunggal -- aku mengingat kembali penampilan peserta pertama yang terlihat profesional di panggung, gerakannya enerjik, dan kontrol serta cengkok lagu dangdut yang dibawakan begitu mulus. Aku tidak mengira kalau itu adalah Sari, yang sudah berusia 19 tahun.

Dari cerita Lani pula, aku mengetahui kalau akhirnya orangtuanya luluh dan mengizinkan Sari jadi penyanyi organ tunggal. Apalagi bapaknya juga sudah sakit-sakitan, sehingga Sari menjadi tulang punggung utama keluarga dalam mencari nafkah, termasuk untuk biaya sekolah Lani sampai lulus SMA.

Walau bekerja dalam perusahaan yang sama, aku tidak tahu kabar keduanya setelah acara di aula tersebut, karena memang lokal gedung yang berbeda. Sampai tiga tahun kemudian, kembali aku melihat Sari tampil di acara hajatan teman kerja, seperti yang aku ceritakan di awal.

Satu hal yang membuat aku respek pada Sari, bukan semata-mata karena harus menghidupi keluarga -- orangtua, kakak dan adik-adiknya -- dengan menyanyi dari panggung ke panggung. Tetapi lebih dari itu, Sari menyanyi dengan hati, menyanyi karena mencintai profesi ini, sampai harus rela menentang orangtua dan mengorbankan sekolah.

Ya, Sari menyanyi di panggung bukan bermodal sensualitas dan goyang penuh syahwat semata, yang selama ini identik dengan dangdut organ tunggal. Tapi, modal (ketulusan) hati dan pengorbanan, membuat Sari enjoy diatas panggung. Itu bedanya!
Share:

Minggu, 16 April 2017

Bakti Tanpa Batas

Tradisi berkumpul saat Lebaran -- yang sudah berlangsung turun-temurun pada masyarakat -- juga berlaku di keluarga besar bapakku. Setidaknya aku ketahui ketika mulai bisa menyimpan ingatan di memori otakku sekitar umur 5 tahun.

Seingatku, di hari pertama Lebaran, sehabis sholat Ashar, biasanya seluruh keluarga besar bapak tanpa terkecuali -- adiknya ada 8 orang, bapak anak sulung -- berkumpul di rumah kakek yang cukup besar. Dengan halaman yang luas, serta kebun di samping kanan dan belakang rumah yang penuh dengan pohon buah-buahan, menjadikan kami yang masih anak-anak punya tempat bermain yang lapang dan menyenangkan.

Disaat itulah kakek -- dan juga nenek -- seusai sholat Maghrib akan mengabsen anak dan menantu serta cucunya satu persatu, sehingga kami yang hadir bisa saling mengenal satu sama lain. Hal yang wajar, karena adik bapak rata-rata sudah berkeluarga dan tinggal di desa lain, yang frekuensi bertemunya juga jarang. Di acara itu pula aku jadi tahu saudara sepupuku yang seumuran, yang semuanya memanggil aku 'Mas' karena status bapakku yang paling tua di keluarga besarnya.

Dari 5 orang saudara sepupuku yang seumuran, lahir pada tahun yang sama -- 4 laki-laki dan 1 perempuan -- ada satu orang yang menurutku agak unik, karena sebagai anak-anak laki-laki pembawaannya terlalu kalem dan terkesan pemalu. Tapi selalu senyum, meski tidak banyak bicara. Dani namanya, anak pertama dari adik laki-laki bapak yang tinggal di desa Bunut, masih wilayah kecamatan Pakis, 4 kilometer dari rumahku. Lebih unik, saat sendirian, Dani yang punya dua adik perempuan ini sangat aktif dan asyik dengan aktivitasnya sendiri, entah mainan atau hal lain.
Diluar kumpul keluarga saat Lebaran, sesekali aku juga bertemu dan bermain dengan Dani. Terutama jika diajak bapaknya ke rumah, atau kebetulan sama-sama berkunjung ke rumah kakek saat libur sekolah. Hingga suatu saat -- ketika aku sudah menginjak kelas 1 SMP -- Dani tidak muncul di rumah kakek, padahal hari itu adalah kumpul keluarga besar di hari pertama Lebaran. Dari penuturan bapaknya, yang disampaikan pada kakek dan seluruh yang hadir malam itu, Dani tidak bisa ikut karena sedang kurang enak badan dan terpaksa ditinggal di rumah.

