SENTILAN RINGAN SARAT INSPIRASI

Minggu, 01 Oktober 2017

Mimpi Besar Delia

Aku tak bisa menahan tawa – bahkan langsung ngakak – ketika sebuah pesan melalui aplikasi WhatsApp (WA) dengan terus terang meminta agar perjalanan hidupnya ditulis di Inspirasi Pagi. Pesan yang aku baca seusai makan malam senin kemarin itu sangat lucu bagiku, karena ditulis oleh Delia, adik kelasku di SMA yang dulu sangat aku kenal kesehariannya.

Share:

Minggu, 03 September 2017

Suara Kakek Sofyan di Masjid Itu

Tepat dua tahun silam, di rubrik 'Secangkir Teh' ini aku menulis tentang suara seorang kakek, dari pengeras suara sebuah masjid -- yang entah dimana, karena hanya lamat-lamat, mungkin terlalu jauh dari tempat tinggalku -- setiap hari sekitar pukul 4 pagi. Suara yang awalnya tidak begitu aku hiraukan, karena sambil menunggu adzan subuh, jam 3 sampai 5 pagi adalah jadwalku menulis.

Share:

Minggu, 27 Agustus 2017

Tanggung Jawab Pak Diran Tak Pernah Usai

Hari belum lagi beranjak siang, masih sekitar pukul 10. Aku yang baru selesai mandi – karena habis ikut kerja bakti di kompleks perumahan – diberitahu putriku kalau ada tamu yang menunggu di teras rumah. Sambil berjalan ke teras, aku sempat berpikir, siapa hari minggu begini pagi-pagi sudah bertamu?

Share:

Minggu, 13 Agustus 2017

Moral Nandar Tak Bisa Dibeli

Melihat tampilan secara fisik, mungkin banyak orang akan mengira dia adalah pekerja kantoran, atau setidaknya mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Karena, pemuda berusia 26 tahun -- biasa dipanggil Nandar, berkulit putih, dengan rambut dipotong agak cepak --- selalu berpakaian rapi dan trendi. Badannya yang atletis dengan wajah sekilas mirip selebritas Andika Pratama, menambah kesan Nandar adalah pemuda berpendidikan dari kalangan berada. Setidaknya, aku juga pernah mengira seperti itu.

Share:

Minggu, 06 Agustus 2017

Luka Afni Yang Tak Tersembuhkan

Efek media sosial facebook (FB) memang luar biasa. Hal yang secara akal tak mungkin terjangkau, nyatanya dengan mudah bisa ditemukan melalui media sosial ini. Setidaknya, itu yang terjadi ketika tanpa aku duga, Afni -- ini nama adik kelasku saat masih SMA, dan hampir 30 tahun tidak ada kabar -- bisa ketemu lagi denganku, meski melalui putri tunggalnya yang menjalin pertemanan denganku di FB.

Share:

Minggu, 30 Juli 2017

Sampai Kapan Risma Menunggu?

Kesibukan membuat laporan akhir bulan -- meski ini sebenarnya adalah pekerjaan rutin -- agak terganggu, ketika getar smartphone yang aku letakkan di samping laptop membuyarkan konsentrasiku. Aku lihat sekilas, sebuah notifikasi Whatsapp (WA) dari nomor private-ku. Ya, aku punya dua nomor, satu untuk keperluan pekerjaan dan relasi kantor, satu lagi nomor private untuk keluarga dan teman-teman dekat.

Aku segera membukanya, khawatir ada informasi penting, karena jarang-jarang aku menerima pesan di jam sibuk kantor. Ternyata dari teman di tempat kerjaku yang lama, perempuan, Risma namanya. Pesannya singkat saja, "Apa kabar, Mas? Aku pengen main ke Pancoran. Ada waktu enggak?" Karena konsentrasiku sedang ke pekerjaan, aku hanya menjawab sekedarnya, "Ok, jam istirahat ya!"

Benar saja, sekitar pukul 11.50 Wib Risma mengabarkan via WA kalau sudah menunggu di foodcourt lantai 1 gedung tempatku kerja, di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Sebenarnya agak heran juga, sudah hampir tiga tahun aku tidak berkomunikasi -- via telpon maupun bertemu langsung -- kenapa tiba-tiba ingin bertemu. Apalagi Risma, yang 8 tahun lebih muda dariku, hanya kenal denganku karena keperluan pekerjaan saja.