Tapi, dari cerita bapak dua hari kemudian, aku baru tahu kalau Dani tidak melanjutkan ke SMP, dan memilih 'bekerja' membuat mainan anak-anak berupa miniatur pesawat terbang yang terbuat dari kayu randu. Dani juga ikut jualan hasil karyanya -- bersama tetangga yang menjadi juragannya -- di areal pemandian Wendit, yang memang selalu ramai pengunjung saat hari Lebaran, karena menggelar pesta rakyat selama satu minggu. Itulah sebab utama Dani tidak hadir di rumah kakek.

Dua bulan kemudian, ketika bapaknya Dani berkunjung ke rumah, aku sempat menanyakan perihal Dani. Dan jawabannya membuat aku makin tak mengerti, "Dani tak mau melanjutkan sekolah, karena ingin membantu orangtuanya cari nafkah, Le. Padahal Pak Lik ini masih bekerja dan mampu membiayai Dani dan adik-adiknya. Apalagi Bu Lik juga punya toko di rumah. Tapi Dani ngotot ingin ikut cari uang. Pak Lik gak bisa melarang," demikian penjelasan Pak Lik -- sebutan untuk memanggil adik bapak, yang artinya Om -- yang selalu memanggilku dengan sebutan 'Tole' (= anak laki-laki, bahasa Jawa).

Sejak itu aku sangat jarang bertemu Dani. Setiap pertemuan keluarga besar saat Lebaran di rumah kakek juga tidak kelihatan, karena harus jualan dagangannya di pemandian Wendit, salah satu obyek wisata alam yang ada di kabupaten Malang. Kalau toh bertemu, Dani dengan dibarengi senyumnya yang khas hanya berkata singkat, "Saya membantu orang tua cari uang, Mas. Kasihan bapak dan ibu harus membiayai saya dan adik-adik yang masih sekolah."

Pun demikian ketika beberapa tahun kemudian kami -- aku dan para sepupu yang berusia sepantaran Dani -- sudah mulai berkeluarga satu per satu, termasuk 2 adik perempuan Dani yang juga sudah berumah tangga dan ikut suaminya, Dani lebih memilih tetap membujang. Alasannya lagi-lagi tetap sama, yaitu, "Kasihan bapak dan ibu, Mas. Adik-adik sudah tidak tinggal di rumah. Kalau saya nikah, siapa nanti yang menjaga bapak dan ibu? Mas tahu sendiri, bapak juga mulai sakit-sakitan sekarang."

Entahlah apa yang ada di benak pikiran Dani. Dalam beberapa kali pertemuan keluarga besar -- yang kali ini sudah didominasi generasi kedua, karena kakek dan nenek sudah meninggal -- secara informal kami sering membicarakan Dani. Di satu sisi kami salut dengan prinsip 'berbakti' pada orang tua yang keukeh dijadikan alasan Dani kenapa belum menikah. Tapi, disisi lain, orang tuanya juga bersedih karena Dani selalu menjadikan mereka sebagai alasan utamanya.

Kalau ada yang beranggapan Dani mempunyai kelainan -- lebih suka pada sesama jenis, misalnya -- itu salah besar. Karena secara eksplesit Dani sering bercerita bahwa ada beberapa perempuan yang disukai, dan sebaliknya ada perempuan (tepatnya gadis) yang terang-terangan menyatakan suka padanya. Lagi-lagi sikap gamang mengambil keputusan, ditambah rasa cinta yang luar biasa pada orangtuanya, membuat Dani mengabaikan hal tersebut.

Yang agak miris, beberapa hari sebelum bapaknya meninggal -- karena penyakitnya yang kronis -- secara khusus memanggil Dani dan meminta segera menikah, agar sempat melihat putra pertamanya berumah tangga. Seperti diceritakan ibunya saat pertemuan keluarga besar, dengan wajah sedih dan bersungguh-sungguh Dani menjawab singkat, "Saya menikah besokpun juga bisa. Tapi bagaimana kalau istri saya nanti tidak bisa menyayangi Bapak dan Ibu? Saya tidak rela!" Dan beberapa hari kemudian bapaknya meninggal, tanpa sempat melihat anak pertamanya menikah.
***

Saat tiga tahun silam aku mudik ke Malang, aku sempat bertemu Dani di rumah besar kakek -- yang kini ditempati adik bungsu bapak -- dan mengingatkan untuk segera menikah, karena umur yang semakin tua. Bahkan, diantara kami yang seumuran pun sudah ada yang punya cucu. Diluar dugaanku, jawabannya juga masih tetap sama, "Sekarang saya hanya hidup berdua dengan ibu yang sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Saya harus menjaganya, Mas. Sudah menjadi kewajiban anak untuk berbakti pada orang tua," dengan tenang Dani menjawab apa yang aku ingatkan padanya. Masih dengan senyum khasnya.

Begitulah, tak ada maksud apapun ketika aku menulis tentang Dani. Kecuali, ada satu hal yang menurutku sangat luar biasa pada diri Dani, yang dipegang teguh sampai saat ini, yaitu prinsip bahwa anak harus berbakti pada orang tua -- dengan cara membantu, menjaga dan melindungi -- sampai akhir hayatnya.

Apakah cara Dani berlebihan -- atau juga salah? -- sampai mengabaikan kepentingan dan kebutuhan pribadinya, aku tidak berhak untuk menilainya. Hanya Dani yang bisa menjawab, karena itu hak pribadinya.
Share:

Minggu, 09 April 2017

Ketegaran Hidup Nisa

Entahlah, setiap tanggal 9 April -- kebetulan ini tanggal kelahiranku -- aku selalu teringat pada seorang sahabat 'istimewa' semasa SMA, yang sudah banyak memberi pelajaran hidup padaku, dalam skala tertentu. Sahabat yang tidak pernah mengenal kata menyerah dalam menjalani hidup, sahabat yang selalu memberi motivasi pada teman disaat dia sendiri justeru memerlukan motivasi itu.

Ocan, begitu aku selalu memanggilnya. Nama aslinya sendiri cukup bagus, Chairunnisa. Teman-temannya biasa memanggil Nisa saja. Tapi, karena saat pertama bertemu, aku melihat mata bulat gadis berambut sebahu itu selalu bergerak lucu -- seperti Dakocan, sebutan boneka lucu yang mirip Susan-nya Ria Enez -- aku meledeknya dengan panggilan Ocan, yang lama-lama menjadi panggilan tetap. Anehnya, Nisa tidak pernah protes ataupun marah.

Aku mengenal Ocan saat mengikuti Lomba Palang Merah Remaja (PMR) tingkat SMA se-Kabupaten Malang, di Desa Peniwen, sebuah daerah yang berada di wilayah selatan kota Malang, pertengahan September 1985. Sekolahku, SMAN 1 Tumpang, mengirim 2 regu putra dan 1 regu putri. Saat itu, kebetulan reguku sudah selesai berlomba di hari pertama, sehingga di hari kedua reguku bisa mengikuti lomba kategori hiburan, yaitu Lomba Mengumpulkan Tanda Tangan. Tujuan mata lomba ini sebenarnya untuk mengakrabkan antar peserta lomba, dengan saling minta tanda tangan dari tenda ke tenda.

Karena memang sudah tidak mengikuti lomba inti, aku bertiga -- yang tiga orang lagi memilih berjaga di tenda -- bisa seharian keliling dari tenda ke tenda, termasuk tenda area peserta putri. Saat itulah pertama kali aku melihat Ocan, yang sedang jaga bersama satu orang temannya, di tenda salah satu SMA swasta dari Batu. Kami datangi tenda tersebut, saling tukar tanda tangan dan biodata singkat. Disitulah baru ketahuan, ternyata tanggal lahirku sama dengan Ocan, beda satu tahun, aku lebih tua. Pun demikian sekolahnya, aku kelas 2 sedang Ocan kelas 1. Meski terlihat kurang begitu gesit seperti rata-rata peserta lomba lainnya, dari bicara dan ucapan-ucapannya Ocan cukup bersemangat.

Begitu lomba yang berlangsung 4 hari tersebut usai -- dan sekolahku berhasil meraih 1 piala sebagai Juara 2 Lomba P3K Putri -- aku menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Tak ada lagi sisa cerita dari lomba yang melelahkan tersebut, termasuk Ocan. Sampai kira-kira 3 minggu kemudian, datang sebuah surat yang ditujukan kepadaku, dengan alamat sekolah. Pengirimnya Chairunnisa, lengkap dengan alamat sekolahnya. Isinya tidak istimewa, hanya ingin menjadi sahabat pena, yang bisa diajak ngobrol dan diskusi. "Mas Sugeng kelihatan pendiam, tapi kalau sudah bicara suasana jadi segar. Mudah-mudahan mau menjadi teman ngobrol Nisa," begitu satu kalimat yang selalu aku ingat.