Dulu, departemenku sering memerlukan data dari departemennya. Dan Rismalah yang sering mengantar data ke ruanganku. Memang, dalam beberapa kesempatan Risma secara tidak langsung curhat seputar masalah pribadinya.

Saat aku temui di foodcourt -- sekalian makan siang -- Risma yang berbadan proporsional, dengan tingga badan yang hampir 170 centimeter nampak makin anggun dengan balutan baju dan hijabnya yang sewarna. Setelah berbasa-basi, dan sedikit cerita bahwa dia kebetulan lagi mengurus dokumen ke Kementerian Hukum dan HAM di Kuningan, jadi sekalian mampir ke kantorku. "Sekalian pengen ngobrol, Mas. Aku lagi bingung, masih seputar permasalahan klasik yang dulu, yang Mas Sugeng sering ngasih advis dulu itu lho," papar Risma.

Aku hanya tersenyum, sekaligus prihatin dengan kehidupan pribadi Risma, begitu mendengar alasan Risma ingin bertemu denganku. "Memang belum ada yang cocok ya Ris? Atau belum ada persetujuan dari yang berwenang?" aku bertanya dengan nada bercanda, yang dijawab dengan senyum dan gelengan kepala oleh Risma.

Sambil menyantap nasi soto ceker yang aku pesan -- sebenarnya yang memilih menu Risma, aku mengikuti saja -- pikiranku melayang ke peristiwa lima belas tahun silam. Saat itu, Gunadi, teman akrabku di kantor yang menjadi Asisten Manajer di Sales Department, mengungkapkan kekecewaannya karena niat melamar pacarnya ditolak oleh orang tua cewek. Alasannya, meski Gunadi jabatannya tinggi, tapi belum punya rumah sendiri dan masih memakai kendaraan dinas. Gunadi cerita, kalau ceweknya itu benama Risma, Staf baru di Production Department. Dan gara-gara itu pula, beberapa bulan kemudian Gunadi pindah kerja dan menikah dengan gadis pilihannya.

Aku sempat lupa dengan apa yang dialami Gunadi, sampai sekitar empat tahun kemudian Risma diminta atasannya mensupport data yang diperlukan departemenku untuk keperluan ekspor. Saat itulah aku baru tahu kalau Risma, yang mau dilamar Gunadi adalah cewek cantik berkulit putih, badan langsing dan berpenampilan ceria. Dalam satu kesempatan, aku pernah bertanya kenapa Risma menolak Gunadi, yang langsung ditepis Risma bahwa dirinya sebenarnya mau dilamar, tapi Bapaknyalah yang menolak, karena tidak sesuai dengan kriteria calon menantu idaman yang dia tetapkan.

Dalam kesempatan yang lain, Risma -- anak pertama dari dua bersaudara, adiknya laki-laki -- beberapa kali cerita, kalau sikap bapaknya yang protektif dan milih-milih siapa dan bagaimana yang harus jadi menantunya, membuat Risma serba salah. "Sudah dua kali aku pacaran secara serius setelah putus dari Mas Gunadi, tetapi selalu tidak cocok dimata Bapak. Yang pertama seorang polisi yang tugas di Polres Depok, Bapak tidak setuju karena nanti aku akan sering dibawa pindah-pindah tugas. Juga, saat ada PNS yang dinas di Depnaker dekat denganku, Bapak juga tidak setuju, karena jenjang karirnya kurang bagus kalau hanya lulusan SMA," begitu keluh Risma.

"Aku jadi bingung, sebenarnya apa yang dimaui Bapak. Padahal Ibu sudah berusaha membujuk Bapak supaya memberi kebebasan padaku untuk memilih pasangan hidup, Mas," ucap Risma, dengan nada putus asa di kesempatan lain.