Hari-hari berikutnya, surat Nisa -- begitu dia menyebut namanya, tapi aku tetap memanggilnya Ocan -- rutin datang, dua minggu atau sebulan sekali. Ada saja hal yang diceritakan, mulai dari keluarganya yang selalu memanjakan tapi dia tidak suka, kegiatan ekstrakurikuler sosial dan kerohanian di sekolah yang dia ikuti, sampai aktivitas mengajar mengaji anak-anak di sekitar rumahnya. Sama seperti saat ketemu di lomba, dalam suratnyapun Ocan selalu semangat dan penuh optimis, tidak pernah ada keluh kesah atau nada cengeng.

Ada satu hal yang membuat aku terlecut, saat di salah satu suratnya Ocan mengingatkan agar aku tidak jadi seorang pendiam dan rendah diri hanya karena kondisi keluarga yang kurang mendukung. Aku harus jadi laki-laki kuat yang punya prinsip dan karakter. Dengan bahasa sederhananya, Ocan yakin aku mampu mengembangkan potensi yang ada pada diriku. Sebenarnya aku malu pada diriku, bagaimana mungkin seorang gadis yang usianya lebih mudah dariku -- dan hanya berkomunikasi lewat surat -- bisa 'membaca' kelemahanku, bahkan menasehatiku?

Sejalan dengan bergulirnya waktu, bersamaan aku naik kelas 3, surat dari Ocan sudah mulai jarang. Kadang sampai 2 bulan baru datang lagi. Alasannya, dia harus mengurangi frekuensi aktivitasnya, termasuk ekstrakurikuler di sekolahnya, tanpa pernah menceritakan penyebabnya. Aku tidak pernah menanyakan, tetap berpikir positif bahwa semua itu bisa jadi karena Ocan lebih berkonsentrasi pada studinya, untuk bisa merealisasikan cita-citanya sebagai dokter yang mengabdi di daerah terpencil.

Yang membuatku agak sedih adalah saat aku bercerita bahwa aku sudah lulus SMA dan diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) tanpa tes --- lewat jalur PMDK -- di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dalam suratnya, yang seminggu kemudian aku terima, tidak seperti biasanya kali ini Ocan hanya menulis singkat, bahwa itu adalah kesempatan terbaikku untuk merealisasikan obsesi-obsesiku. Aku harus tegak melangkah ke depan, tidak lagi menoleh ke belakang. Di akhir suratnya, Ocan menulis kalimat yang sengaja dibuat agak tebal, "Nisa senang, akhirnya bisa menyelesaikan tugas Nisa sebagai adik dan sahabat Mas Sugeng."

Jujur, aku tidak paham dengan kalimat tersebut. Aku mencoba menanyakan lewat surat balasanku, tapi tidak ada jawaban. Bahkan, saat sudah kuliah di Mataram, dua kali aku menulis surat ke Ocan, tetapi tidak dijawab. Lagi-lagi aku mencoba untuk realistis, bahwa Ocan tidak ada hubungan apa-apa denganku, Ocan hanya seorang sahabat pena, dan dia berhak untuk melakukan apa saja, termasuk tidak membalas surat-suratku. Apalagi dia sudah kelas 3 SMA, mungkin ingin konsentrasi ke studinya. Aku mulai melupakannya.
***

Tiga tahun kemudian, tepatnya pertengahan tahun 1991, ketika aku mengikuti Lokakarya Nasional KSR-PMI PTN/PTS se-Indonesia di IKIP Malang -- bersama 4 orang teman, mewakili Universitas Mataram -- aku bertemu Chanafi, perwakilan dari Universitas Islam (Unisma) Malang. Dalam obrolan ringan sambil makan malam tersebut, secara kebetulan Chanafi ternyata alumni SMA yang sama dengan Ocan, bahkan satu angkatan. Aku basa-basi menanyakan kabar Ocan, dimana dia kuliah sekarang. Aku ceritakan kalau Ocan adalah sahabat penaku selama 2 tahun.

Jawaban Chanafi sungguh membuatku kaget sekaligus sedih. Ternyata Ocan sudah meninggal tiga tahun silam, beberapa hari setelah menulis surat terakhirnya yang dikirim ke aku. Dari penuturan Chanafi, aku baru tahu kalau Ocan anak tunggal seorang pengusaha di Batu -- satu hal yang tidak pernah diceritakan Ocan padaku di surat-suratnya -- yang mengidap penyakit kanker darah, atau biasa disebut leukemia.

Ocan yang menyadari bahwa penyakitnya kecil kemungkinan untuk bisa sembuh, justeru saat duduk di kelas 2 SMP. Itulah sebabnya dia lebih memilih aktif di kegiatan sosial dan kerohanian, yang banyak berinteraksi dan bertujuan untuk menolong sesama.

Masih penuturan Chanafi, empat bulan sebelum meninggal kondisi Ocan memburuk dan harus dirawat di rumah sakit. Hari-hari Ocan yang semakin lemah hanya diisi dengan membaca buku dan membalas surat-surat sahabat penanya -- termasuk aku -- dan mengobrol secara terbatas dengan teman-teman sekolah yang menjenguknya. "Nggak pernah mengeluh, Mas. Selalu tersenyum dan mencoba bercanda kalau kami datang, bahkan memberi semangat agar kami optimis untuk bisa meraih cita-cita dan masa depan kami. Mestinya kami yang memberi semangat Nisa," ucap Chanafi, lirih.

Ya, Ocan memang bukan siapa-siapa, hanya seorang sahabat -- yang kadang menenpatkan sebagai adik terhadapku -- tapi aku tetap merasa kehilangan yang mendalam. Setidaknya, Ocan mampu memberi semangat pada orang sehat, termasuk aku, disaat dirinya sakit dan sadar usianya tidak akan panjang.
***

Dan hari ini, adalah tanggal 9 April, yang harusnya Ocan (juga) merayakan ulang tahun, sama sepertiku. 


Selamat ulang tahun, Ocan. Beristirahatlah dengan tenang, Chairunnisa...
Share:

Minggu, 02 April 2017

Badut Juga Manusia

Ketika masih tinggal di wilayah Jakarta Timur -- daerah pinggiran ibukota, dekat terminal Kampung Rambutan -- aku paling suka mengisi waktu liburan akhir pekan bersama keluarga ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Selain dekat dengan rumah, areal obyek wisata yang sangat luas dan berisi berbagai anjungan daerah di tanah air itu, bisa menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Untuk diriku sendiri, menjadi obat kangen kampung halaman, karena bisa menikmati berbagai atraksi kesenian khas Jawa Timur, seperti Ludruk, Reog, Jaranan, atau Campursari Jawatimuran. Tentu saja semua itu di anjungan Jawa Timur, yang letaknya dekat danau TMII.

Pun demikian dengan putriku -- saat itu baru satu, Tiwi namanya -- punya tempat favorit yang wajib dikunjungi, yaitu Teater Imax Keong Emas. Sebuah gedung film dengan layar cekung raksasa dan khusus menayangkan film 3 dimensi, yang selalu bikin sport jantung dan adrenalin naik, karena kita serasa menjadi bagian dari film tersebut. Anehnya, Tiwi selalu menikmati, walau usianya kurang dari 6 tahun.

Karena jadi primadona pengunjung, Teater Imax tak pernah sepi, bahkan selalu terjadi antrian penonton, meski dalam sehari ada 5 jam tayang. Besarnya animo pengunjung -- sampai harus rela menunggu dan antri -- inilah yang nampaknya menjadi lahan basah para badut. Dengan berpakaian tokoh animasi yang sudah akrab dengan anak-anak, seperti: Donald Bebek, Tweety, Mickey Mouse atau juga Teletubbies, ada sekitar 8 badut mencoba menarik perhatian anak-anak yang ada di sekitar Teater Imax. Ada yang sekedar melambaikan tangan, goyang badan dengan gerakan lucu, sampai yang agresif menarik tangan anak-anak untuk diajak foto pada tukang foto keliling yang stand by di sekitar area Keong Emas.

Aku dan istriku sebenarnya tidak begitu hirau pada badut-badut tersebut, karena Tiwi memang takut pada semua bentuk badut dan sejenisnya. Gara-garanya, suatu hari saat main di teras rumah sendirian, tiba-tiba ada badut ondel-ondel -- yang mengamen dari rumah ke rumah -- datang dan mengagetkannya. Sejak itu setiap melihat badut dan sejenisnya, Tiwi selalu ketakutan, seperti trauma. Sehingga setiap ke Teater Imax, sebisa mungkin Tiwi aku jauhkan dari badut-badut yang ada.