Saat pikiranku masih melayang ke masa lalu itu, sebuah ketukan halus di meja -- menggunakan botol kecap manis -- membuatku terkaget. "Mas mau mendengarkan jawabanku yang lain kan, kenapa aku minta bertemu?" ucap Risma, yang barusan mengetuk meja, sambil melihatku dengan tersenyum geli. Tanpa menunggu aku menjawab, Risma langsung berucap, "Aku sudah tahu alasan utama Bapak, Mas. Kenapa begitu sulit menyetujui setiap calon pendamping hidupku. Ternyata bukan semata tidak memenuhi syarat semata, tetapi Bapak juga sangat takut kesepian di masa tuanya, takut jauh dari anak-anaknya."

Kemudian Risma cerita, sejak adiknya kerja di Batam 10 tahun lalu -- dan mendapat jodoh gadis setempat -- sehingga memutuskan tinggal di Batam, bapaknya jadi lebih protektif dan selalu mencari alasan agar Risma jangan menikah dulu. "Bulan lalu Ibu dirawat di RSUD Pasar Rebo karena paru-paru basah, Bapak menyampaikan alasan itu pada Ibu, dan Ibu cerita padaku minggu lalu," urai Risma, seperti melepas beban yang selama ini dipikulnya.

"Ya baguslah, sekarang Risma tinggal cari calon yang nanti mau tinggal di rumah Risma, atau kalau nanti punya rumah sendiri, ajak Bapak dan Ibu tinggal di rumah Risma. Beres kan?" aku memberi advis sederhana pada Risma.

Perkiraanku meleset. Ternyata tak semudah itu pemecahannya. Menurut Risma, bapaknya masih tetap punya standar tinggi: harus mau tinggal di rumah yang ditempatinya, tidak boleh membawa Risma pindah ke rumah lain -- kecuali kalau bapaknya sudah meninggal -- usia harus diatas Risma, pendidikan minimal sarjana, punya jabatan dan masa depannya jelas.

Share:

Minggu, 11 Juni 2017

Jangan Panggil Aku Wanto


Setiap pulang mudik ke Malang, satu kebiasaan yang selalu aku lakukan -- sebagai bentuk kerinduan pada kampung halaman -- adalah menikmati kuliner lokal. Tak terkecuali sore itu, ditemani keponakan yang baru lulus SMA, aku memutuskan untuk makan bakso yang ada di depan pasar Pakis. Entahlah, walau sudah lebih 25 tahun meninggalkan tanah kelahiran, tapi bakso Malang masih menjadi makanan favorit yang selalu bikin kangen.

Share:

Minggu, 04 Juni 2017

Jalan Panjang Nilam

Agak geli juga ketika kolega jurnalis -- seorang wartawan senior -- menulis di status facebook, tentang remaja yang menikah di usia 14 tahun dan usia 17 tahun sudah menyandang predikat janda dengan satu orang anak. Aku pikir ini status untuk lucu-lucuan semata, makanya aku tersenyum lebar saat bacanya. Tetapi aku jadi terkejut, ketika tahu itu adalah nyata dan terjadi di sekitaran ibukota negara, Jakarta.

Share:

Minggu, 21 Mei 2017

Kaspan Tak Mengenal Kata Terlambat



Berapa umur tepatnya, aku tak pernah tahu. Tapi, dari cerita Ibu, Cak Kaspan -- 'Cak' dalam bahasa jawa timuran artinya 'kakak', panggilan untuk laki-laki yang lebih tua -- ikut keluarga kami sejak usia remaja, saat aku berumur satu tahun. Cak Kaspan masih punya hubungan famili jauh dari keluarga bapak, sehingga bapak memintanya tinggal dan bantu-bantu di rumah. Cak Kaspan rumahnya juga masih satu des dengan kami, cuma beda dukuh yang jaraknya tak lebih dari satu kilometer.


Share:

Minggu, 14 Mei 2017

Optimisme Mas Atma



Saat pagi ini aku membaca -- di laman berita online -- tentang kilas balik tragedi Mei 1998, yang memporak porandakan Jakarta dengan berbagai kekacauan, tiba-tiba aku seperti terkena trauma kecil. Peristiwa demi peristiwa yang menjadi catatan kelam ibukota negara 19 tahun silam, silih berganti bermunculan.

Share:

Page View

Translate

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com