Entah mengapa, dalam satu kesempatan yang kesekian kalinya ke Teater Imax, saat sedang menunggu pemutaran film jam 10 pagi di koridor gedung Keong Emas, Tiwi seperti terkesima pada sosok badut yang memakai kostum Laa-laa -- salah satu karakter pada Teletubbies -- yang berada kira-kira 10 meter didepannya. Tiwi tidak kelihatan takut pada sosok lucu warna kuning yang melambai tangannya, membuat gerakan isyarat seolah mengajak bermain, dan kadang kedua tangan badut yang terpisah dari kelompoknya tersebut direntangkan ke depan, seolah ingin memeluk dan menggendong Tiwi.

Tentu saja kami -- aku dan istri -- senang melihatnya. Ternyata Tiwi kali ini tidak ketakutan melihat badut. Secara perlahan, Tiwi aku tuntun mendekat pada badut tersebut. Karena menurutku ini kesempatan bagus untuk 'membebaskan' Tiwi dari traumanya pada sosok badut. Begitulah, Tiwi tidak berkeberatan, dan akhirnya mau berfoto dengan badut tersebut dalam beberapa pose, mulai dari dirangkul badut, duduk di pangkuan badut, dan juga digendong badut.

Setelah puas berfoto, Tiwi memberi uang yang diselipkan pada kantong besar yang ada di perut badut, dan bersalaman sambil tertawa riang. Aku dan istri hanya berpandangan, masih sedikit kurang paham dengan apa yang sedang terjadi pada Tiwi dan badut itu.

Ketika kembali ke tempat duduk di koridor, tanpa diminta Tiwi bercerita -- dengan gaya khas anak usia 5 tahun -- bahwa badut warna kuning itu baik, tidak jahat, dan tidak menakut-nakuti anak kecil seperti badut-badut lainnya. "Buktinya Tiwi tadi dipanggil dan diajak main," begitu Tiwi mengakhiri ceritanya. Aku tercenung. Baru menyadari bahwa gerakan isyarat dan gestur tubuh badut saat melambaikan tangan pada Tiwi, beda dengan badut lainnya. Sangat bersahabat dan seperti memahami benar bagaimana menghadapi anak kecil.

Pertanyaan yang sempat menggelayut di benakku akhirnya, tanpa diduga sebelumnya, mendapat jawaban. Seusai menonton film di Teater Imax, saat kami berjalan ke anjungan Jawa Timur untuk makan siang -- yang kantinnya menyediakan menu spesial rujak cingur dan dawet -- lagi-lagi kami bertemu badut warna kuning, sedang duduk di bawah rerimbunan pohon, dekat taman bunga.

Bedanya, badut tersebut membuka kostumnya sampai pinggang, dan sedang menyusui bayi kecilnya. Disampingnya, duduk 2 anak kecil sambil menyantap nasi bungkus. Satu anak laki-laki usia sekitar 4 tahun, dan satu anak perempuan usia sekitar 10 tahun.

Ya, badut itu ternyata seorang ibu yang usianya tak lebih dari 30 tahun, dan 3 anak kecil itu adalah buah hatinya. Sambil tersenyum ramah, ibu itu lagi-lagi melambaikan tangan dan memanggil Tiwi, tentu saja kali ini dengan suara lembut seorang ibu. Aku ajak Tiwi dan istriku menghampiri ibu tersebut, sekedar untuk bertegur sapa dan mengucap terima kasih karena telah membuat Tiwi tidak takut lagi pada badut.

Yang membuat trenyuh, dari cerita singkatnya, ibu itu harus bekerja jadi badut -- bersaing dengan 7 badut lainnya yang sebagian besar laki-laki -- seusai melahirkan anak ke-3 nya, karena suaminya yang kuli bangunan meninggal dalam kecelakaan kerja. Selama jadi badut, anak tertuanya bertugas menjaga adik-adiknya.

Tentu bukan kisah sedih ibu 'badut' itu yang jadi benang merah tulisan ini. Tetapi, bahwa betapa berat beban hidup yang harus ditanggung, tetapi ibu itu tetap menjalankan profesi badutnya dengan beretika -- tidak memaksa dan membuat takut anak-anak demi mendapat uang -- patut diapresiasi. Dan, naluri seorang ibu, meski dibungkus pakaian badut sekalipun, tetaplah tidak bisa ditutupi. Bahkan dengan bahasa isyarat dan gestur tubuh seorang ibu, telah membuat Tiwi 'sembuh' dari trauma ketakutan pada badut.

Yang pasti, badut juga manusia. Yang punya rasa, naluri dan juga hati. Itu tidak dapat dipungkiri!
Share:

Minggu, 12 Maret 2017

Surat yang Tak Pernah Sampai

Ketika putri pertamaku mulai menginjak masa remaja -- masuk sekolah SMP, 7 tahun silam -- aku sempat was-was, apakah aku mampu menjadi orangtua yang bisa menjaga dan mengarahkan putriku agar bisa menjalani masa remajanya dengan kondisi normal. Dalam artian, tanpa harus intervensi dan mengatur terlalu ketat pola geraknya, sehingga anak merasa terkekang dan kurang bisa mengekspresikan jiwa remajanya.

Karena, tak dapat dipungkiri, di era teknologi dan informasi yang sudah demikian maju, hal negatif yang rentan menyerang dunia remaja, dapat pula dengan mudah menyerang pula orang-orang di sekitar kita, tak terkecuali putriku.

Untungnya, dengan pola pendekatan yang intensif dan komunikasi yang tidak mendoktrin -- ditambah upaya saling berbagi peran dengan istri -- rasa was-was itu mulai hilang. Dan, satu hal yang tidak bisa aku abaikan, mencontoh cara orangtuaku (baca: ibu) dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya, menjadi pelajaran penting yang aku terapkan ketika menjadi orangtua.

Aku masih ingat, bagaimana ibu memperlakukan aku ketika mulai menginjak masa remaja. Mulai dari mengurangi sedikit demi sedikit ketergantungan pada ibu, seperti menyiapkan perlengkapan mandi sendiri, ikut membantu pekerjaan rumah -- menyapu lantai, bersih-bersih kamar -- sampai mengingatkan bahwa suatu saat akan mulai tertarik pada lawan jenis.

Dengan penuh kelembutan ibu selalu menyempatkan mengajak ngobrol setiap aku habis mengerjakan PR sekolah di malam hari. Ada saja topik yang dibicarakan, yang kalau dicermati dengan seksama intinya adalah masa remaja itu masa menyenangkan yang harus dinikmati, tetapi juga harus waspada dan tidak boleh kebablasan. Nasehat-nasehat yang disampaikan dengan bahasa sederhana -- bahkan tidak aku sadari kalau itu sebenarnya sebuah larangan -- membuat aku bisa menerima sebagai keharusan yang memang tidak boleh aku langgar.

Bukan hanya ucapan lisannya saja, dari sikap ibu pun aku sering dibuat sadar -- dan malu -- bahwa ada hal-hal yang sudah aku langgar atau tak seharusnya aku lakukan. Sebaliknya, dengan sikap ibu pula, aku merasa tak dipermalukan. Ibu sangat paham bagaimana harus memperlakukan anak-anaknya -- termasuk aku -- saat menginjak masa remaja.

Ada satu kejadian yang tak mungkin aku lupakan, yang berhubungan dengan masa remajaku ini. Yaitu ketika aku menginjak kelas 2 SMP. Saat itu usiaku 15 tahun, dan seperti remaja pada umumnya mestinya aku juga punya teman banyak, meski kenyataannya adalah sebaliknya. Karena sifatku yang pendiam -- dan cenderung pemalu -- temanku hanya terbatas teman sebangku, atau yang berasal dari SD yang sama denganku, atau juga teman yang memang benar-benar punya pembawaan familiar, sehingga mau berteman denganku. Baik cowok maupun cewek.

Sampai suatu ketika, guru Biologi membagi kelas dalam 8 kelompok, setiap kelompok 5 orang -- 3 cowok dan 2 cewek -- yang setiap praktek di laboratorium duduknya harus berselang-seling, dalam bangku panjang untuk 5 siswa. Celakanya, aku dapat posisi di tengah, diapit 2 teman cewek. Sudah dapat diduga, aku yang pendiam selalu panas dingin setiap pelajaran Biologi. Bukan karena tidak menguasai pelajaran, tetapi posisi duduk yang tidak nyaman menurutku.

Sebenarnya, Bulan -- bukan nama sebenarnya, yang duduk di sebelah kiriku -- adalah teman yang menyenangkan. Wajahnya yang manis, pembawaannya yang anggun, dan sikapnya yang tidak berlebihan, membuat banyak yang suka berteman dengannya, cowok maupun cewek. Nyatanya, meski setiap minggu duduk bersebelahan denganku, tak pernah ada percakapan yang terjadi. Kalau ada, itupun sekedar saling pinjam hapusan atau penggaris, ataupun berbagi buku diktat yang satu kelompok dijatah 2 buku.

Keinginanku yang begitu kuat untuk bisa kenal dan mengobrol dengan Bulan -- seperti teman-teman sekelas lainnya -- memunculkan ide untuk mengirim surat pada Bulan. Konyol memang, hanya untuk bisa kenal dan mengobrol, harus lewat surat. Dan nyatanya surat itu benar-benar aku tulis malam hari sebelum besoknya pelajaran Biologi. 

Sebuah surat yang aku tulis diatas kertas buku biasa -- tanpa amplop -- berisikan ajakan kenalan dan menjadi teman, itu saja. Tidak lebih.


Malam itu, sebelum tidur, surat aku taruh di saku baju pramuka yang akan aku pakai ke sekolah. Dan esoknya -- aku malah lupa dengan surat yang sudah aku buat -- aku berangkat sekolah seperti biasa. Barulah ketika pelajaran Biologi di laboratorium dan melihat Bulan duduk di sebelahku, aku teringat dengan surat perkenalan yang sudah aku siapkan.

Pelan-pelan aku raba saku kiriku, kosong. Demikian pula saku kanan, juga tidak terasa ada lipatan kertas. Agak panik, aku raba saku celana kiri dan kanan, juga tidak ada. Aku mencoba lagi merogoh saku bajuku, tetap tidak ada.

Jadilah saat pelajaran Biologi siang itu aku kurang konsentrasi. Pikiranku masih tertuju pada surat yang hilang di saku bajuku. Dan tepat saat pelajaran berakhir, aku menemukan jawabannya, kenapa surat itu lenyap.

Ya, surat itu pasti diambil ibu. Karena setiap pagi ibu selalu memeriksa semua kantong baju dan celana yang digantung di tembok kamar, supaya saat dicuci tidak ada benda apapun yang ikut tercuci. Ibu pasti mengira baju pramukaku tidak dipakai lagi hari itu, makanya ikut digeledah. Sebab, ibu mencuci ketika kami -- anak-anaknya -- sudah berangkat sekolah semua.

Ketika sampai rumah, aku harap-harap cemas. Takut ibu menanyaiku perihal surat untuk Bunga. Saat makan siang aku lebih banyak menunduk, tidak berani memandang ibu yang juga menemani aku dan kakak serta adikku makan. Namun dalam percakapan di meja makan, ibu biasa saja, tidak menyinggung apa-apa tentangku.

Demikian juga malam hari saat aku dan saudara-saudaraku belajar, ibu tetap bersama kami di ruang tengah -- yang berfungsi juga sebagai ruang keluarga -- menemani sambil membuat sulaman taplak meja. Kalau ada pembicaraan denganku, ibu hanya menanyakan seputar pelajaran di sekolah yang aku dapat siang harinya. Tak ada menyinggung tentang surat di baju pramuka.

Aku tetap khawatir dengan kemarahan ibu. Sehari, dua hari, bahkan sampai seminggu kemudian, tidak ada pertanyaan ibu tentang surat yang yang diambil dari saku bajuku. Hanya, sesekali ibu memberi nasehat tentang perlunya banyak teman, jangan memilih-milih teman, juga jangan terburu-buru menjadikan teman sebagai yang istimewa. Dan ibu mengatakan semua itu tetap dengan pandangan sayang dan senyum lembutnya, padaku.

Begitulah, ibu selalu memberi nasehat dan teguran tanpa harus membuat malu anaknya. Bahkan yang aku rasakan, teguran itu menjadi pemompa semangat bahwa aku harus berani mengambil sikap, berani untuk bertegur sapa dengan siapapun, mengikis sedikit demi sedikit sikap pendiam dan pemaluku.

Yang pasti, sampai ibu menghadap sang Khaliq beberapa tahun silam, misteri surat yang ada di saku baju pramukaku -- dan tak pernah sampai itu -- tidak pernah terungkap. Selain ibu tidak pernah menceritakan, aku juga tidak pernah menanyakan.

Biarlah, itu bagian dari pembelajaran masa remajaku, bagian masa lalu yang memacu aku jadi bisa lebih bersikap dewasa. Dan pelajaran berharga -- bagi diriku saat ini -- untuk mendidik anak-anakku agar bisa mengisi masa remajanya dengan hal pasitif. Insha Allah!
Share:

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Pages

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Page View

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Follow by Email

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Buku Tamu

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com